
Ketika Rito dan assassin yang sedang saling beradu serangan seketika terdiam sejenak setelah melihat sesosok pria misterius yang berpenampilan tinggi besar. Pria itu mengenakan topeng besi dengan borgol yang menjadi gelang di kedua pergelangan tangannya.
Tidak lupa juga dengan senjata yang terlihat seperti golok sedang bertengger di bahu kanannya. Tangan kanan pria itu menggenggam erat pegangan golok yang memiliki diameter cukup besar mengingat ukuran dan senjatanya yang melampaui senjata biasa.
"Siapa kamu?" Assassin secara spontan menanyakan identitas dari sosok misterius itu.
"Hahaha, lucu sekali! Kalian sungguh tidak mengenalku? Seorang Joseph sang crazy maks?"
"A-apa?! Tidak mungkin!" Rito membelalak menatap pria tinggi besar yang menghentikan pertarungannya itu.
Wajah Rito berkeringat dan terlihat sedikit pucat setelah mengetahui identitas dari sosok yang saat ini berada didepannya.
Wajar Rito terkejut karena sosok pria misterius itu merupakan salah satu penjahat paling gila dan sangat ditakuti yang ada di dunia bawah.
Rumor mengatakan bahwa dia membunuh kedua orang tuanya di usia yang baru menginjak sepuluh tahun. Lalu masih di tahun yang sama, dia juga membunuh keluarga yang mengadopsinya secara illegal.
Akibat kegilaannya yang semakin menjadi, lima tahun kemudian dia membantai sebuah desa dengan melakukan pembunuhan massal dan pembakaran besar-besaran yang membuat desa itu menghilang seketika menjadi kumpulan abu.
"Siapa sangka sistem penjagaan di kediaman seorang bangsawan bisa seburuk ini? Awalnya aku hanya berniat untuk bermain-main di tempat ini setelah aku kabur dari penjara yang membosankan itu." Joseph menguap panjang sambil menghentak-hentakkan golok di bahu kanannya.
"Aku harus bersyukur karena bisa menemukan pertunjukan yang menarik. Hanya saja percakapan kalian benar-benar sangat menjijikkan. Telingaku sampai mau pecah ketika mendengarnya." Joseph beralih menatap Rito dengan tatapan yang dingin dan tajam.
"Hei, bocah tengik! Kita pernah bertemu sebelumnya?" Joseph memerhatikan Rito lamat-lamat. Pria itu menatap Rito dari ujung kaki hingga ujung kepala. Rito menelan ludah melihat itu, dengan cepat dia menggelengkan kepala.
"Benarkah? Aku seperti merasa tidak asing dengan wajahmu itu. Siapa namamu?"
"Untuk apa kamu menanyakan namaku?" Rito menolak mentah-mentah untuk menjawab pertanyaan Joseph yang tiba-tiba ingin tahu tentang namanya.
__ADS_1
"Mungkin jika aku tahu namamu, maka aku bisa mengingat dimana kita pernah bertemu." Joseph menyipitkan mata, memandangi Rito dengan serius.
Rito hanya bisa menelan ludah. Dari auranya saja dia sudah tahu kalau Joseph bukanlah tandingannya bahkan jika dia dan assassin bekerja sama.
Tidak ada pilihan lain bagi Rito selain menjawab pertanyaannya, namun dia akan menggunakan nama samaran untuk berjaga-jaga.
"Namaku Andie, hanya Andie. Aku tidak mempunyai marga karena aku seorang yatim piatu."
"Andie.....yatim piatu....entah kenapa wajahmu mengingatkanku pada seseorang."
"Ayah dan ibuku meninggal entah bagaimana. Saat aku pulang tubuh mereka sudah terbelah menjadi beberapa bagian. Lalu aku diasuh oleh orang lain dan bertemu dua malaikat kecil yang aku anggap sebagai keluargaku sendiri." Tanpa sadar Rito menceritakan sedikit tentang latar belakang dan masa lalunya. Ucapan Rito membuat mata Joseph membelalak.
"Ah...itu juga mengingatkanku pada seuatu kejadian ketika aku membunuh sepasang suami istri yang tinggal di rumah yang cukup mewah dan cukup berada. Kalau tidak salah mereka menyebutkan untuk tetap membiarkan anak mereka hidup, tapi aku tidak melihat anaknya dimanapun." Joseph menggelengkan kepalanya sambil berdecak-decak pelan.
"Aku juga masih mengingat mata merahnya yang memelas. Wanita gila itu sampai menarik rambutnya sendiri karena frustasi." Joseph tertawa di ujung kalimat. Dia kembali merasakan sensasi yang luar biasa ketika membayangkan pembunuhan yang dilakukan olehnya beberapa puluh tahun yang lalu.
"Apa kamu yang membunuh orang tuaku?" Rito mengeraskan rahang. Tangannya mengepal erat sambil memegang Gladius di salah satunya.
