EXO X RV

EXO X RV
+6+


__ADS_3

Sehun pikir, mungkin Yeri bukanlah orang yang mudah bosan. Dirinya sendiri, selama menunggu setengah jam ini, telah berpindah posisi mungkin sepuluh kali. Yeri masih duduk tenang di sofa.


Mengapa mereka tidak dijemput saja di dorm masing-masing untuk pemotretan ini? Disuruh menunggu di lobi gedung, dengan jam yang tidak pasti. Mungkin tim di sana sedang kerepotan akan sesuatu—Sehun berusaha berpikir positif—tetapi bagaimanapun juga menunggu tetaplah membosankan.


Kaca besar di lobi itu setidaknya membantu. Kota yang berkelap-kelip di luar sana sedikit mendistraksinya.


Tiba-tiba saja terdengar suara dari tempat duduk Yeri. Suara itu terdengar seperti suara kecerdasan buatan pada ponsel seperti biasanya.


“Zodiak Anda adalah Pisces. Ramalan peruntungan Pisces hari ini adalah berkaitan dengan kebaikan dan senyumanmu. Seseorang akan menolongmu hari ini, dan dia akan menyadarkanmu bahwa senyuman adalah hal terbaik untuk memulai sesuatu. Cuaca hari ini juga akan membuatmu dekat dengan seseorang yang akan berperan besar dalam hari-hari berikutnya.


Sehun berjalan mendekat lagi ke sofa tersebut. Ia duduk pada lengan sofa, lantas bertanya, “Kau mempercayai hal seperti itu?”


Yeri terus membiarkan kecerdasan buatan itu berbicara, tetapi dia mengurangi volumenya. Perempuan itu tertawa kecil. “Tidak. Iseng saja.”


Sehun mengamatinya. Yeri malah tertawa geli mengamati aplikasi di ponselnya tersebut.


“Ada banyak jutaan kemungkinan di muka bumi. Ramalan tidak bisa mencakup semuanya. Kita juga membuat pilihan. Jutaan kemungkinan, pertimbangan, pilihan. Ramalan tidak bisa bekerja memperhitungkan hal serumit itu.”

__ADS_1


Sehun sudah cukup lama mengenal Yeri, tetapi kalimat itu adalah yang paling mengena, dalam dari Yeri selama ini. Sehun bahkan terdiam. Ia pun menoleh ke kaca besar di samping sana.


Mungkin, jika ia melewatkan lebih banyak malam bersama Yeri, ia akan mengenal perempuan itu lebih banyak. Dan kalimat-kalimat seperti barusan akan lebih sering didengarnya.


Juhyun tertawa karena candaan Junmyeon, hingga ia tertunduk-tunduk. Junmyeon, yang tidak mengerti bahwa ternyata anekdot yang dia ceritakan selucu itu, akhirnya ikut tertawa juga.


Perempuan itu menyeka sudut matanya, Junmyeon menggeleng-geleng. Lelaki itu lantas melepaskan topinya, memasangkannya pada Juhyun dengan pet menghadap ke belakang.


Tidak ada orang lain selain mereka di sana, di tepi jalan, di depan sebuah kafe yang telah tutup, bertopang di balik sebuah bangku panjang yang menghadap pada gedung-gedung sepi, tetapi masih berkilau-kilau karena lampu dan papan iklan digital yang tak mengenal waktu.


“Andainya lebih sering seperti ini,” Juhyun memulai kemudian. “Kita, seperti ini. Kita harus keluar di saat-saat yang sepi untuk menjadi diri kita yang seperti ini. Bukannya … aku tidak senang dengan kehidupan ini, tapi … ya, tentu saja akan ada hal-hal yang berbeda.”


“Malam malah terasa menyenangkan jika begini keadaannya,” Junmyeon menanggapi dengan optimis. “Rasanya dunia seperti punya kita.”


“Kalau begitu, mungkin kita harus mencoba melihat malam-malam di bagian dunia yang lain.”


Junmyeon mengangguk-angguk. “Yang dulu di Dubai, menyenangkan sekali. Bagus.”

__ADS_1


“Atau New York?”


“Kanada juga menarik.”


“Seungwan sering bercerita hal-hal menarik di sana. Kita harus mencobanya sesekali.”


Junmyeon menengok ke wajah Juhyun. “Bagaimana?”


Juhyun tersenyum simpul. “Kita harus mencobanya sesekali.”


“Seandainya kita bukan Suho … dan Irene yang seperti sekarang,” Junmyeon mencoba melihatnya dari sisi positif, “kita tidak akan tahu rasa senang yang seperti ini. Melihat malam yang hanya untuk kita sendiri.”


Juhyun menatap pada mata Junmyeon. “Untuk yang pertama … bagaimana jika kita coba New York?”


“Kota yang tak pernah mati.” Junmyeon mengangguk-angguk. “Malam yang hidup untuk kita. Kenapa tidak?”


Juhyun tersenyum optimis. “Secepatnya, ya, Junmyeon-ah. Semoga.”

__ADS_1


__ADS_2