Gadis Manja Vs Ajudan Tampan

Gadis Manja Vs Ajudan Tampan
jatuh bangun


__ADS_3

#rumah Juna


sinar matahari sudah tidak malu malu lagi menyapa wajah cantik Kimy dari balik tirai.


Kimy pun terbangun dari alam bawah sadar nya.


'ya Tuhan, jam berapa ini?' batin Kimy.


Kimy mencari letak jam di kamar Dewi.


"hah?". Kimy tidak percaya jam suda menjukan pukul 7.30 pagi, dia melewatkan jam sarapan bersama keluarga Juna.


'gue nyenyak banget mungkin karena Juna ada disini kali ya.. semalaman jaga gue' batin Kimy. wajah nya merona saat membayangkan Juna semalam menjaga nya.


Kimy pun memutuskan mencuci wajah dan menggosok gigi kemudian menyapa keluarga Juna, beruntung toilet kosong jadi tidak ada adegan seperti semalam menabrak sang pujaan hati, bisa malu Kimy apabila Juna melihat wajah bangun tidurnya saat ini.


❤❤❤❤


"pagi bu, ibu maaf Kimy bangun kesiangan" ucap Kimy menyesal saat menghampiri Ibu Juna yang sedang duduk di teras sambil menyiangi sayuran.


"tidak apa apa non, non sarapan nya ada di meja makan atau mau ibu ambilkan saja makan disini?" tanya Ibu dengan senyum tulusnya.


"nanti saja bu, ibu apa ada yang bisa Kimy bantu?".


"tidak perlu non, ini sudah mau selesai untuk makan siang".


dari kejauhan terlihat Dewi berjalan ke arah teras.


"kamu dari mana Wi?". tanya Kimy penasaran melihat Dewi kembali dari luar.


"habis beli gemblong teh di depan, cobain ya teh". Dewi meyodorkan plastik berisi gemblong pada Kimy.


"ihhh si dewi... pakai piring atuh neng, si non mah teu resep kotor" ucap Ibu sambil menjauhkan plastik gemblong dari arah Kimy.


"gak apa apa ibu, lebih enak langsung makan disini lebih sedap". ucap Kimy sambil tertawa.


"ini teh..". Dewi menyodorkan plastik berisi gemblong pada Kimy.


Kimy dengan senang hati menerima dan mencicipinya namun arah pandang Kimy masih mengusik sekeliling sambil menikmati gemblong ditangan nya.


"teteh cari aa ya?". sejak tadi Dewi mempeehatikan arah mata Kimy seperti mencari sesuatu.


uhuk uhuk


Kimy sampai tersedak mendengar pertanyaan to the point Dewi.


"dewi...ihhh budak teh gelo" Ibu mencubit pinggang Dewi.


"auu...sakit atuh bu". jawab Dewi sambil meringis.


"maaf ya non, Dewi suka ceplas ceplos maklum anak kecil". Ibu terlihat khawatir melihat reaksi Kimy.


"tidak apa apa bu, Dewi mau anter aku keliling gak?, aku mau liat pemandangan sekitar sini mumpung belum terlalu siang". Kimy mengalihkan pembicaraan agar tidak canggung.


"mau teh, teteh pakai sendal jepit Dewi aja ya soalnya disini jalan nya gak rata tidak seperti di kota". Dewi menyodorkan sepasang sendal jepit pada Kimy.


Kimy pun menggunakan sendal pemberian Dewi dan berpamitan pada Ibu untuk berkeliling.

__ADS_1


sunggung pemandang di kampung Juna membuat Kimy takjub, sejak pak Angga bekerja pada keluarga nya Kimy tidak pernah tahu dari mana pak Angga berhasal, ia hanya tau almarhumah istri dan anak pak Angga yaitu Juna saat di undang daddy nya ketika ia masih seusia sekolah dasar.


selama menikmati pemandangan di kampung Juna, Kimy tidak lepas dari perhatian para penduduk kampung terutama kaum adam, ya.. bagaimana tidak menjadi sorotan ada seorang gadis cantik memasuki desa dan lebih heboh nya lagi hanya menggunakan pakaian serta sendal jepit biasa tetapi tidak sama sekali memudarkan kecantikannya.


Kimy tersenyum ramah pada beberapa penduduk yang menyapa Dewi.


mata Kimy tiba tiba melihat pemandangan yang menyayat hati, tidak jauh dari posisi nya saat ini, ia melihat Juna duduk dan tertawa hangat bersama seorang wanita, bahkan sang wanita tidak sungkan berkontak fisik dengan Juna sambil sesekali tertawa.


