
Angin berembus kencang membawa butiran tanah terbang diantara dua orang yang saling bertukar pandang. Setelah percakapan terakhir kali, mereka sepakat untuk memilih tempat yang terasingkan dari penduduk sebagai arena dengan sisa dari anggota White Tiger yang menjadi saksi akhir dari duel yang akan dimulai.
"Sebelum memulai duel, mari saling berkenalan." Pria dengan perawakan tinggi besar itu mengulurkan tangan.
"Tentu saja! Namaku Rito. Hanya Rito." Rito menerima uluran tangan itu.
"Aku Andrean Vamyos. Jangan lupakan namaku ketika kamu sudah berada di alam lain nanti." Pria itu, Andrean mengeratkan cengkeraman tangannya dengan harapan pria tua di depan akan meringis kesakitan.
Namun tidak disangka, Rito malah balas mengeratkan cengkeraman tangannya hingga Andrean menunjukkan ekspresi yang sedang berusaha menahan sakit.
Setelah itu mereka membalik badan, berjalan ke arah yang saling berlawanan. Setelah mengambil beberapa langkah, mereka kembali saling berhadapan sambil memasang kuda-kuda.
Rito dapat merasakan bahwa mana yang dimiliki oleh lawan berada jauh dibawahnya. Dia sudah memutuskan untuk tidak menggunakan perisai mana dalam duel ini.
Andrean melebarkan kakinya. Tangan kanan pria itu sudah bersiap untuk menarik golok raksasa yang sedari tadi bertengger di punggungnya.
Salah satu anggota White Tiger maju ke tengah-tengah mereka. Dia memegang sebuah koin berwarna perak di tangannya, lalu melempar koin itu setinggi mungkin. Seluruh perhatian Rito dan Andrean terfokuskan pada koin itu. Anggota White Tiger yang berada di tengah arena segera berlari menjauh sebelum koin yang dilemparkannya menyentuh tanah.
Tiing!!
Tepat ketika suara koin itu terdengar, seketika itu pula debu mengepul menutupi pandangan. Keduanya melakukan lompatan jarak yang luar biasa. Kemudian suara tabrakan dua senjata itu terdengar memekakkan telinga.
__ADS_1
"Untuk ukuran pak tua, kamu lumayan hebat." Andrean berusaha menahan serangan Rito dengan sekuat tenaga. Rito tersenyum ketika mengetahui lengan lawan yang gemetar menahan serangannya.
"Kamu masih bisa tertawa di saat seperti ini?"
"Bagaiman, ya? Apakah aku harus menambah sedikit kekuatanku?" Rito tersenyum licik, membuat Andrean menggeram kesal.
Kumis dan Jenggot Rito yang panjang menari dihempas oleh angin pertarungan. Rito mengalirkan mana pada Gladius, mengayunkan pedang untuk melancarkan serangan tebasan jarak jauh.
Dengan cekatan Andrean mendorong tubuhnya menghindari serangan itu. Ketika Andrean mencoba untuk memberikan serangan balasan, dia sudah tidak melihat pria tua itu di tempatnya.
"Semuanya berakhir dengan ini." Rito mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, melakukan serangan dari titik buta tepat di atas kepala lawan. Namun lagi-lagi serangan itu berhasil di blokir dengan golok raksasa. Hanya saja efek dari serangan yang tidak bisa diblokir dengan sempurna tetap memberikan dampak pada tubuh Andrean.
'Sial, aku tidak bisa meremehkan pak tua ini lagi.' Andrean bergumam dalam hati. Kakinya melompat menjauh dari Rito untuk menstabilkan kuda-kudanya.
"Walaupun aku merasa enggan untuk memakan pil dari 'mereka', tapi dengan memakan ini kekuatanku akan meningkat pesat dari sebelumnya." Andrean memakan pil itu dan seketika mananya meluap dengan deras.
"Hah!? Pil macam apa yang dia makan itu?!" Mata Rito membelalak melihat peningkatan jumlah mana yang tidak masuk akal di hadapannya.
"Haha, walaupun pil ini mempunyai efek samping, tapi asalkan aku bisa membalaskan dendam kawan-kawanku, maka nyawaku pun akan aku pertaruhkan." Andrean mendengus marah.
Anak buah Andrean yang mendengar perkataan Andrean menangis terharu melihat tekat kuat dari bosnya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo kita mulai ronde kedua."
Suara bentrokan dari kedua pedang kembali terdengar bagaikan instrumen musik yang indah dan dua orang yang menari-nari dengan pedangnya di bawah sinar rembulan dan ribuan Kilauan bintang dilangit malam.
Andrean berhasil menyamai kekuatan Rito berkat bantuan dari pil itu. Bahkan Rito sampai beberapa kali dipojokkan oleh lawannya.
"Ugh!" Rito mendesis pelan. Dia tidak menyangka bahwa lawannya akan menjadi sekuat ini hanya karena sebuah pil.
"Hahahaha! Bagaimana? Kekuatanku ini sangat kuat bukan!" Andrean tertawa lepas bagai orang yang kehilangan akalnya.
"Kuakui sekarang kamu sangat kuat tapi, apakah kamu akan bertahan lama dengan kondisi tubuhmu sekarang?" Rito berusaha menunjukkan senyum di wajahnya ketika dia melihat darah segar mengalir dari tiga lubang di wajah Andrean.
"Hahaha!, aku tidak peduli, Asalkan aku membunuhmu itu sudah cukup." Dengan kedua lengan yang membentang lebar Andrean tertawa lepas. Dia menyeka darah dengan kulit tangannya.
"Tampaknya kamu sudah kehilangan akal."
"Meskipun aku mati, aku yakin ketua akan membalas atas kematian kami." Andrean kembali tertawa keras.
Rito sedikit menciut mendengar hal itu. Dia berasumsi bahwa orang yang dilawannya saat ini adalah pemimpin dari kelompok White Tiger. Tapi nyatanya tidak sepeti itu. Orang yang menjadi lawannya saat ini bukanlah musuh terakhir.
"Aku rasa misi kali ini sedikit berada di luar kemampuanku." Rito mengeraskan rahang. Matanya tidak lepas memandang Andrean yang berdiri di depan sana.
__ADS_1
"Baiklah, serangan ini akan menentukan hasil akhir dari duel kita."