
Wendy masih menemaninya, kepalanya nyaris terantuk lampu meja saat dia secara tak sadar (nyaris) terlelap.
“Sudahlah, kau boleh pulang. Mau kuantar, ya?”
Wendy menggumam sebentar. Chanyeol hanya meliriknya, lalu menulis lagi. Lirik lagu itu harusnya sebentar lagi selesai. Namun ia berulang kali mencoret dan mengulangi beberapa bagian. Wendy menggumam lagi, kepalanya di atas lipatan tangannya, suaranya hampir tak terdengar jika saja di ruangan ini ada orang lain selain mereka berdua,
“Kalau kau mengantarku, kau pulang ke tempatmu dengan apa? Masa’ pakai mobilku juga?”
Chanyeol hampir tertawa.
“Kukenakan tarif sewa nanti.”
Chanyeol benar-benar tertawa. “Sori, ya, gara-gara ini kau malah sampai larut malam di sini bersamaku.”
“Besok-besok kukirim saja kau ke Kanada supaya kau bisa menulis seratus lagu tentang tempat itu, ya.”
“Boleh,” jawab Chanyeol pelan, jarinya mengetuk-ngetukkan pensil dengan cepat ke atas meja, gemas sekali karena ia seharusnya bisa membuat bagian akhir dari lagu ini dengan cepat, “asalkan jangan sendiri, ya.”
Wendy tak menjawab lagi. Sudah pukul satu, Chanyeol yakin perempuan itu sudah benar-benar tertidur. Akan ia antar Wendy dengan mobilnya saja, mobil Wendy pasti akan aman-aman saja ditinggal di parkir bawah tanah gedung kantor ini.
Ia menopangkan kepalanya di atas tangan, memandangi rambut Wendy, yang berwarna almond sekarang, yang bergelombang dan berantakan. Chanyeol mengembuskan napas panjang—tetapi kemudian ia tersentak.
Ia rasa ia tahu.
Chanyeol menulis bagian akhirnya dengan cepat,
__ADS_1
langit Toronto kembali disentuh matahari
kota meredup,
tapi akan lahir kembali esok senja
aku masih bersamamu di sini
lampu-lampu romantis kota akan terlahir kembali berjuta kali
begitu pula cinta kita
ia akan selalu bersemi.
Saat ia menurunkan ponselnya dari hadapannya—permainan itu benar-benar membuat matanya lelah, tetapi tidak mengantuk—ternyata semua orang di sekitarnya tidur. Lampu kabin redup sekali, beberapa di antaranya tidur dengan menimbun diri sampai ke kepala dengan selimut. Ada pula yang memakai headset.
Di sampingnya, berjarak satu gang, Irene juga tertidur. Selimutnya jatuh ke lantai, Suho sedikit khawatir karena dia hanya memakai legging meskipun kemejanya mencapai lutut. Kepalanya miring ke samping, luput dari sandaran kursi, tetapi bertopang pada tangannya.
Suho bangkit, memungut selimut itu dan dengan sangat pelan menaruhnya di atas tubuh Irene. Irene bergerak, Suho dengan cepat menarik tangannya.
“Bukannya aku tidak berterima kasih ... tapi kau tidak perlu repot-repot melakukannya.”
Suho tersenyum. “Bukan masalah. Itu hal yang memang harus kulakukan.”
Irene membetulkan posisi duduknya.
__ADS_1
“Kukira kau tidur.”
“Tadinya.”
“Jadinya aku membangunkanmu? Maaf—”
“Sebelum itu. Aku terbangun gara-gara mimpi. Lalu mencoba tidur lagi, tapi gagal.”
Suho mengangguk-angguk pelan.
“Sebelum kau membuatku bercerita, maukah minggir sebentar? Aku ingin ke toilet.”
“Oh, silakan, silakan—” Suho bergeser. “Sebenarnya aku juga ingin ke toilet, tapi ... tentu saja, kau yang harus duluan.”
Irene tertawa kecil. Suho memberinya jalan, lalu mengikutinya ke toilet. Ternyata toilet tersebut masih digunakan—dan mereka menanti berdua di depan pintu.
Suho mencoba membuka pembicaraan lagi, sepinya kabin dan gelapnya suasana membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. “Mimpi buruk, ya?”
“Bisa dibilang begitu.” Irene mengusap wajahnya. “Aku ingin tidur lagi, karena semuanya tidur. Tidak ada teman bicara. Tapi sepertinya tidak bisa.”
Suho menunjuk ke arah belakang, ke tempat duduknya. “Di sebelahku kosong. Aku bisa menemanimu bicara kalau kau mau.”
Irene mengangkat alis, kemudian memastikannya dengan melihat ke balik punggung Suho. Ia mendengar cerita, seharusnya Chanyeol duduk di sana, tetapi ada hal yang membuatnya harus batal ikut penerbangan ini dan menyusul di jadwal berikutnya. “Boleh.”
(Kemudian, pada pagi harinya, Seulgi terkejut karena kehilangan Irene yang ternyata berpindah tempat dan tertidur di samping Suho, dengan kepala mereka yang nyaris bersentuhan satu sama lain. Seulgi tidak menyia-nyiakan momen—sepuluh foto, paling tidak.)
__ADS_1