
“Aku yakin dia itu Gelora, hanya dihilangkan saja huruf depannya saja. Kenapa wanita itu bisa keluar begitu saja? Bukankah harusnya dia masih harus empat tahun lagi di penjara?” ucap Serra.
Kini mereka sudah diperjalanan pulang.
“Iya benar, Ibu juga yakin kalau dia itu Gelora. Pasti ada seseorang yang sudah membebaskan dia!" sahut Gresy.
“Kira-kira siapa ya, Bu? Sepertinya kita harus memastikan semuanya, gimana kalau besok kita ke kantor polisi saja!” usul Serra.
“Sudahlah, itu Gelora atau bukan, apa urusannya sama kita. Yang terpenting kita harus bisa menunjukan kalau kita itu layak berkerja sama dengan perusahaan mereka. Jangan terlalu mencampuri urusan orang lain, urusan saja urusan kalian masing-masing!” sahut Steven yang sejak tadi mendengar obrolan kedua wanita itu.
Terlihat Serra dan Gresy kesal, namun mereka pun memilih untuk diam. Namun dalam hati mereka akan melakukan yang tadi dibicarakan, akan ke kantor polisi untuk memastikan semuanya.
Kerena merasa aneh saja, kenapa tiba-tiba Gelora bisa keluar dari penjara belum waktunya. Pasti ada seseorang yang membebaskannya, tapi siapa? Apa jangan-jangan Alex? Mybe, tapi yang mereka tahu Gelora itu yatim piatu, tidak tahu siapa kebarat dan keluarganya.
Kenapa sampai bisa sekarang dia berada di posisi lebih unggul dari mereka. Ini tidak bisa dibiarkan, apa lagi Serra melihat jika tadi Gelora yang mengaku sebagai Elora itu, dan pemikiran perusahan yang meraka kunjungi itu menggoda suaminya.
‘Awas saja kalau dia berani menggoda suamiku, aku akan membuat perhitungan dengannya, tidak peduli siap dia, aku tidak takut. Aku malah berharap mereka tidak jadi kerja sama dengan Steven, lagian perusahan suamiku juga cukup menghasil, setidaknya setiap bulan aku masih mendapatkan uang yang jumlahnya cukup besar, bisa shopping dan memanjakan diri,’ batin Serra.
Tidak ada lagi pembicaraan di dalam mobil tersebut, ketiga orang itu larut dalam pemikiran mereka masing-masing.
Begitu juga dengan Steven, sebenarnya ia juga dalam batinnya ia membenarkan ucapan istri dan Ibunya itu, Elora itu pasti Gelora. Mungkin setalah mengantarkan Ibu dan istrinya pulang, Steven akan ke kantor polisi untuk memastikan semuanya.
__ADS_1
‘Apa itu benar kamu Gelora? Kenapa kamu bisa di sana, apakah benar kamu pemilik perusahaan tersebut?’ ucap Steven dalam hatinya.
Jika benar perusahaan itu milik Gelora, demi apapun Steven menyesali semuanya. Semua itu tidak mustahil, bisa saja bukan selama ini Gelora menyembunyikan identitas aslinya.
Andai saja ia masih menjadi suaminya, mungkin yang mendampinginya Gelora itu bukan Alex melainkan dirinya.
‘Aku harus cari kebenarannya, dan jika benar Elora itu adalah Gelora, aku akan membujuknya kembali bersama. Aku rasanya itu tidak mustahil, lihat saja tadi dia sempat menggodaku, aku yakin dia masih mencintaiku,’ batinnya lagi.
Begitu percaya dirinya seorang Steven itu, sepertinya ia menganggap enteng semuanya. Silahkan bermimpi dengan angan-anganmu itu. Gelora yang sekarang bukanlah Gelora yang dulu, jangan berharap Gelora memberikan mimpi indahmu itu, yang ada Gelora datang akan membuat kehancuran dalam hidupmu!
Tak lama kemudian akhirnya mereka pun sampai.
“Turunlah, aku masih ada urusan,” ucap Steven pada Serra dan Gresy.
“Sudah aku bilang, aku ada urusan. Sudahlah jangan banyak tanya, cepat keluar!” sentak Steven.
Kedua wanita itu pun keluar dari mobil tersebut, raut wajah keduanya terlihat bingung dengan sikap pria itu.
“Kenapa dia begitu, tidak sopan sekali!” gerutu Gresy sambil menatap mobil Steven yang mulai melaju kembali.
“Apa mungkin ini semua gara-gara si Elora alias si Gelora itu, Bu? Aku tadi sempat melihat tatapan wanita itu menggoda suamiku,” sahut Serra.
__ADS_1
Gresy langsung menatap kearah Serra. Namun bibirnya terlihat terbungkam rapat.
‘Jika benar Elora adalah Gelora, dan dia benar jika dia sempat menggoda Steven. Apa itu artinya wanita itu masih ada rasa dengan putraku? Hmm, kalau dipikir-pikir bukankah itu sangat menguntungkan? Kalau dia bisa bersama Stev, secara dia itu pastinya kaya raya,’ batin Gresy.
“Bu kok malah bengong sih!” sentak Serra.
Membuat wanita parubaya itu tersentak.
“Belanja yuk Bu, aku jenuh, pusing juga, butuh refreshing!” ajaknya.
“Kalau pusing istirahat aja, ngapain shoping, buang-buang uang tahu gak!” ketus Gresy, lalu ia berjalan meninggalkan Serra yang masih terdiam mematung itu.
Tentu saja Serra terkejut, kenapa reaksi Ibunya itu berbeda?
‘Memang benalu, rasanya aku menyesal sudah menikahkan Putraku dengan dia, wanita manja, bisanya cuman buang-buang uang saja, gak berguna!’ gerutunya dalam hati.
“Sepertinya aku harus mencari cara, jika benar Elora adalah Gelora, dia harus kembali menjadi menantuku, ah aku sangat cerdik memang,” gumamnya.
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, dengan like, komen, dan votenya ya.
__ADS_1
Terima kasih.