ENDE CRYSTAL END: CRYSTAL DEVIL

ENDE CRYSTAL END: CRYSTAL DEVIL
Nedir Crystal


__ADS_3

"Jadi nenek.."?! Zig tidak meneruskan cakapannya karena saking kagetnya.


"Kamu benar, neneklah anak kutukan itu" tanpa rasa ragu nenek Ner memberitahukan.


Zig tidak menyangka nenek Ner adalah anak kutukan yang telah membunuh ibu angkatnya sendiri. Zig mulai bertanya lagi karena rasa keingintahuannya mengenai penderitaan neneknya dulu.


"Lalu setelah itu, apa yang nenek lakukan? dan bagaimana bisa nenek berada di klan crystal"? Nenek Ner menghela napas kemudian memandang Zig disertakan senyuman.


"Jadi kamu ingin mengetahui semuanya"?


Zig mengangguk.


Nenek Ner mulai melanjutkan ceritanya lagi.


Setelah dia membunuh nenek tua pada malam itu dan menghancurkan desa Karian, ingatannya kembali normal. Rasa bersalah dan penyesalan kini dialaminya. Dia duduk disamping nenek tua dengan pandangan kesedihan melihat nenek tua terbaring dengan banyak darah ditubuhnya. Gemuruh datang dan hujan pun turun. Ner tidak beralih dari tempatnya, dia tetap memandang nenek tua yang malang.


"Maafkan aku bu" tangisnya.


Hujan sangat deras dimalam itu hingga dapat menghapus darah darah para jasad warga desa termasuk darah nenek tua. Berakhirnya malam itu juga menghentikan hujan deras tersebut. Berganti dengan hari yang baru.


Hari esoknya Ner masih saja duduk disamping nenek tua dengan air mata kesedihan itu. Tiba tiba angin kencang mengibaskan tudung kepalanya hingga terbang lalu rambutnya bergerak gerak seperti alunan nada. Muncul sesosok pria dewasa mengenakan jubah hitam rombeng.


"Masih saja larut dalam kesedihan ya"! Sambil berjalan mendekati Ner.


"Tak perlu kau tangisi orang yang bukan ibu kandungmu sendiri. Dia hanyalah orang lain yang bukan siapa siapa bagimu" ucap pria berjubah hitam itu. Ner tidak menghiraukan perkataan dari pria itu, dia terus saja memandang nenek tua dengan khusuknya.


Pria berjubah hitam itu ingin Ner mengubah pandangan.


"Mau kutunjukkan ibu kandungmu sebenarnya"?


Mendengar itu kepala Ner terangkat dan matanya pun terbelalak langsung berkata dengan yakin.


"Satu satunya ibu kandungku hanya dia(nenek tua), tidak ada yang lain"!


"Hahahahaha.. Sungguh menarik" sambil menepuk tangan. Ner memandang pria berjubah hitam itu dengan amarah.


"Kenapa kau tertawa, apa ada yang lucu"??


"Wah jangan pasang tatapan seram seperti itu, aku tidak bercanda lo hahahahaha" tawanya.


Aura ungu keluar menyelimuti Ner lalu menyebar


"Jangan tertawa..." marahnya. Pria berjubah melompat kebelakang menghindari aura ungu tersebut.


"Huh.. Hampir saja" dari belakang pria berjubah muncul sesosok wanita anggun dengan pakaian serba panjang menatap Ner dengan linangan air mata.

__ADS_1


"Inilah ibu kandungmu yang sebenarnya"! beritahu pria berjubah pada Ner.


"Velina anakku, apa ini kamu"? Berjalan lurus menuju Ner. Ner berdiri dari tempatnya saat melihat wanita itu. Pandangannya fokus tertuju pada wanita itu tanpa memandang kelain lagi. Wanita itu dengan segap memeluk Ner.


