EXO X RV

EXO X RV
+14+


__ADS_3

Wendy berada di ruang tengah ketika Chanyeol dipersilakan masuk. Dia sedang bermain dart, melemparkan sebuah anak panah kecil berwarna hijau; mengenai tengahnya. Dia tersenyum puas, masih belum menyadari kedatangan Chanyeol. Rambutnya digelung tinggi, menyisakan helai-helai bandel yang menjuntai di sisi kanan dan kiri.


Chanyeol sengaja tidak bersuara. Ia bersandar pada dinding, tangan tersilang di depan dadanya, mengamati tanpa sadar dirinya juga sedang tersenyum.


Setelah semua anak panahnya dilempar, barulah Wendy tahu. “Eh, sejak kapan?”


“Sejak skor tertinggi pertamamu.” Chanyeol mengedikkan dagu pada papan sasaran. “Keren.”


“Ayolah, bukan cuma aku yang jago olahraga dan menembak sasaran di sini.” Wendy menyunggingkan senyum penuh arti, tahu Chanyeol menyadari siapa yang dia maksud. “Tunggu sebentar, ya, aku mau membersihkan ini dulu,” tunjuknya pada wajahnya, yang baru Chanyeol perhatikan dilapisi oleh peel-off mask.


Wendy memasuki kamar mandi, Chanyeol memutuskan untuk keluar, menunggu di balkon. Bulan yang keperakan sedang dikelilingi oleh halo pelangi, ia betah sekali mengamatinya lama-lama, bagaimana awan bergerak mengelilingi bulan, pola di permukaan bulannya, dan warna hangat di sekeliling bulan itu yang dikurung oleh si halo.


“Hei.” Wendy menepuk bahunya, tetapi membiarkan tangannya berlama-lama di sana. “Wah, purnama. Aku baru sadar, lho.”


“Mungkin sesekali kita harus memasang kalender hitungan bulan di ponsel.” Chanyeol nyengir. “Sudah selesai perawatannya?”


“Cuma masker, kok.” Wendy mengelus-elus pipinya. “Aku mencoba merk baru. Aromanya enak.”

__ADS_1


Chanyeol dengan iseng mencubit pipi Wendy. Wendy pura-pura mengaduh dan Chanyeol tertawa. “Sepertinya hasilnya memang bagus.”


“Apa-apaan. Baru dipakai sekali, nih.” Wendy lantas mendongak lagi. “Purnama. Sepertinya suasana yang cocok untuk jalan-jalan di luar.”


“Oh, yang itu aku tidak bakal menolak.” Chanyeol mengangguk cepat. “Tempat makan yang enak di sekitar sini, di mana?”


“Kenapa harus mencari yang dekat jika kita bisa jalan-jalan yang jauh, menikmati cuaca yang bagus begini?” Wendy kemudian mundur sebentar. “Cari tempat makan yang letaknya tinggi. Pasti menyenangkan. Aku mau siap-siap dulu, ya.”


Chanyeol menangkap pergelangan tangannya. “Tidak usah. Begini saja cukup.”


“Tapi—”


Wendy mengerjap. Chanyeol mengangguk untuk meyakinkan.


“Ya sudah.” Wendy pun menaikkan tudung hoodie ke kepalanya. “Aku cuma akan memakai ini, lho. Jangan malu.”


“Tidak akan.” Chanyeol pun meletakkan tangannya di punggung Wendy, mendorongnya lembut.

__ADS_1


Yang mulai disukai Chanyeol adalah rumah-rumah yang mereka lewati di perjalanan menuju Saskatchewan itu. Suasananya, lingkungannya, begitu berbeda dengan yang biasa ia lihat. Tak jarang ia dan Wendy melewati area yang tampak kosong, entah ladang apa, ia tak sempat mengamatinya lebih jauh. Wendy mengemudi begitu cepat.


Teman-teman lama Wendy mengadakan sebuah acara menginap di rumah pribadi salah seorang dari mereka. Kebetulan sekali ia, Wendy, dan teman-temannya yang lain punya acara di Kanada, sehingga Wendy memutuskan untuk pulang belakangan dan Chanyeol mengikuti. Sudah lama tidak bertemu mereka, kata Wendy, Chanyeol dengan senang hati menemani karena awalnya Wendy hampir tidak jadi berangkat gara-gara terancam sendirian—teman-teman segrupnya punya acara sendiri-sendiri.


Mereka berdua tiba pada pukul sepuluh malam. Chanyeol agak canggung berada di tengah-tengah teman Wendy karena ia tidak sefasih Wendy dalam berbahasa Inggris. Wendy membantunya sesekali, melengkapi kalimatnya seperlunya.


Ketika perhatian tidak lagi tertuju pada si ‘teman spesial Wendy’, Chanyeol mundur dan keluar. Teras samping rumah yang seperti puri itu terlihat menggoda.


Sisi sampingnya tak berpagar, berbatasan langsung dengan sesuatu yang rupanya padang gandum. Chanyeol berdiri di antara rumpun-rumpun tinggi itu, mendongak.


Sekarang baru ia merasakan alam terbuka tanpa penerangan apapun, hanya mendapat cahaya bulan—itu pun tidak purnama. Ia akhirnya mengerti kesenangan orang-orang dahulu, yang membuat ratusan dongeng berbeda tentang bulan, berbagai macam representasi tentang bulan, yang mewakili keindahan-keindahannya atau misterinya.


“Hei, di situ rupanya!” teriakan dalam bahasa Korea itu, tak mungkin berasal dari orang lain. Chanyeol menoleh, melambaikan tangan.


Wendy menyusulnya ke tepian padang, menggeleng-geleng. “Kukira kau kabur, oppa.”


“Tempat ini menarik.” Chanyeol mengangkat bahu, kemudian keluar dari sela-sela rumpun. “Pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.” Dan ia tersadar. Belum sehari pergi bersama Wendy, perempuan itu sudah membukakan matanya untuk banyak hal.

__ADS_1


“Di dalam lebih menarik lagi.” Wendy menarik tangan Chanyeol. “Ada kue yang baru matang.”


Chanyeol menatap Wendy dengan bangga. Bagaimana jika lebih lama lagi? Ada berapa banyak hal menarik yang akan diperlihatkan Wendy?


__ADS_2