
Chao sudah melihat bahwa kereta yang ditumpanginya sudah berisi seperempatnya, belum sampai setengahnya. Namun, seakan tidak peduli akan jumlahnya, masinis kereta masuk dan mengatakan kereta akan berangkat sekarang. Kemudian, terdengar deru mesin kereta, kereta ini dilapisi dengan aura berwarna kuning dan sedikit cahaya biru yang terlihat merembes dari pintu ruangan masinis. Kereta ini dilindungi langsung dengan sebuah barrier dan cahaya biru tadi adalah kristal mana yang dipakai untuk menjalankan kereta ini.
Kereta pun bergerak perlahan, semakin lama semakin cepat. Chao hanya perlu menunggu selama satu jam saja agar sampai di tujuan.
Sementara itu ...
Pasukan Ranger di bawah pimpinan Avker berhasil menyapu bersih pasukan Black Goblin yang mencoba masuk ke gerbang ketiga dari gerbang keempat. Sebanyak seratus lebih musuh berhasil tewas di tangan para Ranger, sedangkan korban dari pihaknya sendiri hanya sepuluh orang Ranger saja yang tewas. Meski berhasil menang, Avker tetap tidak puas karena adanya kerugian di pihaknya serta pasukannya sudah berada di ambang batas, tubuh mereka sudah berlumuran darah sendiri dan darah musuh.
Avker berjalan dengan terseok-seok memimpin pasukannya menuju gerbang ketiga agar mendapat tempat istirahat, Mp-nya masih ada dan Hp-nya masih tersisa setengah, tetapi staminanya sudah hampir habis. Avker berjalan dengan tumpuan berupa tombaknya sendiri ke arah gerbang.
"Hoi! Apakah kalian tidak apa-apa?" teriak seseorang dari gerbang ketiga, ia melihat pergerakan dari Avker serta pasukannya.
Beberapa Tanker serta Support bergegas ke arah mereka, mereka ini merupakan bantuan dari Haytrea yang menerima pesan dari bawahannya. Avker dan yang lainnya dipapah menuju bagian menara gerbang agar mendapat istirahat serta perawatan intensif dari Support. Akhirnya Avker aman dan nyawanya serta yang lain berhasil selamat. Tanker tadi bergerak menjauh ke depan sana setelah mendapat pemberitahuan dari Avker bahwa ada rekannya yang tewas disana, mayat mereka akan diangkut dan dimakamkan dengan semestinya.
•••
Chao terbangun setelah mendengar pemberitahuan dari masinis dan petugas bahwa kereta telah sampai di tujuan. Chao berdiri dan bergegas keluar lewat pintu kereta. Penumpang lainnya juga bergerak keluar dari gerbongnya masing-masing, kereta ini hanya terdiri dari 3 gerbong saja. Chao melihat ke sana kemari saat ia keluar dari Kereta Mana, suasananya cukup berbeda dengan Kota Vayoca. Disini terasa sekali suasana pedesaannya, walaupun ada stasiun kereta di sini.
Chao pergi dari stasiun menuju gerbang desa. Saat sampai ia merasakan suasana yang unik, ada dua menara pengawas disini, isinya 4 pemanah. Busur yang mereka gunakan merupakan Busur Silang Raksasa, anak panahnya sebesar tombak dan ujungnya dilapisi besi. Di bawah menara, tepatnya di pintu gerbang terdapat 4 penjaga pula, masing-masing bersenjatakan tombak. Setelah puas melihat, Chao pun pergi dari sana.
Chao menemukan sebuah kedai makanan di dekat gerbang. Tanpa banyak berpikir, ia pun bergerak kesana. Saat sampai ternyata kedai itu ramai. Bangkunya hanya ada satu, namun panjang serta dapat memuat sepuluh orang sekaligus. Di samping kiri kanan meja terdapat beberapa kertas yang ditempelkan dengan paku. Nampaknya, ini bukan kedai biasa, melainkan tempat jual beli informasi serta tempat ajukan serta terima Quest.
