Emperor Online

Emperor Online
BAB 20: Menuju Puncak Pertempuran


__ADS_3

Gerbang Barat dalam keadaan sepi, Archer masih mengisi benteng sebagai penjaga sementara bersama Ranger di sisi lain benteng. Gunner dan yang lainnya turun ke bawah, mereka membangun kamp darurat atau kamp sementara. Sekarang pemandangan di bawah benteng terlihat seperti karavan yang sedang beristirahat dengan membuat banyak tenda. Iza dan Tulkenia berada di tenda terbesar, karena mereka lah pemimpinnya disini.


Iza berusaha menghubungi Haytrea, namun usahanya tidak membuahkan hasil. Haytrea tidak menjawab sedikitpun pesannya, kebetulan yang sungguh aneh. Iza berasumsi bahwa pertempuran di Gerbang Selatan belum berakhir, makanya Haytrea belum menjawab.


Di Gerbang Selatan pertempuran masih berlanjut. Regu kecil Spearman banyak yang tewas karena dikeroyok oleh Black Goblin, hanya tersisa 2 grup saja sekarang. Tebakan Chao benar, bahwa perintah pembagian regu Spearman ini adalah perintah bodoh, terlalu banyak kerugian nyata. Haytrea masih memperhatikan jalannya pertempuran di depan sana, golemnya masih aktif bertempur walaupun Mp Haytrea diserap dalam jumlah banyak. Tanker sudah kelelahan walaupun sudah meminum Mp Potion dan istirahat sejenak, banyak di antara mereka terjatuh lalu terduduk di dekat gerbang.


Archer tinggal setengahnya saja yang aktif memanah, sisanya juga duduk di atas benteng, mereka ingin istirahat. Hanya Gunner yang masih aktif menembak, mereka menembak dalam dua barisan secara bergantian, satu barisan berisi ratusan pemain. Lumayan banyak juga Black Goblin yang tewas karena tembakan beruntun Gunner. Haytrea masih berdiri di atas gerbang, tidak menyadari bahwa pasukannya sudah sangat kelelahan, apalagi menyadari keadaan Tanker. Wakilnya, Enna lebih santai lagi, ia hanya duduk tanpa melakukan apapun.


Black Goblin Commander melihat bahwa pasukan musuhnya sudah berjatuhan karena lelah, jelas ini kesempatan baginya untuk menggempur habis-habisan. Black Goblin maju perlahan mendekati gerbang yang pertahanannya sudah melemah, serbuan artileri masih berlangsung. Menara Pengepungan sudah diisi sepenuhnya oleh Infanteri Black Goblin tanpa diganggu oleh Spearman sedikitpun, jumlahnya sekarang ada 5 Menara. Separuh benteng sudah dikuasai oleh Black Goblin, tinggal penghancuran gerbang saja lagi.


Ranger memilih bertarung sampai mati walaupun mereka merasa lelah, karena mereka dikepung dari berbagai arah oleh Black Goblin, karena Ranger ini berusaha membantu regu Spearman dan hasilnya adalah hal itu. Meski tak semua Ranger mengalami kelelahan yang sama, mereka sudah putus asa melawan musuh karena minimnya persenjataan. Seharusnya Komandan Gerbang Timur mengirim persenjataan ataupun prajurit tambahan, karena pasukan militer dari Gerbang Selatan dan Barat di mobilisasi kesana. Avker masih berusaha menghubungi komandan Gerbang Timur, namun masih gagal. Tidak mungkin dia akan kesana dengan kendaraan, transportasi umum dibekukan saat perang sekarang, hanya kereta yang masih aktif karena itu menghubungkan semua daerah di Robotic Castle Kingdom.


Chao berhasil menyalin skill lawan dengan sukses, sekarang dia akan menggunakannya pada pemilik aslinya. Musuhnya masih utuh, satu pun belum ada yang jatuh, namun mereka mengalami luka-luka.


"Hehe. Darkness Spear!" Chao tersenyum ke arah Black Goblin sambil mengayunkan tangannya seakan melemparkan sesuatu.


Tak lama setelahnya sebuah tombak gelap muncul di tangan Chao dan langsung terlempar ke depan.


"Enhanced Accuracy, Triple Damage." Chao membuat banyak Darkness Spear untuk dilemparkan kepada lawan.


