
Berjam jam lamanya setelah nenek tua balik dari sungai, semua warga berkerumun dihadapan rumahnya tak tahu apa yang dilakukan. Melihat kerumunan itu nenek tua segera beranjak melangkah dan melihat keadaan rumah yang tahu tahunya sudah menjadi abu. Nenek tua sangat kaget dan tak percaya akan hal itu.
"Kenapa ini bisa terjadi"? Siapa yang melakukan semua ini dan dimana Ner"? Nenek tua sangat panik dan gelisah dengan apa yang terjadi. Para warga menjelaskan apa yang terjadi.
"Saat kami berbondong bondong ingin mengisi air minum, waktu melewati rumahmu, tiba tiba saja teriakan seseorang menganggu telinga kami lalu setelah itu api menyala dari rumah dan membakar semuanya". Jelas salah satu warga dan dilanjutkan warga lainnya.
"Kami ingin memadamkan api tersebut tapi tidak mungkin bisa, karena jarak rumahmu menuju air sungai sangat jauh, tidak akan sempat untuk memadamkan api yang maha besar itu"
Pada akhirnya para wargapun memutuskan untuk berdiam diri dan tidak melakukan apapun.
"Bagaimana dengan anakku..."? Tanya nenek tua khawatir
"Tidak tahu pasti, dilihat dari tempat yang terbakar, tidak ada tanda tanda manusia, yang ada hanyalah benda benda" jawab salah satu warga dengan yakin. Salah satu wanita seumuran dengan dirinya memegang bahunya dan berkata
"Vobia, kamu tidak perlu khawatir, kamu bisa tinggal ditempatku"
nenek tua menundukan kepalanya dan berpikir keras.
"Terima kasih, tapi aku tidak bisa, aku harus mencari anakku"
"Tapi dimana kamu mencarinya, dia sudah tidak ada lagi, lagian dia bukan anak kandungmu kan, untuk apa kamu khawatirkan"!
Mata nenek tua terbelalak dan langsung berlari pergi meninggalkan semua warga. Tetesan air mata tak henti hentinya membasahi tanah dunia. Diapun berlari dan terus berlari mengikuti arah angin. Nenek tua tidak tahu harus berbuat apa, semuanya sirna terutama Ner orang yang dia sayangi. Walaupun tidak ada hubungan darah sama sekali tetapi nenek tua menganggap Ner sebagai anak kandungnya sendiri.
"Ada dimana kamu nak"? Aku tahu kamu masih hidup" tersandar dibatang pohon besar dipinggir jalan desa.
Tiga minggu telah berlalu, nenek tua masih saja bersandar dibatang pohon besar itu menunggu kepulangan Ner yang selama ini belum ada kabar. Para penduduk desa yang mengisi air tak pernah lepas pandang dari nenek tua malang itu. Beratus ratus omongan dari para warga desa mengarah padanya, tapi tak dihiraukannya. Dia termenung dengan memandang arah rumahnya yang hancur itu berharap Ner akan kembali.
"Malang sekali nasibnya, gara gara menemui bayi yang hanyut disungai, hidupnya jadi seperti itu" ucap salah satu warga.
"Sepertinya anak itu(Ner) membawa kesialan baginya" sambung warga lainnya.
"Kalau memang seperti itu, kuharap anak itu mati saja" ditambah warga lain.
Tiga minggu tak makan, nenek tua tak merasakan lapar, bibirnya pucat, tubuhnya lemah tapi keinginannya kuat. Untuk bertemu dengan Ner, dia hanya bisa bersabar sampai hari itu tiba. Saat Ner kembali dia ingin memeluknya dengan erat dan tak akan lagi meninggalkannya sendirian. Bagi nenek tua Ner adalah segalanya. Berkat Ner dia bisa bertahan selama ini. Dulu pernah putus asa ingin bunuh diri karena hidup sendirian tapi dihalangi oleh warga setempat. Setelah itu satu tahun dia menjalani hidup atas saran para warga, akhirnya dia bertemu dengan Ner.
Di hutan kematian, dipenuhi dengan pohon pohon yang mati serta ranting ranting yang berjatuhan dan juga tempatnya jauh dari kata keramaian(sunyi). Seorang anak gadis kelelahan berlari lari seperti ada yang mengejar. Sambil pandangan bebalik kebelakang. Ternyata gadis ini adalah Ner Vobian. Rupanya dia masih hidup. Cirinya dengan rambut terurai panjang menyentuh tanah terus berlari tanpa hambatan untuk saat ini. Dengan rambut sepanjang itu akan membuat kotor dan berantakan helai helai rambut, namun sepertinya dia tidak mempermasalahkannya sambil memegang menarik narik rambutnya untuk menghalau ranting ranting yang berserakan siapa tau sangkut.
