Gelora Hasrat Sang Penguasa

Gelora Hasrat Sang Penguasa
Bab 10. Pertemuan


__ADS_3

Mereka pun sampai di Perusahaan tersebut. Seorang pria terlihat menyambut kedatangan mereka. Pria tersebut tak lain adalah Alex.


“Selamat datang Tuan, Nyonya,” ucapnya.


Gelora tersenyum tipis, sementara Elgert hanya menganggukkan kepalanya.


“Dia Alex, dia yang akan membimbing kamu dan membantu kamu, jika tidak ada yang kamu mengerti, kamu tanyakan saja sama dia,” ucap Elgert pada Gelora.


Gelora mengangguk sebagai jawaban.


“Baiklah, Alex saya titip dia, saya pergi dulu. Dan kau Bass, jaga dia dengan baik,” lanjut Elgert pada kedua pria tersebut.


Alex dan Bass mengangguk.


“Selamat bersenang-senang istriku,” bisik Elgert pada Gelora sebelum berlalu dari sana.


Gelora memaksakan senyumannya.


“Baiklah, mari ikut saya Nyonya,” ajak Alex.


Gelora pun mengangguk, ia mengikuti langkah pria yang bernama Alex tersebut, dan Bass sebagai pengawalnya, ikut serta mengikutinya.


Menaiki lift, mereka pun sampai di lantai 10, Alex membawa Gelora kesebuah ruangan yang memang sudah di sediakan khusus untuk istri dari Bos besarnya itu.


“Ini ruangan Anda Nyonya.” Alex membukakan pintu ruangan tersebut, lalu mempersilahkan Gelora untuk masuk.


Wanita itu memandang takjub ruangan yang cukup luas dan mewah itu.


“Jadi apa yang akan saya lakukan di sini, Alex?” tanya Gelora, matanya masih asik menelusuri setiap lekuk ruangan tersebut.


“Nyonya hanya cukup duduk bersantai dan menikmatinya, tidak perlu memikirkan apa-apa, saya yang akan mengurus semuanya, ya paling hanya menanda tangani beberapa dokumen yang memang harus di tangan tangani,” jelasnya.


“Hanya itu saja?” Gelora mengalihkan pandangannya kearah pria tersebut.


Dalam hal seperti ini otaknya memang kurang smart, mungkin wajar, karena pendidikannya sangat minim, hanya sampai sekolah menengah atas itu pun tidak tamat, karena tidak ada biaya, dan memaksanya putus ditengah jalan. Berkerja hanya sebagai buruh pabrik pada saat itu, sebelum dia menikah dengan Steven.


“Sekarang anda pemilik perusahaan ini Nyonya, anda tinggal hengkang kaki dan tunjuk tangan saja, saya yang akan jadi tangan kanan anda,” ujar Alex.


“Tapi, bagaimana kalau perusahaan ini bangkrut? Aku sama sekali tidak mengerti soal bisnis.”


“Itu tidak mungkin Nyonya, lebih baik anda nikmati saja, jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, semuanya akan berjalan dengan sempurna.”


“Oke, baiklah. Tapi sebentar, emm ... apa suamiku sudah membicarakan sesuatu padamu?” tanya Gelora.


Alex mengangguk, tentu saja ia sudah paham maksud pembicaraan wanita itu.


“Lantas apa hubungannya dengan semua ini?” tanya Gelora lagi, sampai saat ini ia masih belum mengerti.


“Sebentar lagi Nyonya akan mendapatkan jawabannya, bersiaplah setengah jam lagi akan ada pertemuan dengan seseorang, dan pastinya Nyonya akan terkejut, jangan lupa bersikap elegan dan cantik, saya permisi,” ujar Alex.

__ADS_1


Setalah itu Alex berlalu dari sana. Lagi-lagi Gelora dipenuhi banyak pertanyaan dalam benaknya.


“Baiklah, aku akan ikuti permainan kalian semua," gumam Gelora.


“Bass, jaga dia jangan sampai dia keluar dari ruangan ini,” titah Alex pada Bass saat sudah keluar dari ruangan Gelora.


“Siap Tuan," jawab Bass yang berdiri di depan pintu ruangan tersebut.


*


*


*


“Stev, apa benar ini perusahaannya?” tanya Gresy—ibunya.


“Iya benar, Bu. Besar bukan? Ingat bersikap dengan baik, kita harus bisa berkerja sama dengan mereka,” jawab Steven.


