
“Bu-bukankah itu wanita sialan itu, Bu? Ke-kenapa dia ada di sini?” bisik Serra terbata-bata pada Gresy.
“Iya dia Gelora, bukan? Kenapa di sini?” Gresy membalas dengan bisikan juga.
Kedua terlihat terkejut melihat seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan ia itu. Begitu pula dengan Steven, pria itu tak kalah terkejut, bahkan wajahnya pun terlihat sang pias.
“Hallo, selamat datang. Perkenalkan saya Alex dan ini Ibu Elora, beliau adalah pemilik perusahaan ini,” ujar Alex membuka percakapan dengan mereka. Tak lupa ia juga memperkenalkan Gelora yang menyamarkan namanya dengan Elora itu.
Gelora tersenyum anggun, lalu ia melepaskan kacamata hitam yang sejak tadi berteger di hidung mancungnya itu.
“Hallo semua saya Elora,” ucap Gelora.
Kini Steven, Serra dan Gresy bisa melihat jelas wajah wanita itu. Ya, benar. Mereka tidak salah itu adalah Gelora. Tapi kenapa wanita itu ada di sini? Bukankah dia seharusnya masih mendekam di penjara, terus kenapa dia mengaku sebagai pemilik perusahaan ini? Apakah mereka tidak salah dengar? Pikir mereka.
Dalam hati Gelora merasa puas saat melihat ketiga wajah orang-orang yang selama ini sudah membuatnya menderita, dan sekarang ia mengerti, inilah rencananya Elgert. Pria yang bergelar suaminya itu ternyata, menempatkan posisi Gelora lebih tinggi kedudukannya dengan mantan suami dan keluarganya itu. Ah ini sangat menyenangkan bukan.
“Kenapa kalian semua diam? Apakah ada yang salah?” tanya Alex. Sengaja bertanya demikian, agar seolah ia tidak tahu apa yang sudah terjadi.
“Ah, iya maaf, Pak Al ... ”
“Maaf Pak Alex, apakah anda yakin jika wanita ini pemilik perusahaan ini? Kok saya tidak yakin ya?” sela Serra, memotong ucapan Steven.
“Benar, memangnya kenapa? Bu Elora memang pemilik perusahaan ini, ya memang selama ini dia jarang sekali datang ke perusahaan, dia sangat sibuk. Jadi selama ini saya yang mengurus semuanya, saya adalah tangan kanannya Bu Elora. Sebenernya kalian sangat beruntung bisa bertemu secara langsung dengan pemilik perusahaan ini,” jawab Alex.
Gelora tersenyum sinis pada mantan Adik iparnya itu.
“Oh, tapi kok dia sangat mirip dengan wanita yang pernah ingin menghabiskan nyawa saja, Bu Elora sangat mirip dengan mantan Kakak ipar saya Gelora,” papar Serra, ia membalas senyuman sinis pada Gelora, ia sangat yakin jika Elora adalah Gelora.
‘Hahaha ... kau pikir bisa membodohi aku Gelora, aku yakin itu kamu. Apa maksudnya semua ini, apakah kamu menjadi simpannya Pak Alex dan memanfaatkan kondisi ini, sangat menjijikan,’ batin Serra.
‘Kau memang tidak berubah Serra, ucapanmu selalu tajam, lihat saja sekarang kau masih bisa tenang, tapi nanti aku akan membuatmu bertekuk lutut di bawah kakiku,’ batin Gelora.
__ADS_1
“Iya benar, dia sangat mirip dengan mantan mantu saya yang sialan itu, atau ... bisa jadi dia orang yang sama,” timpal Gresy sinis.
Sementara Steven ia hanya terdiam, tatapan tak lepas dari wanita itu. Steven pun sangat yakin jika dia adalah Gelora. Dalam hati ia marasa bahagia, syukurlah jika benar dia Gelora, ternyata mantan istrinya itu sudah keluar dari penjara, jujur Steven sangat merindukannya, apa lagi melihat Gelora yang sekarang, sangat berbeda, terlihat cantik, berkelas, sangat sempurna di matanya.
Gelora hanya tersenyum menanggapinya, bahkan ia terlihat sangat santai.
“Sepertinya kalian salah orang, dia Bu Elora, bukan Gelora. Saya tidak mengenal siapa itu Gelora yang kalian maksud, tap Bu Elora saya sudah mengenalnya sejak dulu,” ungkap Alex.
“Halah, saya gak percaya. Udah deh kamu gak usah sok-sokan menyamar begini. Kamu pikir kami akan percaya, mengaku saja kalau kamu itu Gelora kan! Ck, pake sok-sok menyemarakan jadi pemilik perusahaan ini pula, atau jangan-jangan kamu ini simpanan Pak Alex ya? Dan kamu memanfaatkan posisinya. Bener-bener wanita mura ... ” Belum saja Serra menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Steven menyela ucapan wanita itu.
