
"Tigra ayo kesini"? Ajak sang ibu.
Melihat Shimera ada didekat kedua orang tuanya, Tigra agak malas untuk bergabung. Perlahan dia mendekati untuk bergabung, duduk santai diatas tempat tidur. Tak tahu kenapa Tigra malah duduk dibelakang ibunya.
"Kenapa kamu duduk disini, dekat kakakmu situ"?
"Heee..." tawa kecil ditambah rasa takut.
Karena suruhan ibunya dia beralih tempat duduk mendekati Shimera. Disamping kiri kakaknya lebih tepatnya.
Ibunya mulai mengajukan pertanyaan padanya.
"Darimana saja kamu, bukankah aku menyuruhmu untuk menjemput kakakmu. Sebenarnya apa yang kamu lakukan"??
Tigra menatap kakaknya lalu ke arah ibunya.
"Anu bu.."
"Ternyata kau tidak berubah ya" potong Shimera.
"Aku sudah menunggu kakak dijembatan kristal akhir, tapi kakak tidak muncul muncul juga. Aku kira kakak masih belum sampai makanya aku menunggunya" jelas Tigra.
"Shimera sudah lama sampai dirumah, apa benar kamu tidak melihatnya"? tanya ayahnya.
"Benar yah aku tidak melihat kakak sama sekali" jawab Tigra
"Jika benar kamu tidak melihat kakakmu, tapi kenapa kakakmu tahu apa yang kamu lakukan" ucap ibunya.
Tigra bingung mendengar ucapan ibunya lalu memandang kakaknya yang duduk sangat tenang.
"Menangkapa ikan ikan disungai lalu melepaskannya lagi.." sahut Shimera.
Ibunya mengangguk.
"Bagaimana kakak tahu"?
"Disaat itulah aku melewati jembatan kristal akhir"
"Jadi saat aku bermain dengan ikan ikan itu, kakak sudah ada dijembatan"?
"Aku bahkan melihat dengan jelas apa yang kamu lakukan saat itu"
Tigra memegang kepalanya.
"Kenapa kakak tak bilang.."?
"Aku lihat kamu sedang asik bermain dengan ikan ikan itu, rasanya aku tidak ingin mengganggu kesenanganmu"
Tigra cemberut.
Ayah dan ibunya pergi keluar kamar meninggalkan mereka berdua. Tapi sebelum keluar ibunya mengatakan ini padanya.
"Pelajari hal penting dari kakakmu"?
"Baiklah bu"! Menjawab lesu.
Shimera terlihat lelah, membaringkan tubuhnya lebih dulu. Kalau Tigra masih mempertahankan dirinya untuk duduk.
"Apa kakak ingin istirahat saja"?
"Tidak, kamu boleh menceritakan apa saja, aku akan mendengarkannya"
Lalu entah kenapa mata Shimera perlahan tertutup. Melihat hal itu tentu saja Tigra pikir pikir untuk bercerita.
"Apa kakak sungguh ingin mendengarkan ceritaku"? Tigra mencoba meyakini kakaknya apa iya ingin mendengarkan cerita adiknya.
"Kapan ceritanya dimulai"?
"Segera, tapi kenapa kakak memejamkan mata"?
"Karena mata tidak untuk mendengar. Aku hanya ingin mendengarkan ceritamu"
"Aa..baiklah"
Tigra pun memulai ceritanya sewaktu ditinggal lama oleh kakaknya.
Ceritanya berawal dari sini. Saat Tigra melakukan pelatihan adu tanding bersama rekannya Pella. Sebelum kakaknya Shimera Crystal pergi, dia tahu soal adiknya memiliki rekan tim bernama harimau biru crystal, tapi dia tidak tahu siapa rekan tersebut, apalagi namanya.
Tigra ini menceritakan siapa yang pantas memimpin tim harimau biru kristal tersebut. Semua kepemimpinan dalam tim harimau biru kristal berawal dari pertarungan ini.
"Senang bisa setim dengan dirimu Tigra"? ucap Pella.
"Aku juga" jawab singkat Tigra.
Mereka berdua saling bertatapan dan mulai memasang kuda kuda masing masing, tapi sebelum mulainya pertarungan, mereka melakukan kesepakatan terlebih dahulu.
