ENDE CRYSTAL END: CRYSTAL DEVIL

ENDE CRYSTAL END: CRYSTAL DEVIL
Tetesan Air Mata Penghabisan


__ADS_3

Di jendela rumah, nenek tua memandang suasana luar.


"Hawa yang begitu aneh" ucapnya


SRAK... Darah berserakan dari salah satu warga. Gadis itu menyebarkan aura ungu keseluruh area desa. Darah tak terhingga jumlahnya terpecirat dimana mana. Bagi yang terkena aura itu hidupnya akan berakhir.


"Tolong...tolong..." suara minta tolong dari warga warga terdengar sampai kerumah nenek tua tinggal. Seluruh warga desa berlarian keluar dari rumah masing masing. Sebagian membawa harta harta berharga. Ada yang membawa panci sebagai harta berharganya, ada pula yang membawa rinjing dan lainnya. Berbagai macam benda seperti itu diselamatkan mereka tapi hal itu tak akan lama, sebab aura ungu sudah menyelubungi seluruh area desa.


BRAK... Rumah rumah desa hancur berkeping keping. Tak ada yang mau mendekati gadis kecil yang berada ditengah tengah desa itu. Dia hanya berdiam diri menatap atas kearah bulan menyinari dunia.


Ibu yang menampung nenek tua beranjak pergi dengan mengajak anak laki lakinya yang masih ngantuk.


"Ada apa ibu"?


"Kita akan pergi meninggalkan desa ini" jawab ibunya tergesa gesa


"Kenapa emangnya bu"? anaknya bertanya dengan mata hampir tertutup karena rasa kantuknya membuat dirinya lesu.


"Nanti ibu jelaskan, yang penting kita pergi dulu" dengan memegang erat tangan anaknya, sang ibu itu meninggalkan desa karian bersama nenek tua beserta anaknya. Mereka berlari secepat mungkin namun nenek tua merasakan sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.


"Ada apa Vobian"? tanya sang ibu dari anak. Nenek tua tidak menjawab dan fokus menatap kearah kekacauan tersebut.


"Vobi.." belum selesai menyebutkan nama nenek tua, diapun langsung pergi kearah kericuhan itu berasal.


"Apa yang sebenarnya dia lakukan" bingung sang ibu dari anak, lalu setelah itu ibu dan anak meninggalkan nenek tua dan terlepaslah mereka berdua dari jangkauan aura ungu. Sebab rumah mereka masih jauh dari jangkauan aura ungu, sebelum auranya menyebar lebih dekat lagi, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan desa. Nenek tua terus berlari, pandangan pun mulai jelas terlihat sosok dari anak gadis yang berdiri ditengah tengah kekacauan.


Puluhan bahkan ratusan warga dari desa karian dibantai habis habisan oleh gadis itu. Jasad jasad para warga bergeletakkan disekelilingnya, serta darah berhamburan diseluruh area desa. Langkah kaki dari nenek tua pun mulai melambat, semakin pelan lalu berhenti, karena gadis itu sudah ada dihadapannya. Dia menatap dengan wajah kaget serta air mata menetes mengenai darah para warga


"Apa ini sungguh memang kamu Ner anakku"?


Walaupun penampilan Ner berbeda dari sebelumnya, hingga perbedaan sangat jauh tapi nenek tua bisa merasakan bahwa itu adalah bayi yang ditemukannya di sungai dulu Ner Vobian. Nenek tua dengan segera melanjutkan langkahnya menuju Ner dengan pelukan kasih sayang.


"Aku senang bisa melihatmu lagi.. Kemana saja kamu salama ini.. Aku selalu menunggumu ditempat ini.. Akhirnya harapanku tercapai"


Pikiran Ner kacau, ingatannya mulai kembali, sakit kepala yang dirasakan begitu sakit, sehingga kedua tangannya berpegangan erat di kepala.


Nenek tua begitu khawatir padanya, melihat dirinya kesakitan.


"Apa kamu baik baik saja nak"?


Nenek tua menatap wajah Ner. Dengan sekeras mungkin Ner mendorong nenek tua hingga jatuh.


