EXO X RV

EXO X RV
+16+


__ADS_3

Di pesta untuk tahun baru itu, beberapa hari setelah Januari dimulai, Junmyeon begitu lega melihat Juhyun turut hadir. Perempuan itu begitu elegan, gaun hitam polos saja sudah bisa membuat Junmyeon tidak bisa sering-sering melihat ke arah lain.


Beberapa kali mereka berpapasan di dalam ruang pesta, sesekali Juhyun tersenyum padanya. Junmyeon akan balas tersenyum meski ketika perempuan itu tak lagi melihat ke arahnya.


Satu hal lain lagi yang Junmyeon perhatikan dari Juhyun: kalungnya. Berwarna keperakan, dengan liontin yang tidak biasa. Berbentuk seperti deretan titik yang saling tersambung satu sama lain, masing-masing titik adalah permata yang berkilauan. Agak lama Junmyeon berusaha memutar otaknya untuk mengenali pola macam apa itu.


Bahkan setelah ia jauh dari Juhyun, mengambil koktail dari meja panjang di sisi lain ruangan, lama setelah itu, ia masih memikirkannya. Minuman hanya secara formalitas berada di tangannya, ia tercenung begitu lama di samping meja.


Matanya memandang sekeliling, berpikir lagi dan lagi. Sampai ia menunduk dan—


—apa itu benda berkilauan di dekat kakinya?


Junmyeon memungutnya, dan ia benar-benar tercengang. Ini kalung yang sejak tadi ia pikirkan! Hampir-hampir ia tak percaya, ia amati sekali lagi ke detilnya—memang tidak lain lagi. Di detik itulah ia menyadari bentuk apa ini.


Rasi bintang. Berbentuk seperti tanduk, Junmyeon menduga mungkin ini adalah bentuk zodiak Juhyun. Tanggal lahir perempuan itu adalah di bulan Maret, dan Junmyeon pun memahaminya: Aries.


Cepat-cepat ia beranjak dari meja itu, meninggalkan gelasnya begitu saja di atas meja. Berjalan cepat di antara orang-orang yang asyik berkumpul dan berbicara, lalu akhirnya menemukan Juhyun di sisi yang berseberangan dengan keberadaannya sekarang; sedang mengobrol bersama senior.


“Juhyun-ah,” panggilnya pelan sambil menyentuh bahu Juhyun.


“Ada apa?”


Junmyeon mengangkat kalung itu. Juhyun terkejut dan refleks menyentuh lehernya. “Oh ... benar, itu punyaku.”

__ADS_1


Dengan sedikit malu-malu Junmyeon menawarkan, suaranya agak pelan, masih mengangkat kalung itu ke arah Juhyun. “Bolehkah?”


Juhyun mengangguk tanpa berpikir panjang. Dia berbalik, membiarkan Junmyeon memasangkannya dengan hati-hati. Junmyeon sengaja melakukannya pelan-pelan.


Setelah selesai, Juhyun berbalik lagi. “Terima kasih.”


“Cantik sekali.”


“Ah, terima kasih—lagi. Ini pemberian Wendy.”


Junmyeon menggaruk alisnya, kepalanya sedikit tertunduk tetapi ia tertawa canggung. “Bukan itu, maksudku.”


Butuh beberapa detik bagi Juhyun untuk mengerti maksudnya—lantas, setelahnya, dia tersenyum.


Perempuan itu menoleh ke belakang sesekali, mengamati matahari yang semakin merendah di horizon. Sekarang bagian depan sana, arah mereka melaju, sudah gelap, awan-awan ungu mulai menutupi langit.


Tak seberapa jauh, komplek pemukiman lagi, dengan rumah-rumah yang sederhana. Lagu di mobil berganti, jazz mengalun. Kontribusi Seulgi pada daftar putar di ponsel Jongin, belakangan ia menggandrungi genre itu dan Jongin tak keberatan Seulgi mengutak-atik koleksi daftar putarnya.


Di antara perumahan itu, Seulgi melihat komplek pemakaman. Tidak seberapa luas, dan mereka melaluinya begitu saja. Seulgi sampai menoleh untuk melihat bagian itu sebisa mungkin hingga hilang dari pandangannya. Sekarang, tertinggal rumah-rumah lagi, dengan jarak yang agak jarang satu sama lain.


Seulgi tak bisa mengenyahkan sentilan pada pikirannya: tentang kematian yang bersanding dengan kehidupan di sisi sana. Begitu dekat, berada pada ruang yang sama. Beraroma tanah dan rumput segar yang sama. Mengalami senja bersama. Padahal, keduanya jauh berbeda. Tentang dua dunia yang sudah terpisah begitu jauh.


Ia mengubah posisi kepalanya menjadi mengamati Jongin yang sedang menyetir sambil mengikuti lagu, tetapi tanpa suara.

__ADS_1


Seulgi merefleksi hidupnya, tentang dunia yang dibagi bersama, tentang senja yang dialami bersama. Tentang kehidupannya, aroma bunga-bunga segar yang begitu cepat menghilang—tentang aroma Jongin yang bertahan begitu lama, terkadang terbawa hingga tidurnya.


Jongin mengernyit, menyadari tatapan Seulgi yang begitu lama pada dirinya. “Ada apa?”


“Bukan apa-apa.” Seulgi menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya.


“Kau mengantuk? Tidur saja. Nanti kubangunkan kalau tujuannya sudah dekat.”


“Kurasa aku belum perlu tidur.” Seulgi menoleh lagi pada matahari, yang sekarang hampir tidak kelihatan lagi, tertutupi lembayung dan hanya menyisakan sapuan-sapuan oranye yang tipis di langit. “Hanya terpikir sesuatu saja.”


Jongin menurunkan volume lagu. “Apa itu?”


“Bukan apa-apa.” Seulgi menikmati terpaan angin pada wajahnya. “Lupakan saja.”


Jongin menurutinya. Membiarkan suasana menjadi hening sesaat, kecuali lagu yang terus mengalun di latar belakang.


“Hei,” sapa Seulgi setelah beberapa saat, menoleh untuk mengamati Jongin sambil merebahkan kepalanya di atas tangan. “Terima kasih, ya.”


“Kita belum sampai,” jawab Jongin sambil tertawa, “jangan berterima kasih dulu.”


“Bukan cuma soal perjalanan ini, tahu.” Seulgi menahan diri untuk tidak tersenyum. “Sedang ingin bilang terima kasih saja.”


“Aku harus tahu tentang apa itu.”

__ADS_1


Seulgi membuang muka, menghadap jendela lagi. “Tebak saja.” Seulgi kemudian mengucapkannya dalam satu tarikan napas, tanpa suara, terima kasih sudah menjadi orang terbaik untukku.


__ADS_2