"..yang dapat bertahanlah akan menjadi pemimpin dalam tim ini" ucap Pella dengan yakin.
"Baiklah, akan kubuktikan bahwa nama tim kita itu bukanlah nama bualan belaka" jawab Tigra serius.
"Jika kau menang, nama itu akan resmi untuk tim kita. Tapi jika kau kalah, nama itu akan ku ganti menjadi ular berbisa kristal"
"Aku setuju"
Dengan semua pembicaraan itu, kesepakatan pun disetujui oleh kedua belah pihak dan pertarungan pun segera dimulai.
SING.. HUSS.. SRAK.. Peraduan jarum kristal.
HUP.. Pella melompat menggunakan mode terbangnya beserta langsung dengan serangan jarum kristalnya. Tigra dibawah menghindari serangan jarum kristal tersebut dengan tenang. Pella menyerang lagi dengan kecepatan terbangnya mendekati Tigra. Mereka berdua saling bertatapan lalu Pella memutar tubuhnya kearah kanan.
"Hempasan ekor mematikan(nama jurus)"
Ekor kristal muncul diatas bokongnya menyerang Tigra dengan jarak dekat.
TENG.. Tigra pun sempat menahan serangan tersebut dengan menggunakan auranya membangkitkan lengan harimau biru kristal walaupun terpukul mundur tapi baik baik saja. Melihat Tigra baik baik saja, Pella tersenyum. Menghilangkan mode terbangnya turun menatap Tigra dengan tajam. Pella menarik ekor kristalnya seketika ekor tersebut langsung berubah menjadi senjata berupa cambuk panjang lentur dilapisi kristal. Ekor kristal itu menghilang saat dia menariknya. Sekarang yang dipegangnya sebuah cambuk ekor ular kristal. Melihat hal itu Tigra pun tak kalah juga. Dia yang tadinya baru mengeluarkan lengan harimau biru kristal sebelah kanan, kini dia mengeluarkan sebelah kirinya. Jadi keluar keduanya. Mode lengan harimau biru kristal seimbang.
"Kali ini aku akan bersungguh sungguh" ucap Tigra serius.
"Aku juga akan menggunakan semuanya" jawab Pella.
Mereka berdua pun saling menyerang.
TRAK.. Terjadi hantaman keras.
Pella menghempas hempas Tigra dengan cambuknya, apa daya Tigra, dia hanya bisa menangkisnya.
SRET..
Tigra terjerat oleh cambuk tersebut, kemudian ditariknya, mengepalkan tangan ingin memukul.
__ADS_1
BUNG..
Tak taunya, Tigra mengeluarkan aura birunya membentuk bola harimau biru kristal. Dengan dirinya yang berada didalam bola harimau biru kristal, serangan Pella tidak jadi masalah, hanya saja dia terpental, bergelinding.
"Boleh juga kau"! ucap Pella pada Tigra dengan tatapan yang tajam serta senyum jahatnya.
Tigra melepaskan bola harimau biru kristalnya dan ingin melakukan ancang ancang serangan. Aura biru menyelubungi tubuhnya lalu kedua kakinya berubah berselimutkan kristal.
"Kecepatan ganda"
HUSS..
Pella kaget, pandangannya pun tak dapat dialihkan. Tigra yang berada dibelakang Pella langsung memberikan serangan dengan tendangannya.
"Sungguh bodoh"
BUSS.. Serbuk asap kuning bertebaran disekeliling Pella. Tigra yang tadinya ingin menendang berakhir berhenti lalu menjauh darinya.
"Uhuk uhuk.."
Tigra memegang mulutnya yang bermuntahkan darah. Melihat hal itu Pella tersenyum.
Mode kaki harimau biru kristal pun menghilang, serta mode lengan harimau biru kristal juga. Mode seimbang yang digunakan tiba tiba menghilang saat terkena serbuk asap.
"Apa ini asap beracun"?! ucap Tigra dalam hati.
Tigra mengeluarkan auranya, kembali membuat bola kristal tapi ini bola kristal biasa tanpa menggunakan aura.
KABOOM.. Aura kuning tiba tiba muncul didalam asap asap tersebut. Tigra tercengang dan langsung memperkuat bola kristalnya.
SSSS.. SAK.. Ular raksasa berwarna kuning muncul dengan serangannya, menggigit bola kristal milik Tigra.