"Jangan sentuh aku" emosi Ner sambil menatap nenek tua dengan tatapan yang menyeramkan. Nenek tua hanya bingung dengan tingkah lakunya seperti itu.


"Ada apa denganmu nak?, ini ibu, apa kamu tidak ingat"? Nenek tua berusaha memberitahu. Sakit kepala berkali kali muncul lagi, membuat Ner begitu kesal dan tambah marah. Nenek tua bangkit dari jatuhnya mulai memdekati Ner.


"Jangan mendekat" Ner begitu ketakutan hingga mundur saat nenek tua mendekatinya.


"Maafkan ibu karena meninggalkanmu sendirian, kamu begitu menderita, rasa sakit yang kamu alami begitu dalam, perjalanan yang kamu tempuh begitu sulit. Ibu berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi" langsung mendekap Ner dengan erat. Tangisan dari nenek tua mulai mengembalikan ingatannya yang dulu. Begitu melihat ingatan dengan jelas bersama nenek tua, pengorbanan yang dilakukan nenek tua serta kasih sayang yang diberikan padanya. Kesenangan yang mereka lalaui bersama itu bukanlah hal biasa. Walaupun tidak sedarah tapi kedekatan mereka berdua melampaui hubungan keluarga. Aura ungu yang tersebar keseluruh area desa perlahan menghilang. Ner pun meneteskan air matanya dan memanggil nenek tua dengan sebutan.


"Ibu..." tangisnya dengan deras. Nenek tua sangat senang karena Ner sudah mengingat semuanya.


Soal pembantaiannya di desa, nenek tua tidak memperdulikannya, baginya Ner kembali kesisinya sudah cukup.


"Apa ibu tidak takut dengan diriku yang sekarang ini"? tanyanya dengan wajah sedih sambil menunduk. Nenek tua memeluknya lalu membelai rambutnya.

__ADS_1


"Tentu saja, kamu anak ibu, mana mungkin ibu takut" jawab nenek tua dengan yakin.


"Aaa...hihihi..." Ner tertangis dengan derasnya sampai menggema di seluruh dunia.


Akhirnya mereka pun kembali bersama dengan tinggal di salah satu rumah desa yang masih utuh. Satu satunya rumah yang masih tak tersentuh apapun, hanya ditempat nenek tua sebelumnya menumpang.


Ner duduk di kursi kayu sambil mendengarkan cerita nenek tua.


"Saat kamu pergi, sejak kejadian itu(kebakaran), ibu berusaha mencarimu tapi ibu tidak tau harus pergi kemana, hidup ibu hancur sejak tidak ada dirimu. Yang bisa ibu lakukan hanyalah menunggumu didekat pohon besar yang berada di pinggir jalan" nenek tua menatap arah jalan dari jendela dan mengingat dirinya dulu menunggu didekat pohon besar tersebut.


"Maafkan aku bu.." Ner sangat sedih karena dirinya nenek tua harus menjalani penderitaan. Nenek tua mendekati Ner dengan mengelus elus kedua pipinya


"Jangan pasang wajah sedih begitu, justru berkat dirimulah ibu kembali berjuang dan percaya suatu hari nanti akan menemukanmu. Ibu berharap seperti itu dan tak disangka harapan ibu tercapai. Dengan adanya dirimu disini, kita akan memulai hidup baru" menatap Ner dengan senang. Begitu pula dengan Ner yang begitu senang karena bisa bersama dengan nenek tua.


Nenek tua mulai menceritakan tentang rumah yang ditinggali itu, tapi sebelum itu, nenek tua membuatkan segelas susu dan ditambah makanannya buah buahan segar. Diletakkannya dimeja dekat Ner duduk.


"Sambil mendengarkannya kamu harus menikmatinya juga"


"Baik bu.." semangat Ner.


Cerita nenek tua pun dimulai...


"Rumah ini milik seorang ibu bernama Rona dan anak laki lakinya Kisa. Rona telah membawa ibu kerumahnya ini untuk menjadi penambah keluarganya yang hilang"


"Siapa yang hilang bu"? Tanya Ner.


"Suaminya" setelah itu Ner terdiam. Nenek tua mulai melanjutkan ceritanya.


