Emissary Of The Night Shadow

Emissary Of The Night Shadow
Dibawa Pada Pemimpin Ghetto.


__ADS_3

Ruangan menjadi lengang seketika kala mendengar permintaan Rito yang diluar dugaan mereka. Padahal wanita itu berpikir Rito akan memohon sambil bersujud untuk melepaskan kedua adiknya, tapi perkiraannya jauh berbeda dengan apa yang terjadi.


Rito malah menawarkan diri untuk dikirim bersama dengan Kelly ke pemimpin Ghetto. Semua orang sudah tahu mengenai rumor tentang orang-orang yang dikirim pada pemimpin Ghetto. Dikatakan tidak ada satupun yang masih hidup. Meminta dikirim ke tempat yang seperti itu sama saja dengan meminta untuk dibunuh.


Claire semakin senang saat memikirkan betapa berputusasanya remaja yang berdiri di hadapannya saat ini. Padahal Claire sudah melakukan berbagai cara yang kejam supaya Rito dan adiknya mau angkat kaki dari rumahnya, tapi tidak satupun berhasil. Dia juga tidak bisa mengusir Rito karena ada peraturan dari bangsawan kelas atas yang melarang untuk mengusir anak yang belum memiliki pekerjaan tetap. Jika dia tetap melakukannya, maka dia akan mendapatkan hukuman yang sudah tertulis.


"Kamu mau pergi dengan senang hati? Tentu, silahkan saja! Biar aku yang akan mengemas semua barangmu. Orang yang akan mati sebentar lagi tidak boleh dibuat repot juga sebelum mati. Nikmati hari-harimu disana dengan tenang, ya!" Claire menepuk pelan kepala Rito, membalik badan, berjalan menuju kamar di ujung ruangan. Langkahnya terlihat sangat riang dan penuh semangat. Wanita itu juga sempat bersenandung sambil meliuk-liukkan bokong besarnya.


Ada perasaan lega bercampur takut dikala Rito mengetahui bahwa sebentar lagi dia akan berada di tempat yang dianggap sebagai daerah bebas hukum oleh orang-orang yang berada di dunia atas maupun dunia bawah. Dia sudah bisa melihat masa depannya, lebih tepatnya dia bisa melihat bahwa tidak ada masa depan yang menunggunya.


Dia hanya akan mengalami penyiksaan hari demi hari. Jika saja dia bisa menggantikan Kelly dan meminta pemimpin Ghetto untuk melepaskan adik terkecilnya, dia rela meski harus lebih menderita dari yang sebelumnya dia alami.

__ADS_1


Rito mengalihkan pandangannya pada Kelly dan Molly yang meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Mata mereka ditutup oleh kain berwarna biru. Hati Rito terasa sangat sakit seperti disayat oleh ribuan belati dalam satu waktu. Adiknya yang sudah dia rawat agar tidak ada yang bisa melukai mereka malah direnggut begitu saja darinya. Rito merasa takdir pilih kasih terhadap dirinya. Semua usaha Rito selama bertahun-tahun runtuh seketika, terasa hambar dan sia-sia.


"Maafkan aku, semua ini salahku. Andai aku mendengarkan saran Molly hari itu, kalian pasti tidak akan mengalami penderitaan akibat kesalahanku. Aku memang kakak yang tidak berguna. Aku terlalu takut untuk mengambil keputusan, seperti seorang pengecut. Tidak masalah jika kalian membenciku. Bencilah kakak yang tidak bisa diandalkan! Tidak akan ada yang menyalahkan kalian karena itu." Rito tidak bisa lagi membendung teriakan pilu yang sudah dia tahan. Teriakan itu keluar begitu saja disusul dengan suara hujan yang turun deras seketika.


Harusnya dia mendengarkan saran Molly hari itu. Harusnya dia kabur dan meninggalkan tempat ini bersama dua adiknya. Harusnya dia lebih memilih hidup tanpa tempat tinggal dan tanpa orang dewasa yang selalu mengatur dirinya. Harusnya dia memilih jalan yang semacam itu jika saja dia tahu akhirnya akan seperti ini. Harusnya hari ini tidak pernah terjadi.