Black Goblin berlindung di balik perisainya masing-masing agar tak terkena serangan acak Chao, beberapa memilih menyerap damage dengan perisainya.


" Reversal Effect." Chao menatap langsung perisai musuhnya agar enchant miliknya bekerja.


Damage yang seharusnya diserap oleh perisai malah kembali ke pemilik perisai, menyebabkan tubuhnya berlubang seperti terkena tombak secara langsung. Chao melihat Mp-nya berkurang dengan cepat, tapi dia tak peduli. Lawannya banyak sedangkan dia hanya sendiri. Chao mengubah Mp miliknya menjadi benang dan melemparnya dengan harapan sampai pada targetnya. Benang nya berhasil sampai, satu benang terpecah menjadi banyak dan menjalar mencoba mengait tombak lawan.


"Haha, dapat. Darkness Spear, Weapon Explosion." Chao menarik semua tombak yang berhasil dia dapat seraya melemparkan Darkness Spear yang akan meledak saat sampai.


Boom!Boom!Boom!Boom!Boom!Boom!Boom!


Chao menarik dan mengambil semua tombak. Object Creator muncul dan menarik semua tombak yang memancarkan aura gelap itu. Semua tombak melebur, jumlahnya 14 tombak. Chao mengubah logam itu dengan Mana miliknya menjadi tombak yang lebih besar. Tak butuh waktu lama sebuah tombak sudah jadi, Chao mengeluarkannya dan menyiram nya dengan air yang berada di Object Creator. Tombak itu memancarkan aura yang mengancam karena berasal dari berbagai tombak yang digabungkan menjadi satu.


"Darkness Lance, Weapon Explosion, Double Damage." Tombak yang baru ditempa itu langsung digunakan untuk mengambil darah segar dari korbannya.


Seperti mampu mendengar perintah, tombak raksasa itu langsung terbang.


Booom!


Tombak itu langsung menembus banyak target, meski bukan titik vital tapi itu sudah cukup untuk menghentikan pergerakan beberapa Black Goblin. Chao menggunakan Mp-nya untuk mengendalikan tombak itu. Beberapa Black Goblin melontarkan tombak serta proyektil pada Chao agar dia cepat mati.


Mp Chao berkurang dengan cepat seperti aliran air yang bocor, sebentar lagi dia akan mencapai batasnya. Chao menghindari semua proyektil meski tak berhasil sepenuhnya sembari memutar tombak raksasa itu dengan pola setengah lingkaran.


Sekarang semua Black Goblin yang melawannya terluka cukup parah karena setiap luka nya mengalirkan darah. Chao menarik kembali tombaknya dan memasukkannya ke dalam Inventory. Karena Mp miliknya sudah sekarat, ia akan pergi dari pertempuran ini. Chao melirik lawannya yang dapat dikatakan sudah terkena debuff Bleeding, tinggal menunggu saja lagi apakah mereka akan mati. Kalau mati karena efek Bleeding, maka dia akan naik level dengan mudah.


Keadaan Chao dan lawannya sebenarnya sama, Hp Chao juga berkurang setengahnya. Menghabisi Chao akan mudah sekarang karena selain Hp-nya sedikit juga Mp-nya hampir habis, jadi tidak akan ada pembelaan diri. Haytrea masih mengendalikan golemnya untuk bertarung tanpa henti, wajahnya sudah pucat sekarang karena memaksakan diri. Kalau Haytrea berhenti sekarang, misinya akan gagal dan otomatis Guild-nya akan disalahkan.


Enna yang melihat itu sedikit khawatir akan keadaan atasannya, tapi dia sendiri tak akan bisa menghentikannya karena itu sama saja dengan menjatuhkan harga diri Haytrea sekaligus Guild tempatnya bernaung. Enna mengeluarkan senjatanya, berharap bisa membantu Ketuanya sekali lagi seperti yang terjadi di Gerbang Barat.


"First Shoot." Senapan Enna melepaskan proyektil pertamanya dengan sukses, sasarannya Black Goblin Commander yang berada di ujung sana.


Black Goblin Commander melihat adanya serangan yang menargetkan dirinya. Dengan tenang ia mengangkat Kapak kebanggaannya ke atas untuk melindungi dadanya.