"Seminggu yang lalu saat suaminya pergi berburu. Mencari binatang yang bisa dimakan, dia membawa sebuah busur serta anak panah yang sudah disiapkan di belakang. Sebelum dia pergi pesannya...


Setelah itu dia pergi meninggalkan rumah dan kami pun sesuai yang dikatakannya tidak keluar rumah dan menyiapkan rempah rempah untuk campuran makanan nanti. Rempah rempah pun sudah siap kami campurkan tinggal menunggu kedatangannya. Dengan perut kosong yang kami bertiga alami menunggu suami Rona pulang dengan harapan akan mendapatkan buruannya. Lama kami menunggu suaminya pun tak kunjung datang. Rona menyuruh kami bersabar tapi rasa lapar diperut tak dapat diajak kompromi. Ibu dan Rona masih bisa menahan rasa lapar itu, bagaimana dengan anak laki lakinya Kisa yang masih kecil, sangat berat baginya.


"Ibu kapan ayah pulang"? Tanya Kisa. Sang ibu pun memeluk anaknya yang kelaparan itu.


"Sebentar lagi nak" tetesan air mata membasahi kepala Kisa. Nenek tua menghentikan ceritanya sejenak.


"Melihat mereka berdua seperti itu, ibu teringat akan kita berdua. Dimasa masa sulit, hanya kesabaran yang bisa kita lakukan"


Ner merasa sedih mendengar cerita tersebut. Cerita pun kembali dilanjutkan nenek tua.


"Nah dan setelah itu, seminggu lamanya suami Rona tak balik balik dan tak ada yang tahu keberadaannya. Dia pun dikatakan menghilang. Sejak hari itu, walaupun pedih rasanya Rona berusaha melupakan suaminya dan fokus pada kehidupan sekarang. Ibu tidak tau sedang apa dia sekarang, semoga mereka baik baik saja disana" Akhir cerita dari nenek tua pada Ner.


Nenek tua menatap Ner yang pipinya bermandikan air mata. Dia mencoba menanyakan ada apakah gerangan.


"Kenapa kamu menangis nak"? Sambil mengusap air mata Ner. Ner bicara mengenai tentang kebenaran suami dari Rona.


"Maafkan aku bu"?! wajah Ner tersuntuk


"Kenapa, kamu tidak melakukan kesalahan lo"


"Sebenarnya..."


Nenek tua memandang Ner dengan serius.


"Aku yang sudah melenyapkan suaminya Rona" mendengar hal itu nenek tua langsung kaget dan kembali berdiri kearah jendela.

__ADS_1


"Itu bohongkan"?


"Itu sebenarnya.."


"Jadi selama ini kamu benar benar jadi pembunuh, ibu tak sangka kamu melakukan semua itu"


"Ibu..." dengan nada sedih


"Ibu kira kamu melakukannya baru baru ini saja, soal pembantaian yang kamu lakukan di desa ini ibu maafkan, tapi ibu tidak tahu sebelumnya kamu melakukan pembunuhan"


"Ingatan itu mengendalikan diriku bu"


Nenek tua menatap Ner dengan wajah marah.


"Apa jangan jangan yang kamu lakukan selama ini adalah membunuh"


Ner bangkit dari kursinya langsung memeluk nenek tua dengan tangisan kecil.


"Apa kamu tau penderitaan mereka berdua(Rona & Kisa", orang yang kamu lenyapkan itu adalah harapan mereka bertahan hidup. Orang itu sangat penting bagi mereka. Tega sekali kamu melakukannya" bentak nenek tua


"Tapi bu, aku tidak tau bahwa dia adalah suami Rona. Aku bahkan tidak mengingat apapun"


Nenek tua langsung mendorong Ner hingga jatuh kelantai.


"Kau bukanlah anakku, Ner yang ku kenal, dia tidak pernah ataupun membunuh siapapun. Dia orang yang aku sayangi tapi bukan yang dihadapanku ini"


Ner meneteskan air matanya lagi, rasa sakit ditelinganya muncul setelah mendengar bentakan nenek tua. Ingatannya mulai menghilang secara perlahan, begitu pula dengan matanya akan menutup perlahan sempat mengucapkan beberapa buah kata


"Ibu terima kasih karena sudah merawatku selama ini, aku sangat bersyukur bisa mempunyai ibu sebaik dirimu, rasa senang yang kita lalui bersama, aku ingin melakukannya terus bersama ibu. Selamat tinggal ibu, aku menyayangimu"


Ner pun terbaring dengan mata terpejam. Nenek tua langsung kaget dan mendekatinya.


