ENDE CRYSTAL END: CRYSTAL DEVIL

ENDE CRYSTAL END: CRYSTAL DEVIL
Kemunculannya


__ADS_3

Marben sangat kesal melihat serangannya dihancurkan begitu saja.


"Ternyata memang percuma melawan dia" ucap Marben dalam hati.


Marben mengeluarkan angin topannya lagi, tapi kali ini lebih banyak. Jumlahnya ada 20 angin topan secara bersamaan menuju kearah Nedir dan Ner. Nedir hanya tersenyum.


BASSSssx20...


Lagi lagi Ner dikagetkan. Hanya memainkan jari telunjuknya saja dapat menghancurkan 20 angin topan milik Marben


"Ini memang tidak mungkin"! Ner memandang kewajah Nedir yang tersenyum dengan tatapan tajam.


"Wanita ini sungguh mengerikan" akhir dari cakap Ner.


Walaupun begitu Marben tidak berhenti untuk menyerang. Dia menggunakan kekuatan yang lain selain angin yaitu sebuah ilusi. Marben menatap Nedir dengan matanya yang menyala hijau.


"Jatuhlah kedalam dunia ilusi ini"


Keadaannya pun tiba tiba jadi hening, suasana desa Karian jadi dingin. Entah kenapa Nedir jadi terdiam. Ner sangat gelisah dan bingung dengan keadaannya.


"Hahahahaha...akhirnya kau terkena oleh seranganku, usahaku tidak sia sia"


CRAK..


Apakah yang terjadi, kenapa Marben tiba tiba muntah darah dalam keadaan berdiri.


"Usahamu itu sia sia" ucap Nedir sambil tersenyum.


Ternyata Nedir hanya berpura pura terkena serangan ilusi tersebut. Disaat Marben lengah dalam rasa kesenangan, Nedir membuat bentuk kristal hitamnya menjadi sebuah pedang lalu menancapkannya kebelakang Marben. Marben tertunduk dengan luka bertetesan darah yang mengenai bagian perutnya. Sambil memegang perutnya yang terkena tusukan itu, dia melihat Nedir baik baik saja.


"Bagaimana mungkin kau tidak terkena ilusiku, bukahkah tadi kau menatapku"?? tanya Marben bingung.


"Aku memang menatapmu, tapi yang kau tatap itu bukanlah mataku melainkan mata kristal yang kubuat menutupi mataku" jawab Nedir dengan santainya.


"Itu tidak mungkin, yang kulihat tadi benaran mata aslimu, jika itu kristal tentu aku sudah mengetahui perbedaan mana yang kristal dan tidak. Jika itu mata kristal kemungkinan matamu sesuai dengan kristal yang kau kendalikan berwarna hitam, tapi itu bukan..."


Walaupun Marben berkata seperti itu, Nedir tetap tersenyum sambil memandangnya. Marben bingung dengan maksud dari senyum Nedir itu, dia mencoba untuk memikirkannya sejenak. Sungguh betapa kagetnya dia seperti mengetahui sesuatu.


"Apa jangan jangan itu kristal merah"?!


Nedir memejamkan matanya sambil tersenyum.


"Akhirnya kau mengetahuinya"


"Sialan, jangan bilang seluruh tubuhmu dilapisi oleh kristal merah" kesalnya.


"Tidak, aku tidak bisa mengendalikan kristal lain jika seluruh tubuhku kulapisi dengan kristal merah. Hanya mata ini saja" Nedir menujuk kearah mata, memberitahukan Marben.


"Cih..." geram Marben sambil menatap Nedir.


"Aku tahu kekuatan dari kristal merah yang bisa menyesuaikan apapun dengan menggunakannya, dilihat sama persis dengan yang aslinya. Itu bisa dikatakan seperti pelinding dan selama ini yang kutahu diklan crystal, hanya dia seorang yang mampu mengendalikan kristal merah. Gadis pejuang terkuat Nedir". Kata Marben dalam hati.


Nedir kembali bertanya.


"Dengan kondisimu seperti itu, apa kau ingin menyerah"?


