EXO X RV

EXO X RV
+10+


__ADS_3

Wendy hampir saja menjatuhkan ponselnya dari meja saat benda itu berdering, dan ia tengah berada di batas sadar dan tidak. Ia tidak buang-buang waktu untuk mengecek nama pemanggil—jika nanti suara di seberang sana tidak dikenal, maka ia cukup langsung memutusnya saja.


Namun, suara itu ternyata adalah suara serak yang sangat dikenalnya, bahkan lebih serak lagi dini hari ini.


“Seungwan-ah?”


“Nnnn?” Wendy berbalik posisi, memunggungi meja tempat lampu tidur. “Is there anything I can help you, Sir?”


“Seungwan-ah, ini aku.”


Wendy mengerjap beberapa kali, akhirnya kembali ke kesadarannya sepenuhnya. “Oh, maaf. Chanyeol-oppa? Maaf, maaf, aku setengah bermimpi. Kupikir aku sedang di Toronto, membantu seorang bartender.” Wendy pikir Chanyeol akan tertawa karena cerita mimpinya yang aneh barusan, yang masih terasa nyata di balik kelopak matanya. Namun, panggilan itu hening seketika. “Chanyeol-oppa?”


“Kau baik-baik saja, ‘kan?”


Wendy beringsut untuk duduk bersandar pada tempat tidur, keningnya mengernyit dalam-dalam. “Kurasa seharusnya itu pertanyaanku.”


“Yeah, aku baik-baik saja,” suara Chanyeol semakin serak, “kau memang baik-baik saja, ‘kan? Tidak sakit, tidak terluka?”


“Tidak ada masalah sama sekali.” Wendy kemudian membiarkan Chanyeol seraya menggali-gali alasannya. Akhirnya ia mengerti. “Kau bermimpi buruk?”

__ADS_1


“Lebih dari itu.”


Wendy memainkan ujung selimutnya. “Hmm. Aku mengerti. Kau tidak perlu menceritakannya kalau kau masih takut.”


“Kurasa begitu.” Sunyi lagi. “Maaf mengganggu tidurmu, aku hanya perlu tahu kau memang baik-baik saja.”


“Jika itu membuat tidurmu lebih tenang setelah ini, aku tidak keberatan,” kata Wendy, mengabaikan rasa kantuknya sendiri yang mendorongnya untuk segera mengakhiri pembicaraan ini. “Sudah baik-baik saja, ‘kan? Aku masih di sini. Tenanglah. Ambil napas dalam-dalam, oke? Berpikir positif. Kita akan bertemu besok. Kita bisa bicara saat kau sudah lebih tenang, oppa.”


“Ya ....” Lama Chanyeol menggantungnya. Terdengar bunyi napas yang teratur. “Baiklah. Selamat malam, Seungwan-ah. Semoga kau tidak mengalaminya.”


Wendy membiarkan Chanyeol yang memutus panggilan itu, cukup lama setelah pembicaraan mereka berakhir.


Seulgi melihat satu lagi pesawat berangkat, dari dinding kaca di sisi kirinya. Lehernya sakit karena terlalu banyak memandangi sisi sebelah sana, tetapi masih lebih menyenangkan daripada memandangi ponselnya. Sudah terlalu lama. Penerbangan mereka masih ditunda tanpa kepastian kapan harus pergi, karena pesawatnya sendiri belum datang dari destinasi sebelumnya, cuaca masih buruk di negara bagian sana.


Kemudian, Jongin maju. Berdiri di depan dinding tersebut, memandangi hal yang sama dengan Seulgi.


“Hei.”


Jongin tak mendengar di panggilan pertama. Seulgi menggeleng-geleng. Ia kemudian meninggalkan tas tangannya di kursi, berjalan mendekati Jongin. Jongin baru menyadarinya setelah Seulgi dengan sengaja membenturkan lengan mereka.

__ADS_1


“Hei.”


Seulgi tersenyum kecil. “Kau menghalangi pemandanganku.”


“Oh, sori—”


Seulgi menggeleng-geleng. “Lupakan saja.” Kemudian ia menelengkan kepala, menatap pada satu titik merah dari pesawat yang baru berangkat, perlahan menjauh dan meredup. “Setelah ini, kau ada rekaman, ya?”


“Hmmm.” Jongin mendelik sebentar, Seulgi tidak menoleh. “Dan latihan-latihan lainnya. Aku akan merindukan kota ini.”


“Kota yang begitu jauh memang akan selalu membuat kita memikirkannya,” sahut Seulgi. “New York. Kita akan kembali lagi.”


“Kapan?” Jongin iseng bertanya, suaranya terdengar serupa bisikan, seakan takut didengar teman-temannya yang lain. “Aku suka malam-malam di sini. Kotanya indah sekali dilihat dari jendela kamar hotelku. Aku tidak pernah bosan melihatnya.”


“Bekerja dulu, kumpulkan uang untuk ke sini,” tambah Seulgi dengan gelak tawa, “karena begitulah dunia orang dewasa bekerja.”


Jongin menahan senyumannya. “Baik. Aku mengerti.”


Hening sebentar. Yang ada adalah suara-suara teman mereka yang berbicara di belakang, terdengar jauh sekali bagi Seulgi.

__ADS_1


“Nanti kita akan ke sini lagi. Bersamamu, ya.”


Seulgi menoleh, Jongin tidak memandangnya. Mata pemuda itu melempar pandangan jauh sekali pada sebuah pesawat yang sedang taxi.


__ADS_2