
Pesta itu seharusnya sudah berakhir satu jam yang lalu, tetapi teman-temannya masih belum pulang. Juhyun juga masih mendapati teman-temannya betah berada di sini, maka ia pun tetap bertahan. Lagipula, venue pesta dihias dengan sangat ciamik. Banyak hal yang bisa dilihat-lihat.
Mempelai wanita, yang merupakan guru vokal mereka semasa trainee, pergi dari mejanya untuk berbicara dengan tamu lain yang tersisa. Teman-temannya sibuk sendiri berbicara dengan senior atau junior di sekitar, maka Juhyun pun beranjak dari bangkunya, hanya memberi kode pada Wendy dengan mengedikkan dagu ke kanan.
Juhyun berjalan-jalan ke sudut yang didekorasi sedemikian rupa seperti taman kecil, lengkap dengan sangkar burung besar berisi dua merpati.
Salah satu merpatinya jinak sekali. Dia mendekat pada Juhyun saat Juhyun mengulurkan tangannya ke jeruji, menelengkan kepalanya berkali-kali seolah-olah sedang penasaran.
“Kukira mereka tidur saat malam hari.”
Juhyun tersentak lalu menarik tangannya. Saat menyadari bahwa orang itu hanya Junmyeon, ia menertawakan kecanggungannya sendiri. “Mungkin karena terlalu ramai?”
“Kasihan sekali.” Junmyeon nampaknya menahan diri untuk tidak menyentuh burung itu, dia menyembunyikan tangannya di balik punggung. “Aku ingin keluar. Mau ikut?”
“Boleh.” Juhyun pun melangkah bersama Junmyeon. “Tidak bersama yang lain?”
“Sama seperti kasusmu.” Junmyeon tersenyum kecil. “Mereka sibuk sekali.” Dia menunjuk ke balik punggungnya dengan ibu jari. “Aku ingin pulang, tapi tidak enak dengan mereka.
__ADS_1
Juhyun mengangguk-angguk, dan mereka pun tiba di teras samping. Di sana adalah taman, tempat prosesi pernikahan digelar tadi sore. Masih banyak bunga di mana-mana, serta kain-kain dekorasi yang belum dilepaskan. Juhyun tertarik pada semak-semak yang dihias dengan kain putih dan merah jambu, serta bebungaan kecil. Ia membungkuk mengeceknya, tetapi ia sedikit kecewa. Ia kira tanaman itu sendirilah yang berbunga, tetapi ternyata para pendekor yang memajangnya di sana.
“Hei.”
Juhyun berdiri, Junmyeon sedang menawarkan sebuah mawar putih untuknya. Juhyun secara naluriah menunjuk ke dirinya sendiri.
“Tentu saja. Memangnya ada siapa lagi di sini?” Junmyeon hampir-hampir tertawa.
Juhyun menerimanya dengan sedikit malu-malu.
“Kau pantas menerimanya.”
Junmyeon jadi teringat malam-malam musim panas saat ia masih kecil. Bersenang-senang di luar, kadang jika ke tepian kota ia bisa melihat kunang-kunang di bawah bintang-bintang, atau jika hanya di sekitar rumah, bermain kembang api.
Sekarang, musim panas yang sama, juga ada kembang api—hanya saja skalanya jauh lebih besar. Warna meledak-ledak, letupan-letupan nyaring membuat beberapa orang menutup telinganya.
Termasuk Juhyun yang kebetulan sekali berada di depannya.
__ADS_1
(Junmyeon tidak tahu apakah teman-temannya sengaja mendorong mereka berdua atau tidak, karena seingatnya ia tidak berada di sisi sini beberapa menit yang lalu, tetapi karena banyaknya orang yang berada di panggung, ia jadi tergeser sedemikian rupa.)
Satu ledakan besar lagi penanda puncak acara ini di langit sana, disusul oleh dua-tiga letupan lagi. Juhyun menoleh secara refleks untuk menjauh dari sumber suara dari depan sana, kedua tangannya di telinganya. Junmyeon pun mengambil inisiatif untuk lebih mendekat lagi.
“Takut, ya?” bisiknya pada Juhyun. Juhyun mendongak sedikit, mungkin sama terkejutnya karena tidak tahu Junmyeon ternyata berada dekat dengannya.
Juhyun mengangguk, kemudian mengerjap-ngerjap dan melepaskan tangan dari telinganya, Kemudian dia mengaduh, tetapi tak terdengar untuk Junmyeon, hanya terlihat dari gerakan bibirnya. Dia membersihkan ujung matanya, kemudian mengangkat pandangan lagi pada Junmyeon, meminta tolong.
“Sepertinya ada yang masuk ke mataku,” ucapnya susah payah, suaranya tenggelam karena keriuhan panggung, penonton, dan letupan kembang api, “glitter ini, mungkin.”
Junmyeon memberi isyarat pada Juhyun untuk mendekat, membiarkannya melihat matanya. Juhyun memakai riasan tambahan di sekitar matanya, berupa glitter berbentuk bintang emas dan bintik-bintik lain. Salah satunya mendekati sudut mata Juhyun, hampir masuk ke matanya. Junmyeon dengan pelan menjauhkannya, satu tangannya berada di sisi lain wajah Juhyun. Hampir-hampir ia bisa merasakan napas Juhyun pada wajahnya.
Satu kembang api yang besar meledak di udara, kali ini lebih mengejutkan daripada yang sebelumnya. Junmyeon dengan refleks menutupkan telinga Juhyun, dan perempuan itu mendongak kaget. Junmyeon mengangguk untuk menenangkan.
Satu glitter bintang di dekat mata Juhyun terlihat lebih bersinar daripada yang lain.
Namun, saat melihat mata Juhyun, bagi Junmyeon, mata itu lebih terang daripada apapun.
__ADS_1
Mereka sama-sama tersenyum, tidak mau tahu kamera berada di mana saja.