
Seulgi sudah mengira Jongin akan datang dengan mobil hitam serba tertutup dan dirinya akan aman hanya dengan topi seperti ini, tetapi ternyata, Jongin datang dengan sebuah sepdea motor sport. Seulgi hampir melonjak kaget.
“Oh, Jongin-ah, kita bisa mengacaukan sesuatu!”
Jongin hanya tertawa saat memberikan helm untuk Seulgi. “Sekali-kali. Tenanglah,” dia menjeda sebentar untuk menoleh ke kiri dan kanan, menyipitkan mata untuk memastikan bahwa tidak ada mata atau kamera yang mengintai, “aku sudah berpengalaman soal ini. Lagipula, helm ini pasti menyembunyikan kita.”
Seulgi berpikir sebentar, kemudian langsung memakai helm itu dengan cepat dan naik ke kendaraan. Jongin segera meninggalkan komplek apartemen itu dengan kecepatan yang cukup tinggi. Seulgi secara refleks memegang pinggangnya karena terkejut.
“Pelan-pelan!”
Jongin tertawa lagi, tetapi Seulgi tak mengetahuinya. Setelahnya lelaki itu menurunkan kecepatannya sedikit, tetapi masih cukup cepat untuk menghindari mata-mata yang mungkin bisa menangkap mereka. Tiba di jalan yang sudah sedikit sepi dari mobil-mobil yang berlalu-lalang, jalan besar sudah menyempit, Jongin mulai lebih santai. Seulgi bisa menikmati pemandangan dengan lebih tenang.
Bulan hampir purnama. Sendirian di langit. Seulgi sudah hampir lupa bagaimana rasanya memandangi langit yang penuh bintang—sehingga kadang memandangi bulan pun sudah cukup.
Ia menunduk sedikit. “Masih jauh?”
“Sedikit lagi.”
Jongin mungkin sudah menghafal jalan lebih dari yang Seulgi tahu. Tak sampai lima menit, mereka tiba di sebuah taman kecil, dengan Sungai Han pada sisi yang berbeda, yang lebih sepi. Seulgi menyerahkan kopinya yang sudah mendingin pada Jongin, dan Seulgi pun duduk di sebuah balok kecil tepat di samping Jongin memarkirkan kendaraannya.
__ADS_1
“Ini enak. Rasa apa?”
“Doppio latte.” Seulgi melirik, kemudian mengulurkan tangannya meminta kembali kopi itu. Jongin mengernyit, tersenyum kecut saat menyerahkannya kembali.
Jongin memandang sisi langit yang sama dengan Seulgi, mengembuskan napas dengan tenang, senyuman tipisnya terbentuk saat memandangi bulan, lalu pada Seulgi yang mengangkat kameranya ke arah depan.
“Jadi, Seulgi-ah, dari mana sebaiknya kita mulai ceritanya?”
Ada banyak senior dan teman sebaya yang bermain-main di sekitar pesisir itu—liburan sekaligus pemotretan untuk beberapa grup, kesempatan emas, tentu saja!—tetapi Jongin tetap memilihnya.
Seulgi mengunyah sisa terakhir shawarma yang ia pesan pada koki hotel, duduk pada sebuah batu yang menghadap laut, kakinya dijilat ombak berkali-kali. Jongin datang, duduk pada batu yang lebih rendah di samping Seulgi. Musik terdengar sayup-sayup, di sisi lain lagu dance elektronik, sisi lainnya ada senior-senior yang bermain gitar bersama. Seulgi bisa saja tidak mengenali Jongin karena lampu diletakkan agak jauh dari mereka, tetapi Seulgi hafal parfum yang dipakai oleh Jongin di setiap kesempatan saat dia tidak di panggung. Tak berubah sejak masa trainee.
Seulgi tertawa jahil lalu menjulurkan lidahnya mengejek. Jongin melemparkan remah-remah keripik kentang pada Seulgi.
Sesaat kemudian, mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Jongin sesekali melemparkan keripiknya ke lautan.
“Berhenti, Jongin-ah, kau mengotori laut.”
“Aku memberi makan ikan.”
__ADS_1
“… Kau bukan ibu mereka. Mereka bisa mencari makan sendiri.”
Jongin tertawa, kemudian melipat-lipat bungkus keripiknya, dia simpan di saku. Seulgi ingin mengomentarinya, tetapi ia tidak punya hasrat lebih.
“Ah, kaulihat itu?” Jongin mengedikkan dagu. “Bulannya tipis sekali.”
“Pantai memang tempat terbaik untuk mengamati bulan.”
Jongin menoleh padanya. “Apa kaurasa momentum ini agak kurang tepat? Coba liburannya saat bulan purnama.”
“Oh ayolah, liburan gratis, apa saja boleh bagiku, Jongin-ah.” Ia menelengkan kepala. “Atau kau takut pada bulan sabit?”
“Enak saja.” Jongin meninju pelan lengannya. Seulgi pura-pura kesakitan dan mengaduh, tetapi Jongin menanggapinya dengan gelak renyah. “Tapi … yah, tempat ini tetap bagus. Menyenangkan berada di sini.”
“Iya. Pencahayaannya menarik. Mereka cerdas sekali mengatur letak lampunya.” Seulgi menoleh ke belakang sesaat, memandangi lampion-lampion dan lampu meja yang diletakkan sedemikian rupa dengan tali dan pada meja-meja serta pondok-pondok kecil yang menghiasi pesisir.
Jongin memandang mata Seulgi lama-lama saat Seulgi menunggu tanggapan Jongin. “Bukan itu maksudku ….”
“Lalu, apa?” Seulgi mengangkat alisnya.
__ADS_1
Jongin tersenyum simpul, kembali menatap laut. “Ya … pokoknya bagus. Menyenangkan. Menarik. Dari posisi ini, khususnya.”