
"Nah anak-anak, sekarang kita sudah sampai di Semarang, kalian beristirahatlah dulu di hotel." Kata Ibu guru.
Sekolah mereka adalah sekolah khusus untuk anak-anak konglomerat, sehingga pihak sekolah tidak boleh sembarangan memilih tempat untuk menginap, pihak sekolah memilih Gumaya Tower Hotel Semarang sebagai tempat untuk menginap selama wisata di sana. Hotel ini memiliki spa dan kolam renang luar ruangan. Dua restoran dan lounge juga selalu menanti kehadiran pengunjung.
Lounge berbeda dengan diskotik, bar atau club-club malam karena biasanya orang-orang yang masuk kesana selalu berpakaian rapi dan sopan, minum-minum sambil bersantai dengan gaya yang lebih elegan.
Kamar-kamarnya modern di lengkapi Minibar, TV layar datar dan AC. Fasilitas lain yang tersedia adalah fasilitas untuk membuat teh/kopi. Kamar mandi pribadinya dilengkapi dengan bathtub untuk berendam dan memanjakan diri.
Di restoran The Noble Court menyediakan masakan khas Tiongkok sedangkan Cascade International Restaurant menawarkan masakan favorit ala Barat dan Asia.
Tidak salah jika sekolah memilih Gumaya Tower Hotel sebagai tempat menginap yang tepat untuk anak-anak konglomerat itu.
"Satu kamar dua anak, ambil dan simpan kunci kamar kalian masing-masing sesuai angka-angka."Seorang guru memberi komando.
Pihak sekolah dan hotel sudah menyetujui kesepakatan untuk memberi nomor khusus di setiap kamar siswa untuk membantu guru memudahkan kan pengecekan. Nirmala dan Anah mendapat kamar nomor 5 sementara Salsa dan Ruby di kamar sebelahnya yaitu kamar nomor 6.
Tirta dan Jeff dikamar nomor 11. Sementara Bharata bersama teman satu kamarnya di nomor 12.
"Anah, kamu mau kemana? Kita kan baru sampai. Istirahatlah dulu," Kata Nirmala.
"Aku mau ke kamar Jeff," Jawab Anah sambil berlari mencari kamar Jeff.
Saat Nirmala sedang merapikan barang bawaan, seseorang datang mengetuk pintu kamar nya.
Tok ... tok ... tok ...
"Siapa?" Tanya Nirmala sambil membuka pintu kamarnya.
"Oh Tirta, ada perlu apa?"
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin melihatmu saja," sambil tersenyum.
"Aku kira ada apa, mau ku buatkan teh?"
"Tidak usah, terimakasih. Aku hanya ingin melihatmu saja," Tirta kembali mengulang ucapannya.
Nirmala kemudian duduk di samping Tirta. Tirta yang selalu terlihat murung di sekolah, selalu bisa menebar senyum jika bersamanya. Tirta merupakan ketua osis, dia juga jago bermain basket. Tapi sifatnya yang tertutup dan cenderung pendiam, dia jadi kurang memiliki teman. Hanya Bharata yang selalu setia menemaninya.
"Bagaimana kalo kita jalan-jalan di sekitar hotel, di sebelah sana ada kolam renang," Tirta mencoba mengajak Nirmala.
"Baiklah, ayo,"
Nirmala menutup pintu kamar dan membawa kuncinya. Anah juga tidak akan mencarinya karena dia sedang fokus dengan Jeff. Anah pasti akan lupa waktu kalau sudah bersama dengan Jeff.
Nirmala duduk di pinggir kolam renang. Kakinya ia masukan kedalam air. Tirta pergi membeli minuman dingin di restoran.
"Ruby, Ruby. Liat disana," Salsa menunjuk ke arah Nirmala.
Ruby melihatnya.
__ADS_1
"Cepat kamu kesana dan dorong dia ke kolam renang, cepat." perintah Salsa kepada Ruby.
"Enggak, aku gak mau," Ruby menolak.
"Cepetan," Salsa terus memaksa.
Akhirnya Ruby pun dengan ragu-ragu menuruti perintah Salsa. Dia berjalan menuju ke kolam renang sambil sesekali menoleh ke belakang melihat Salsa dan menggelengkan kepala. Menandakan Ruby sebenarnya tidak mau melakukannya.
"Cepetan," Dari jauh Salsa terus memerintah.
Byuurr ...
Nirmala berhasil di dorong oleh Ruby. Ruby yang ketakutan langsung berlari sebelum ada orang yang melihat.
"Bagus, tos dulu dong." Salsa sangat bahagia karena rencananya berhasil.
"Aku takut ketahuan," Ruby merasa ketakutan.
"Tenang, gak ada yang liat kok," Salsa menenangkan Ruby.
"Ayo cabut," Salsa mengajak pergi.
Sementara itu Nirmala yang basah kuyup langsung berlari menuju ke kamar. Jeff yang melihatnya dalam keadaan seperti itu langsung menghampiri, tapi terlambat karena Tirta lebih dulu sampai di dekat Nirmala.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Tirta
"Tidak tahu, sudah ya aku mau ganti baju dulu"
Tirta masih bertanya-tanya siapa orang yang sengaja mendorong Nirmala ke kolam renang. Berbeda dengan Jeff, dia langsung tahu siapa dalang di balik itu semua.
"Aku puas banget tahu, wuhuuu ...." Kata Salsa.
"Tapi Salsa, bagaimana kalo ada yang tahu?"