Dewi yang berada di samping Kimy sejak tadi tidak berhenti berceloteh menjelaskan tentang keindahan kampung nya tanpa ia sadari teteh cantik di samping nya sedang membendung air mata.


"teh, kapan kapan kalau teteh kesini lagi, Dewi akan ajak teteh ke curug, teteh suka gak sama air terjun?". Dewi menoleh menunggu jawaban Kimy namun Kimy hanya diam dan mata nya menerawang jauh ke arah pemandangan yang menyakitkan.


"teh..teh Kimy". Dewi melambai lambaikan tanganya di hadapan wajah Kimy namun Kimy masih tidak merespon.


"Dewi". teriakan suara dari lelaki yang sedang menjadi pusat perhatian Kimy saat ini.


Juna pun menghampiri Dewi dengan menggenggam pergelangan tangan wanita yang menjadi sumber sakit nya perasaan Kimy saat ini.


"Wi, kenapa kamu bawa nona Kimy sampai sini, ini jauh Wi dari rumah". Juna terlihat cemas, apalagi melihat kaki Kimy yang hanya menggunakan sendal jepit.


"maaf aa tadi non Kimy yang minta ditemani jalan jalan". Dewi menjawab lesu, ia berharap Kimy membelanya dihadapan sang kakak namun yang di harapkan tak juga bersuara.


"non, apa nona baik baik saja?" Juna memperhatikan wajah Kimy yang terlihat lelah padahal bukan lelah fisik tapi hati, si Juna aja yang gak peka atau pura pura gak peka sepertinya hehe.


"teh..". Dewi menyentuh lengan Kimy karena Kimy tak kunjung merespon.


"hah?, emm.. kenap Wi?". Kimy sama sekali tidak mendengar apa yang di tanyakan padanya, pandangan mata nya tidak lepas dari wanita yang berdiri tepat disamping Juna.


"non Kimy tidak lelah?, maafkan Dewi yang sudah bawa non Kimy jalan jalan terlalu jauh". Juna kembali bertanya masih dengan wajah khawatirnya.


"a..ku tidak lelah Jun, aku yang minta Dewi menemani". Kimy segera menertalisir perasaan nya karena ia tidak mau orang lain mengetahui apalagi sampai mengasihinya.


Kimy berusaha tersenyum menutupi rasa sakit nya.


"em.. kamu disini sedang apa Jun?". Kimy ingin tahu siapa wanita disamping Juna namun lidah nya terasa keluh hingga ia tak menemukan kalimat yang tepat.


"tadi bantu bapak di sawah non dan tidak sengaja bertemu Lia, oiya.. kenalkan non ini Lia teman SMA saya". Juna memperkenalkan wanita yang ada disamping nya sesuai dengan ke kekepoan Kimy. eh..teman brarti cuma teman kan yaa...gak ada maksud lain kan yaa kalau Kimy gak salah dengar penjelasan Juna tadi.


"teman?, teman apa atuh aa...teh Lia kan mantan pacar aa, ya kan teh Lia..." Dewi tertawa mengejek.


uppss


Dewi menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Juna menajamkan pandangan nya ke arah Dewi, Kimy semakin kalut entah apa yang di bilang Dewi benar atau tidak tapi ini sungguh membuat Kimy kembali terluka.


Lia menyodorkan tangan nya ke arah Kimy bermaksud memperkenalkan diri di iringi senyum manis nya, ya... Kimy mengakui Lia tampak manis dipandang apalagi dengan body yang tak jauh dari kata sempurna hanya pakaian nya saja yang mungkin kurang mendukung andai Lia dipakaikan fashion sesuai trend saat ini pastinya kemanisannya akan semakin terpancar.


"Kimy" Kimy menyambut uluran tangan Lia dan berusaha tersenyum seramah mungkin.


"Wi, sepertinya aku mulai lapar tadi lupa belum sarapan, kita pulang aja ya kerumah". Kimy memutuskan meninggalkan kecanggungan di tengah tengah keadaan saat ini dengan beralasan lapar padahal nafsu makan Kimy sudah lenyap entah kemana.


"nona belum sarapan?, ini sudah jam 11 non, ini bisa berpengaruh dengan diet nona". Juna sangat paham jam berapa nona nya harus makan bahkan ia tadi sudah berpesan pada sang Ibu bahkan sedikit menekankan.