KRAK.. Suara retakan terlihat jelas dibola kristal Tigra. Sepertinya gigitan ular raksasa tersebut sangat kuat sehingga bola kristal milik Tigra tak mampu untuk menahannya.
"Ini buruk, bola kristalku tak dapat menahannya"
Tigra langsung melepaskan diri dari bola kristalnya.
BRAK.. Bola kristal milik Tigra hancur lebur oleh ular raksasa tersebut.
Tigra terguling guling sambil menahan pendarahannya yang tak henti hentinya keluar dari mulutnya.
"Ular berbisa raksasa" ucap Pella sambil memandang Tigra dengan tatapan yang menyeramkan.
"Jadi kau langsung menggunakan kartu andalanmu ya" ucap Tigra.
"Kau sudah terkena asap beracun dan tak bisa berbuat apa apa lagi. Secara perlahan auramu akan berkurang seiringnya waktu"
"Kalau begitu, sebelum auraku habis, akan kuakhiri"
Pembentukan langsung terjadi, dua kaki bagian depan besar berkuku muncul, lalu diikuiti dua kaki bagian belakangnya, bagian tubuh secara bertahap muncul, ditambah dengan ekor panjang kemudian kemunculan terakhir yaitu bagian kepala dengan Tigra yang didalamnya.
GRAOO.. Aungan makhluk ini menganggu pertarungan yang ada disekitar, sehingga berhasil mencuri hati para petarung lain.
Para petarung yang beradu tanding dipelatihan menghentikan pertarungan mereka dan segera menonton acara menakjubkan itu.
Pertarungan Pella dan Tigra.
Para pertarung disekitar melihat pertarungan mengejutkan secara seksama.
"Mode harimau biru kristal"
GRAOO...
Tigra langsung memulai serangannya dengan menghentakan kaki kanan bagian depan.
BRAK.. HUSS.. SING.. Langsung berada dibelakang mode ular berbisa kristal Pella.
"Cepatnya.."
Pella terkejut, saat dia menoleh kebelakang wajah ularnya tetpukul.
BANG..
Ular Pella terjatuh terbaring bersamaan dengan orangnya yang ada didalam. Pella kesal ingin membalik serangan tapi Tigra masih melancarkan serangan.
SING.. TAK.. Tepat diwajah ular berbisa, harimau biru menendang. Ular berbisa terpental di pembatas pelatihan.
"Pertarungan yang menakjubkan" kata salah seorang penonton.
Pella sangat marah karena sudah dua kali mendapatkan hantaman dari Tigra, dia bahkan tak dapat memberikan perlawanan. Sungguh menyedihkan. Kini harimau biru sedang menunggu serangan dari lawan.
"Jangan remehkan aku.." kesal Pella langsung menyerang.
BUSS.. Ular berbisa mengeluarkan asap kuningnya.
Dan harimau biru sulit untuk memandang karena ditutupi oleh asap tebal.
"Aku tidak punya banyak waktu.." teriak Tigra beserta dengan kegelisahannya.
Dia tahu asap itu dapat menyerap aura secara perlahan, maka dengan segera dia harus menyelesaikannya secepat mungkin sebelum auranya habis.
Para penonton tak dapat melihat apapun karena asap tebal tersebut.
Pella tersenyum dengan situasinya.
"Dengan ini auramu akan habis"
TUM.. SING.. SING.. SING.. SING..
Harimau biru langsung berada didepan wajah ular berbisa milik Pella.
TAK.. Langsung dengan tapaknya memukul ular berbisa hingga terpental lalu serangan berikutnya..
CISS.. Ular berbisa menyemburkan racun berbisanya kearah harimau biru, namun dapat dihindari.
TAK.. Tapaknya lagi memukul ular berbisa dari belakang. Dengan kecepatan harimau biru, Pella dengan mode ular berbisa tidak dapat mengimbangi kecepatannya. Yang ada hanya mendapatkan serangan dari harimau biru berkali kali.
"Kenapa dia masih bisa bertahan, bukankah dia terkena asap kuning ular berbisa ku, bagaimana bisa.." bingung Pella karena Tigra masih dapat bertahan setelah terkena asap kuning tersebut, seharusnya auranya sudah mencapai batas. Apa yang sebenarnya terjadi.
