
“Bagaimana bisa mereka bisa tahu hah? Bukankah sudah saya bilang, simpan rapat-rapat semua ini, kenapa kalian sampai kecolongan!” bentak Elgert pada Alex dan beberapa orang kepercayaannya itu.
“Maaf Tuan, seperti di sini ada pengkhianat,” sahut Alex.
“Cepat cari orang itu, habisi dia sampai ke akar-akar, kalau dalam 24 jam kamu tidak bisa menemukan siapa pengkhianat itu, salah satu dari kalian yang akan saya habisi!” pinta Elgert penuh dengan amarah.
Tidak ada yang bisa membatah, mereka terlihat menunduk menyembunyikan wajah ketakutannya.
“Baik Tuan,” jawab Alex.
“Keluar!” Elgert menggubriskan tangannya mengusir mereka.
“Aargh!” teriaknya dengan penuh amarah usai Alex dan yang lainnya itu keluar.
Ya, Elgert baru saja mendapatkan informasi, jika pernikahannya dengan Gelora diketahui oleh Domi. Tentu saja hal itu membuatnya marah, kerena dengan begitu pasti musuh akan memanfaatkan situasi ini. Mereka pasti akan mengincar Gelora, dan mendapatkan keuntungan dari Elgert sebagai imbalannya.
Elgert tak habis pikir, siapa yang berani menusuknya dari belakang? Lihat saja, jika orang yang mengkhianatinya itu tertangkap ia tidak akan mengampuninya.
Apa lagi jika hal buruk terjadi pada Gelora—istrinya, ia sendiri yang akan turun tangan menghabisi orang tersebut.
“Sial, aku tidak melihat di rumah, apa dia belum pulang, Alex saja sudah ada di sini?” gumam Elgert.
Pria itu baru teringat, sejak tadi ia tidak melihat Gelora. Jam kerja sudah usai, bahkan Alex sudah pulang, tapi kenapa istrinya itu belum terlihat batang hidungnya?
Elgert pun keluar dari ruangannya itu, ia berjalan menuju kamar Gelora, ingin memastikan apakah istrinya itu ada atau tidak.
Brak!
Elgert membuka pintu kamar tersebut dengan kasar. Namun ia bernapas lega, ternyata istrinya itu sudah pulang.
Gelora yang sedang tertidur itu tersentak keget dan langsung membuka matanya saat mendengar gebrakan dari pintu tersebut.
“Kenapa kau membuka pintu dengan keras, tidak bisakah kau membukanya depan pelan, aku terkejut!” sentaknya sambil menatap pria yang berstatus suaminya itu.
Elgert tak menyahut, ia langsung masuk ke dalam kamar tersebut, lalu menutup pintu dan menguncinya.
“Kenapa kamu tidak memberitahu aku, jika kamu sudah pulang?” tanya Elgert sambil berjalan mendekati Gelora.
Gelora menyipikan matanya sehingga membuat kedua alisnya itu mengkerut beradu.
‘Apakah harus aku laporkan padanya? segala sesuatu, apa aku harus memberitahunya? Apa dia pikir aku ini anak kecil yang harus bilang jika apa-apa pada Ayahnya, menyebalkan sekali dia!’ ucap Gelora dalam hatinya.
“Jawab!” sentak Elgert lagi.
__ADS_1
“I-iya maaf, memang harus seperti itu? Tadi pas aku pulang aku tidak tahu kau dimana, jadi aku tidak memberitahu,” jawab Gelora.
“Mulai sekarang, apa pun yang akan kamu lakukan, kamu harus bilang sama aku! paham Gelora-ku sayang.”
“Baiklah,” sahut Gelora, ia memilih tidak banyak bicara. Hari ini ia merasa lelah.
Elgert tersenyum, lalu ia naik ka atas ranjang, berbaring di samping istrinya itu.
“Lanjutkan tidurnya,” ucap Elgert, lalu mendaratkan kecupan di kening wanita itu dan melingkar tangannya di pinggang Gelora.
Gelora merasa heran dengan sikap pria yang berstatus suaminya itu, sikapnya berubah-ubah, barusan saja marah-marah, sekarang sangat manis.
Gelora pun kembali memejamkan matanya, memang ia masih merasa mengantuk.
Namun baru saja beberapa detik ia memejamkan matanya. Gelora merasakan sesuatu menyusup ke dalam piyamanya itu.
“Aku selalu berhasrat saat dekat denganmu,” bisik Elgert dengan suara yang beratnya.
Elgert menarik wanita itu ke dalam pelukannya, mendekatkan wajahnya, lalu menempel bibirnya di bibir ranum milik istrinya itu.
Gelora hanya bisa pasrah, kini ia mulai terbiasa dengan sentuhan pria itu, dan tanpa sadar ia pun menikmati semuanya. Tidak salah bukan? Toh Elgert adalah suaminya, mereka pasang suami-istri.
