EXO X RV

EXO X RV
+5+


__ADS_3

“Jadi, sekarang kita harus apa?” Wendy, yang duduk di anak tangga lobi tepat di bawah Chanyeol, menoleh dengan satu tangan memangku dagunya. “Sudah pukul dua belas ….”


“Tunggu saja,” Chanyeol menenangkan, walaupun dengan suara datarnya. “Mungkin sebentar lagi.”


Gara-gara latihan bersama sampai larut untuk sebuah kolaborasi, Wendy melupakan banyak hal; terlalu capek. Banyak barangnya tertinggal di ruang latihan, salah satunya adalah kunci apartemennya sendiri. Teman satu grupnya tidak ada satu pun di kota, ada yang sedang berlibur, pulang ke rumah orangtua masing-masing, atau punya jadwal di luar kota. Manajernya menawarkan diri untuk mengambilkan barang di ruang latihan karena dia sedang ada perlu di luar, tetapi dia sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Ponselnya tak bisa dihubungi.


Chanyeol sendiri menolak untuk pulang sebelum Wendy masuk. Wendy mengatakan berkali-kali bahwa ia tidak takut, tetapi lelaki itu tetap menolak. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, katanya. Agak berbahaya.


Wendy berkali-kali tertunduk. Chanyeol merasa kasihan. Wendy adalah pekerja keras, dan ia maklum jika perempuan itu mencapai batasnya. Mereka sudah berlatih tiga hari dari pukul delapan pagi sampai dua belas malam.


Chanyeol juga capek menunggu, tetapi ide tentang membiarkan perempuan ini sendirian menunggu di tengah malam membuatnya ngeri. Bagaimana jika Wendy terlalu capek dan tidak bisa menjaga dirinya sendiri—lengah? Tidak akan dia biarkan. Lelaki itu memang bosan, tetapi setidaknya mungkin ia tidak terlalu mengantuk.


Dia sesekali memijat pundak Wendy. Perempuan itu diam saja, dia anggap sebagai tanda setuju. Sesekali pula jari Chanyeol menyusuri punggung Wendy dan membentuk pola-pola abstrak.

__ADS_1


Dia tiba-tiba mendapat ide saat membuat pola-pola itu, yang terkadang menjadi sebuah huruf atau kata-kata acak. Lagu tentang malam. Sunyi, tenang. Pemandangan yang bisa dilihat dari anak tangga yang sempit, deretan gedung yang mengapit gang-gang dengan lampu yang redup dan jalan yang menurun, yang terlihat dari balik kaca besar lobi apartemen yang agak berkabut. Berdua menanti, setelah seharian menjalani hari. Dunia terlihat sempit dan berputar cepat bagi mereka berdua saat ini, tetapi Chanyeol tahu masih banyak keindahan dalam kesunyian, dalam jeda-jeda langka seperti ini dalam kehidupan mereka yang sibuk.  


Ini akan jadi lagu, katanya dalam hati, sudah menemukan lirik pembuka dan refrainnya. Memandang dunia yang sunyi bersamamu, pikirnya lagi, membuatku mencintai kesunyian.


Wendy bersandar pada pegangan tangga. Chanyeol memijat pundaknya lagi, tersenyum dalam keremangan.


Seulgi menjauh dari teman-temannya yang berkumpul di tepian hutan. Fotografernya sudah memanggil. Tidak ia pikir ia akan dapat giliran lebih dahulu. Ada senior-senior lain, atau junior, yang kebagian jatah photoshoot khusus Halloween ini, malah dirinya yang pertama.


Seulgi memoles matte lipstick merah untuk touch up sebelum merapikan gaun hitam panjangnya. Fotografernya memilih tempat yang dekat dengan banyak pepohonan, memintanya duduk di atas batang kayu buatan yang sengaja disiapkan sebagai properti. Ada banyak ranting, lampu kecil berwarna merah, dan kendi-kendi. Dirinya mendapat jatah menjadi ‘penyihir’.


Saat ia sedang menyiapkan diri di tempat duduknya dan fotografernya sedang mengecek sisi yang paling tepat untuk mengambil foto, Jongin datang ke samping fotografer tersebut. Seulgi mengangkat alisnya, tetapi Jongin hanya nyengir dan melambaikan tangannya. Lelaki itu tidak ikut pemotretan, hanya datang dengan kemeja hitam dan jins, tetapi karena sebagian temannya diajak sebagai model, mungkin pikir Seulgi dia hanya ingin bersenang-senang di sini.


Seulgi berpose sesuai arahan beberapa kali. Ia pikir Jongin akan bosan, tahu-tahu pria itu bertahan di sana sampai fotografer minta break sebentar untuk mempertimbangkan hasilnya. Jongin menghampirinya.

__ADS_1


“Keren.”


“Yeah, sudah seharusnya seperti itu,” celetuk Seulgi. Mereka sama-sama tertawa.


“Foto, dong.” Jongin tiba-tiba mengeluarkan ponselnya. Seulgi pikir Jongin akan mundur lalu memotretnya, tahu-tahu lelaki itu memanggil seorang asisten fotografer dan menyerahkan ponselnya. “Mumpung bajuku hitam-hitam, cocok, sepertinya.”


“Hei, ini akan jadi seperti penyihir dan pangerannya.” Namun Seulgi menurut saja saat Jongin memintanya untuk memunggunginya, dan Jongin pun menempelkan punggungnya pada punggung Seulgi. Seulgi lalu berpose natural dengan mengangkat telunjuknya ke dagu, memajang ekspresi seperti seorang penyihir yang sedang mempertimbangkan apakah ia harus memantrai seseorang atau tidak.


Saat ia melihat hasilnya, Jongin benar-benar seperti sedang melakukan pemotretan resmi dengan majalah ternama. Seulgi selalu kenal ekspresi itu, ekspresi yang bisa membuat luluh perempuan di luar sana, tidak mengenal usia.


“Pangeran dan penyihir,” Jongin mengutipnya lagi. “Bagus, malah. Tidak selalu harus tentang tuan putri dan pangerannya, ‘kan?”


Seulgi ingin tahu maksud di balik kalimat itu sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2