Gelora Hasrat Sang Penguasa

Gelora Hasrat Sang Penguasa
Bab 19. Tidak semudah itu


__ADS_3

“Apa kamu sedang membuat lelucon?” tanya Elgert sambil menaikan sebelah alisnya menatap Gelora.


“Tidak! Apa kamu melihat aku sedang bercanda? Tidak bukan! jadi izin aku pergi, aku ingin menjalani kehidupan normal seperti dulu, urusan kita sudah selesai, bukan?”


Elgert tersenyum sinis, “tidak semudah itu, kamu itu adalah istriku. Dan satu lagi, coba kamu baca ulang isi surat kontrak yang pernah aku berikan padamu, apa disana tertulis jika aku akan melepaskan kamu, hemm?”


“Iya, aku tahu. Tapi untuk apa aku tetap di sini, aku hanya istri budak nafsu kamu saja, aku rasa masih banyak wanita yang luar biasa dariku, jadi biarkan aku pergi!”


“Silahkan jika kau bisa pergi dari sini! Bermimpi saja kau bisa lepas dariku Gelora!” pekik Elgert menatap tajam Gelora.


Jelas Elgert sangat tidak suka, ia marah saat Gelora menyebut hanya menjadikan Gelora budak nafsunya saja, kerena bagi Elgert itu semua tidak benar.


Sejak dulu ia suka mencintai Gelora, harusnya Gelora berpikir, jika Elgert tidak mencintainya untuk apa dia menikahinya.


‘Wanita memang sulit dimengerti!’ batinnya. Setalah itu Elgert pun berlalu dari sana.


Gelora menatap Elgert dengan dada yang bergemuruh, kedua tangannya mengepal sempurna.


‘Lihat saja aku akan pergi dari sini,’ batin Gelora.


Selepas kepergian Elgert, Gelora membawa beberapa pakaian dan memasukannya ke dalam koper yang berukuran sedang, tekadnya sudah bulat, ia akan pergi dari sini. Ya Gelora tahu, tentu saja semua ini tidak akan mudah, di setiap penjuru mansion tersebut dijaga dengan ketat oleh orang-orang Elgert.


“Aku rasa segini juga cukup, tidak perlu banyak, tapi tunggu, kalau aku pergi dari sini hanya membawa baju saja? Setalah itu aku akan meneruskan hidupku bagaimana? Ya nanti bisa saja aku mencari kerja, tapi itukan tidak gampang!” gumamnya.


“Perhiasan, disinikan banyak perhiasan, baiklah sepertinya aku bawa saja, nanti bisa aku jual, aku tidak mencurinya, inikan perhiasan milikku yang diberikan oleh dia, jadi sudah menjadi hakku dong.”


Tanpa berpikir ulang, Gelora pun langsung memasukan kotak perhiasan tersebut ke dalam koper, jika jual, perhiasan itu tentunya sangat mahal.

__ADS_1


“Oke selesai.”


“Nona, Nona mau kemana? Kenapa pakaian Nona di masukan ke koper?” tanya Ella, yang tiba-tiba saja sudah ada di sana.


“Astaga, Ella. Kau mengejutkanku, sut jangan berisik, sini cepat,” pinta Gelora pada pelayan setianya itu.


“Ada apa Nona? Jangan bilang Nona akan kabur, Nona saya mohon jangan pergi, saya bisa dicincang nanti sama Tuan Elgert, jangan konyol Nona,” ucap Ella.


“Ella, dengar, aku sudah tidak tahan lagi berada di sini, aku tidak nyaman. Ella aku mohon kamu jangan beritahu siapa pun apa lagi Elgert, aku harus pergi Ella,” mohon Gelora dengan wajah yang memelas.


“Tapi, Nona,”


“Ella, aku mohon. Elgert sudah mengizinkan aku pergi, kamu tenang saja, hanya saja dia seperti ikhlas tidak ikhlas aku pergi.”


“Tapi Nona, Nona tidak akan bisa keluar dari mansion ini, di sini sangat dijaga ketat.”


“Tapi Nona, saya takut. Kalau Nona pergi saya juga akan ikut pergi bersama Nona,” ujar Ella.


“Apa kamu yakin?”


“Tentu saja Nona, saya akan ikut kemana pun Nona pergi, sebenernya saya juga sudah tidak mau berkerja di sini,” jawab Ella penuh keyakinan.


“Baiklah, kamu kemasi barang-barang kamu dulu sana,” titah Gelora.


“Tidak perlu Nona, tidak ada barang yang berharga. Nanti setalah kita pergi dari sini, kita tinggal di rumah saya saja Nona, bagaimana? Tapi rumah saya tidak kecil dan kumuh.”


“Tidak masalah Ella, baiklah, kita harus menyusun rencana agar bisa pergi dari sini. Apa kamu ada ide, Ella?” tanya Gelora.

__ADS_1


Keduanya terlihat langsung berpikir. Beberapa saat kemudian, senyuman terlihat dari bibir Ella.


“Saya tahu Nona, sebentar,” ucapnya. Ella langsung keluar dari kamar tersebut.


Membuat Gelora bingung, apa yang akan dilakukan oleh wanita itu? Hingga beberapa saat kemudian Ella kembali, ia membawa sebuah plastik besar berwarna hitam.


“Ella, untuk apa kamu membawa plastik sampah seperti itu?” tanya Gelora bingung.


“Ini untuk mengamankan koper Nona, masukan kopernya ke sini Nona, biar penjaga tidak curiga, nanti saya akan membawa lebih dulu koper ini, saya akan menyimpannya dekat tempat sampah yang di depan gerbang, nah setalah itu Nona minta Bass untuk mengantarkan Nona, ya pura-pura ingin jalan-jalan gitu, Nona,”


“Ah iya saya paham, Ella. Kamu memang pintar, baiklah, ayo kita mulai.”


Ella langsung menganggukkan, mereka pun memasukan koper tersebut kedalam plastik sampah.


“Nanti kamu tunggu di depan, Ella. Aku akan mengajak kamu, oh iya saya hampir lupa, nanti bagaimana caranya kita melumpuhkan si Bass itu?”


“Saya ada obat bius Nona, nanti kita bisa bius Bass kalau sudah jauh dari tempat ini, bagaimana?”


“Kamu memang bisa diandalkan, Ella. Baiklah, kamu bawa koper itu, jangan sampai mereka curiga, nanti diam-diam kita masukan koper itu kedalam mobil, kamu tunggu di depan oke.”


“Baik Nona.”


Ella pun langsung bergegas dari sana, tak lupa ia membawa plastik sampah yang berisi koper tersebut, tentu saja tidak ada yang curiga, mereka mengira Ella benar-benar membawa sampah, terlebih plastik tersebut sangat besar, jadi bentuk koper itu tidak terlihat.


“Tuan Elgert selamat tinggal!” gumam Gelora.


Bersambung ...

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTENYA, TERIMA KASIH.


__ADS_2