“Sepertinya sekarang kamu sudah luluh olehku sayang. Aku suka, nikmatilah, kita harus sama-sama puas dengan semua ini,” bisik Elgert, melepaskannya tautan bibirnya itu pada Gelora.
Ia merasa ada kemajuan hubungan dengan sang istri, kemarin-kemarin saat mereka melakukan seperti ini, Gelora kaku dan pasrah, tidak mengimbangi permainannya.Tapi sekarang, Elgert merasa jika istrinya itu mulai mengimbanginya.
“Mari kita lanjutkan,” bisiknya lagi.
Gelora hanya menganggukkan kepalanya, dan mereka pun kembali melanjutkan aktifitas panasnya itu, peluh membasahi tubuh mereka, mereka larut dalam aktifitas memabukkan itu, yang membuat meraka terasa terbang keatas ke nirwana.
*
*
*
Sementara itu Steven kini berada di kantor polisi, seperti niat awalnya, ia datang ke tempat tersebut untuk menanyakan kebenaran apakah Gelora sudah bebas.
Dan benar saja Gelora memang sudah bebas, akan tetapi saat ia menanyakan siapa yang membebaskan Gelora polisi itu awalnya tidak memberitahunya, akan tetapi Steven terus mendesaknya. Hingga akhirnya polisi itu pun memberitahunya.
Usai mendapatkan informasi tersebut, ia pun langsung meninggalkan tempat tersebut.
Kembali melajukan mobilnya untuk pulang.
__ADS_1
“Siapa sebenernya pria itu, kenapa dia membebaskan Gelora? Berati benar jika yang tadi pagi aku temui itu Gelora, yang menyamarkan identitasnya jadi Elora,” ucap Steven bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Steven memang sudah diberitahu siapa pria yang membebaskan Gelora, polisi itu mengatakan jika pria itu bernama Bass, dan seingat Steven Gelora tidak mempunyai kenalan pria bernama Bass, ia pun tidak mengenalnya.
Padahal Polisi menyamarkan nama pria yang sudah membebaskan Gelora, tentu saja mereka tidak mungkin memberitahu siapa yang sebenernya pria yang membebaskan Gelora, jika mereka memberitahu jika Elgert pada yang membebaskannya, itu semua akan menjadi masalah bagi mereka, Elgert punya kekuasan dan bisa saja menghabisi polisi yang sudah menentangnya, tak pandang bulu, Elgert pengusaha yang kejam jika seseorang sudah mengusiknya dan berani berurusan dengannya.
Dan Elgert sendiri sudah mengetahui hal ini akan terjadi, pria itu yakin jika mantan suami Gelora akan mencari tahu soal ini, dan memang Elgert yang minta polisi untuk mengatakan, jika Steven bertanya, katakan jika pria yang sudah membebaskan Gelora adalah Bass.
Tentu saja kedapannya ini semua menjadi salah satu rencana yang sudah Elgert pikirkan dengan matang-matang.
Tak lama kemudian Steven pun sampai di rumahnya.
“Dari mana kamu, Stev?” tanya Gresy sang Ibu saat melihat Steven baru saja pulang.
“Dari luar,” jawabnya singkat.
“Sini, ada yang ingin Ibu bicarakan sama kamu.” Gresy yang tengah duduk di sofa itu meminta Steven untuk duduk di sana.
Steven terlihat malas, tapi ia menurutinya.
“Ibu tahu, kamu pasti habis dari kantor polisi kan?” tanya Gresy.
“Iya benar.”
“Lalu gimana, benarkan kalau mantan istri kamu itu sudah bebas?”
Steven menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Sudah Ibu duga, berati benar dugaan Ibu kalau wanita yang bertemu dengan kita tadi itu Gelora yang mengganti namanya dengan Elora,” serunya.
“Ya sepertinya memang begitu.”
“Bagus! kamu harus kembali mendekati dia Stev, kalau bisa kamu harus balikan lagi sama mantan istri kamu itu, Ibu akan mendukung kamu,” titahnya.
Steven terlihat bingung, kenapa tiba-tiba ibunya berkata seperti itu? Bukankah ia sangat membenci Gelora, kenapa sekarang mendadak berubah dan malah memintanya kembali pada mantan istrinya itu.
“Kenapa Ibu berkata seperti itu?”
“Udah pokoknya kamu nurut sama ibu saja,” jawabnya tidak mau dibantah.
Sementara itu sejak tadi, sepasang mata dan telinga mendengar obrolan mereka berdua.
Serra, ia terlihat mengepal kedua tangannya dengan kuat.
__ADS_1
‘Sial, jadi dia mau menusuk aku dari belakang, musuh dalam selimut. Lihat saja aku akan memberi pelajaran padamu wanita tua,' batinnya.
Bersambung ...