Slash!


Sebelum proyektil itu sampai pada targetnya, kapak Black Goblin Commander berhasil memotongnya dengan tepat tanpa menghasilkan ledakan sedikitpun. Black Goblin Commander tersenyum puas, dia menatap ke depan dimana pasukannya menguasai setengah medan pertempuran.

__ADS_1


Haytrea tiba-tiba terjatuh, lututnya menyentuh permukaan benteng. Tandanya ia telah kehabisan Mp serta mengalami kelelahan mental yang kuat. Ini pertanda buruk, bantuan belum sampai tapi ketuanya sudah jatuh lebih awal.


"Evakuasi ketua!" teriak Enna pada pasukan yang berada di dekat Haytrea.


Selusin Gunner dan Archer memisahkan diri dari pertempuran untuk membawa serta mengawal ketuanya ke tempat aman.


"Hahaha. Sekarang!" tiba-tiba Black Goblin Commander berteriak dengan lantang


Infanteri Black Goblin yang tersisa di luar gerbang berlari dengan cepat ke depan. Semuanya mengincar gerbang, alasannya mudah yakni Haytrea telah pergi jadi golemnya sudah hilang karena kehilangan pengendali.


Black Goblin yang berada di atas benteng dekat dengan Menara Pengepungan juga bertarung habis-habisan. Semuanya merangsek maju menghabisi Spearman yang tersisa, semuanya terjatuh satu persatu.


Enna melihat laju pertempuran menjadi berat sebelah setelah kepergian Haytrea. Musuh telah menyadari kunci kemenangannya. Spearman sudah musnah, yang tersisa di atas sana hanyalah Gunner dan Archer. Ranger juga berkurang banyak karena mereka juga berada di tempat yang sama dengan Spearman.


Gunner mengalihkan tembakannya dari ke arah bawah menuju atas, jadi sekarang mereka menembak ke depan. Sekarang barisan Gunner berubah menjadi 4 barisan, setiap barisan berisi puluhan player. Archer berada di belakang Gunner, semua Archer kembali berdiri termasuk yang kelelahan tadi. Seharusnya Tanker berada di depan untuk melindungi pasukan, namun keadaan pertempuran tidak mengizinkannya. Tanker berada tepat di belakang gerbang, tujuannya untuk menahan gerbang agar tidak hancur dari serbuan masif Black Goblin.


Barisan Gunner mulai bergerak, setiap barisan menembak dengan serentak lalu digantikan dengan yang lain. Archer menyerang dua arah, ada yang ke depan dan ada juga yang ke bawah. Sejak penyerbuan ini dilakukan Enna tidak menampakkan dirinya sedikitpun, padahal tugasnya sebagai pemimpin apabila Haytrea telah mati ataupun kelelahan. Menara Pengepungan bertambah banyak, sekarang yang terdekat saja tepat di hadapan Archer dan Gunner ini, apabila tidak dicegah maka pasukan Haytrea ini akan terjepit.


"Fire Arrow." Archer melepaskan panah nya pada salah satu Menara Pengepungan dengan tujuan membakarnya.


Puluhan panah mendarat di satu titik, api merambat dengan cepat, semuanya dibakar dalam sekejap. Sayangnya, Black Goblin yang berada di Menara Pengepungan banyak yang selamat karena mereka langsung turun dan berganti Menara Pengepungan lain, alhasil hanya sedikit korban jiwanya.


Terlihat di ujung pasukan musuh pimpinan mereka berdiri, tak lama setelahnya datang gerombolan hitam di belakangnya. Musuh sudah mendatangkan bala bantuan walaupun keadaan mereka lebih unggul. Ini adalah kabar buruk yang jelas. Sekarang misi melindungi kota berubah menjadi misi mempertahankan kota sampai akhir, ini terlihat dari kenyataan terkini medan perang.


Hari semakin gelap, pertempuran terus berlanjut seakan tidak mengenal kata istirahat. Sebagian besar pasukan musuh mundur kecuali yang berada di Menara serta di atas benteng. Infanteri Black Goblin yang berada di bawah telah diganti dengan yang baru, begitu juga dengan Artilerinya. Sekarang peralatan perang berbaris di depan benteng Gerbang Selatan, terdiri atas Onager, Ballista, Trebuchet, dan Battering Ram. Peralatan perang yang dapat dikatakan lengkap.


