
Seulgi sedang iseng merekam pekerjaan teman-temannya (dan beberapa senior) yang sedang berkumpul di lobi hotel setelah latihan bersama untuk konser luar negeri ini, ketika Jongin tiba-tiba mengejutkannya dan berbisik,
“Aku tahu tempat menarik di sekitar sini.”
Seulgi menekan tombol jeda pada rekamannya. menoleh pada Jongin yang bertumpu pada punggung sofa tepat di belakangnya. “Seberapa menarik?”
Jongin nyengir. “Kapan terakhir kali kau bersenang-senang keluar, berjalan-jalan seperti anak muda biasanya, membeli barang-barang menarik dan berkesan tetapi murah?”
Seulgi duduk berpaling setelah menghentikan rekamannya. “Seorang Kim Jongin, bintang merk terkenal dunia, mengusulkan belanja murah meriah padaku?”
Lelaki itu memutar bola matanya, “Bersenang-senang itu ada banyak caranya, tahu. Ayo, ikut atau tidak? Kau bisa menyelinap dengan mudah sekarang,” tawar Jongin sekali lagi sambil mengedikkan dagu pada kelompok di hadapan mereka, sebagian bermain monopoli, sebagian bermain kartu, lalu ada yang bernyanyi dengan gitar.
Seulgi tak lagi menjawab. Ia melompat dari sofa, mengejar Jongin yang menganggap ini adalah sebuah permainan kucing-dan-tikus. Beruntung ia masih sempat mengambil topinya yang terselip di balik bantal sofa.
__ADS_1
Jalan menuju tempat yang dimaksud Jongin cukup rumit, tetapi Jongin bisa memandunya dengan mudah. Di belakang hotel, ada banyak belokan dan jalan yang menurun atau menaik. Berkali-kali berbelok, mereka tiba di sebuah pasar rakyat. Hal itu menarik hati Seulgi—lampu-lampu yang digantung rendah, berbagai jajanan pasar dan mainan anak-anak, orang-orang menjual ikan dalam wadah-wadah lucu, pakaian dan aksesoris yang dihamparkan atau digantung.
“Whoa!” Seulgi mendekati seorang penjual harum manis. “Beli satu, ya!” Dan ia mendengar tawa kecil Jongin dari balik bahunya yang tak ia pedulikan sama sekali.
Setelahnya, Jongin yang berhenti di depan penjual aksesoris dan membeli sebuah cincin dengan bentuk anak panah. Seulgi membeli sebuah hoodie merah jambu di penjual sampingnya. Anak-anak berlalu-lalang dan berlarian di antara mereka, tetapi ia lihat Jongin hanya tertawa melihatnya. Hal itu menggelitiknya untuk berhenti sebentar dan mengapresiasinya, walau hanya dalam pikirannya sendiri saja.
Tak lama kemudian, Jongin yang berhenti di depan sebuah booth yang bertema gelap.
“Serius, Jongin, ramalan kartu?”
“Masih percaya ramalan, zaman sekarang?” Seulgi menggeleng-geleng sambil menjilat bibir bawahnya yang kotor karena harum manis yang belepotan. “Katakan alasannya.”
Jongin terdiam sebentar, berusaha mempertemukan tatapannya dan tatapan Seulgi, tetapi Seulgi sibuk dengan harum manisnya. Tak lama kemudian, perempuan itu berkata sambil membalikkan badan, “Terserah kau saja kalau kau ingin mencobanya, tapi masuk sendiri, ya. Aku ingin melihat-lihat.”
__ADS_1
Pemuda itu membuat pertimbangan sebentar, tetapi alih-alih berbalik, dia berlari kecil dan meraih bahu Seulgi.
“Lho, tidak jadi?”
“Tidak perlu, sepertinya,” katanya, sengaja tak menarik tangannya dari bahu Seulgi. Seulgi juga tak protes, sehingga dia pun membiarkannya lebih lama lagi.
(Untuk apa melihat ramalan tentang sesuatu jika ia bisa membuat kenyataannya sendiri?)
Wrong will be right, when Aslan comes in sight,
At the sound of his roar, sorrows will be no more,
When he bares his teeth, winter meets its death,
__ADS_1
And when he shakes his mane, we shall have spring again.
For even the very wise cannot see all ends.