Chao duduk di ujung meja, ia mencabut salah satu kertas yang ditempelkan di sana.
[Mission
Pergi ke Kota Vayoca dan bunuh Black Goblin sebanyak mungkin.
Rank: I
Reward: Bronze 3, Fame 15
Time Limit: 3 Hari
Hukuman: Fame-20, dilarang masuk ke Kota Vayoca serta wilayah bawahannya.
《Terima》 《Tidak 》]
"Misi aneh. Bayaran murah, nyawa taruhannya," gumam Chao setelah melihat kertas misi itu.
"Bodoh amat lah." Chao meletakkan kembali kertas itu dengan paku ke tempatnya.
Selepas itu Chao memesan makanan pada pelayan saat ia meletakkan pesanan untuk pelanggan lain. Chao memesan satu paha rusa dan segelas besar susu, menghabiskan sekitar 10 nickel. Sambil makan ia mencuri dengar pembicaraan pelanggan lain di sekitarnya.
"Hei, kau tahu tidak, Kota Vayoca diserbu banyak tentara musuh belakangan ini," ujar seseorang dengan masker hitam di wajahnya.
"Tentu saja aku tahu, kau telat memberi berita ... " balas seseorang yang memakai ikat kepala hitam di kepalanya, ia menjeda ucapannya untuk minum teh dari gelasnya.
" ... selain itu, pasukan militer desa ini juga mengirimkan pasukan mereka, walaupun sedikit. Ngomong-ngomong kau mau ikut dalam pasukan itu? Hadiahnya lumayan untuk hidup beberapa bulan di desa ini," lanjutnya sembari bertanya pada lawan bicaranya
"Tidak, aku tidak tertarik menyumbangkan nyawa sedikitpun, percuma saja pergi," jawabnya sambil menggigit daging.
'Informasi tidak berguna.' Pikir Chao setelah mendengar pembicaraan dua orang itu.
Chao menghabiskan pesanannya lalu beranjak dari kedai itu, rencananya ia akan leveling kembali. Ukuran desa ini tidaklah besar, luasnya hanya lebih kurang seperempat dari luas Kota Vayoca. Untuk wilayah di sekitar desa ini baru lah luas, terutama wilayah hutannya. Chao pergi ke gerbang untuk mendapatkan izin keluar desa, setelahnya ia pergi ke tujuannya.
Sekarang Chao sudah sampai di tujuannya, tepatnya di bagian terluar. The Zuwa Forest, itu lah namanya. Jarak antar pohon disini sekitar 1,5 meter, jadi ada celah yang cukup untuk dijadikan jalan. Chao menarik pedangnya dan bersiap memasuki hutan ini. Saat Chao baru masuk, ia melihat seekor rusa jantan yang cukup besar.
"Bahan makanan yang bagus ini, juga tanduknya bisa dijadikan material gagang senjata," gumam Chao saat memperhatikan targetnya.
"Slas–"
Bam!
-miss!
[Efek Paralyze terpicu! Berlaku selama 30 detik.]
Untung damage nya tidak berhasil karena Dp Chao lumayan banyak. Namun, debuff nya berhasil masuk. Chao kesulitan bergerak setelah ditabrak barusan, apalagi waktunya setengah menit. Rusa tadi sudah tidak terlihat oleh Chao, padahal barusan terasa dekat sekali. Chao menggerakkan tangannya sedikit demi sedikit agar cepat lepas dari debuff ini. Chao melihat ke depan, tiba-tiba saja rusa itu sudah ada di depannya kembali. Rusa itu bersiap maju sekali lagi dengan posisi tanduknya di depan, Chao melihat status makhluk itu.