Tigra dengan mode harimau biru selalu menghantam Pella dengan mode ular berbisanya terus menerus.
"Sialan.." kesal Pella dengan mengayunkan ekor ularnya kearah Tigra tapi meleset. Karena kecepatannya yang tak tertandingi, Pella hanya bisa memandang sejenak.
Lama kelamaan pertarungan makin memanas. Dua petarung dipelatihan adu tanding ini membuat semua yang menyaksikan jadi heboh.
Serangan lagi, dari harimau biru dengan menggunakan cakarnya.
"Cakar Assasin(nama jurus)"
__ADS_1
CRAK.. Bagian perut ular berbisa terkena, lalu Pella membalas balik dengan hempasan ekor ularnya, namun dapat Tigra hindari.
KRAK.. Disaat itu pula aura Tigra mulai menipis.
Bagian kaki depan sebelah kiri serta bagian kaki belakang sebelah kanan hilang seketika, karena kurangnya aura.
Membangkitkan mode kristal yang kuat memerlukan aura yang banyak pula, agar tercapainya dengan sempurna. Bisa dibilang setengah aura harus dikorbankan.
"Apa aku akan kalah disini..tidak masih belum" ucap Tigra dengan semangatnya yang membara. Pella melihat Tigra yang sudah mencapai batas, dia langsung mulai dengan serangannya.
"Tombak ekor ular penghabisan(nama jurus)"
KRAK.. Tigra tak mampu lagi menggunakan kecepatannya sebab auranya mulai habis. Mode harimau biru sirna, cuma tinggal lengan harimau sebelah kanan yang tersisa. Ditahan Tigra lah ekor ular tersebut menggunakan lengannya, lalu dia pun terpental jauh mengenai dinding pembatas pelatihan. Bersamaan dengan itu lengan harimaunya pun sirna. Sekarang dia tak menggunakan apapun dan yang terlihat hanyalah lumuran darah dibagian bagian tubuhnya. Pella senang yang pikirnya akan menjadi kemenangan untuk dirinya. Ini akan menjadi puncak pertarungan mereka.
"Sepertinya kemenangan sudah dapat kita lihat" ucap salah satu penonton pada temannya yang disamping.
"Benar, tidak lain adalah dia.." jawab temannya.
Beberapa detik berlalu, mereka semua dikejutkan. Walaupun dengan lumuran darah Tigra tetap mampu bangkit dan berdiri kembali ingin melawan. Sungguh tekad yang kuat. Melihat hal itu, Pella terheran heran.
"Ada apa dengan orang ini, auranya sudah habis ditambah serangan yang dia terima dariku, kondisinya sangat buruk. Tapi tetap saja dia bersikeras ingin bertarung. Sungguh kegigihan yang luar biasa. Kuakui saja, dia bukanlah orang yang mudah dikalahkan" ucap Pella dalam hati.
Tigra memandang Pella dengan tatapan tajamnya, lalu mengeluarkan beberapa jarum kristal. Dimulainya serangan pada Pella.
SRANG.. SRANG.. SRANG.. SRANG.. SRANG.. SRANG.. SRANG.. SRANG.. SRANG.. SRANG..
"Heh serangan sekecil itu tak ada gunanya terhadapku" remeh Pella.
Dia menggunakan ekor ularnya untuk mengibaskan jarum jarum kristal tersebut, hingga terpantul berserakan dibawah bawah lantai pelatihan.
Tigra tetap tenang dengan keadaan saat ini.
"Ini sudah berakhir.. Kemenangan menjadi milikku"
Pella menatap Tigra dengan serius. Entah kenapa Tigra malah tersenyum.
"Apa kau pikir sudah menang, selama diantara kita tak ada yang tumbang atau mengaku kalah, tidak ada yang berhak mengaku ngaku bahwa dia sudah menang, karena ini..." Tigra mengepalkan lengannya bersamaan mengatakan ini..
"...belum berakhir"
TUM.. Jarum jarum kristal yang berserakan dilantai pelatihan bergerak menuju Pella. Tentu itu dikendalikan oleh Tigra sendiri.
"Heh hanya serpihan kecil"
TRANG.. TRANG.. TRANG.. TRANG.. TRANG.. Pella mengetahui serangan tersebut dan berhasil dia singkirkan dengan ekor ularnya.