"Apa yang sudah kulakukan, aku membunuhnya.."


Mencoba merasakan nadinya tak berdenyut lalu hidungnya tak bernapas. Ner dikatakan tewas, meninggal dengan kondisi seperti itu. Nenek tua tidak menganggap anak gadis itu anaknya karena sudah banyak melakukan pembunuhan. Yang nenek tua tahu anaknya tak pernah membunuh siapapun. Melihat anak gadis itu terlantar dirumahnya, nenek tua tidak tega membiarkannya. Setelah berpikir keras, akhirnya nenek tua memutuskan untuk mengubur anak gadis itu layaknya manusia.


Nenek tua mengubur anak gadis itu dibelakang rumanhnya, supaya bisa mengingat selalu wajah anaknya Ner, soalnya serupa. Setelah selesai mengubur gadis itu, nenek tua menancapkan sebuah kayu dikuburannya menjadi akhir dari pekerjaan. Dia tidak tahu sebenarnya orang yang dikuburnya itu adalah Ner sebenarnya.


Hari berlalu dan keesokan harinya nenek tua duduk dikursi kayu dipelataran rumah sambil memandang jalanan berharap anaknya Ner pulang. Setiap sore dia duduk di tempat yang sama memandang jalanan. Selalu seperti itu sampai usianya mencapai 90 an. Nenek tua tambah keriput, lemah dan tak dapat lagi melakukan aktivitas seperti biasanya.


Malam hari tiba, saat bulan menerangi seisinya. Malam itu udara sangat dingin, hembusan angin tiada henti sangat kencang. Pintu jendela nenek tua terbuka menutup berulang ulang kali. Saat ini nenek tua sedang rehat. TAK... Suara keras seperti menghantam membangunkan nenek tua dari peristirahatannya. Nenek tua beranjak pergi perlahan ingin tau asal muasal suara keras tersebut. Begitu dia melihat pintu rumah terbuka lebar, dilihatnya nampak seorang bertudung ungu berdiri di depan pintu. Dia mencoba mendekatinya secara dekat dan mulai bertanya.


"Siaapa kaamu"? cara bicaranya yang lama bergetar getar menandakan nenek tua begitu sangat tua. Gadia bertudung itu tak mengeluarkan sepatah katapun. Nenek tua sangat penasaran ingin melihat wajah dibalik tudung tersebut. Begitu dia melihatnya dengan dekat, sangat jelas orang itu adalah.


"Ner anakku"?! tanpa rasa ragu dia langsung memeluknya. Aura ungu perlahan menyelimuti mereka berdua.


"Akhirnya kamu pulang juga nak, ibu sangat senang melihatmu lagi" mengeluarkan air mata. Ingatan Ner kini sudah dikuasai aura ungu sepenuhnya, jadi dia tidak mengingat apapun. Yang ada hanya ingatan baru yaitu membunuh. Aura ungu semuanya sudah berkumpul menyelubungi mereka berdua.


"Matilah..." dengan mengucapkan itu nenek tua langsung mati dengan darah yang berceceran dilantai. Walaupun nenek tua mati, dia masih saja memeluk Ner dengan erat dan wajahnya itu sangat senang dihiasi senyuman. Dengan matinya nenek tua, Ner pun pergi dari rumah tersebut. Berjalan menyusuri jalan hingga ketengah area desa. Disitu dia berhenti dengan menyebarkan aura ungu ke semua area desa. Dia pun menatap bulan dengan tetesan air mata yang mengalir perlahan melalui pipi lalu jatuh ketanah.


"Ibu..."


BRAKK...


Desa Karian berakhir dalam sekejap. Rata jadi tanah saat jatuhnya air mata tersebut. Desa Karian hancur dan yang masih tersisa hanya nama dan sejarah.

__ADS_1


__ADS_2