"Sekian lama aku mencarimu, akhirnya ketemu juga" Ner hanya terdiam membisu, begitu kaget melihat penampilan wanita itu yang memiliki kemiripan dengannya. Dari segi raut wajah, mata dan yang paling mengejutkan lagi baginya adalah rambut wanita itu sama panjangnya seperti dirinya dulu menyentuh tanah. Pikiran Ner pun jadi kacau, rasa sakit dikepalanya mulai kambuh lagi. Dia melepaskan pelukan wanita itu secara paksa lalu memegang kepalanya yang terasa sakit itu. Ingatan ingatan dikepalanya bercampur aduk. Lebih dalam lebih dalam lagi ingatan sebelum dia bertemu dengan nenek tua. Dia melihat wanita yang sama persis dengan dirinya sedang berbaring dikasur bersama seorang bayi mungil. Dengan kasih sayangnya, wanita itu mencium kening si bayi yang baru lahir itu.


Sebenarnya Ner sudah mengetahui bahwa nenek tua bukanlah ibu kandungnya melainkan orang lain memungutnya waktu bayi. Dia sudah mengetahui kebenaran itu sejak ingatannya kembali normal pada waktu nenek tua menyadarinya. Tapi kebingungan dalam dirinya membuatnya harus menjadi anak si nenek tua. Karena sudah menyelamatkan dan mau merawatnya sampai seusia ini. Sampai saat ini Ner masih bingung dengan ibu kandungnya, siapakah dia? Apakah wanita ini...


Ner terus menatap wanita itu. Semua ingatan sudah terungkap dibenaknya. Dia sekarang sudah mengetahui siapa ibu kandung.sebenarnya. Aura ungu muncul ditangan kanannya lalu mengarahkannya pada wanita dihadapannya itu. Setelah wanita itu terkena auranya, dia ucapkan..


"Lenyaplah"


Tanpa suara atau luka, wanita itu sekejap sirna dari pandangannya. Tak ada keraguan dalam tindakannya.


"Wanita itu memang ibuku, tapi bukan yang nyata. Dia hanyalah ilusi yang kau buat"


Pria berjubah hitam hanya tersenyum.


"Ibuku mati dibunuh oleh seorang banjingan yaitu kau" menatap pria berjubah dengan penuh amarah.


Aura ungu melayang layang diudara didekatnya. Lalu menggumbal menjadi satu kemudian dia hamburkan.


BRASS... Aura ungu bersebaran keseluruh area.


"Kau mencoba ingin mengenaiku ya dengan aura kutukan itu. Tidak semudah yang kau pikirkan" hembusan angin keluar dari lengan pria berjubah beserta aura menyala berwarna hijau disekeliling tubuhnya. Mengibaskan aura ungu yang ingin mendekati dirinya. Pria berjubah hitam dapat mengatasi aura kutukan tersebut dengan mudah. Meskipun begitu Ner tetap melakukan tindakannya yang sia sia itu. Ner terus menerus menyerang dengan menggunakan aura ungu.


Angin topan tersebut berputar sangat kencang ditengah tengah Ner dan jasad nenek tua


HUSS...


Suara hembusan angin yang begitu keras sangat jelas terdengar. Semuanya tertarik masuk kedalam angin tersebut lalu berputar putar.


"Kuatnya" gumamnya sambil berusaha menahan tarikan angin topan tersebut.


"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini pada anak kecil seperti dirimu tapi tidak ada pilihan lain, demi tercapainya tujuan kami, orang yang sangat mengganggu harus disingkirkan terlebih dahulu Hahahahaha..." tawanya menggema.


"Sialan, sebenarnya apa tujuan kalian"? Tanya Ner.


"Oh kau ingin tahu ya, kuberitahu padamu. Tujuan kami sebenarnya adalah menguasai dunia" tersenyum lebar.


Ner terkejut mendengarnya dan menjawab.


"Menguasai dunia katamu, apa kamu sudah gila"?


"Hah kau mengataiku gila, beraninya kau" kesal pria berjubah sambil menambah kekencangan angin topan hingga berputar tambah kencang.

__ADS_1


"Aaa..." Ner tidak dapat menahannya lagi. Masuk tersungkur kedalam angin topan tersebut. Dia berputar putar dari bawah hingga mencapai puncak.


"Rasakan itu" pria berjubah hitam tertawa terbahak bahak memandang Ner terbawa oleh angin. Cukup lamanya pria berjubah menghentikan angin topan tersebut. Dengan jarak ratusan meter Ner terjatuh bersamaan dengan benda benda yang lain. Karena hal itu jasad nenek tua hilang entah kemana.


