Gelora Hasrat Sang Penguasa

Gelora Hasrat Sang Penguasa
Bab 9. Pengawal


__ADS_3

Keesokan harinya, seperti yang dikatakan oleh Elgert semalam. Hari ini Gelora sudah bersiap-siap untuk menjalankan misinya.


Entah misi bagaimana, Gelora sendiri pun tidak mengerti, apa sebenernya yang direncanakan oleh pria itu, sehingga memintanya untuk menjadi atasan di salah satu perusahan milik pria yang berstatus suaminya itu.


“Nona, anda sudah di tunggu oleh Tuan di bawah,” ucap Ella padanya.


“Ya, aku segara turun,” sahut Gelora.


Dengan penampilan yang sudah elegan dan rapi, Gelora pun berlalu dari kamarnya, ia langsung mengikuti langkah Ella.


Elgert, sang pria yang bergelar sebagai suaminya itu tersenyum saat melihat penampilan Gelora yang terlihat seperti wanita berkelas dan cerdas, seperti wanita karir pada umumnya.


“Kau sudah siap Sayang?” tanya Elgert, ia mengulurkan tangannya kearah Gelora yang kini sudah berada di hadapannya itu.


Gelora mengangguk, ia pun meraih tangan Elgert.


“Baiklah, aku antarkan kamu ke perusahan baru milikmu Gelora-ku," ucapnya. Senyuman Elgert berubah menjadi senyuman yang sulit artikan, namun terlihat sangat mengerikan dilihat oleh Gelora.


Lagi-lagi Gelora hanya menganggukkan kepalanya, mereka pun berjalan beriringan keluar dari masion tersebut.

__ADS_1


Di depan sana terlihat sudah ada dua pria yang berpakaian serba hitam berdiri di dekat mobil yang akan Gelora dan Elgert tumpang.


Kedua pria itu adalah pengawal yang akan menemani Gelora kemana pun wanita itu pergi.


‘Kenapa harus pakai pengawal seperti ini sih? Astaga aku bener-bener menjadi tawanan pria itu,’ batin Gelora.


Ingin rasanya ia protes, tapi rasanya itu semua tidak mungkin, yang ada protesnya sudah dipastikan akan menjadi sebuah malapetaka, hanya diam dan menurut, tidak ada pilihan lain.


Kedua pengawal itu terlihat membuka pintu mobil untuk kedua majikannya. Gelora dan Elgert pun masuk ke dalam mobil tersebut.


“Bass, kau saja yang ikut,” ucap Elgert pada salah satu pengawal tersebut.


Gelora sedikit merasa senang, ya setidaknya dia tidak terlalu dikekang, hanya satu pengawal, mungkin bisa diakali jika nanti ia butuh kebebasan sedikit untuk menyangkan diri.


Dilihat dari tampangnya juga pengawal yang bernama Bass itu terlihat tidak terlalu mengerikan.


Mobil pun mulai melaju.


“Gelora, Bass adalah pengawal kamu, dia akan mengawasi gerak-gerik kamu selama jauh dariku, jadi jangan berpikir kamu bisa berbuat macam-macam," ucap Elgert, seakan pria itu bisa menebak apa yang pikirkan oleh wanita yang bergelar istrinya itu.

__ADS_1


“Ya saya tahu, lagian saya mau macam-macam apa?” sahut Gelora, suaranya terdengar sangat tidak suka.


‘Sial, kenapa dia seakan bisa menebak isi kepalaku,’ batin Gelora.


“Saya bisa menebak isi pemikiran kamu, jadi jangan macam-macam, apa lagi mencari kebebasan diluar sana, ingat perjanjian kita, jika kamu mau aman! Nyawamu dalam bahaya jika tidak menuruti permintaan saya!”


“Dan kau Bass, jaga dia dengan baik, jangan sampai di lolos, kabari saya jika dia macam-macam,” lanjut Elgert pada pengawal yang bernama Bass itu.


“Siap Tuan,” sahut Bass.


“Apa kau akan membunuhku jika aku macam-macam? Kanapa kau bilang nyawaku dalam bahaya?” tanya Gelora, ia merasa aneh dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Elgert barusan padanya.


Apakah Elgert akan membunuhnya?


“Mana mungkin saya membunuhmu istri saya sendiri. Kau belum saatnya tahu, nanti juga kamu akan mengerti, Gelora,” jawab Elgert.


Sudahlah, Gelora tidak paham jika bicara dengan pria itu, tapi dalam hati ia semakin merasa penasaran, siapa sebenernya Elgert?


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2