Dua sosok kelelawar berwujud manusia mengejarnya. Tinggi diatas kepalanya salah satu kelelawar mulai menghantam. HUP... Ner berhasil menghindarinya dengan wajah ketakutan. Selanjutnya kelelawar kedua melaju ingin menabraknya. BRAK...
"Hih dasar bocah sialan" kesal kelelawar kedua yang ternyata menabrak batang pohon. Atas tipuan Ner, yang mendekati salah satu batang pohon kemudian dia tiarap saat kelelawar kedua menabraknya. Pemikiran yang bagus tapi itu belum cukup untuk dapat menghentikan pergerakan dua sosok kelelawar tersebut. Rasa takut yang di alaminya saat ini serta kebingungan yang mengacaukan pikirannya. Sebab dia tidak tahu alasan mereka(kelelawar) ingin membunuh dirinya, sebenarnya apa salahnya?!
Dua kelelawar romeo and juliet masih mengejar dirinya. HUSSss... Dengan kecepatan terbang kelelawar mana mungkin Ner bisa lepas dari pandangan mereka. Ner berusaha untuk bisa lepas dari kejaran dua kelelawar yang menakutkan. Air matanya yang berlinang jatuh bersamaan dengan rasa takut yang dirasakannya saat ini.
"Ibu tolong aku"? maksud kata ibu adalah nenek tua sambil tersedu sedu. Dia mengusap air mata, memandang kedepan dengan tatapan tajam. Dia mengingat ajaran nenek tua padanya.
"Kuatkanlah dirimu dalam menghadapi masalah dan jangan pernah untuk menghindarinya ataupun lari karena kamu pasti bisa mengatasinya" mengingat kata dari nenek tua, Ner mengambil sebatang ranting pohon lalu berbalik arah kehadapan dua kelelawar tersebut. Rasa takutpun perlahan pudar dari dirinya, membangkitkan keberanian dan emosi meluap.
"Hah.. Ingin menyerahkan dirinya"? pikir kelelawar satu yang begitu girang dengan bibir merah meronanya.
__ADS_1
"Bukankah itu akan mempermudahkan tugas kita" sambung kelelawar dua.
Mereka beradu pandang. Ner bersiap lalu dua kelelawar juga. Jarak mereka satu meter dari sekarang. Kelelawar satu mulai menangkap. HUSSss... Tangkapan lepas karena Ner berbaring untuk menghindari tangkapan tersebut. Selanjutnya kelelawar dua berbalik menyerang ingin menabrak Ner. Tak terduga Ner melompat dan berhasil mendarat dibelakang kelelawar dua. Dengan huyung hayang, liar tak terkendali Ner agak pusing. Penglihatannya yang begitu buram Ner memulai langsung serangannya.Memegang ranting kayu bercabang banyak, ada kepikiran dia ingin menggunakan ranting tersebut. Dengan posisi diatas tubuh bagian belakang kelelawar dua, itu akan memberikan dia peluang untuk menancapkan ranting yang dipegangnya kearah mata kelelawar dua. CRAK... Satu mata kelelawar dua dibagian kanan berhasil dia butakan. Lalu menarik ranting yang tertancap tadi dan ingin menusuk mata satunya lagi tapi tak berhasil. Sebab kelelawar dua menabrak tanah hingga membuat Ner yang diatasnya terpelanting. Kelelawar satu mendekati pasangannya yang mana dia lihat matanya yang terluka parah. Ner mulai bangkit dari rebahannya langsung berlari menuju kedua kelelawar. Melihat Ner menuju kearah mereka, kelelawar gadis(satu) bersiap ingin memulai serangannya. HUSSss... Ner berhasil lepas dari serangan kelelawar satu dan berhasil memegang salah satu kaki kelelawar tersebut tepat dibagian kanan.
"Dasar bocah bodoh, ternyata kau ingin mati diketinggian ya"! Tawa senang dari kelelawar satu. Pikirnya ingin menjatuhkan Ner dengan ketinggian 100 meter. Dari bawah kelelawar dua memandang pasangannya terbang bersama Ner.