Sebenarnya perintah bertempur ini sudah dapat dikatakan tidak waras, karena mereka player seharusnya bisa pergi dengan cara apapun walaupun misinya gagal. Hanya ratusan player berhadapan dengan ribuan Black Goblin yang dipersenjatai dengan lengkap pula, dari sisi mana nya yang seimbang.


Barisan terdepan Gunner menembak sambil menghindar dari serangan musuh, senjata lawan hanya kapak atau Greatsword, namun jumlahnya menjadi keunggulan yang jelas. Gunner semakin terdesak, kebanyakan di antara mereka tidak memiliki class utama kedua seperti Bomber ataupun sejenis class Magic Combat.


"Ya, aku setuju. Lebih baik kita pergi saja dari sini. Jewel Teleport: Teleportation."


Brakk!


Beberapa Archer dan Gunner yang mendengar pernyataan tadi memilih untuk mundur dari misi. Mereka menggunakan banyak permata teleportasi dengan cara dipecahkan ke lantai tembok benteng, ada juga yang menggunakan koneksi temannya untuk mengirimkan portal teleportasi kesini walaupun nantinya akan membayar mahal lantaran sulitnya mengimplementasikan elemen langka dari class Mage ini. Dalam sekejap seperempat dari jumlah total pasukan menghilang.


Gunner dan Archer yang tersisa bertempur habis-habisan, kalaupun mereka mati misinya tidak gagal dengan sia-sia. Gunner mengganti senjatanya dengan senapan laras panjang, terbuat dari besi biasa yang mirip dengan pistol namun lebih panjang. Semua amunisi dikeluarkan untuk membantu laju pertempuran. Mereka tidak ingin menghabiskan Mp karena akan membuat mereka kelelahan dan tidak mampu bergerak. Archer menghabiskan semua panah di quiver miliknya dan menembakkannya dalam jumlah banyak, apabila habis nanti, maka Archer akan mundur dengan satu senjata yakni sebuah Dagger.


Black Goblin tidak takut sedikitpun, karena musuhnya hanya sedikit dan mereka menganggapnya tidak berbahaya. Sekarang ada lebih kurang delapan ribu lebih Black Goblin yang bertempur maupun beristirahat, baik pasukan yang lama maupun pasukan baru, ini hanya hitungan kasar, karena tidak ada yang tahu pasti jumlahnya.


Semua alat perang sudah diisi dan siap tempur. Tidak lama setelahnya satu-persatu senjata menunjukkan kemampuannya. Hujan Ballista dan panah dari pemanah Black Goblin menghampiri semua pasukan di atas benteng. Trebuchet melepaskan batu berapi yang membuat senja terlihat terang benderang, disusul dengan Onager yang juga menembakkan proyektil batu biasa maupun batu berapi juga. Onager bertugas menghancurkan sedikit demi sedikit tembok kota, sedangkan Trebuchet lebih dari itu. Trebuchet menghancurkan tembok kota lebih cepat dari Onager, juga batu berapi yang dikirimkannya bisa membakar apa saja yang ada dibalik benteng pertahanan.


Beberapa peleton Black Goblin terlihat membawa obor untuk menerangi lingkungan sekitar, selain itu mereka membawa Battering Ram yang akan digunakan untuk mendobrak pintu gerbang. Bukan hanya satu, tapi ada empat Battering Ram, ini dilakukan apabila salah satunya terbakar masih ada penggantinya.


Black Goblin yang berada di Menara Pengepungan membagi diri menjadi dua pasukan, satu pasukan tetap berhadapan dengan Gunner serta Archer dari pihak Haytrea. Yang lainnya turun dari tembok kota, mereka akhirnya akan memasuki kota secara perlahan. Masih ada empat gerbang lain yang harus dilewati oleh Black Goblin agar sampai ke pusat kota. Gunner dan Archer yang melihat musuh berhasil turun ke dalam wilayah Kota Vayoca menjadi panik, segera mereka menghubungi Haytrea maupun Enna, atasan mereka.