"Oh...apa itu orang tuamu? Pantas saja aku tidak menemukan anak mereka, ternyata kamu sedang berada di luar."
Rito yang tersulut api amarah tanpa pikir panjang berlari menuju Joseph dan langsung menyerang dengan sekuat tenaga namun serangan rito dapat dibatalkan oleh Joseph hanya dengan lambaian kecil dari goloknya, seketika Rito terhempas sejauh lima meter.
Assassin yang melihat itu seketika langsung bergidik dan merasa cemas setelah melihat kekuatan dari salah satu penjahat paling mengerikan dari dunia bawah.
"Hey bocah! bagaimana kalau kita bekerjasama untuk mengalahkan orang itu?" Assassin itu menghilang dalam gelap dan muncul disamping Rito untuk membuat kesepakatan dengan Rito.
"Kenapa kamu tidak melarikan diri saja? Bukankah kamu bisa menghilangkan seluruh hawa keberadaanmu dan kabur dari balik kegelapan?" Rito bertanya dengan napas yang terengah-engah. Dia menyeka keringat yang mengucur membashi wajah dan tubuhnya.
__ADS_1
"Kalau bisa sudah kulakukan sejak tadi, sayangnya aku tidak bisa seratus persen menghilangkan hawa keberadaanku. Tadi aku sudah mencoba untuk kabur namun matanya melirikku disaat aku menghilangkan hawa keberadaanku dan itu membuatku merinding." Assassin itu berbicara dengan wajah yang pucat.
"Bagaimana jika kamu bekerjasama denganku?" Assassin memberkan penawaran karena dia menyadari bahwa ada perbedaan kemampuan yang sangat jauh diantara kekuatan mereka secara individu dengan kekuatan yang dimiliki oleh pria besar di depan mereka.
Rito terlihat sedang berpikir sebelum menerima penawaran itu. Dia tidak tahu apakah assassin akan menggunakannya sebagai umpan untuk melarikan diri atau semacamnya. Intinya tidak ada jaminan bahwa assassin itu benar-benar ingin mengajaknya bekerjasama.
"Baiklah mari kita bekerjasama." Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Rito memutuskan untuk menjalin kejasama dengan assassin itu.
"Hahaha, dasar bocah bodoh! Ketika kita sudah mengalahkan si topeng bodoh itu aku akan membunuhmu sebagai bayaran karena kamu telah membunuh adikku." Assassin itu berguma pelan sambil tersenyum lebar memikirkan hal licik tanpa Rito ketahui.
Rito memasang kuda-kudanya dan langsung melesat kearah Joseph disusul oleh assassin yang juga melesat dengan cepat kebagian belakang tubuh Joseph. Rito dan assassin melancarkan serangan secara bersamaan kebagian depan dan belakang tubuh Joseph, berharap pria itu tidak akan bisa menahan dua serangan yang datang dari arah yang berlawanan.
Rito dan assassin yang sudah merasa kalau serangannya mengenai dan melukai tubuh Joseph terkejut oleh kenyataan yang membantah hal tersebut, karena serangan yang Rito lancarkan dapat ditahan dengan mudah dan serangan assassin dapat ditahan oleh Joseph dengan memanfaatkan borgol besi yang ada di lengannya.
"Hahaha, kombinasi serangan yang bagus cecunguk sialan, namun sayangnya itu masih belum cukup untuk membunuhku." Joseph tertawa sembari menatap remeh mereka berdua. Dia mendorong mundur Rito dan assassin hingga beberapa angkah.
Rito mulai menggeram kesal. Selain fakta bahwa pria di depannya adalah dalang dibalik kematian kedua orang tuanya, kenyataan lain bahwa Rito tidak dapat mengalahkan orang itu semakin membuatnya merasa frustasi.
"Ini sudah mulai membosankan, bahkan ini tidak bisa disebut sebagai pemanasan. Aku sudah bosan membunuh orang lemah seperti kalian, kalian beruntung aku akan pergi tanpa membunuh siapapun." Setelah mengatakan hal itu Joseph langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan mereka.
"Hah, dia pergi begitu saja?" Rito bertanya keheranan. Dia mencoba untuk mengatur napasnya yang mulai memburu. Rito menjatuhkan tubuhnya, bersimbuh begitu saja kerena kelelahan akibat pertarungan tanpa henti yang dia alami.
Melihat kesempatan emas assassin berinisiatif untuk membunuh Rito saat itu juga, namun sebelum belatinya menembus dada Rito sebuah jarum melesat tepat mengenai leher dan membunuh assassin itu.
"Hei, kamu kenapa?" Rito terkejut melihat assassin itu jatuh dengan dengan wajah yang seolah merasa kesakitan.
"Dia sudah mati kerena terkena jarum beracunku." Terdengar suara yang tidak asing dari sudut ruangan.
__ADS_1
"Huh! Ballut?"