
Jongin cuma mengetuk-ngetukkan jarinya bosan di atas meja. Seulgi konsentrasi sekali bermain di ponselnya, suara tembakan berkali-kali menambah ramainya suara di latar belakang. Jongin memandangi kening Seulgi yang kadang berkerut, kadang tidak saat dia bermain.
Ia menumpukan kepalanya pada tangan, Seulgi masih sibuk bermain. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menarik perhatian perempuan itu rupanya.
"Ugh, kurasa aku harus ke toilet." Seulgi melepas ponselnya dan meletakkannya ke meja.
Keramaian teman-teman, senior dan junior yang makan bersama di restoran hotel yang sengaja dipesan untuk mereka semua ini tidak lagi membuat Jongin peduli. Ponsel Seulgi masih menyala di atas meja, menampilkan gambar layar kuncinya yang menarik perhatian Jongin. Jongin mengernyit.
Gambar bintang-bintang dengan latar belakang biru malam, sebuah gambar digital. Titik-titik putih berkilauan, sebagian lebih besar dan terang daripada yang lain.
Jongin merasa mengenali pola yang tampak cerah itu; bintang-bintang yang lebih terang daripada yang lain. Ia sampai menarik dan memutar ponsel itu ke arahnya dan menekan layarnya berkali-kali agar tetap menyala.
Ia merasa tidak yakin, masih berusaha menebak-nebak tetapi kemudian Seulgi datang.
Jongin mengangkat kedua tangannya, "Aku tidak berbuat apa-apa!"
Seulgi nyaris tertawa. "Yaaa, percaya kok. Kau kan tidak tahu kuncinya."
Jongin pun menggeser ponsel itu di meja kembali kepada pemiliknya. "Gambarnya bagus."
"Yeah. Aku menemukannya di suatu tempat." Seulgi mengedikkan dagu sebentar. Kemudian dia sibuk bermain lagi.
Lelaki itu tidak puas. Ia segera mencari sesuatu di kotak pencarian pada ponselnya;
lalu ia menemukan sesuatu yang membuatnya tidak berkedip saat mendapatkan hasilnya:
pola bintang barusan adalah gambar segitiga terbalik: simbol kambing bertanduk untuk zodiak Capricorn.
__ADS_1
Jongin berusaha mengingat-ingat dan memastikan dirinya tidak salah.
"Seulgi-ah," panggilnya dengan suara pelan, hampir-hampir tidak terdengar di tempat yang ramai itu.
"Ya?"
"Ulang tahunmu bulan Februari, kan?"
"Hmmm," jawabnya tanpa melihat ke arah Jongin.
"Aquarius?"
"Tahu saja kau."
Jongin terdiam. Berusaha untuk tidak gede rasa; tapi sayangnya hal barusan membuatnya berharap.
"Sudah lama, ya?" Seulgi nengelap tangannya di kedua sisi samping kaosnya. "Maaf, tadi aku di kamar."
"Kau baik-baik saja, 'kan?" Jongin melepaskan alas kakinya dengan hati-hati di ambang pintu. "Memang sudah lebih baik?"
Seulgi mengangguk, lalu mengedikkan dagu ke arah pintu kamarnya yang terbuka saat Jongin melemparkan pertanyaan tanpa kata soal jaket yang berada di tangannya. Jaket Seulgi tertinggal di mobil Jongin beberapa hari lalu, dan saat tahu Seulgi tidak enak badan lewat chat tadi sore, Jongin pikir dia membutuhkan benda ini.
Seulgi tidak bilang-bilang bahwa dia punya selusin cadangan, tetapi dia sangat menghargai kedatangan Jongin malam itu.
Jongin memasuki kamar dengan penerangan temaram itu. Beraroma terapi, Jongin betah sekali berlama-lama.
"Aku bawakan ini juga," kata Jongin setelah keluar dari kamar. Sekotak makanan hangat, Seulgi bisa mencium aromanya saat dia mendekat pada Jongin. "Mana yang lain?"
__ADS_1
"Sedang ada berbagai urusan di luar."
"Jadi kau sedang sakit dan sendirian," Jongin menekankan fakta itu seolah-olah ia tidak nyaman mengetahuinya.
"Hei, aku bukan anak kecil yang harus dijaga dua puluh empat jam," Seulgi membalasnya dengan senyuman kecil. "Sudah mendingan, kok. Mereka sudah memberiku obat." Namun suara sengau Seulgi tidak bisa membohongi Jongin, tetapi lelaki itu diam saja. "Sebentar ya," tambah Seulgi lagi, mengambil makanan itu dari tangan Jongin, lalu menuju dapur.
Jongin mengekorinya. Seulgi membuka kotak makanan itu, kemudian mencari mangkuk untuk memindahkan isinya. Kotak makanannya dia taruh di bak pencucian begitu saja, lalu dia menarik kursi, mengisyaratkan pada Jongin agar duduk pula.
"Sudah makan?" tanya Seulgi.
"Sudah. Makanlah, silakan."
Seulgi melemparkan tatapan tak percaya, tapi Jongin mengangguk. Akhirnya Seulgi mencicipi supnya, lantas, langsung memakannya dengan lahap.
"Terima kasih sudah repot-repot datang." Seulgi menggeser mangkuknya yang telah kosong. "Malam-malam begini, pula."
Jongin bersandar santai pada kursinya. "Saat kaubilang kau belum makan, aku hampir saja marah."
Seulgi tertawa. "Mereka memasak, tapi aku benar-benar tidak berselera. Juhyun-unnie memaksaku makan sepotong kue supaya aku bisa minum obat dan tidur. Sepertinya aku cuma kurang tidur."
"Kalau begitu," tukas Jongin sambil memundurkan kursinya, "kau masih harus tidur lagi. Aku pulang, ya."
"Tunggu," tahan Seulgi, refleks menahan tangan Jongin. Untuk sesaat, mereka bertatapan dengan pose yang tak berubah. Seulgi lekas-lekas menarik tangannya dan Jongin mendeham. "Temani aku sebentar saja. Aku ... ah, tapi kalau kau ingin pulang ...," tambahnya, menunduk sedikit.
Jongin kembali duduk sambil tersenyum. "Ya sudah. Mau sampai pagi pun boleh."
Seulgi menahan senyumannya, tetapi saat imdia mendongak dan menemukan senyuman Jongin yang sampai ke matanya, dia juga turut tersenyum.
__ADS_1