Suara teriakan Rito teredam oleh suara derasnya air hujan yang membentur atap rumah dengan begitu keras. Selama bertahun-tahun dia menahan air yang terbendung di balik bola mata, akhirnya semua bisa dia keluarkan saat ini. Rito merasa tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia terus berteriak dan berteriak dalam kepedihan. Dia ingin diam, tapi teriakannya terus terdengar. Dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya, tapi air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk terus seperti ini tanpa perlu memikirkan apapun lagi.


Benar juga, sekarang dia tidak perlu berpura-pura kuat lagi. Hidupnya akan segera berakhir, tidak ada salahnya untuk mengeluh. Mulai saat ini dia tidak perlu lagi berpura-pura tentang apapun. Akan dia ungkapkan semuanya dalam emosi yang masih berkukuh.


"Jika kamu ingin menangis, maka jangan menangis di tempatku. Ketika kamu sudah tiba di sana, menangislah sepuasnya. Itu adalah hal yang wajar." Claire baru saja selesai mengemasi barang Rito, melempar tas kecil berisi pakaian ke lantai tidak jauh dari tempat Rito berada.

__ADS_1


Dua penjaga lain segera memegangi masing-masing bahu Rito. Mereka sudah mendapatkan perintah untuk segera mengirim target pada pemimpin Ghetto tanpa laporan tambahan lagi. Walaupun kesediaan Rito tidak ada dalam perintah, tapi tidak ada salahnya jika menambahkan satu target lagi untuk dikirim. Mereka yakin pemimpin Ghetto akan merasa senang karena mainannya bertambah tanpa dia minta.


Rito dan Kelly ditempatkan dalam satu kereta kuda, sedangkan Molly berada di kereta kuda yang berbeda. Kereta yang membawa Molly melesat mendekati dunia atas, berbanding terbalik dengan arah kereta yang membawa Rito dan Kelly. Meski Rito sudah berusaha menahannya, tapi suara isak tangis Rito yang masih tersisa terdengar sangat jelas. Dia tidak bisa berhenti sesegukan.


Rito mengalihkan pandangannya pada tiga penjaga yang menemaninya. Terbesit di benak Rito untuk setidaknya membunuh satu diantara mereka ketika sudah tiba di wilayah Ghetto. Lagipula dia tidak akan mendapatkan hukuman apapun karena akan segera menjadi bagian dari Ghetto itu sendiri.


"Hei, kenapa dia menatap kita seperti itu?" Salah satu penjaga yang memerhatikan Rito berhasil menangkap tatapan tidak bersahabat yang Rito layangkan.


"Lalu kenapa? Dia tidak bisa melakukan papun pada kita. Jangan bilang kamu takut dengan bocah yang lebih muda darimu?" Penjaga yang lain mengejek diikuti oleh suara tawa. Bagaimana mereka bisa tertawa saat sedang mengantarkan anak yang lebih muda dari mereka menuju pada kematian?


"Sudah rusak. Sampah harus dibersihkan dan dibuang pada tempat yang seharusnya." Rito bergumam pelan diambang kesadarannya. Dia tidak hampir pingsan, hanya saja pikirannya terlalu kacau. Berbeda dengan orang dewasa yang dimabuk alkohol, saat ini Rito dimabuk oleh perasaan yang berkecamuk.

__ADS_1


Tidak tahu apa yang dia rasakan, tidak tahu apa yang dia dipikirkan, kata-kata terlontar begitu saja dari mulutnya. Terlihat seperti orang yang kehilangan kewarasan, tiga penjaga penjaga itu mulai mewaspadainya. Mereka merasakan ada yang tidak beres dengan Rito. Jika saja terjadi hal yang diluar dugaan, mereka tidak akan segan memenggal kepalanya dengan pedang yang menempel di pinggang mereka.


"Tunggu pembalasanku. Aku akan datang untuk menghantui kedamaian kalian."


__ADS_2