
Jongin kira Seulgi sedang mengambil swafoto di depan dinding cermin itu. Ia menghampiri, duduk bersila di belakangnya, tahu-tahu Seulgi hanya sedang menghapus beberapa obrolan di sebuah aplikasi. Dengan tidak protesnya perempuan itu, Jongin anggap hal itu adalah izin bahwa ia boleh duduk dekat sekali dengan punggung Seulgi.
Sudah hampir tengah malam, tetapi latihan untuk joint stage itu belum berakhir. Sebagian dari mereka menyudut di bagian lain ruangan, ke toilet, atau pergi keluar untuk membeli makanan. Jongin sedang tidak berselera untuk makanan apapun, begitu pula Seulgi.
Seulgi menyelesaikan hal pertama, dan melakukan hal lain lagi: menonton video-video random. Jongin melihat video kucing, anjing, kemudian rekaman timelapse alam pegunungan. Kemudian, langit dengan aurora.
Lantas, video bintang-bintang. Rasi-rasi, bulan yang diperbesar, gambar-gambar zodiak.
Jongin memperhatikan semuanya dengan jelas dari balik pundak Seulgi. Di layarnya, sedang ditampilkan sebuah animasi tujuh bintang cerah yang berubah menjadi sosok seperti dewi-dewi.
Telunjuk Jongin membuat pola di punggung Seulgi, setengah sadar ia mengikuti pola konstelasi tersebut. Seulgi menanggapinya dengan “Hmmm,” padahal Jongin mengira perempuan itu tak peduli padanya sama sekali.
“Kukira kau ikut bersama yang lain,” komentar Seulgi kemudian.
“Tidak. Lebih senang di sini.”
__ADS_1
Jari Jongin kembali mengulangi pola itu. Lagi dan lagi.
(Seolah sedang melukis di langitnya sendiri.)
Junmyeon membiarkan Juhyun mencicipi kopinya. Perempuan itu mengangguk-angguk. “Enak juga. Aku akan mencobanya lain kali.”
“Lain kali kapan?” Junmyeon mengulum senyumnya. “Ini malam terakhir kita di sini.”
Junmyeon sebenarnya ingin sekali menambah malam-malamnya di sini. Perusahaan selalu mampu mendapatkan hotel yang pas dengan seleranya setiap kali mereka manggung di luar negeri. Sayang sekali, tiket pulang sudah dipesan, dan ia tidak sedang dalam mood untuk mengganti uang yang telah dikeluarkan untuk itu dan mendapatkan rasa kesal dari manajer.
Satu lembar kertas disodorkan ke meja. “Kita coba lain kali di tempat yang berbeda.”
Tiket pesawat. Junmyeon tercengang sesaat. Bibirnya membentuk kata kenapa, tetapi tanpa suara.
“Hadiah untukmu..”
__ADS_1
Junmyeon mengamati waktu keberangkatan di atas kertas itu. Hanya berselang beberapa jam dari waktu perkiraan mereka tiba di Seoul esok hari.
“Kau mencoba menu favoritku, aku mencoba kopi favoritmu.” Juhyun berdiri, mencangklong tasnya di pundak. “Sampai jumpa, Junmyeon-ah.”
Junmyeon tersenyum semringah sampai Juhyun pergi dari restoran hotel tersebut. Junmyeon menoleh pada jendela untuk menyembunyikan ekspresinya dari orang-orang yang masih tersisa di ruangan yang telah sepi dan dibereskan itu, mendapati bulan purnama yang sedang cerah-cerahnya di langit.
(Ia tidak sabar melihat purnama di bagian lain dunia yang dihadiahkan Juhyun untuknya.)
water, taking him back to the mortal world, he understood a line from the Prophecy better-an oath to keep with a final breath.
He understood how dangerous oaths could be. But Leo didn't care.
"I'm coming back for you, Calypso," he said to the night wind. "I swear it on the River Styx.
In every crowd are certain persons who seem just like the rest, yet they bear amazing messages.
__ADS_1