HUSS.. Tigra menggunakan mode terbang melayang diudara mengelilingi Pella.
"Dia ini.. Walaupun sudah kehabisan aura, tetap saja bersikeras ingin melawan. Bukankah itu suatu kebodohan, tapi sangat menarik" ucap Pella dalam hati ditambah senyumnya.
"Kakak, aku terpaksa menggunaknnya.."
Dia mengeluarkan kristal kecil dari mulutnya yang didalamnya berisikan aura. Melihat Tigra mengeluarkan sesuatu dari mulutnya, Pella sangat terkejut.
"Itukan.. Darimana dia mendapatkan aura itu, aura yang sangat berbahaya dan kuat.. Aura hitam"
Tigra mulai memecahkan kristal kecil tersebut, ingin membebaskan aura hitam didalamnya.
SUAR.. Aura hitam menyelubungi tubuhnya dan pembentukan pun terwujud.
"Harimau bayangan kristal"
Tigra telah berubah menjadi sesosok harimau bayangan.
SING..
"Cepatnya.." ucap Pella langsung siap dengan pertahanannya.
"Putaran ekor ular kristal"
Jurus ini memungkinkan Pella tidak terkena dari serangan lawan, yang artinya pertahanan.
Kecepatan Tigra sulit dilihat dengan mata telanjang.
SING.. Langsung ada dihadapan Pella.
TRAK..
"Aaa.." Pella langsung terpelanting dan pertahanan itupun hancur menjadi serpihan. Pella bermuntahkan darah lalu dengan segera dia menutup mulutnya.
"Tak kusangka dia masih mempunyai kartu andalan seperti ini. Jika aku tahu dari awal dia mempunyai aura hitam, aku pasti akan menggunakannya juga.." kesal Pella ucap dalam hati.
SING.. Langsung berada dipandangan Pella lalu Tigra mulai menyerang namun..
"Kuakui, aku mengaku kalah.."?
Ternyata Pella mengucapkannya, ucapan yang mengakhiri duel ini. Mendengar itu, Tigra menghentikan serangan bersamaan dengan aura hitamnya. Tigra melihat keatas..
"Kakak terima kasih.."
Disaat Shimera memberikan aura hitam pada Tigra.
Dirumahnya.. Saat itu kakaknya Shimera ingin pergi.
"Ibu, ayah.. Aku pergi"?
Setelah mengucapkan itu, Shimera langsung melangkahkan kakinya tanpa harus mengatakan apapun pada adiknya, padahal adiknya bersamaan ibu dan ayahnya sedang melihat kepergiannya.
KLAP.. Tigra menangkap sesuatu, sebuah kristal kecil. Melihat itu dia bingung.
"Itu sangat berguna untukmu, gunakan itu saat kau dalam keadaan tak berdaya, masalahmu akan selesai dengan cepat"
Mendengar ucapan kakaknya itu, Tigra sangat senang karena mendapatkan hadiah dari kakaknya, yang artinya kakaknya sangat sayang padanya.
"Kakak terima kasih, aku akan menunggu kepulanganmu"
"Dasar adik bodoh.." senyum Shimera.
Akhir dari masa lalu..
Kembali kepelatihan, Tigra tiba tiba terjatuh, untungnya disambut oleh Pella yang ada didekat.
"Dia ini benar benar merepotkan"
Setelah pertarungan berangsur lamanya, tiba juga akhirnya. Duel sudah dapat kita lihat, siapa yang pantas menjadi pemimpin tim harimau biru kristal. Sejak hari itu, nama harimau biru kristal tergiang dibenak semua orang dan pemimpin tim Tigra crystal sudah diketahui banyak orang. Pella pun merasa senang menjadi rekan setim dengannya..
"Kakak itu adalah akhir dari ceritaku.." sambil melihat kearah kakaknya dan ternyata... Shimera sudah tidur dengan pulas.
Sudahku duga.. Yang artinya ceritaku tadi sia sia saja"
__ADS_1
Pella memegang kedua kepalanya lalu berbaring berdampingan dengan kakaknya dan langsung menutup mata.
"Ceritamu tadi sungguh menyenangkan dan membuatku takjub. Lain kali jika ada waktu luang, aku sendiri yang akan melatihmu" ucap Shimera dalam hati ditambah dengan senyuman kecil.