
Junmyeon menerima telepon pada pukul dua belas lebih sembilan belas. Aku tidak bisa tidur, Juhyun berkata. Junmyeon bilang ia akan datang, tetapi Juhyun menjawab mungkin lebih baik dialah yang datang. Junmyeon punya banyak pertimbangan yang ia pikirkan dalam sekian detik, tetapi mungkin di sana Juhyun lebih mengerti soal Junmyeon dibandingkan dirinya sendiri.
“Lanjutkan saja liriknya. Akan selesai saat aku datang, ‘kan?”
Junmyeon baru ingat ia bercerita soal lirik yang ditulisnya untuk proyek yang akan datang. Ia mempertimbangkan lagi. Juhyun setara, sebaya, seberani dirinya. Mereka dilahirkan dalam tahun yang sama, mungkin itu salah satu alasan Junmyeon bisa mengerti Juhyun dengan mudahnya.
Juhyun datang dengan sepeda. Junmyeon terkejut karena ia sendiri tidak punya—dan tidak mungkin membangunkan salah satu temannya cuma untuk hal seperti ini.
“Naiklah.” Juhyun tertawa kecil. “Aku bisa, tenang saja.”
Tangan Junmyeon berada di pundak Juhyun selama perjalanan menjauh dari dorm. Ia berdiri di belakang, kagum pada santainya Juhyun mengayuh sepedanya. Pundak itu hangat sekali, kontras dengan terpaan angin yang semakin membuat Junmyeon terjaga (ia tidak yakin ia bisa tidur di sisa malam ini nanti). Juhyun bernyanyi-nyanyi, sesekali bukan lagu yang Junmyeon kenal.
__ADS_1
Juhyun akhirnya berhenti di tepi sungai. Kerlip lampu kota menghidupkan malam, kehidupan yang tetap terjaga saat orang-orang meninggalkan dunia untuk sementara. Dahulu orang-orang menikmati bintang, kerlip malu-malu di kejauhan. Sekarang mungkin berbeda, tetapi masih ada hal yang sama. Bintang-bintang itu turun ke bumi sekarang, hidup dengan cara yang berbeda.
Junmyeon minta turun, mengarahkan ponselnya ke sungai dan apa yang hidup di seberangnya. Juhyun berputar-putar di sekelilingnya, bernyanyi lebih nyaring daripada sebelumnya.
Lelaki itu menurunkan ponselnya sebentar. Juhyun tidak terlalu peduli. Junmyeon mengarahkan ponselnya lagi.
(Pada Juhyun kali ini. Apakah peri malam bisa bernyanyi, bersinar, dan indah dalam waktu bersamaan? Peri malam Junmyeon bisa. Peri malam berlatar bintang-bintang artifisial.)
Junmyeon, jauh di selatan sana, entah sedang berada di gedung mana, lantai berapa, mengiriminya foto langit dan kota yang gemerlap di bawahnya tanpa kata-kata lainnya. Kadang-kadang lelaki itu berbicara begitu banyak tanpa kata-kata. Juhyun melihatnya seperti sebuah pesan rindu, tetapi mungkin ada yang lebih dalam daripada itu: begini caraku melihat dunia. Kota yang menyala, titik-titik bintang tidak ada di langit tetapi lampu-lampu kota menyerupainya, dan bulan yang dia lihat berbentuk seperti ini.
Juhyun sedang berada di tengah-tengah kota yang sunyi. Di dalam warna-warna lampu itu, jauh di utara Junmyeon. Bulannya berbeda, dan ia berada di dalam bintang-bintang artifisial itu. Junmyeon, di luarnya. Di atas semua cahaya itu.
__ADS_1
Perempuan itu membalasnya dengan apa yang bisa ia lihat di hadapannya. Sebuah gedung pencakar langit, berteman gedung-gedung lainnya yang tingginya hanya separuhnya, begitu hidup di tengah kegelapan langit. Bulan menjadi samar-samar di dekatnya.
pasti menyenangkan melihat dari atas sana, ya, jumnyeon-ah?
Junmyeon rupanya masih terjaga.
kau berada di tengah-tengah cahaya, cahaya kota yang cantik. seperti yang kulihat dari atas sini. pasti menyenangkan berada di dalam cahaya, hm?
Juhyun tertawa kecil, mencoba untuk bermain-main dengan kata-kata karena ia senang sekali seseorang tetap membuatnya terjaga.
tidak terlalu, ketika cahaya yang lain tidak berada di sini.
__ADS_1
(Satu-satunya yang membuat Junmyeon tenang adalah—mereka masih melihat bulan yang sama.)