"santai aja Jun, sehari atau dua hari melanggar aturan diet gak langsung buat badan aku melar koq" jawab Kimy terlihat santai padahal hatinya sudah tidak karuan, apalagi ia melihat Lia yang memperlihatkan ke kaguman pada Juna dari sorot mata nya sama persis seperti sorot mata Kimy selama ini bila memandang Juna.


"kita duluan ya Jun". Kimy menarik lengan Dewi untuk melangkah meninggalkan Juna dan Lia.

__ADS_1


"non.. ". Juna menahan lengan Kimy.


Kimy tidak melanjutkan langkah nya. hatinya bergetar ia takut tidak kuat membendung air matanya lebih lama lagi.


"saya antar saja, saya khawatir nona belum sarapan dan kehabisan tenaga di jalan, saya bawa motor non". Juna menawarkan dengan pandangan mata yang masih menunjukan ke khawatiran.


"gak perlu Jun, saya lebih senang jalan kaki babyak pemandangan indah, juga lagi saya masih kuat". Kimy berusaha menolak dengan berbagai alasan ia sudah tidak tahan melihat pemandangan yang tidak hanya membuat sakit mata namun juga sakit hati.


"non, keselamatan nona yang utama buat saya, saya sudah pernah bilang di awal saya bekerja, tolong jangan menolak tawaran saya, karena ini kewajiban saya". Juna berbicara dengan nada lebih tegas, ia sangat yakin nona nya tidak akan menolak lagi jika ia sudah seperti ini.


"Wi, kamu nanti pulang sama Bapak, dan non Kimy sama aa". Juna mengenggam pergelangan tangan Kimy menggiringnya menuju motor yang ia parkirkan tidak jauh tanpa berucap apapun lagi bahkan Lia yang ia akui sebagai teman nya tak ia sapa untuk berpamitan.


❤❤❤❤


Juna menghentikan kendaraan motornya di sebuah rumah makan sederhana bahkab hanya seperti warung kecil yang menjual nasi dan beberapa jenis lauk.


"Jun, kenapa kita berhenti disini?". Kimy terlihat bingunng.


"ini sudah siang dan nona belum makan sejak pagi kalau kita pulang kerumah, pasti menu sarapan tadi pagi sudah dingin dan nanti saya khawatir nona tidak berselera jadi nona makan disini saja ya, ini baru dimasak jadi masih hangat dan tentunya enak jangan takut tidak jorok koq non". Juna menjelaskan.


Kimy sungguh terpukau dengan Juna, pria ini benar benar membuatnya jatuh bangun terkadang Kimy dibuat terbang dengan perhatiannya namun nanti tiba tiba di buat nyusruk ke jurang dengan sifat dingin nya, sungguh sulit di tebak.


Kimy hanya mengangguk tanda setuju, entah bagaimana nafsu makannya kembali secara tiba tiba.


"eh...kasep kapan pulang?". sapa seorang wanita penjaga warung pada Juna.


"kemarin teh" jawab Juna dengan senyum ramahnya.


"ini siapa atuh, neng gelis yang bareng sama aa kasep?".


"saya Kimy mba". Kimy langsung menjawab.


"ihh gelis pisan, panggil teh Mirna aja neng, si eneng calon nya aa Juna ya".


uhuk uhuk


Juna tiba tiba tersedak air putih yang sedang ia nikmati mendengar pertanyaan teh Mirna.


"ya allah gusti, hati hati atuh aa, sampai kitu kagetnya karena di tanya soal si eneng" teh Mirna tertawa melihat wajah Juna yang terlihat merah bukan karena tersipu tapi karena tersedak.


Juna tidak merespon teh Mirna,untuk menghindari pertanyaan teh Mirna yang pasti nya akan semakin banyak ia segera mengambil nasi dan lauk untuk Kimy dan juga dirinya, kebetulan rumah makan ini berbentuk prasmanan, jadi si pembeli bisa mengambil sesuai keinginannya.


Juna sangat tahu menu apa yang disukai Kimy dan takaran porsi nya tanpa bertanya Juna langsung menghidangkan di hadapan Kimy lengkap dengan lalapan dan air putih.


bagaimana Kimy tidak jatuh hati, ajudan nya ini sangat mengerti dirinya luar dalam, bahkan bisa merubah dengan cepat rasa kecewa atau sedih Kimy.


lagi dan lagi Kimy tidak pernah bosan berdoa agar Juna menjadi jodohnya. hihihi


.


.


.


.


.

__ADS_1


next episode & harap tinggalkan jejak yaa kalau baca buat semangat penulis 😊


__ADS_2