Kabarnya, pasukan bantuan Haytrea akan datang, namun sampai saat ini belum juga menampakkan diri. Bukan Haytrea yang menjawab panggilan darurat mereka, tapi Enna. Enna mengatakan semua pasukan Haytrea, terutama yang dijanjikan sebagai bantuan telah disiapsiagakan di Gerbang Selatan ketiga. Ternyata, Enna telah pergi selagi mereka bertempur sendirian.


"Haih, dasar pemimpin pengecut," gumam salah satu Archer saat dia sekarat, tak lama setelah dia melepaskan panah terakhir, akhirnya ia mati.


Keadaan di Gerbang Selatan kelima sangat kacau, mayoritas isinya hanyalah musuh saja sekarang. Ranger yang tersisa beserta komandan gerbang yakni Avker sudah turun dari benteng, mereka akan menuju gerbang keempat yang mana searah dengan pasukan Black Goblin. Tubuh Avker bersimbah darah, Mana Rifle miliknya juga demikian, bercampur dengan darah musuh juga. Battle Mode miliknya sudah di non aktifkan sejak mereka turun tadi. Avker masih bisa berjalan dengan tegap walaupun terluka, semangat tempurnya sangat tinggi ternyata.


Akhirnya semua pasukan Haytrea mati di tangan musuh, tentunya mereka akan respawn di kuil nanti. Sekarang Gerbang Selatan kelima bersih dari unit Haytrea dan penuh oleh Black Goblin.


•••

__ADS_1


Gerbang Barat


Keadaan disini remang-remang. Di sekitar tenda banyak lentera yang digantung, jadi agak terang. Namun, di luar jangkauan tenda, semuanya gelap. Di atas benteng sana, tempat pemanah mengawasi musuh, keadaannya juga sama. Mereka hanya mengandalkan lentera yang mereka letakkan di dekat tempatnya masing-masing. Ranger tak lebih baik, mereka menggunakan lentera yang menggunakan kristal mana sebagai sumber pencahayaan, memang radiusnya lebih luas. Namun jumlahnya sangat sedikit, hanya 101 saja.


Iza dan Tulkenia mendapatkan pesan dari Haytrea bahwa Gerbang Selatan paling terluar alias Gerbang Selatan kelima telah jatuh ke tangan musuh. Tempat itu sudah diisi sepenuhnya oleh Black Goblin, semua pemain yang ada disana telah tewas dan respawn di kuil terdekat yang agak jauh dari daerah pertempuran. Tentu saja mendapatkan kabar seperti itu, keduanya terkejut.


Iza dan Tulkenia mengambil senjatanya masing-masing, mereka ingin keluar untuk mengamati secara langsung Gerbang Barat yang berada di bawah tanggung jawab mereka. Mereka tak ingin kejadian seperti di Gerbang Selatan terulang kembali disini. Itu sangat berbahaya.


Archer yang berada di atas tembok kota melihat pergerakan mencurigakan di sekitar jalan dan tepi hutan yang berada di depan gerbang. Terlihat ada beberapa cahaya merah disana, seperti cahaya obor atau lentera. Archer yang berada disana segera memberi kode waspada pada rekannya dan kepada Ranger. Semua pemanah bersiap di posisi, busur mereka telah ditarik. Ranger juga membidik ke depan dengan Mana Rifle.


Tulkenia yang baru sampai di atas tembok menjadi keheranan dengan perilaku bawahannya, jadi dia bertanya.


"Mengapa kalian bertingkah seakan ada musuh?" tanya Tulkenia


"Ada pergerakan aneh di depan komandan," jawabnya sambil fokus dengan busurnya


Tulkenia juga menatap ke depan, memegang Staff miliknya dengan erat. Tiba-tiba puluhan tombak beterbangan dari kegelapan malam.


Jleb!


Beberapa Archer dan Ranger terkena serangan dadakan tersebut. Sontak saja semua Archer dan Ranger menembakkan proyektil mereka ke arah depan. Desingan panah dan suara keras dari Mana Rifle terdengar. Tapi, tidak ada tanggapan apapun.


Tulkenia melepaskan Wind Wave ke sekitar, mencoba mendeteksi penyerang. Hasilnya nihil, tidak ada apapun. Tak lama kemudian puluhan tombak kembali datang, kali ini mereka telah bersiap. Semua tombak berhasil dihindari. Tulkenia masih agak bingung dengan keadaan saat ini.


