Gelora Hasrat Sang Penguasa

Gelora Hasrat Sang Penguasa
Bab 16. Tidak menyangka


__ADS_3

“Serra, apa yang kamu katakan? Omong kosong apa ini!” bentak Gresy.


Serra malah tersenyum sinis menanggapinya.


“Stev, kamu jangan percaya omong kosong dia, kamu harus percaya sama Ibu, kalau yang merencanakan semua ini bukan ibu, tapi dia sendiri. Saat itu dia yang ingin mencoba melukai Gelora, tapi dia sendiri salah sasaran, kerena Gelora melawannya,” lanjut Gresy pada Steven.


Steven benar-benar tidak menyangka, kenapa selama ini ia sangat bodoh. Rencana siapapun ini, Serra atau Ibunya, itu sama-sama tidak bisa di benarkan.


Steven terlihat mengepalkan tangannya kuat dengan tatapan menyalang pada kedua wanita itu. Amarah bergejolak di dalam jiwanya. Mereka bener-bener keterlaluan!


“Kalian sangat keterlaluan, aku benar-benar tidak menyangka! Sebaiknya kalian pergi dari rumahku! Aku tidak Sudi melihat wajah kalian berdua lagi!” teriak Steven penuh amarah.


Sontak membuat Serra dan Gresy membulatkan matanya.


‘Sial kenapa jadi seperti ini? Niatku ingin menyingkirkan wanita tua itu, kenapa aku diusir juga! ceroboh sekali kau Serra, kalau sudah begini, aku harus bagaimana?’ batin Serra. Rasanya ia menyesal sudah mengatakan semuanya sekarang, harusnya ia susun strategi dulu, bukan langsung seperti ini.


Seharusnya ia bisa menahan dulu emosinya, bener-bener menyebalkan, kalau sepeda ini apa yang harus ia lakukan?


‘Serra sialan! lihat saja pembalasanku, dasar anak tidak tahu diri, tidak punya rasa terima kasih, kalau bukan kerena aku sejak dulu kau sudah menjadi gelandangan, memang aku salah memilih wanita. Dan sekarang dia malah mengajakku bergelandangan bersama, enak saja! ini tidak bisa dibiarkan!’ batin Gresy geram.


“Steven, iya Ibu akui Ibu salah, tapi demi bukan Ibu yang merencanakan ini semua, tadi dia,” ucapnya sambil menunjuk kearah Sera, “Ibu mohon maafkan, Ibu. Jangan usir Ibu, kalau Ibu pergi dari sini, Ibu mau tinggal dimana Stev, hanya kamu yang Ibu punya di dunia ini. Apa kamu tega memberikan Ibumu ini menjadi gelandangan? Iya Ibu tahu kalau Ibu ini bukanlah Ibu kandung kamu, wanita yang sudah melahirkan kamu, tapi selama ini Ibu yang merawat dan membesarkan kamu, apa kamu lupa akan hal itu? Apa kamu tidak kasihan sama Ibu?” Gresy memohon pada Steven.


Air mata terlihat membasuh wajah wanita parubaya itu, bahkan raut wajah penuh menyesalan terlihat dari wajahnya, benar-benar sandiwara yang bagus.


Steven terlihat menghelai napasnya, ia bingung harus bagaimana. Rasa kecewa terhadap Gresy begitu besar, tapi dia juga tidak sega itu.


“Udahlah Bu, gak usah bersandiwara, bawa-bawa nama Tuhan segala, apa Ibu gak malu?" sinis Serra.

__ADS_1


Tentu saja Serra tahu kalau wanita itu saat ini tengah bersandiwara. Ia tahu bagaimana belangnya Gresy selama ini.


“Diam kamu!” bentak Steven pada wanita itu. “Lebih baik kamu pergi, aku akan segara urus surat perceraian kita!” sambungnya.


Serra terlihat kesal dan marah, tanpa kata ia langsung beranjak dari sana, wanita itu langsung menuju kamarnya, mengemasi barang-barang miliknya.


“Dia pikir aku mau bersama pria seperti dia, tidak! kalau bukan kerana dia kaya aku tidak Sudi, baiklah saatnya aku pergi, aku benar-benar sudah muak, aku rasa apa yang sudah dalam genggamanku saat ini, cukup untuk membiayai hidupku,” ucapnya.


Serra terlihat memasukan beberapa kotak perhiasan, dan beberapa dokumen penting ke dalam tasnya. Setalah selesai mengemasi semua barangnya itu, wanita itu pun langsung pergi meninggalkan rumah tersebut.


Serra tanpa kata-kata melewati Steven dan Gresy yang masih berada di ruang tamu tersebut.


Gresy merasa heran, kenapa dia tidak merasa keberatan pergi dari sini? Sudahlah, yang penting ia sudah berhasil membuat wanita itu pergi.


“Baiklah, aku akan memaafkan Ibu, tapi jangan membuat kesalahan lagi, satu kali lagi Ibu membuat kesalahan, aku tidak akan memaafkan ibu lagi!" tegas Steven, setalah itu ia pun berlalu dari sana.


Gresy bernapas lega. “Syukurlah aku masih aman, gara-gara si Serra namaku jadi buruk di mata Steven, lihat saja apa di bisa bertahan diluar sana,” sinisnya.


Sementara itu Elgert kini tengah berada sebuah tempat, pria itu terlihat tengah duduk berhadapan dengan seorang pria parubaya.


“Apa kabar Paman Sean?” tanya Elgert.


“Baik,” jawab Paman Sean.


“Ada apa Paman ingin bertemu denganku? Apa Domi yang memintamu untuk menemui ku?” tanya Elgert lagi.


“Tidak, dia sama sekali tidak tahu soal ini. Aku hanya ingin memperingati kamu, jagalah istrimu, Domi sedang mengincarnya.”

__ADS_1


“Dari mana Paman tahu soal ini?”


“Kau tidak perlu tahu, aku berbaik hati padamu memperingati dirimu Elgert!”


Elgert tersenyum sinis, “aku merasa heran pada Paman? Sebenernya Paman itu ada di pihak siapa? Paman sangat manut pada Domi, tapi sekarang Paman seolah menjadi pengkhianat seperti ini?”


“Aku tidak berada di pihak kalian berdua, aku masih berada di pihak Wilson, aku tidak suka kekerasan,” jawabnya.


“Lantas, kenapa Paman membiarkan Domi membuat kekacauan, harusnya paman menyampaikan semua ini pada dia!”


“Ayolah Elgert, kau sudah lama mengenalku, kau tau bagaimana aku. Aku juga sudah muak, aku ingin mengakhiri semua ini, tapi kau tau sendiri bukan, aku tidak bisa apa-apa, hanya kamu yang bisa membuat dia berhenti melakukan kekacauan ini.”


“Siapa sebenernya wanita itu? Kenapa kau menikahinya? Apa dia ada sangkut pautnya dengan semua ini?” lanjut Paman Sean.


“Dia bukan siapa-siapa, dia hanya wanita biasa. Apakah aku tidak boleh menikahinya? Kenapa Paman bertanya seperti itu?” balik tanya Elgert.


“Hey, aku sudah mengenalmu sejak bayi, apa kau pikir, aku tidak tahu apa yang ada di dalam otak kau itu?” sinis Paman Elgert.


“Lantas?”


“Apa dia Ketry Wilson?”


Elgert langsung menatap pria yang ada dihadapannya itu.


“Apa dugaanku benar? Kau bisa saja membohongi orang-orang, tapi tidak denganku Elgert!” sambung Paman Sean.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya ya, terima kasih.


__ADS_2