"Hah, menyerah atau tidak pada akhirnya aku akan mati ditanganmu. Setidaknya kematianku dapat berguna untuk membangkitkannya"


Mendengar itu dari Marben, Nedir menyepit kedua matanya.


"Jika aku tidak mengetahui tentang Seven Eye, ada kemungkinan aku akan kalah darimu, dengan ilusimu itu. Tapi aku tahu tentang kalian semua, tentang satu satunya anggota Seven Eye yang bisa menggunakan ilusi hanyalah kau Marben".


Marben memejamkan matanya, lalu tersenyum.


"Tidak disangka kau mengetahui semua tentang kami, sepertinya kami cukup terkenal ya"


Nedir mendekati Marben yang masih memegang perutnya berlumuran darah. Tanpa banyak bicara dia langsung mengendalikan kristalnya berupa pedang. Tepat diatas kepalanya pedang itu berada.


SAKK...


Pedang kristal hitam langsung menancap dileher Marben. Sungguh sadis. Nedir pun berbalik badan, saat melakukan langkah pertamanya, suara Marben masih terdengar. Mata Nedir menyeret kearahnya dan mendengar ucapannya.


"Saat dia bangkit kalian semua akan berakhir" kata terakhir Marben mengakhiri kehidupannya. Jasad Marben tidak akan membusuk, karena setelah kamatiannya, tubuh Marben hancur lalu satu bola matanya melayang diudara bersamaan dengan aura hijau yang menyelimuti bola mata tersebut. Melihat hal itu Nedir tidak tinggal diam, dia melakukan tindakan untuk menghancurkan mata itu, karena dimatanya, bola mata itu sangat menjijikan. Kurungan kristal telah dibuatnya untuk mengurung mata tersebut tapi bola mata diselimuti aura itu dapat menembus kurungan kristal milik Nedir. Sehingga berhasil lepas dari pandangannya.


"Bola mata itu selalu muncul disaat anggota Seven Eye tewas. Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika bola mata tersebut semuanya terkumpul. Apa ini yang dimaksud dengan perkataannya itu membangkitkan sesuatu". Pikir Nedir dalam hati.


Ceritapun diakhiri nenek Ner.


"Jadi bibi Nedir yang menyelamatkan nenek. Lalu apa yang dilakukan bibi setelah itu"?

__ADS_1


"Tentu saja bibimu membawa nenek dan memasukan nenek ke dalam keluarganya. Seperti yang kau lihat sekarang inj, nenek berada disini berkat bibimu"


Zig sangat puas dan senang mendengar cerita masa lalu nenek Ner. Begitu dia tahu betapa baiknya orang orang dari klan crystal, dia memutuskan untuk menjadi kuat agar orang orang di klan crystal yang sangat dia sayangi dapat dilindungi dan tak akan pernah menghilangkan senyum dari wajah mereka.


"Jadi nenekmu memberitahukan semuanya padamu ya"?


"Iya bu"


Senyum Ninar.


Kembali ditempat pimpinan klan crystal, Ninar masih saja menceritakan pada Ende mengenai alasan Zig untuk memiliki peliharaan seperti kelinci iblis kristal.


"Jadi begitu" Ende menghela napas.


"Ya, cuma itukan satu satunya binatang didunia ini yang bisa bicara, apa ada yang lain"??


"Mmm..sepertinya tidak ada"


"Dan hanya itu yang bisa menemani hari harinya"


Ende langsung menunjukkan pada ibunya kelinci iblis kristal yang masih terkurung didalam sangkar dengan keadaan tak sadar. Melihat itu, Ninar langsung berteriak memanggil Zig. Tadinya dia ada didekat mereka berdua malah menghilang entah kemana.


"Zig..."?


"Iya bu" sahutnya sambil berlari lari mendekati arah panggilan tersebut.


"Sesuai janji ibu padamu, inilah binatang yang ibu katakan itu kelinci iblis kristal"


"Wah...terima kasih bu" dengan rasa senang dia mengambil sangkar tersebut.


"Sekarang kamu tidak sendirian lagi"


"Mmm..." senyum sembari memejamkan mata.


