Gelora Hasrat Sang Penguasa

Gelora Hasrat Sang Penguasa
Bab 7. Bicara Empat Mata


__ADS_3

Ceklek!


Pintu ruangan tersebut terbuka, nampak Gelora muncul dari balik pintu tersebut.


“Masuklah Gelora,” titah Elgert pada wanita itu.


Gelora mengangguk, lalu ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Ada apa?” tanya Gelora langsung pada intinya.


“Duduklah,” pinta Elgert, memintanya untuk duduk, raut wajah pria itu terlihat sangat datar.


Gelora pun duduk di kursi yang berada di depan Elgert.


“Ini, bacalah dan tandatangani di sana.”


Elgert memberikan sebuah map pada Gelora.


Wanita itu terlihat menyipitkan matanya, membuat alisnya yang terukur indah itu menyatu.

__ADS_1


“Apa ini?” Gelora bertanya namun tatapannya masih menatap lekat map tersebut.


“Apa saya harus mengulangi ucapan saya barusan? Saya rasa indra pendengar kamu masih baik, bukan?” sinis Elgert.


Entahlah, Gelora tidak paham dengan sikap pria yang menjadi lawan bicaranya itu, sikapnya berubah-ubah, kadang lembut, kasar, datar, dingin, sungguh menyebalkan!


Apa dia punya kepribadian ganda?


Gelora pun mulai membuka map tersebut, wanita itu terlihat bingung.


“Surat kontrak pernikahan?” ucap Gelora.


Gelora harus menyembunyikan identitasnya sebagai istri dari Elgert. Dan masih banyak yang lainnya lagi. Perjanjian yang menurut Gelora sangat konyol.


'Apa ini? Aku harus menuruti semua poin-poin di sini? Perjanjian macam apa ini? Sangat konyol!’ ucap Gelora dalam hatinya.


“Sudah pahamkan dengan isinya, silahkan kamu tanda tangani itu,” titah Elgert.


“Apakah ini penting? Apa saya wajib menyetujuinya?”

__ADS_1


“Tentu saja,” jawab Elgert. “Tapi jika kamu tidak setuju, terserah. Keputusan ada di tanganmu, kamu menyetujui semua itu, maka saya juga akan menepati janji saya, membantu kamu membalas dendam pada mantan suami kamu. Dan jika tidak, tentu saja kamu sudah tahu bukan apa yang akan terjadi?” imbunnya.


“Tapi, ini perjanjian yang anda buat sangat konyol! Ini sangat merugikan saya, bahkan saya harus menganti nama saya, apa maksudnya coba? Saya tidak mau!” tegas Gelora.


“Yakin?” sinis Elgert.


“Ya saya sangat yakin. Karena perjanjian yang anda buat sama sekali tidak masuk akal. Bahkan jika saya melanggar, di sana tertulis saya harus mendapatkan hukuman! Sebenernya apa tujuan anda membebaskan saya? Hanya untuk pemuas nafsu saja, iya begitu? Saya merasa menyesal sudah menerima tawaran anda Tuan Elgert, anda sangat licik!” pekik Gelora.


Bagaimana ia tidak kesal, poin-poin yang dibuat oleh pria itu, seperti seolah-olah mengekang kehidupan Gelora, ia tidak merasa tidak akan bebas melakukan apa saja, kalau seperti ini sama saja Gelora seperti seorang tahanan, hanya beda tempat.


“Gelora, Gelora, kamu pikir di dunia ini ada yang mudah? Kamu pikir di dunia ini ada yang gratis? Come on, not stupid! ya anggap saja jika semua itu rasa terima kasih kamu pada saya. Dan satu lagi perkataan kamu yang menganggap jika saya menjadikan kamu ‘pemuas nafsu’ saya rasa itu tidak. Saya berhak atas diri kamu, saya berhak atas semua yang kamu miliki, kerena apa? Karena kamu sudah menjadi istriku, bukankan itu hal yang biasa, Nona Gelora?” papar Elgert, senyuman menyingrai terlihat dari bibir pria itu.


“Tapi caramu tidak seperti memperlakukan saya seperti istri anda, Tuan Elgert!” tegas Gelora.


“Hahaha ... ” tawa Elgert menggema memenuhi ruangan tersebut.


Gelora terlihat ketakutan, tawa dari pria yang berstatus suaminya itu terlihat sangat mengerikan.


“Tanda tangan, atau kamu saya masukan lagi ke penjara!”

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2