
“Buntu,” begitu bisik Junmyeon tepat ketika Juhyun kembali dengan dua gelas kopi. Kilat-kilat cahaya kota dan purnama di permukaan air tidak cukup mendistraksinya. Ia menyesap kopi itu sedikit sambil memikirkan kata-kata berikutnya, tetapi Juhyun sudah punya cara untuk menenangkannya,
“Kau tidak perlu memaksakan diri.”
“Tapi aku sudah janji pada Chanyeol untuk membuat lirik untuk lagu yang diaransemennya itu!”
“Dia akan mengerti jika kau mengulurnya dua-tiga hari lagi. Tidak harus selesai hari ini, ‘kan?”
“Tapi ....”
Juhyun meletakkan telunjuknya di depan bibir Junmyeon. “Hal itu yang membuatmu buntu. Berhentilah membuat asumsi-asumsi untuk dirimu sendiri.”
Junmyeon menekan topinya, kembali menghadap sungai dan menghela napas. Lengannya dan lengan Juhyun bersentuhan. Tak lama kemudian, Juhyun menoleh ke arah wajahnya. “Apa kau membawa potongan yang masih buntu itu?”
Junmyeon menyerahkan ponselnya setelah membuka kuncinya dengan satu kali sapuan, hampir-hampir tak perlu melihat ke arah layar. “Temukan di bagian Catatan.” Ia biarkan Juhyun membacanya, ia sendiri menenangkan dirinya dengan aroma parfum Juhyun yang masih asing baginya, tetapi sangat manis.
Tak lama kemudian, Juhyun mengembalikan ponsel itu padanya. “Yang bertanda kurung itu bantuanku. Kau boleh menghapusnya jika kau mau, atau mengubahnya sesuai kemauanmu. Itu hanya usulan untuk menyegarkan pikiranmu.”
Juhyun menambahkan tiga bait baru di bawah lirik buatannya, kemudian beberapa baris yang diselipkan di antara baris-baris buatannya. Berulang kali ia membaca bagian-bagian tersebut, semakin ia merasa cocok dengan apa yang ia tulis. Ia menatap tak percaya ke arah Juhyun, yang tampaknya santai-santai saja sambil menikmati purnama.
“Akan kutulis namamu di daftar penulis lirik, Juhyun-ah ... ini pas sekali ....”
“Jangan,” cegah Juhyun, sambil mengibaskan tangan di udara dengan cepat dan menurunkan gelas kopi dari depan wajahnya. “Jangan sampai orang lain tahu.”
“Tapi kau harus dapat pengakuan. Ini milikmu, bukan milikku saja. Kita membuatnya berdua.”
__ADS_1
“Kalau begitu, tulis saja J.”
Junmyeon lantas berbisik, “J&J.” Ia mengangguk-angguk pada dirinya sendiri ke arah layar ponselnya. “Tepat sekali, J&J.”
Irene kira ia bisa menghindar dari perhatian, dari orang-orang di luar lingkup pribadinya, dan menikmati waktunya sesuai kemauannya sendiri—
—sampai akhirnya seorang anak laki-laki menangis setelah dia menabrak kaki Suho secara tak sengaja.
Irene pikir, berakhirlah sudah waktu-waktu langka yang ia harapkan untuk bisa dinikmati di sini, Disneyland Paris, tempat di mana ia kira ia dan Suho tak akan menarik perhatian.
Anak itu menangis. Irene melongo.
Namun tidak dengan Suho. Dia segera berjongkok, memegangi anak itu dan membujuknya untuk diam sebentar.
"Mama, Mama!" anak itu masih menangis.
Suho menepuk-nepuk bahunya pelan, kemudian menoleh lagi, "Pasti tersesat, nih."
Irene memandang sekeliling. Tempat ini masih begitu padat, padahal jam tutup sebentar lagi. Seakan-akan malam tidak bisa menelan keramaian dan antusiasme.
Tidak ada tanda-tanda seseorang yang tengah panik mencari seorang anak. Ia ingat ia barusan melihat seorang petugas keamanan, tetapi ia dan Suho sudah jauh sekali dari titik itu.
Tahu-tahu, di sisinya Suho sudah menggendong anak itu, mencoba meredakan tangisnya dengan menimang-nimangnya. Anak itu masih terlalu kecil untuk memahami keadaan. Irene menaksir usianya, barangkali masih sekitar tiga tahunan.
Irene menghela napas. "Ikut aku ... kurasa aku bisa mengingat di mana pos keamanan."
__ADS_1
Perempuan itu mengikuti nalurinya, dengan berpatokan pada letak wahana-wahana yang sudah dinaikinya bersama Suho sebelumnya.
Pos keamanan berada di ujung pandangannya, pada akhirnya, setelah ia harus berhenti berkali-kali untuk mengingat dan memastikan ia tak salah berbelok.
Tempat itu juga cukup ramai. Ada seorang ibu yang bercerita dengan tergesa-gesa, matanya sembari memperhatikan sekitar—dan kebetulan sekali, dia melihat ke arah Irene. Dia menunjuk-nunjuk.
Irene berpandangan dengan Suho, Suho mengangguk. Mereka berlari kecil ke arah pos, dan tanpa tedeng aling-aling si ibu tadi langsung mengambil anak itu dari gendongan Suho.
"Ya ... kami menemukannya ... sendirian. Di sana," terang Suho dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, Irene agak pesimis si ibu bisa memahaminya. Namun petugas keamanan itu pasti, dan kasus pun selesai dengan segera.
Si ibu berterima kasih berulang kali sebelum pergi. Irene merasa lega, karena pada akhirnya ia tak terlalu perlu mengkhawatirkan banyak hal—
—tetapi ia salah.
"Suho-oppa!"
"Irene-unnie!"
Ia dan Suho saling lirik, kemudian tanpa komando mereka segera berbalik dan meleburkan diri ke dalam keramaian. Irene menekan topinya dan Suho menaikkan maskernya.
Setelah merasa cukup aman, akhirnya mereka berhenti di tengah-tengah keramaian antrean, hanya untuk menyamarkan diri, mereka sudah puas berkeliling dan mencoba. Suho melihat ke arahnya—dan Irene tahu dia sedang tersenyum.
Untuk sesaat, keramaian, cahaya yang berkelap-kelip, semuanya memudar dan hanya tertinggal Suho berlatar langit gelap yang sunyi.
Irene turut tersenyum; terlebih ketika bayangan Suho yang menggendong anak kecil barusan berkelebat lagi di depan matanya.
__ADS_1