EXO X RV

EXO X RV
+2+


__ADS_3

Wendy melihat anjing itu, yang tampak bingung di tepi jalan. Wendy menoleh pada Chanyeol, menelengkan kepala, lalu Chanyeol memandangi sekitar. Mencari tahu apa yang membuat Wendy tiba-tiba berhenti dan memberikannya tatapan itu.


Chanyeol masih bingung ketika Wendy akhirnya menggeleng-geleng dan mengambil roti lapis dari tangan lelaki itu.


“Ya! Seungwan-ah!” Chanyeol setengah berteriak, mengulurkan tangannya pada roti lapisnya yang malang, tetapi Wendy tak terlalu peduli. Baru setelah melihat apa yang Wendy lakukan pada roti lapis itu Chanyeol tidak jadi protes.


Wendy berjongkok di tepi jalan, mengulurkan sepotong kecil roti yang disobeknya pada si anjing kecil yang berwarna hitam itu. Chanyeol hampir-hampir tidak bisa melihatnya di tengah malam seperti ini.


“Aku tidak tahu apakah ini baik untukmu … atau tidak. Tapi, makan dulu, ya? Aku tidak ingin kau kelaparan.”


Chanyeol sedikit iri karena Wendy malah berbicara selembut itu pada seekor anjing. Namun melihat anjing itu dengan mata polosnya dan lahapnya dia makan, Chanyeol tidak jadi berkata-kata. Alih-alih, dia juga turut berjongkok di samping Wendy dan mengelus kepala anjing itu.


“Aku akan mengganti roti ini, oppa. Tenang saja.” Wendy kemudian nyengir, yang membuat Chanyeol benar-benar lupa pada rasa kesalnya. “Masih ada toko yang buka 24 jam di sekitar sini, ‘kan?”


“Tidak juga tidak apa-apa,” gumam Chanyeol.


“Aw, kau baik sekali, oppa.” Wendy terkekeh lalu sempat menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Chanyeol—tetapi begitu singkat hingga Chanyeol pun baru menyadarinya setelah semuanya terjadi.

__ADS_1


“Tidak,” sanggah Chanyeol, memandanginya tanpa Wendy tahu, “kau yang baik.”


—Peri malamku, katanya, hanya dalam hati saja sayangnya.


Jongin hanya bilang dia ingin mengembalikan jaket yang dia pinjam dari Seulgi saat mereka sama-sama berlatih di gedung hari itu, tetapi Seulgi tidak mengatakan dengan gamblang di mana ia berada.


aku sedang tidak di dorm, katanya. Separuh dari dirinya tidak berharap Kai akan melanjutkannya; atau menemukannya. Kadang ia butuh waktu sendiri, Irene sekalipun tahu jika ia sedang tidak ingin diganggu.


Namun sepertinya mudah bagi Kai. Saat Seulgi sedang menyanyikan sebuah lagu favoritnya dari masa kecil, pintu ke atap gedung itu terbuka tanpa ia tahu. Ia baru menyadarinya ketika Kai berdiri di samping dirinya yang duduk di atas sebuah bangku panjang, kedua tangan Kai di dalam saku. Seulgi melepaskan headset-nya, mengerutkan dahi. “Siapa yang memberi tahumu aku di sini?”


Kai berjongkok di atas kursi itu setelah Seulgi bergeser dan memberinya izin dengan mengedikkan dagu ke arah ruang kosongnya. Mereka sama-sama mendongak, kemudian Seulgi mengembuskan napas panjang.


“Bintangnya sudah lebih sedikit daripada yang saat itu.”


Kai mengangguk. “Ya.” Lantas dia menoleh pada Seulgi. “Saat kita masih sama-sama teman berlatih, ya?”


“Ah, masa-masa indah itu, sunbae,” kata Seulgi setengah menggoda.

__ADS_1


Kai meninju lengannya. “Sudahlah. Lupakan saja.”


Seulgi masih ingin bercerita betapa canggungnya ia jika satu panggung dengan Kai jika membandingkan keadaannya dengan masa-masa mereka berlatih bersama. Ketika mereka harus menjadi senior-junior dengan tingkat kesopanan yang tentu jauh berbeda, padahal ia terbiasa melakukan hal-hal untuk sepasang orang sebaya pada Kai, tentu saja itu membuatnya kurang nyaman. Namun Kai pasti tidak ingin ia mempermasalahkannya sekarang.


“Bintang-bintang terus berkurang.”


“Kadang-kadang kita harus pergi ke luar kota.” Seulgi melepaskan lagi headset-nya yang lain.


“Yuk.”


Ia baru menyadari Kai memandanginya. “Ah, lupakan,” katanya mengibaskan tangannya di udara. “Saat aku punya waktu luang, kau yang sibuk. Selesai promosimu, pasti aku yang akan sibuk.”


“Akan selalu ada waktu, pasti. Siapa yang tahu?” Kai mengangkat bahu. “Nanti kita atur.”


“Janji, ya?” Seulgi mengangkat jari kelingking. Tiba-tiba ia merasa seperti sepasang trainee lagi yang penuh harapan dan optimisme. “Tempat yang banyak bintangnya.”


Kai dengan senang hati mengaitkan kelingkingnya. “Kudengar di Amerika selatan, kita bisa melihat banyak bintang di tempat tertentu.”

__ADS_1


__ADS_2