[Lightning Deer (☆) Common
Element: Lightning
Lvl: 10
Hp: 100 Mp: 150]
"Hei! Level serta kemampuan mu rendah sekali, lebih baik mati saja di tangan ku daripada melawan,"
Dengan level serendah itu ia berhasil menahan tubuh Chao agar tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama. Kemampuan yang unik.
[Efek Paralyze telah berakhir.]
"Bagus!" Seru Chao saat melihat notifikasi yang muncul.
"Slash." Chao bergerak cepat ke arah rusa itu agar ia mendapatkan daging gratis.
__ADS_1
Saat pedang Chao hampir menyayat kaki rusa, tiba-tiba saja arah tandukannya berbelok dari lurus ke depan menjadi agak miring ke arah pedang Chao.
Blaar!
Tanduknya ternyata dialiri elemen Petir dan sekarang menghasilkan ledakan kecil.
[Efek Stun terpicu! Berlaku selama 10 detik.]
Karena pedangnya bersentuhan langsung dengan tanduk rusa, maka efek setruman langsung terasa di tubuh Chao. Meski Hp-nya tidak berkurang, namun rasa sakitnya tidak hilang sama sekali. Chao mundur sejenak lalu bersiap dengan pedangnya agar ia mudah memblokir serangan rusa itu. Rusa itu maju dengan cepat ke depan, namun karena poin Agi Chao lebih tinggi darinya maka gerakannya terlihat jelas.
"Cih, menyerah saja lah. Slash!" Chao kembali maju dengan berlari ke arah rusa itu.
Saat Rusa itu hampir menabrak Chao, Chao melompat ke atas dan melemparkan pedangnya dengan mata pedang ke arah bawah.
Clep!
Pedang itu hanya menancap di tanah, tidak mengenai tubuh rusa itu. Rusa itu berbalik arah dan kembali bergerak saat Chao mendarat. Chao hampir meraih pedangnya, tapi ...
Bam!
Chao tersungkur karena rusa itu menabrak dirinya dari arah belakang. Pedang miliknya yang tadinya tertancap di atas tanah sekarang terlempar lebih jauh karena rusa itu juga menabraknya.
"Makhluk sialan ini," gerutu Chao sambil mencoba berdiri.
[Efek Paralyze terpicu! Berlaku selama 30 detik.]
[Efek Stun terpicu! Berlaku selama 10 detik.]
Chao mendapatkan dua efek debuff sekaligus, praktis ia kesulitan bergerak sekarang. Terhitung sudah satu menit keduanya bertarung secara seimbang dan tidak adanya luka di kedua belah pihak.
Rusa itu tidak pergi saat Chao tidak bisa bergerak, malah ia bersiap menabrak Chao sekali lagi.
"Makhluk sialan ini malah menantang. Oke, aku kabulkan keinginan mu. Battle Mode," ucap Chao kesal sambil mengaktifkan kemampuannya.
Meskipun Chao kesulitan bergerak, persenjataan jarak jauhnya masih ada dan masih bisa digunakan untuk bertarung. Rusa itu berlari lebih cepat dari sebelumnya, tanduknya bercahaya lebih terang dari sebelumnya.
"One Shoot."
Boom!
Chao menembak lebih dulu sebelum rusa itu mencapai dirinya. Chao berharap rusa itu tewas atau setidaknya berhenti mengejar dirinya.
Bam!
"Sia–" Rusa itu menabrak Chao kembali.
[Efek Paralyze terpicu! Berlaku selama 60 detik.]
Efek Paralyze yang diterima Chao semakin bertambah setelah ditabrak Rusa itu. Sedangkan efek Stun sudah berakhir dari tadi, Hp Chao tidak berkurang sedikitpun karena Dp-nya.
"One Hundred Shoot." Chao memilih menghabiskan Mp-nya dengan serangan membabi buta daripada kalah dari seekor Rusa.
Boom! Boom! Boom! Boom! Boom!Boom! Boom! Boom!
