
Gelora terdiam, ia benar-benar terjebak, bukan terjebak melainkan ia seperti di jebak oleh prai yang berstatus suami itu. Terpaksa Gelora pun menyetujui perjanjian tersebut, ia menanda tanganinya.
Elgert tersenyum penuh kemenangan usai melihat tanda tangan wanita itu sudah tertulis di surat perjanjian yang ia buat.
“Baiklah, bersiap-siaplah, besok kamu akan mulai membalaskan dendam kamu pada mereka,” ucap Elgert.
Gelora hanya tersenyum sinis, baiklah setidaknya dengan cara ini ia bisa membalas Steven.
“Mulai besok kamu akan menganggukkan salah satu orang kepercayaanku, kamu akan menjadi Direktur di salah satu perusahan milikku,”
“Aku tidak ahli di bidang seperti itu, dan apa hubungannya balas dendamku dengan semua itu?” sela Gelora.
“Hey, saya belum selesai berbicara!”
“Oh sorry, oke lanjutkan!” titah Gelora, tidak ada rasa bersalah sama sekali terlihatnya.
Ck! Elgert berdecak kesal. Untuk pertama kalinya ia diperlakukan seperti itu, perkataan wanita itu seolah tengah memerintahnya, sialan memang.
“Besok kamu akan mengerti, sekarang keluarlah saya banyak kerjaan!” usirnya.
Gelora terlihat membulatkan matanya, apa-apa ini? Kenapa tidak dijelaskan sekarang saja.
“Kenapa tidak sekarang saja?”
“Sudahlah moodku hancur gara-gara kamu, jadi kamu lihat saja besok, kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan, tenang saja anak buahku akan mengawasimu dan menuntutmu, mengajari kamu semuanya. Sebaiknya kamu pergi sana.”
‘Benar-benar menyebalkan,' batin Gelora.
Ia pun segara beranjak dari sana.
“Eh tunggu!” panggil Elgert saat Gelora hendak keluar.
‘Apa lagi sih? Tadi ngusir, sekarang dipanggil lagi, bikin emosi jiwa ini orang!’ ucap Gelora dalam hatinya.
__ADS_1
Ingin rasanya Gelora berucap seperti itu secara langsung, akan tetap ia tidak boleh gegabah. Sudah cukup dengan perjanjian konyol yang dibuat oleh pria itu, jangan sampai ada lagi syarat-syarat yang tidak masuk logika. Lebih baik ia menurut saja.
Gelora pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh, tak lupa ia memasang senyuman manisnya.
“Iya kenapa Tuan?” tanya Gelora.
“Jangan lupa, dengan perjanjiannya, kamu harus mengingatnya terus, kalau kamu melanggar, hukuman akan menantimu,” jawab Elgert.
“Ah iya, tentu saja saya akan mematuhinya Tuan Elgert yang terhormat,” ucap Gelora dibuat ramah.
“Bagus! Sini jangan keluar temani saja aku di sini,” pintanya.
“Tapi, bukankah anda banyak kerjaan?”
“Aku bilang temani aku!” ucap Elgert penuh penekanan.
Gelora menghelai napasnya, mau tidak mau ia pun menurut. Gelora kembali menghampiri Elgert.
“Duduklah di sini,” pintanya sambil menepuk pangkuannya.
“Cepat!” sentak Elgert.
“I-iya.”
Dengan ragu Gelora pun duduk dipangkuan Elgert, pria itu langsung memeluknya, membenamkan wajahnya di punggung Gelora.
Aroma khas wangi wanita itu membuat sesuatu bangkit di bawah sana. Tangan Elgert mulai berjelajah tubuh istrinya itu.
Gelora merasakan semua bulu romanya langsung berdiri seketika saat pria itu menyentuh kulitnya.
“Mari kita melayang bersama,” bisik Elgert.
Gelora hanya pasrah, untuk kedua kalinya pria itu kini menguasainya.
__ADS_1
*
*
*
Sementara itu di tempat lain.
Seorang pria terlihat baru saja sampai di rumahnya, senyuman terlihat terambang dari bibir pria tersebut.
“Bu ... ” panggil saat masuk ke dalam rumah.
“Iya, kamu sudah pulang Stev? Tumben sekali?” seorang wanita menyahutnya, yang tak lain adalah istrinya.
“Iya, aku punya kabar bagus,” jawabnya.
“Wah, kabar bagus apa nih?” sahut seorang wanita parubaya, yang tak lain adalah Ibunya.
“Salah satu perusahan terbesar ngajak kerjasama, dan besok mereka mengudang kita ke perusahannya,” jelas pria yang bernama Steven tersebut.
“Wah benarkah?” kedua wanita itu terlihat berbinar bahagia.
“Iya, kamu dan Ibu akan ikut, mereka meminta ku untuk datang bersama ke sana.”
“Loh, kok aneh, kenapa kita harus ikut juga?” tanya Serra—istrinya.
“Ya aku gak tahu, pokoknya besok kalian ikut saja, dan persiapan penampilan kalian sebaik mungkin, kalau kita bisa berkerja sama dengan perusahaan itu, kita akan untung banyak,” seru Steven.
Lagi-lagi kedua wanita itu kembali berbinar, jika mendengar kata untung, apa lagi menyangkut uang, keduanya paling depan, uang adalah segalanya bagi mereka.
“Lihatkan Steven, sejak kamu menikahi Serra, rezeki kamu semakin lancar, jadi jangan ragukan pilihan Ibu, tidak usah mendengarkan kata orang, kalian itu bukan saudara kandung, tidak ada ikatan darah," papar Gresy.
Serra terlihat tersenyum bangga, sementara Steven hanya tersenyum tipis. Entahlah, walaupun ia tahu jika dirinya dan Serra bukanlah saudara, dan atas permintaan sang ibu kini wanita yang asalnya berstatus sebagai adiknya itu kini menjadi istrinya.
__ADS_1
Namun sampai saat ini dalam lubuk hati yang paling dalam, Steven tidak bisa menerima Serra, hatinya masih terpaut pada mantan istrinya.
Bersambung ...