“Serra diam!” pekik Steven sambil menatap tajam kearah wanita yang kini berstatus istrinya itu.
“Cukup! Rasanya saya menyesal sudah mengundang kalian semua ke sini. Pak Steven bukankah kalian semua orang berpendidikan? Kenapa kalian seperti orang yang tidak pernah merasakan bangku sekolah? Sejak tadi saya sudah sabar dan diam, tapi kalian semua keterlaluan. Saya rasa, saya harus mempertimbangkan kembali kerjasama kita, karena etika Pak Steven dan kelurga sangat minus!” tegas Alex.
Steven, Serra dan Gresy langsung terdiam, mereka kenalan silivanya dengan kasar. Tidak! jangan sampai kerjasama ini tidak jadi, ini kesempatan yang sangat langka, dan sangat menguntungkan bagi perusahan Steven jika bisa berkejaran sama dengan perusahaan ini.
“Mohon maaf, Pak Alex dan Bu Elora, atas ketidak nyamanan ini, saya menyesal. Saya berharap masih ada kesempatan, saya berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi,” ucap Steven, ia menundukkan kepalanya menyesal.
“Kalian sangat keterlaluan! Di sini kita akan membicarakan soal bisnis bukan masalah pribadi, dan saya serta Bu Elora sama sekali tidak mengenal orang yang kalian maksud, paham?” sentak Alex.
Sontak mereka bertiga yang masih menunduk kepalanya itu pun, mengangguk pelan.
Gelora bener-bener merasa puas melihat mantan suami dan keluarganya itu ketakutan.
‘Ternyata benar, kekuasan paling berperan di kehidupan, baiklah saatnya bermain-main dengan ketiga orang sialan ini,’ seru Gelora dalam hatinya.
“Bagaimana Bu Elora, apakah kita sudahi saja semuanya, rasanya masih banyak perusahan yang lebih baik dari perusahan milik Pak Steven, dan mereka lebih bisa menghargai orang lain,” ujar Alex pada Gelora.
Steven, Serra dan Gresy pun sontak mengangkat kepalanya, lalu menatap kearah Gelora.
Gelora tersenyum angkuh, melipatkan kedua tangannya di depan dada, lalu menatap ketiga orang itu dengan tatapan menyalang.
__ADS_1
“Kita harus bijaksana Pak Alex, ya setidaknya kita beri dulu Pak Steven kesempatan,” sahut Gelora.
Senyuman terlihat terulas dari bibir Steven, ia merasa sedikit lega. Sementara Serra dan Gresy nampak tidak suka, namun mereka tetap memaksakan senyumannya.
Muak sekali rasanya Gelora melihat sikap kedua wanita yang tidak punya hati itu.
“Apa anda yakin Bu Gelora?” tanya Alex.
“Ya tidak ada salahnya bukan, kita jangan menghakimi orang lain terlebih dahulu. Mereka sudah meminta maaf, setidaknya kita harus menghargai maaf dari mereka,” ucap Gelora.
Alex terlihat menganggukkan kepalanya.
“Oh iya, dan untuk kamu, siapa namamu?” sambung Gelora bertanya pada mantan Adik iparnya itu.
“Saya Serra, istrinya Steven,” jawab Serra. Sengaja ia memperkenalkan diri sebagai istrinya Steven.
‘Mari kita lihat ekspresinya, aku yakin dia terkejut, dan jika itu terjadi, maka benar, kamu adalah Gelora!’ lanjut Serra dalam hatinya.
“Oh jadi anda istrinya, wah-wah saya tidak menyangka loh, saya kira Pak Steven belum menikah, padahal saya sangat tertarik pada Pak Steven,” ujar Gelora, ia melirik kearah Steven dengan senyuman yang menggoda.
Diluar dugaan, niatnya ingin mengejutkan wanita itu, tapi malah dirinya sendiri yang terkejut. Serra bener-bener merasa kesal, apa lagi saat melihat wanita itu tersenyum genit pada suaminya.
Sementara Steven ia terlihat tergugup.
“Hahaha ... saya bercanda kok. Tenang saja saya bukan musuh dalam selimut, apa lagi pelakor yang menusuk dari belakang, bukankah itu sangat menjijikan, iyakan Serra?” ucap Gelora.
Serra terlihat gelagapan, sial kenapa ucapannya seolah tangah menyindir dirinya.
‘Kau pikir aku Gelora yang dulu, haha ... Serra, Serra, jadi ini niatmu mengapa sampai memfitnah, jadi kamu menyukai Kakakmu sendiri, benar-benar memalukan. Baiklah, seperti aku ketinggalan informasi banyak tentang keluarga sialan ini,’ lanjut Gelora dalam hatinya.
Bersambung ...
__ADS_1