"Agh.. Wagk.." Ner terbaring ditanah sambil muntah muntah darah. Tubuhnya melemah akibat dampak jatuh.


Pria berjubah sekejap muncul disamping terbaringnya Ner. Dia pun tertawa.


"Hahahahaha... Apa aku terlalu berlebihan, kasihan sekali melihat anak kecil terbaring dengan luka separah ini"


"Bajingan..uhuk uhuk" darah keluar lagi dari mulut Ner.


Pria berjubah menatap Ner penuh amarah, dengan kakinya yang berada dihadapan wajah Ner, siap ingin menginjak.


"Matilah"


PLAK.. BRAK..


Entah kenapa Ner jadi baik baik saja, malah pria berjubah hitam itu yang terkena serangan hingga terpental jauh. Dia terduduk dengan lumuran darah dibagian wajahnya. Ner terkejut dan hanya bingung dengan keadaannya.


"Kenapa kau ada disini"? Tanya pria berjubah pada seseorang yang baru datang tepatnya disamping Ner. Ner hanya menatap seorang itu sambil berkata dalam hati


"Dia sangat kuat"


Seorang yang baru datang itu, dia adalah seorang gadis berpenampilan tak biasa. Dengan pakaiannya yang panjang hitam dilapisi jaket berbentuk kristal. Serta rambut dikuncir sebatas bahu dibagian dua terlinga. Lalu bola mata didalamnya berpola seperti kristal berwarna hitam.


"Aku hanya kebetulan lewat saja" jawab gadis baru itu kepada pria berjubah. Pria berjubah berdiri dengan luka yang cukup parah.


"Jangan ikut campur kau Nedir Crystal" teriaknya.


"Aku hanya melakukan tugasku sebagai seorang pejuang. Kalian SEVEN EYE harus disingkirkan dari dunia ini, karena sudah banyak melakukan hal yang buruk"


"Kurang ajar, aku Marben anggota dari seven eye, hari ini akan menantang salah satu pejuang bernama Nedir Crystal. Bersiaplah"? Siap dengan kuda kudanya.


"Jika kau mampu, lakukanlah"?! Hanya tersenyum dengan gaya santainya. Nedir menyuruh Ner untuk berlindung dibelakangnya.


Marben sangat ragu ragu untuk berhadapan dengan pejuang terkuat dan juga dia sangat tahu seperti apa Nedir Crystal itu. Dia tidak yakin bisa menang, karena tidak mau dikatakan pecundang, tidak ada pilihan lain harus pura pura berani agar terlihat kuat, walaupun hanya didalam. Kaki Marben mulai gemetar menatap Nedir yang auranya terlihat seperti sosok iblis bermata merah.


"Sepertinya aku kurang beruntung bertarung dengan seorang pejuang terkuat yang dikenal dengan julukan iblis kristal bermata merah" ucap Marben dalam hati dengan keringat berjatuhan dipenuhi rasa takut. Marben mengeluarkan auranya menggunakan kedua tangannya untuk membuat angin topan dua kali lebih besar dari sebelumnya.


HUSS...


Ner menyaksikan ternganga melihat angin topan yang besar itu mendekati mereka berdua, sedangkan Nedir hanya santai santai saja. Aura hitam keluar menyelubungi tubuh Nedir dan disamping kanannya muncul lengan raksasa berbentuk kristal. Dia mengendalikan lengan raksasa tersebut untuk menghentikan angin topan Marben. Keahlian pengendalian kristal yang hanya bisa dilakukan oleh para klan crystal. Dapat merubah bentuk kristal mereka sesuai keinginan dan bisa menjadi serangan yang mematikan. Dengan dikendalikannya sebuah lengan raksasa kristal, Nedir hanya menggunakan satu jari telunjuknya saja yang diikuti lengan raksasa kristal untuk menghancurkan angin topan milik Marben.


BASSSs...

__ADS_1


"Hah..hanya satu serangan saja, itu mustahil"! ucap Ner rasa tidak mempercayai.


__ADS_2