EXO X RV

EXO X RV
+7+


__ADS_3

Di belakang Junmyeon, cahaya New York berkelip-kelip.


“Apakah itu wajahmu?” tunjuk Juhyun.


Junmyeon menoleh, mengarahkan ponselnya lebih jauh agar Juhyun bisa melihat pada jangkauan yang lebih besar. “Yeah … iklan digital. Aku kurang suka tatanan rambutku yang itu, uh ….”


Juhyun nyaris tertawa. “Warna itu bagus juga. Sesekali aku juga harus mencoba yang seperti itu.”


“Kau harus melihat yang seperti kota ini,” Junmyeon mengalihkan topik pembicaraan, memutar ponselnya, kemudian mengganti mode kamera menjadi kamera belakang, membiarkan Juhyun melihat ke area yang lebih luas dan dengan kualitas yang lebih jernih.


“Sekarang aku melihatnya.”


“Bukan ....” Junmyeon mengganti dengan mode kamera depan lagi. “Bersama-sama, maksudku ....”


Juhyun tersenyum lembut. Junmyeon tidak berkedip. Di belakang Juhyun, dedaunan pohon taman berguguran karena angin musim semi yang tampaknya cukup kencang. Matahari terlihat cerah di sana. Ada juga bebungaan taman, yang sebenarnya bisa menarik perhatian Junmyeon, tetapi pemuda itu tak mengindahkannya. Hanya Juhyun saja.


“Nanti, akan ada waktunya, Junmyeon-ah, Lagipula, sekarang, aku masih bisa melihatnya dengan cara seperti ini, hm?”

__ADS_1


“Tetap berbeda.”


“Yeah, kualitas kamera memang berbeda dengan melihat langsung,” Juhyun menahan tawanya lagi.


Namun di seberang sana, Junmyeon cuma tersenyum masam. Bukan itu, pikirnya, masih belum berani mengatakannya terang-terangan pada Juhyun. Tapi kebersamaannya.


Suho maju mendekati sopir di hadapannya, berbisik, “Bisa tolong pelankan suara musiknya?”


“Oh, maaf. Baik ….”


“Ah, terima kasih,” ucapnya, mundur kembali. Ia melirik Irene, yang—ia bersyukur—masih tertidur lelap. Suho bersandar lega di kursinya. Ia rasa dirinya tak perlu tidur. Kegiatannya belakangan ini tak sebanyak Irene, jadi tak mengapalah ia ‘menjaga’ perempuan ini sementara dia tidur. Perempuan ini bahkan terkantuk-kantuk di studio saat mereka rekaman tadi.


“Ya?” Suho menyahut.


Namun mata Irene masih tertutup. Bibirnya bergumam. “Ya, benar. Di situ saja. Terima kasih.”


Suho membetulkan posisi duduknya sedemikian rupa sehingga ia separuh bersandar pada pintu mobil, separuh pada kursi. Mengamati Irene baik-baik.

__ADS_1


“Junmyeon yang memilihnya ... ya, dia suka warna itu ... cocok dengan warna dindingnya, ’kan ....”


Suho masih belum bisa menebak apa yang dimimpikan Irene. Mendengar namanya disebut dengan cara yang berbeda saja sudah membuatnya hampir tidak berkedip. Lelaki itu tidak sabar menunggu saat Irene diam terlalu lama. Namun, alih-alih melanjutkan apa yang Suho tunggu-tunggu, Irene malah membuka matanya. Suho buru-buru duduk seperti awalnya, bernyanyi pelan-pelan untuk menutup-nutupi.


Irene duduk tegak pada kursi sembari menyingkirkan rambut yang menutupi matanya. Dia tak bicara apa-apa, hanya menikmati perjalanan sambil memandangi kota saat tengah malam di luar sana.


Rasa penasaran Suho tak mudah menguap begitu saja. Ia mengamati Irene untuk mencari-cari alasan untuk bertanya—dan ia menemukannya.


“Kau tersenyum terus. Mimpi indah, ya, sampai lelahnya hilang?”


Irene tampak ingin menutup-nutupi senyumannya dengan menunduk, tetapi kemudian dia membuang muka saja ke arah jendela. Suho sendiri mengulum senyum.


“Ya. Indah sekali.”


“Boleh aku tahu tentang apa?” Suho masih berasumsi Irene tidak tahu bahwa dia mengigau. Semoga saja memang tidak, harapnya.


“Hmmm, pindah ke rumah baru bersama dengan seseorang. Rumahnya bagus sekali. Sesuai dengan harapanku. Kurasa sekarang aku tahu rumah masa depan yang ideal untukku nanti.”

__ADS_1


(Di sepanjang sisa perjalanan, mereka berdua sama-sama tersenyum tetapi hanya mau menampakkannya pada jendela.)


__ADS_2