Zig kemudian memandang Ende dan memeluknya.


"Terima kasih juga kak, karena sudah menemukan binatang ini untukku"


"Haha tidak masalah, selama kamu tidak sendirian" sambil mengelus rambut Zig.


Ninar dan Ende saling bertatap muka dengan dihiasi senyuman indah diwajah. Suasana dikeluarga crystal pun tambah ramai, penuh dengan canda tawa, kebahagiaan, rasa senang dan kasih sayang. Orang orang dikeluarga crystal memberikan pengaruh baik pada orang orang jahat. Kebaikan mereka dapat menenggelamkan kejahatan seseorang. Hal itu menjadi ancaman terbesar bagi semua penjahat. Kini Zig sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, lalu sang ibu merasa senang karena sudah memenuhi janjinya kemudian Ende yang saat ini masih memikirkan hal yang tidak dia mengerti yang terjadi pada dirinya.


"Kakak ya"! Diapun tersenyum saat mengatakan itu. Kepribadiannya tiba tiba berubah drastis setelahnya.


"Ende apa kamu ada didalam"?


Pertanyaan sang ibu pun tak dijawab.


Ninar jadi bingung dan penasaran apa yang sedang dia buat didalam kamar mandi. Karena lama sekali. Ninar sudah memegang ganggang pintu kamar mandi ingin segera membuka, lalu setelah itu Ninar terkejut Ende keluar dalam keadaan bugil. Mata sang ibu terbelalak dan pipinya pun memerah.


"Apa yang kamu lakukan keluar dengan keadaan telanjang seperti itu, apa kamu tidak malu"??


Tidak respon sama sekali darinya(Ende), bahkan ibunya yang berdiri dihadapannya pun diabaikannya.


"Kenapa dengan dirinya"?! Bingung Ninar.


Prilaku Ende yang sangat berbeda saat keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menyusuri rumah.


"Tempat apa ini"?! Memandang mandang area rumah. Dia bahkan tak tahu dengan rumahnya sendiri, siapa sebenarnya orang ini?


Di luar sana bulan tampak terang, menyilaui isi dunia. Saat ini tengah malam, suatu hal terjadi didalam rumah pemimpin klan crystal.


Dikursi yang terbuat dari kristal, dan tempat duduknya diisi dengan kapas empuk.


"Nyam nyam nyam" kunyahan penghayatan. Zig sangat kaget saat melihat kakaknya berjalan dengan keadaan telanjang melalui dirinya. Zig pun terjatuh bersamaan dengan kursinya kebelakang.


"Aduh.." mengusap usap kepala.


Ibunya berlari lari membawa sebuah handuk untuk menutupi tubuh bugil Ende.


"Hah ibu"! Zig menatap ibunya.


"Apa kamu melihat kakakmu"?


"Iya, dia kearah sana" Zig menunjuk arah Ende pergi.


Ende mengabaikan semua yang ada disekitarnya. Baginya mereka semua tidak ada. Dia terus berjalan hingga sudah berada didepan pintu keluar rumah. Saat Ende ingin membuka pintu tersebut,


KRAK...

__ADS_1


Tubuhnya pun terhenti, sebab kakinya terperangkap oleh kristal milik ibunya sendiri.


"Kamu tidak boleh keluar, setidaknya pakai ini dulu(handuk)" ucap ibunya.


Ende hanya menatap.


"Ada apa denganmu, kenapa tingkahmu sangat aneh, tidak seperti biasanya, coba jelaskan pada ibu"???


Ende menyepit matanya kepada sang ibu dengan aura yang terbuka berwarna hitam bercampur kemerahan.


"Ibu... Siapa yang kau panggil anak"? Teriak Ende.


Menimbulkan angin yang sangat kencang hingga menghancurkan beberapa bagian rumah. Ninar sangat terkejut melihat tingkah anaknya seperti itu padanya dan dia sangat mengetahui sesuatu.


"Aura ini.. Dia bukan Ende"! Serius Ninar sambil menatap dengan tajam.


