
“Aku sungguhan, lho,” ucap Juhyun sambil mengamati titik-titik besar yang tiba di kaca untuk segera disingkirkan oleh wiper. Sudut jendela di sampingnya berembun tebal karena pendingin mobil yang ia arahkan sembarangan. “Kalau kau mengantuk, kita bisa bergantian.” Juhyun memastikan lagi bahwa jam di mobil memang tidak salah, 4:58 pagi, dengan melihat pada jam tangannya.
“Masih kuat, kok, tenang saja.” Junmyeon mengusap wajahnya, dia mengemudikan dengan sangat pelan, bibirnya menyunggingkan senyuman. “Sebentar lagi sampai, ‘kan?”
“Kurang lebih setengah jam.”
“Apa kata keluargamu jika malah kau yang menyetir?”
Juhyun tertawa kecil. “Mereka tidak pernah mempermasalahkan siapa yang menyetirkan siapa. Apa masalahnya perempuan menyetir seorang laki-laki yang ingin dikenalkannya?”
Junmyeon masih tersenyum. Juhyun membalasnya, kemudian ia bersandar pada jendela. Mengamati titik-titik yang mulai mengecil, semakin jauh mereka menempuh jarak, semakin sunyi.
Dua puluh menit kemudian, jejak-jejak hujan itu tak lagi ada kecuali di badan mobil mereka. Lalu langit berubah menjadi sedikit kemerahan di arah mereka menuju. Juhyun membuka jendela, menghidu aroma yang segar dari embun dan sisa-sisa hujan yang terbawa dari jauh. Junmyeon tampaknya menyadarinya, kemudian menepi.
Juhyun paham ketika Junmyeon keluar dan berjalan menuju batas antara aspal dan rerumputan tepi jalan. Ia menyusul, berdiri di sampingnya dan mengamati warna kemerahan itu yang perlahan terus merayap mengganti biru kehitaman di atasnya.
Junmyeon meraih tangannya, menggenggamnya, menatap matanya.
__ADS_1
“Keluargaku akan senang sekali bertemu denganmu.”
“Aku agak gugup.”
“Ayolah, mereka akan senang sekali, di pagi hari yang cerah, dipertemukan dengan orang yang sama cerahnya.”
Junmyeon tertawa.
Wendy berkali-kali menaik-turunkan ponselnya yang telah dipasangi teleskop sederhana itu. Berkali-kali pula mulutnya membentuk huruf ‘O’ tanpa suara. Chanyeol mengamatinya sambil bersilang tangan, bersandar pada birai gedung yang mengkilat karena cahaya sekitar, termasuk cahaya purnama. Chanyeol tersenyum-senyum, Wendy tak menyadarinya.
Chanyeol masih menyunggingkan senyum. “Coba ambil fotonya.”
Wendy menekan tombol potret pada layarnya beberapa kali. Bulan tampak penuh dan kasar di layar ponselnya, dipandanginya lama sekali seolah-olah baru menemukan bulan dalam hidupnya.
“Kau mau kufoto?”
“Oh, boleh!” Wendy kedengaran antusias dan gembira. Ia menjauhkan ponselnya sedikit, memosisikan diri dekat dengan bulan. “Pas, tidak?” tanyanya, telunjuknya mengarah pada bulan kepada Chanyeol yang mundur menjauh untuk mengira-ngira jarak yang pas.
__ADS_1
Chanyeol mengangguk-angguk, kemudian mengambil foto beberapa kali. Bulan itu tampak pas di atas telunjuk Wendy yang tersenyum cerah. Kemudian, lelaki itu menurunkan ponselnya, hanya menatap Wendy dengan ekspresi kagum dan bahagia yang tidak berubah sejak awal.
Wendy yang sudah berpose terdiam sebentar, menelengkan kepalanya. “Hei, kukira kau masih mengambil foto?”
Chanyeol nyengir, mengembalikan kata-kata Wendy, “Bagus sekali jika dilihat dari sini ....”
Wendy mengerjap, kemudian berlari ke arah pemuda itu, memukul lengannya dengan pelan. “Kau ini!”
“Habisnya ....” Chanyeol sengaja menggantungkan kata-katanya, kemudian dia mengacak-acak rambut Wendy dengan pelan. “Aku ‘kan tidak perlu alat macam-macam buat melihat yang indah-indah ... sudah terlihat dengan jelas di depanku.”
“Chanyeol-oppa!”
You left me.
Not realizing until I've said my final good-bye and closed the door behind me, that he's not referring to the past.
He's prophesying our future.
__ADS_1