Ner berpegang erat dikaki kelelawar satu sambil memandang arah bawah. Sebenarnya Ner sangat ketakutan, tapi ingatannya tentang ajaran yang diberikan nenek tua padanya memberikan dia sebuah keberanian.
"Dari sini hidupmu akan berakhir" ucap kelelawar satu dengan mengerak gerakan kakinya untuk menjatuhkan Ner.Sungguh erat pegangan Ner pada kakinya hingga dapat bertahan tanpa terjatuh.
"Aku harus kuat.." pejam Ner.
Kelelawar satu merasa kesal karena Ner tidak jatuh jatuh juga. Lalu Ner mencubit kaki kelelawar tersebut, berharap dia mau turun. Tapi malah membuat kelelawar satu mengamuk bergerak luar kendali, habisnya kesakitan sich karena dicubit.
"Aaa..." teriak kelelawar satu yang bergerak liar. Ner bergelantungan diayunkan kesana kemari. Pengangannya pun mulai melemah ingin lepas.
"Heee... Tinggal sedikit lagi" ucap kelelawar satu senang. Dia terus bergerak secara liar agar Ner terjatuh.
"Kau tidak bisa menahannya lebih lama lagi dasar bocah" ucap kelelawar dua dengan pandangan buruk(mata satu).
Ner sudah berusaha mempertahankannya, tapi sepertinya dia terjatuh juga.
"Aaaa..." teriaknya.
"Apa aku akan mati..." Ner memejamkan matanya.
"Bocah ini membangkitkan auranya, seusia itu..."! Kaget kelelawar satu.
Dengan tarikan nafas yang dalam lalu dihembuskannya, diapun berteriak
"Jatuhlah..."
"Apa apaan ini, tubuhku tidak bisa digerakan" Kesal kelelawar satu yang kemudian jatuh mendahului Ner. Ner melayang diudara diselimuti aura berbentuk sayap tepat berada diatas kelelawar satu yang terjatuh. Kelelawar dua yang melihat kejadian itu tercengang. Kelelawar satu jatuh mengenai ranting ranting pohon
"Beraninya kau..." marah kelelawar dua. Ner masih melayang diudara memandang kelelawar dua yang baru berkata. Dengan mengedepankan tangan kanannya, kelelawar dua jadi bergerak tanpa kehendaknya. Ner mencoba meletakkan kelelawar dua tepat didepan pasangannya.
"Kenapa bisa seperti ini"! Bingung kelelawar dua. Ner menatap mereka penuh dengan amarah dan Aura ungu tak henti hentinya menyelimuti dirinya.
"Jadi inikah alasan kenapa atasan kita memberikan perintah untuk membunuh bocah ini" ucap kelelawar dua lalu dilanjutkan oleh kelelawar satu.
"Ya..bocah ini akan menjadi ancaman yang besar bagi kita" percakapan dua pasangan kelelawar berakhir. Aura Ner yang menyebar keseluruh area yang tentunya mengenai dua kelelawar dengan kata yang keluar dari mulutnya.
"Matilah..."
SRAK... Dengan hitungan detik, darah dari dua kelelawar tersebut berhamburan mengalir memandikan tanah. Itu mengakhiri kehidupan dari dua sejoli. Sejak hari itu, saat aura ungunya bangkit, Ner jadi berbeda dari sebelumnya, sikapnya yang keras, tak punya belas kasih, bahkan tatapannya pun berubah drastis sangat tajam, rasa haus akan darah ingin selalu membunuh bagi siapa yang mengganggu dirinya.
Nenek tua memulai hidupnya dari awal, meskipun ingatannya tentang Ner belum hilang. Dia ingin berjuang sama halnya dengan Ner. Di aliran sungai nenek tua sudah siap dengan botol botol kosongnya untuk mengisi air. Satu persatu yang dia isi. Tak dapat terlepas, ingatannya tentang Ner terulang lagi saat dia menemukan Ner dialiran sungai. Diapun menatap langit langit berhembuskan angin.
"Apa yang sekarang sedang kamu lakukan nak"!
__ADS_1
Hembusan angin kencang membuat Ner berbalik pandangan. Dia lihat ada banyak macam makhluk yang sedang menunggunya.
"Apa kalian sampah sampah yang dikirimkan untuk membunuhku"? Menatap dengan tajam.