Mereka pun keluar dari mobil tersebut, Serra terlihat menggandeng tangan Steven, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam gedung pencakar langit tersebut.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak, Bu?” tanya seorang wanita yang bertugas sebagai resepsionis di kantor tersebut.


“Saya ingin bertemu dengan Pak Alex,” jawab Steven.


“Apa anda sudah membuat janji?”


“Maaf, dengan Bapak siapa?”


“Saya Steven dari perusahaan SGM-Grup.”


“Baik, Bapak sudah ditunggu oleh Pak Alex dan Bu Direktur utama, di lantai 9,” ucapnya.


“Baik, terima kasih.”


Steven, Serra dan Gresy pun langsung berlalu dari sana, mereka menaiki lift hingga sampai di lantai 9.


“Kok Ibu deg-degan begini ya?” ucap Gresy.


“Sama Bu. Eh Stev, memangnya pemilik perusahaan ini, seorang wanita ya?”


“Iya mungkin, tadi kamu dengar sendiri, bukan? Kalau kita sudah ditunggu oleh Pak Alex dan Ibu Direktur, katanya.”


“Hebat banget ya wanita itu, aku jadi pengen kenal dekat, siapa tahu bisa berteman, enak kayanya punya teman seorang pengusaha kaya raya,” ucap Serra.


Steven hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa heran dengan tingkah istrinya itu.


“Maaf, ruangan Pak Alex di mana ya?" tanya Steven pada seorang wanita yang berjalan berlawan arah dengannya itu.


“Anda Pak Steven?” tanya Wanita itu. Wanita itu adalah Asisten Alex.

__ADS_1


“Iya benar.”


“Mari saya antar, Pak, kebetulan barusan saya mau menjemput kalian, mari,” ujar wanita tersebut dengan ramah.


Steven, Serra dan Gresy pun mengikuti langkah wanita cantik tersebut.


“Silahkan masuk, saya akan memanggil Pak Alex dan Ibu Elora dulu,” ucap wanita tersebut.


Ya Elora adalah Gelora, sengaja memang dihilangkan huruf depannya, ini semua adalah rencana Elgert, dan memang sudah disepakati oleh Gelora di dalam surat perjanjian sebelumnya yang sudah wanita itu tanda tangani. Namun Gelora tidak tahu jika saat ini ia akan bertemu dengan orang-orang yang pernah membuatnya menderita.


Mereka pun menuruti permintaan wanita tersebut masuk ke dalam ruangan tersebut.


Sementara wanita yang berprofesi sebagai Asistennya Alex, langsung menuju ruangan Alex.


“Selamat siang, Pak. Mereka sudah datang,” ucapnya ramah pada Alex.


“Baiklah, saya akan segara kesan." Alex pun beranjak dari ruangannya, ia menuju ruangan Gelora.


“Nyonya mereka sudah datang, mari ikut saya," ajak Alex pada Gelora.


“Mereka siapa, Alex?”


“Nanti anda juga akan tahu,” jawab Alex.


Gelora menggerutuki dirinya sendiri, Bodoh! menyesal rasanya ia sudah bertanya.


“Nyonya sudah tahu kan aturan mainnya seperti apa?” tanya Alex.


“Iya sudah, namaku sekarang adalah Elora," jawab Gelora dengan suara memalas.


“Bagus, anda juga sudah mengerti bukan apa saja yang harus nanti Nyonya lakukan?”


“Sudah, tenang saja. Aku sudah membaca semuanya, apa saja yang harus aku lakukan nanti!” ketus Gelora.


“Baiklah mari ikut saya,” ajak Alex.


Gelora mengangguk, ia pun mengikuti langkah pria itu. Tentu saja Gelora sudah tahu apa yang harus ia lakukan, ia sudah membaca tata caranya, dari pesan yang dikirimkan oleh Elgert tadi, selama setengah jam Gelora menghapal semuanya, padahal ia belum tahu nantinya akan bertemu dan berbicara dengan siapa.


Tibalah Alex dan Gelora sampai di depan ruangan tersebut.


“Ingat anda harus tetap tenang, Nyonya,” pesan Alex sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Baiklah, aku paham.”


Lalu mereka pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Terlihat ketiga orang yang sejak tadi sudah menanti di sana, langsung menatap kearah mereka.


“Ka-kamu ... ”


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2