[Iza: Gawat! Ada serangan Kavaleri musuh dari dalam, amankan tembok.]


•••


Kavaleri Black Goblin melemparkan tombak terakhir mereka, tombak itu adalah tombak besi yang mereka sembunyikan sebelumnya di suatu tempat di dalam hutan. Sekarang mereka ingin menyusup ke dalam kota, mereka bergerak bersama tunggangan-nya dengan cara memanjat tembok. Ingat, kavaleri mereka bukan kuda, tapi bunglon. Sekarang pasukan mereka tidak terlihat sedikitpun. Sementara musuh masih waspada di tembok mereka turun dengan hati-hati ke bawah, mereka bersiap membakar musuh.


Salah satu Black Goblin menghilangkan Camouflage, dia adalah pimpinan pasukan ini. Dia menginstruksikan agar pasukan mereka dibagi dua, intinya tetap membakar tenda musuh. Setelah sepakat, mereka berpencar. Salah satu player class Support melihat keberadaan mereka, namun sebelum dia bisa berteriak, kepalanya sudah dipenggal oleh salah satu Black Goblin. Di dekat player yang sudah mati tadi ada sebuah tenda. Player yang berjaga di depannya sudah waspada, mereka mengarahkan pistol dan Staff mereka pada musuh. Dari dalam tenda, 3 orang Writer menulis buff


pendukung. Tanpa menunggu kedua belah pihak selesai, pertempuran pun dimulai.


Black Goblin melemparkan api hitam nya pada tenda agar tak ada dukungan lagi. Tenda itu terbakar dengan cepat, Mage melemparkan Lightning Ball pada musuh dan dibalas dengan serangan kapak yang hampir memutus lengan Mage. Gunner menembak tanpa jeda meskipun dirinya sudah dikepung dari berbagai arah, tiba-tiba dia menggigit sesuatu seperti petasan dan melemparkannya pada musuh.


Duaar!


Ternyata itu bom instan, sebuah Bite bomb. Gunner itu hanya mempunyai Bite bomb dalam jumlah terbatas, jadi dia agak kewalahan. Writer di dalam tenda hanya tersisa satu orang, itu pun sedang sekarat karena terbakar hidup-hidup. Dia mengirimkan pesan pada atasannya, Iza sebelum mati. Pesan itu sampai pada Iza dan terjadilah keadaan darurat. Pihak player sudah menyadari adanya serangan malam, jadi semuanya bersiap di tenda masing-masing.


Black Goblin yang menyadari targetnya sadar menjadi semakin agresif menyerang. Sebagian besar tenda di sekitar pasukan pertama Black Goblin adalah tenda player class Support, jadi korban terbanyak berasal dari sana. Lebih dari 300 player tewas karena dibakar tenda nya, padahal tenda itu masih dihuni. Wilayah operasi pasukan pertama Black Goblin mayoritas isinya player class Support, tanpa penjagaan sedikitpun.


Pasukan kedua Black Goblin mengalami kesulitan saat menghabisi musuhnya karena mereka sudah sadar dan waspada. Disini terdapat player dengan class Mage, Writer, Gunner dan Support. 3 diantaranya adalah class tempur, baik Class Combat Physical maupun Class Combat Magic. Gunner yang paling direpotkan disini karena mereka berjaga diluar tenda, jadinya mereka berhadapan langsung dengan musuh. Writer mempunyai waktu yang cukup lama bertarung karena sibuk menulis sihir di Grimoire miliknya, dia rentan diserang oleh petarung jarak dekat.


Iza sekarang sudah diluar tenda, di depannya sudah ada yang menunggu dirinya. 4 Black Goblin beserta tunggangannya.


" Satu lawan empat ya," ujar Iza seraya mencabut pedangnya dari sarung yang berada di pinggangnya.


"Fast Step, Double Slash," Iza bergerak dengan cepat seakan sebelumnya dia tidak pernah ada disana.


Tang!


Black Goblin yang merasakan bahaya langsung menangkis serangan. Iza tiba-tiba sudah muncul di atas tunggangannya, dalam keadaan berdarah. Tapi, bukan dia yang terluka.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2