"Jadi ini bocah kutukan yang dibicarakan itu, kecil amat hahahahaha..." salah satu makhluk berbentuk banteng menertawakan lalu diikuti makhluk lainnya.
"Haha..lucunya"
"Sepertinya ini hal yang mudah"
"Kalau begitu kita selesaikan dengan..." belum selesai bicara, mulut berbentuk rusa langsung muncrat darah. Aura ungu mengelilingi para makhluk. Satu persatu tumbang tanpa perlawanan terkena aura tersebut.
"Ada apa, kenapa kalian begitu ketakutan, bukankah tadi kalian telihat tenang hahahaha..." tertawa jahat Ner.
"Bajingan..." jawab makhluk berbentuk banteng. Tak perlu berlama Ner sudah menyelimuti mereka dengan auranya lalu berkata
"Lenyaplah kalian dari hadapanku"
Para makhluk hilang seketika tanpa bekas serta darah. Dari atas bukit nan tinggi seseorang berjubah hitam compang camping sedang mengawasi kejadian.
"Jadi itu aura kutukan, pas sekali untuk anak yang dikutuk" setelah itu orang berjubah menghilang dibawa angin.
Dimana mana Ner terus merajalela, melakukan pembantaian tiada henti. Diwaktu malam hari, di saat bulan menerangi dunia, disitu aksinya pun dimulai.
Saat ini usianya sudah beranjak 12 tahun, penampilannya pun agak berbeda dari sebelumnya. Rambutnya yang panjang menyentuh tanah kini hanya sebatas bahu, pakaiannya nan panjang disertai dengan hiasan aura ungu yang menempel pada pakaiannya. Kini dia sudah berbeda, ingatannya pun samar samar yang terhias dalam pikirannya hanya membunuh. Sampai suatu ketika di saat dia mengunjungi desa Karian tempat nenek tua tinggal.
Sekarang ini nenek tua tinggal bersama salah satu warga yang mau menerima dirinya. Warga itu memiliki seorang anak laki laki berusia 10 tahun, lalu suaminya menghilang seminggu yang lalu tanpa sebab. Nenek tua penambah isi keluarga tersebut. Mereka bertiga hidup bahagia, selalu berbagi derita dan duka, suka dan senang mereka lalui bersama.
Malam itu bulan kembali menerangi dunia, seluruh desa Karian pun terang benderang, seperti siang. Nampak pakaian putih terurai panjang diselimuti aura ungu jadi penghias. Seorang gadis muda dengan wajah putih, bermata tajam dengan ekspresi penuh amarah berjalan memasuki desa Karian. Dua orang warga tak sengaja berpapasan dengan gadis itu, tiba tiba ada keinginan warga tersebut bertanya.
"Kalau boleh tahu, anda siapa ya"?
Gadis itu tak menjawab, hanya terdiam dengan terus melangkah. Tanpa hirauan gadis itu, dua warga itu bersikeras bertanya padanya bahkan ingin mencegatnya.
"Anak kecil tidak boleh keluyuran malam malam begini" tegur salah satu dari dua warga tersebut.
"Benar, sebaiknya kamu pulang saja" lanjut warga kedua.
Dua warga yang berada dihadapan gadis itu segera menyingkir karena gadis itu tak mendengarkan apa yang dikatakan mereka. Gadis itu terus melangkah menatap kedepan. Dua warga yang diabaikan begitu saja perkataannya menghentikan langkah gadis itu dengan memegang kedua belah tangannya secara bersamaan. Gadis itu terhenti sejenak menyebarkan auranya kepada dua warga tersebut.
"Berani sekali kalian menyentuhku...matilah"
SRAK... Dua warga tersebut dengan sekejap tak bernyawa lagi. Darah yang bercucuran mengalir seperti aliran air dipermukaan tanah. Kemudian gadis itu melanjutkan langkahnya lagi ketempat yang lebih ramai.
Dipinggiran jalanan, diperpohonan yang rindang, nampak lagi seorang berjubah hitam compang camping sedang mengawasi gadis itu.
"Sungguh anak yang menakutkan"! tersenyum lalu menghilang lagi dibawa hembusan angin.
Bagaimanakah dengan nasib seluruh warga desa Karian?! Apakah akan dimusnahkan oleh gadis yang mengerikan itu?! Bagaimana reaksi nenek tua setelah melihat anak yang dirawatnya itu melakukan hal semengerikan yang dipandang?!
__ADS_1