
Sesampainya dilapangan pelatihan, Rito langsung beranjak menemui Damond untuk mengajukan sebuah permintaan.
"Guru! Tolong buat aku menjadi lebih kuat!" Rito berbicara dengan lantang sembari membungkukkan tubuhnya.
"Hah, apa-apaan kamu ini tiba-tiba sekali?" Damond berbicara dengan ekspresi wajah yang kebingungan.
"Guru, aku mohon! Bisakah kamu membuatku menjadi lebih kuat dari aku yang sekarang?" Rito menatap Damond dengan tatapan mata yang penuh harap. Damond dapat melihat tekad yang kuat terpancar dari tatapan lelaki di depannya.
"Apa yang membuatmu ingin menjadi lebih kuat? Bukankah kamu yang sekarang sudah menjadi cukup kuat?" Damond mengangkat salah satu alisnya, menunggu Rito memberikan jawaban.
"Aku masih lemah. Aku sadar setelah misi pertamaku beberapa waktu lalu, bahwa aku masih belum cukup kuat. Masih banyak orang kuat lain yang berada di level yang jauh berbeda denganku." Rito terdiam sejenak, memberi jeda bagi dirinya sendiri.
"Dan juga aku memiliki sebuah dinding yang harus dihancurkan dengan tanganku sendiri. Sayangnya aku sadar bahwa dinding itu terlalu kuat dibandingkan dengan diriku sekarang. Aku harus menjadi lebih kuat, jauh lebih kuat untuk bisa menghancurkan dinding itu." Rito menghela napas berat. Tatapannya kosong, menerawang jauh dalam ingatannya sendiri.
Damond hanya bisa menelan ludah melihat ekspresi tidak biasa yang sedang ditunjukkan padanya. Itu bukanlah ekspresi yang bisa dimiliki oleh remaja seusia Rito. Tatapan kosong yang penuh dengan kebencian.
"Baiklah, tapi jangan menyesal. Kamu tidak boleh berhenti di tengah-tengah masa pelatihan. Walaupun kamu bersujud dan memintaku untuk berhenti, aku tidak aan mendengarkan itu. Karena kamu sendiri yang sudah memilih jalan untuk menjadi jauh lebih kuat. Aku hanya akan membantumu selayaknya seorang guru."
Rito langsung mengangguk ketika mendengar ucapan Damond. Sinar dimatanya memancarkan semangat yang luar biasa.
'Anak ini memiliki tekad yang tidak biasa.' Damond bergumam di dalam hati.
__ADS_1
Hari-hari bagai neraka dilalui oleh Rito. Dia melakukan jadwal latihan dengan konsep seperti biasanya, namun latihan kali ini berkali lipat lebih berat dari sebelumnya.
Rito sudah berkali-kali mendorong tubuhnya melebihi batas kemampuan fisik yang dimiliki. Tidak terhitung jumlahnya Rito pingsan dan dipaksa sadar dengan alat kejut.
Berhari-hari Rito tidak mendapatkan tidur yang cukup, namun hal itu membuahkan hasil yang sepadan. Setelah sekitar beberapa minggu berlalu dengan menjalani latihan yang semakin berat, tubuh Rito kini mengalami perubahan secara signifikan.
Saat ini tubuh Rito sudah beradaptasi dengan tipe assassin dan menjadi tubuh khusus untuk assassin sepenuhnya. Rito dapat mengisi kembali energinya dengan tidur beberapa jam saja.
Hari demi hari berlalu dan minggu demi minggu sudah terlewatkan. Saat ini kekuatan Rito sudah meningkat dengan pesat dan setara dengan prajurit kekaisaran tingkat menengah kebawah.
"Huff, sungguh hari-hari yang melelahkan, tapi hal itu membuahkan hasil yang sepadan. Aku sangat berterimakasih kepada guru atas bimbingan dan bantuannya selama ini." Rito membungkukkan badan pada Damond, kemudian dibalas dengan anggukan kecil dan senyuman bangga.
"Aku akan menunjukkannya padamu, guru!" Sekali lagi Rito membungkukkan badan. Dia tersenyum lebar mengingat dirinya yang sekarang tidak bisa dibandingkan dengan dirinya yang dulu.
"Baiklah, bersiap untuk misi selanjutnya." Rito mengatakannya sambil menatap langit biru dengan penuh semangat.
Di sore hari setelah Rito selesai berlatih, dia dihampiri oleh seorang pelayan yang mengatakan bahwa Rito diminta untuk segera menghadap pada Nyonya Lexy. Rito memberikan anggukan pelan dan langsung menuju tempat Lexy berada setelah pelayan itu mengatakan tempatnya.
Sesampainya ditempat Lexy berada, Rito memberikan salam khusus yang biasanya dipakai oleh anggota Night Shadow. Dia berdiri tegak dengan satu tangan mengepal ditekan tepat pada dadanya, sedangkan tangan lain berada di balik pinggang.
Karena sedang bermeditasi Lexy hanya mengangguk untuk membalas salam dari Rito. Saat itulah Rito mulai menurunkan tangannya dan siap mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Lexy.
__ADS_1
"Belakangan ini di daerah Gotham ada sekelompok orang yang sudah tidak bisa diatur. Mereka memiliki julukan White Tiger. Jadi malam ini aku hanya akan mengutus kamu untuk mengurus orang-orang barbar disana. Kamu bisa melakukannya, bukan?" Lexy berbicara dengan Rito sambil bermeditasi.
Rito yang melihat itu seketika merasa kagum pada Lexy. Dia sangat mengetahui bahwa tidak mudah membagi fokus saat bermeditasi. Rito juga memahami mengenai kehilangan fokus saat bermeditasi sama saja dengan pintu menuju kematian.
Ritme aliran mana di dalam tubuh akan rusak jika fokus teralihkan sedikit saja. Dari ini Rito menyadari bahwa dirinya dan wanita yang berada di depannya berada pada level yang sangat terlampau jauh berbeda.
"Apa saja kejahatan yang sudah mereka lakukan?" Rito bertanya mengenai detail tentang targetnya.
"Tidak banyak, dulu.Tapi sekarang semuanya sudah berbeda. Jika saja mereka tetap menjadi bandit amatiran, aku tidak akan melakukan tindakan."
"Jadi apa yang mereka perbuat sampai harus mengambil tindakan?"
"Banyak hal. Tapi yang paling membuatku jengkel adalah laporan tentang mereka yang mulai memasuki desa dan mencuri gadis untuk bermain lalu dijual pada pelelangan dunia atas." Lexy mulai membuka matanya perlahan. Dapat dilihat dengan jelas sorot mata tajam yang bersinar.
Rito yang mendengar itu mengepalkan tangannya. Dia juga merasakan gejolak emosi yang tidak bisa dijabarkan.
"Dunia ini membutuhkan angin perubahan." Rito bergumam pelan.
"Kamu harus membereskan mereka dengan benar. Bersihkan sampah itu sampai ke akarnya."
"Dimengerti, Pemimpin!" Sekali lagi Rito memberi hormat pada Lexy, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan.
__ADS_1