"Siapa kau"?


"Endera, seorang ratu dari negeri kristal"! Balasnya.


Ternyata memang benar, Ende saat ini bukan berada dalam kendalinya melainkan dalam kendali orang lain yang katanya namanya Endera, seorang ratu dari negeri kristal.


"Cepat keluar dari tubuh putriku"?


"Tentu tidak bisa"


Ninar menyepit matanya dengan dipenuhi amarah.


"Lalu apa yang ingin kau lakukan pada tubuh putriku"?


"Aku hanya ingin meminjamnya"


"Untuk apa"?


"Balas dendam"


Mendengar itu, Ninar sangat marah dengan aura yang dikeluarkannya berwarna ungu tebal menyelimuti tubuhnya. Namun disana Endera hanya tersenyum.


Pertarungan pun ingin terjadi dengan persiapan Ninar yang membuat kristalnya berbentuk naga panjang. Lalu giliran Endera juga siap dengan pembentukan tanduk kristal hitam kemerahan perlahan muncul dibagian kepala. Kemudian matanya berubah merah berpola kristal hitam ditambah dengan kedua sayap iblis muncul secara bersamaan pada bagian belakang.


Mereka berdua saling pandang, namun...


"Uhuk..uhuk.." Endera tertunduk dengan batuk batuk berdarah. Dia menutup mulutnya dengan darah tak henti henti keluar. Ninar hanya menatap dirinya yang begitu menyedihkan.


"Sepertinya dia menolakku" lalu Endera menatap Ninar yang masih berdiri tegak.


"Sayang sekali pertarungan ini tertunda, mungkin lain kali...saat diriku bangkit seutuhnya" ucap Endera sambil tersenyum. Lalu Ende jatuh pingsan. Dengan rasa penuh kecemasan Ninar segera memadamkan auranya lalu membawa Ende ketempat tidurnya, untuk rehat.


Dunia yang hampa hitam tak berbintang. Ende terbaring melayang dalam kehampaan dengan mata tertutup. Suara itu yang tak lain adalah Endera berbicara padanya


"Jadi itu keputusanmu"?


Mendengar pertanyaan yang diberikan, Ende membuka matanya perlahan.


"Aku tak bisa membiarkan kau melakukan hal buruk pada keluarga"


"Jadi hanya alasan itu"?


"Sebenarnya aku tidak mengerti masalah kalian dimasa lalu dan aku masih ragu dengan kebenaran yang kau katakan padaku. Walaupun kita serupa dari segi fisik tapi sifat kita berbeda. Kau mengatakan bahwa aku adalah reinkarnasimu tapi kenapa kau seperti orang lain bagiku"


"Baiklah, tak perlu buru buru untuk mempercayai kebenarannya, kau hanya perlu tinggal menunggu disaat kau yakin. Aku sungguh berharap banyak padamu, diriku yang baru" suara Endera hilang tak terdengar lagi. Endepun kembali tersadar dari pingsannya.


"Hah..." kaget hingga langsung duduk.


Ende melihat disekitarnya, ibunya yang masih tertidur pulas menunggu dirinya.


TOK..TOK..


Suara ketukan pintu terdengar jelas oleh Ende lalu dia menyuruh orang tersebut untuk masuk.


"Masuk saja"


Orang itu masuk secara pelan pelan melihat Ende yang duduk di pembaringannya, orang itu sangat senang dengan mengucapkan


"Kakak sudah sadar"?


"Zig"


Zig langsung memeluk kakaknya tanpa pikir panjang. Mendengar suara yang sangat berisik membangunkan ibunda Ninar. Mata Ninar perlahan terbuka memandang wajah yang sangat tak asing baginya. Dengan sigap dia langsung berdiri tegak. Dilihatnya Zig sedang asik memeluk Ende, wajahnya pun sangat senang.

__ADS_1


"Syukurlah kau baik baik saja" memandang Ende sambil tersenyum. Ende membalas juga pandangan ibunya sambil tersenyum. Pada akhirnya mereka bertiga berpelukan bersama selayaknya keluarga.


__ADS_2