Rusa itu kewalahan menghindari banyak serangan bertubi-tubi dari Chao yang sudah kesal. Kebanyakan serangan dari Chao meleset, hasilnya banyak lubang di tanah dengan ukuran bervariasi. Setiap lubang sedalam setengah meter, lubang itu masih panas karena mana yang meledak di dalamnya. Beberapa pohon juga tembus oleh serangan itu, kebanyakan menjadi berlubang di sana- sini. Tiga menit berlalu dengan cepat, Chao sudah terbebas dari efek debuff yang diterimanya. Sementara itu si Rusa tadi masih berdiri dengan tubuh sedikit terluka, hasil dari menghindari serangan Chao.
[Lightning Deer (☆) Common
Element: Lightning
Lvl: 10
Hp: 80 Mp: 125]
Tak lama setelahnya angka itu berubah kembali.
[Lightning Deer (☆) Common
Element: Lightning
Lvl: 10
Hp: 100 Mp: 150]
"Makhluk ini beregenerasi?!" Chao terkejut mendapati kenyataan di depan matanya, pantas saja ia sulit mati dari tadi.
"Hehe aku mendapat ide bagus tentang hal ini ... " Chao menyeringai melihat si Rusa, pedangnya kembali dikeluarkan setelah ia simpan saat mengambilnya kembali tadi.
" ... Curse Slash!" Chao berlari dengan cepat seraya menebas musuhnya dari jarak dua meter agar kutukannya aktif.
"Double Curse Slash!" Chao menggunakan skill yang sama dua kali saat si Rusa menghindari serangannya.
[Efek Bleeding terpicu! Hp target berkurang sebanyak 10/detik.]
"Coba kau atasi kutukan ini dengan regenerasi-mu," ucap Chao sambil tersenyum lebar.
Rusa itu berlari ke depan, ke arah Chao dengan tanduk yang bercahaya kuning redup. Chao mundur ke belakang agar mendapat momentum yang bagus untuk menahan serangan musuh.
__ADS_1
Bam!
Pedang Chao bertemu dengan tanduk musuhnya, Chao langsung melompat mundur agar tidak terkena debuff sekali lagi.
Blaar!
Benar dugaannya, serangan bertipe area itu kembali meledak, ledakan itu lah yang memicu efek Stun. Chao menyimpan pedangnya kembali agar ia mudah menyerang.
"One Compressed Shot."
Boom!
Tembakan itu langsung meledak saat sampai di tempat yang sebelumnya si Rusa hendak menabrak Chao. Serangan itu belum tentu akan mengenai targetnya. Benar saja, Rusa itu berhasil menghindar dan berlari dengan kecepatan penuh ke arah bagian dalam hutan, bukan ke arah Chao. Chao sempat melihat status terbaru dari Rusa itu.
[Lightning Deer (☆) Common
Element: Lightning
Lvl: 10
Hp: 75 Mp: 100]
"Bagus, Hp-nya sudah berkurang cukup banyak. Tak akan ku biarkan kau pergi setelah menjadi target ku," ucap Chao puas sembari berlari dengan kecepatan penuh ke arah musuhnya.
Chao berlari semakin jauh ke dalam hutan, Chao juga menemukan makhluk lain seperti hewan biasa maupun monster lainnya. Tetapi, semuanya Chao abaikan demi satu target yang ia inginkan.
"One Shot."
Boom!
Rusa itu kembali terluka, kali ini bagian kaki belakangnya yang terkena tembakan. Sekarang rusa itu berlari lebih lambat dari sebelumnya, nampak langkahnya mulai pincang. Chao membabat rumput tinggi yang menghalangi jalannya agar ia semakin mudah menjangkau musuh. Kembali Chao menembak targetnya,
"Double Damage, Double Shot."
Boom!
Dari dua serangan yang ada, hanya satu yang berhasil mengenai target. Tembakan lainnya malah menghancurkan pohon yang berada di dekat rusa itu.