"Ruby, kamu tidak usah khawatir," Salsa menenangkan Ruby kembali.
"Sudah ku duga," Jeff muncul tiba-tiba.
"Jeff, sejak kapan kamu ada disitu?" Tanya Salsa.
"Bagaimana Jeff, kau juga senang kan?" Salsa melanjutkan pertanyaannya.
Ruby sedikit banyak mengerti tentang perasaan Jeff kepada Nirmala.
"Maaf Jeff, tolong jangan marah sama aku?" Ruby meminta maaf.
"Maksud kamu apa Ruby? ngapain kamu minta maaf sama Jeff?" Salsa keheranan.
"Salsa, apa kau tidak tau sesuatu?" tanya Ruby.
__ADS_1
"Tahu apa?"
"Jeff itu kan ...."
"Jeff apa? kamu kalau bicara yang jelas dong,"
"Jeff itu ...."
"Sudah-sudah, jangan di bahas lagi. Kalau sampai ada guru yang tau, kalian pasti kena hukuman." Kata Jeff sambil berlalu meninggalkan Salsa dan Ruby.
Jeff mendatangi Nirmala. Anah bahagia tak terkira karena melihat laki-laki idaman nya datang ke kamar.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Jeff.
"Peduli apa kamu sama aku?" Jawab Nirmala ketus.
"Kamu ini, tidak tahu diri! aku datang karena aku khawatir!" Jeff berteriak marah-marah.
Anah kebingungan dan mulai berfikir kalau Jeff menyukai Nirmala. Jeff memang sering memberi perhatian lebih kepada Nirmala. Tapi kali ini matanya benar-benar memperlihatkan ada sesuatu di hati Jeff. Anah sedikit menyadari, Jeff menyukai Nirmala.
Anah merasa seperti di sambar petir pada hari dimana cuaca sangat cerah. Tidak ada mendung ataupun hujan. Dia sangat terpukul, dia mendadak diam dan bahkan susah untuk menggerakkan tubuhnya. Nirmala yang didorong ke dalam kolam renang tapi Anah yang merasa menggigil.
Dia mencoba untuk menahan perasaan sakit hatinya, dalam keadaan sepertu itu, dia melihat Jeff membuatkan teh hangat untuk Nirmala. Nirmala dengan cepat mampu memahami perasaan temannya, dia menolak teh hangat pemberian dari Jeff dan menyuruhnya untuk segera pergi.
Nirmala melihat Anah tidak seperti biasanya yang ceria. Mendadak Anah diam dan tidak berbicara sepatah kata pun. Sampai akhirnya Anah mengeluarkan isi hati dan kecewanya.
"Kenapa kamu tega sama aku, Nirmala? Selama ini aku selalu membantumu, aku mau berteman denganmu walaupun kamu miskin, walaupun kamu anak pembantu!" Anah marah dan memaki Nirmala.
Hati Nirmala merasa seperti tertusuk pisau, sahabatnya sendiri yang selama ini selalu baik tiba-tiba berubah dan bahkan tega menyakiti hatinya dengan kalimat-kalimat yang seharusnya tidak dia ucapkan. Nirmala mencoba untuk bersabar.
"Anah, kamu salah paham," Nirmala mencoba menenangkan Anah.
"Kamu jahat Nirmala, kamu jahat! Kamu tahu kan? aku suka sama Jeff, tapi kenapa kamu tega merebut Jeff dari aku!" Anah berteriak sambil menangis.
Nirmala terdiam. Dia tidak tahu harus berbuat apa supaya sahabatnya itu bisa memaafkan nya. Nirmala juga bisa merasakannya kalau Jeff memang menyukainya.
"Anah, anah kamu tenang dulu. Kamu tahu Kevin kan? yang kemarin malam mengantar ku ke sekolah, " Nirmala masih terus berusaha menenangkan sahabatnya.
"Iya, kenapa?"
"Aku tidak mungkin berpacaran dengan Jeff, karena aku sudah punya Kevin," Nirmala terpaksa berbohong untuk menghibur hati sahabatnya.
"Benarkah?" Anah bertanya untuk meyakinkan diri.
Nirmala mengangguk.
Jeff ternyata masih belum pergi, Jeff masih ada di depan pintu dan mendengar semua ucapan Nirmala. Saat Nirmala melihat ke depan, Nirmala melihat Jeff. Mereka saling berpandangan. Jeff sudah mendengar semua pembicaraannya.
Kali ini Jeff yang patah hati. Dia pergi berjalan ke tempat yang lebih tinggi. Jeff berdiri terdiam menatap ke langit, dia mengepalkan kedua tangannya serasa ingin memukul seseorang. Sesekali dia juga memegang kepala dan mengacak-acak rambutnya sendiri sambil berteriak.
__ADS_1
Tirta datang menghampirinya. Ternyata selain Jeff, Tirta juga mendengar ucapan Nirmala yang mengakui Kevin sebagai pacarnya. Keduanya merasakan patah hati, tapi Tirta terlihat lebih kalem dan tegar menghadapi kenyataan pahit itu. Selama ini Tirta sudah terbiasa merasakan sakit hati, Tirta terbiasa sejak kedua orang tua nya yang setiap hari bertengkar hingga akhirnya bercerai.
Berbeda dengan Jeff. Semua keinginannya harus terpenuhi, harus sesuai dengan kehendaknya, jika tidak maka dia tidak akan pernah bisa menerimanya dan akan selalu berusaha melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.