"Slow Falling, Enhanced Jump!" Chao melompat dari posisinya sekarang agar cepat sampai pada targetnya.
Baam!
Chao mendarat setelah ia melompat sejauh 5 meter, Chao melakukannya sebanyak 3 kali agar ia mencapai musuhnya.
Baam! Baam! Baam!
20 meter terlewati sekaligus, tinggal 5 meter lagi jaraknya dari si Rusa.
"Longsword Mode off, Handgun Mode On," ucap Chao mengubah gaya tempurnya.
"One Shot!"
-1.475
"Yes! Berhasil," seru Chao saat tembakannya mengenai target.
[Lightning Deer berhasil dibunuh!
+50 Exp
Deer Meat 10
Deer Horns 2 ]
Chao mendapatkan apa yang ia inginkan, daging dan tanduk rusa. Dua bagian itu bisa dijual cukup mahal, kalaupun mendapatkan item nails, tooth ataupun bone tetap bisa dijual sebagai bahan aksesoris. Namun, tak terlalu berharga, kecuali dijual pada Necromancer. Kedua drop item langsung masuk ke dalam inventory miliknya, tidak perlu mengejar mayatnya sekaligus. Walaupun begitu, Chao tetap menghampiri mayat musuhnya yang masih ada, karena bagian penting sebagai drop item-nya sudah diambil, maka bentuknya menjadi aneh. Mayat Lightning Deer hanya tersisa bagian tulangnya saja, tanduk serta dagingnya sudah hilang, hanya itu saja bagian yang tersisa.
Usai melihat mayat itu Chao pergi keluar hutan, tujuannya kembali ke desa. Saat Chao sudah keluar dari bagian dalam hutan, hari sudah senja.
"Cepat sekali waktu berlalu," gumam Chao saat melihat matahari terbenam.
Chao menyimpan kembali pedangnya, Battle Mode miliknya sudah di nonaktif kan sejak ia kembali memasuki bagian pinggir hutan. Saat Chao sudah keluar dari hutan, gerbang desa sudah ditutup.
"Hei! Ini masih senja belum tengah malam, kenapa cepat sekali tutupnya?" Chao jadi bingung melihat cepatnya gerbang ditutup.
Akibat kejadian itu, Chao memilih beristirahat di dekat pohon saja. Ia mengambil dahan serta ranting kayu. Chao memilih membuat api secara manual karena ia bukanlah Mage elemen Api maupun seorang Summoner yang mampu memanggil makhluk ber-elemen Api.
Srek! Srek! Srek! Srek! Srek! Srek!
Akhirnya setelah gesekan selama 2 menit tanpa henti, api pun berhasil dihidupkan. Chao meletakkan dahan kering yang ia dapatkan di atasnya agar api tersebut membesar. Setelah di rasa api nya agak besar, Chao mengambil satu potong besar daging rusa yang ia dapatkan tadi. Daging itu ia tusuk dengan dahan yang telah ia runcing kan dengan pedangnya tadi. Sekarang, Chao menunggu daging rusa bakar miliknya matang.
Bersambung ...
©️ Minggu, 19 Februari 2023. 17:25 WIB.
Apabila kalian ingin memberi kritik atau saran yang membangun, harap disampaikan di dalam kolom komentar. Terima kasih. Daah! Sampai jumpa di bab berikutnya di masa yang akan datang.
Kemungkinan saya tidak akan update cerita ini beberapa waktu ke depan, paling mungkin minggu depan update lagi atau beberapa hari lagi. Penyebabnya adalah kuota internet yang terbatas serta adanya masalah di rumah yang membuat saya sulit membuat novel ini dan novel lainnya, seperti tadi saja misalnya saya dilarang membuat cerita ini karena kurangnya uang yang bisa saya dapatkan dari cerita ini, padahal kan baru di kontrak -_- . Dah lah -_- .
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen :v