
Hari ini adalah hari sabtu sore, Nirmala terlihat sedang sibuk dengan PR nya.
"Besok kan libur, Non." Gak santai aja dulu?" Kata bi Sona yang melihat Nirmala sedang fokus di meja belajarnya.
"Bibi, biarpun libur PR nya tetap harus di kerjakan." Jawab Nirmala.
Bi Sona menggelengkan kepalanya sembari tersenyum dan meninggalkan Nirmala sendirian di kamarnya. Nona mudanya memang sangat rajin perkara pelajaran sekolah, tidak heran jika dia selalu bisa mengalahkan peringkat Ruby dan juga Tirta.
Nirmala melanjutkan fokusnya setelah bi Sona keluar dari kamar tidurnya. Tapi baru saja dia kembali memegang bolpointnya, tiba-tiba handphonenya berdering. Panggilan masuk dari Jeff, namanya tertera jelas di layar handphone. Nirmala tidak menggubris panggilan itu dan malah menonaktifkan handphonenya.
Maaf, nomor yang ada tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.
Hanya suara itu yang terdengar berkali-kali ditelinga Jeff.
"Ya ampun, segitunya." Gumam Jeff.
Jeff menghela napas kemudian meraih remot tv yang berada di meja. Dia duduk dengan santai di sofa ruang keluarga. Memakan keripik kentang sambil menikmati acara yang di sajikan.
Tap ... Tap ... Tap ...
Terdengar langkah kaki Chika, kakaknya. Jeff melihat penampilan kakaknya kali ini berbeda dari biasanya. Lebih glamour dan terlihat sangat bahagia. Dia berputar-putar sambil bercermin tidak jauh dari tempat Jeff duduk. Membuat adiknya bertanya-tanya ada apa gerangan.
"Kak." Panggil Jeff.
Chika langsung berjalan mendekati adiknya.
"Kenapa Jeff, bagaimana penampilan kakak?" Tanya Chika saat sudah sampai didekat adiknya.
Jeff melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lalu dengan polosnya dia berkata, " Cantik, tapi masih lebih cantik Nirmala."
Seketika Chika langsung memukul adiknya.
"Aduh ...." Jeff memegang kepalanya setelah mendapat pukulan dari kakaknya.
"Aku berkata jujur kak, Nirmala itu gadis yang paling cantik yang pernah aku lihat. Belum pernah ada yang secantik dia dimuka bumi ini." Kata Jeff.
Kali ini dia bukan hanya mendapat pukulan tapi juga cubitan yang menyakitkan.
"Sekali lagi kamu bicara, kakak tidak akan segan-segan memotong uang jajanmu."
"Ya sudah, kakak ku yang paling cantik dan tiada duanya. Emang kakak mau kemana?" tanya Jeff penasaran.
"Ke rumah Kevin, kakak dapat undangan makan malam." Jawab Chika.
"Tidak mungkin."
__ADS_1
"Apa kau bilang, dasar adik tidak punya sopan santun." Chika terlihat mulai emosi dan memukul Jeff lagi.
Jeff kemudian lari dari tempat duduknya menuju ke kamar.
"Pulangnya jangan malam-malam ya kak?" Ucap Jeff lagi sambil kemudian menutup pintu kamarnya dan merebahkan badannya di kasur.
Chika mulai berangkat ke rumah Kevin, dia memilih untuk naik taksi.
***
Sesampainya di rumah Kevin. Ibu Kevin menyambut Chika dengan penuh kebahagiaan, sayangnya Kevin tidak nampak di hari istimewa ibunya.
Chika menoleh ke kanan dan ke kiri, ke setiap sudut ruangan. Tapi tetap saja dia tidak memperoleh apa yang ingin dia lihat.
"Tante, maaf. Kevin tidak ada di rumah?" tanya Chika.
"Oh, Kevin sedang ada urusan. Makanya Tante minta kamu buat nemenin tante makan malam. Kevin memang selalu sibuk." Jawab Ibu Kevin sambil tersenyum.
Chika terheran, jadi maksudnya apa dia diundang ke rumah?
"Chika." Panggil ibunya Kevin.
"Iya, Tan." Jawab Chika singkat.
"Kamu kan udah lama nih ya, kenal sama Kevin. Apa Kevin gak pernah cerita gitu soal perempuan?" tanya Ibunya Kevin sambil menyuap makanan ke mulutnya.
Mendengar penuturan dari ibunya Kevin, mendadak Chika kehilangan selera makannya. Dia bahkan kesulitan mengunyah udang yang terlanjur dia masukan ke mulutnya. Dia benar-benar kehilangan selera makan. Padahal ibu Kevin sudah menyiapkan banyak hidangan mulai dari kimchi ala korea, ayam kung pao, udang goreng saus mayones, buncis schezuan, kakap renyah saus cabai dan tahu pong. Tapi semua itu sama sekali tidak menggugah selera nya.
Mendadak perut Chika terasa penuh dan wajahnya memerah.
"Chika, kamu tidak apa-apa kan? Wajah kamu sampai merah begitu? Apa masakannya kurang enak?"
"Enak kok tante, enak." Chika mencoba menyembunyikan rasa kesalnya.
Ibu Kevin kemudian menuangkan air putih ke dalam gelas dan menyerahkannya kepada Chika.
"Ayo minum dulu Chik." Pinta ibu Kevin.
Chika kemudian meminum air di gelas itu sampai habis dan membuatnya sedikit bisa bernapas lega. Tapi kemudian dia tanpa basi-basi minta izin untuk pulang. Ibu Kevin merasa sangat heran kenapa Chika mendadak minta pulang dengan cepat seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, ibu Kevin tidak bisa menahannya.
"Ya sudah, hati-hati ya?"
Chika kemudian melangkah keluar rumah, betapa kagetnya ia saat membuka pintu dan di lihatnya Nirmala berada tepat di depan pintu itu. Ya Nirmala juga mendapat undangan dari ibunya Kevin, saat dia baru sampai di depan pintu dan belum sempat menekan bel, pintu sudah terbuka. Chika yang membukanya dan dia sangat kaget melihat kehadiran Nirmala.
"Ah, anak Mami sudah datang." Kata ibunya Kevin melihat kedatangan Nirmala.
__ADS_1
Nirmala terdiam, sementara Chika bersungut-sungut menoleh ke arah ibunya Kevin berlanjut menatap ke arah Nirmala. Dia lalu berjalan dengan langkah yang cepat tanpa permisi, Nirmala juga masih belum sempat mengucapkan kalimat sapaan apapun.
"Ayo, masuk sayang." Ajak ibu Kevin.
Nirmala kemudian masuk dan menikmati makan malam dirumah Kevin. Mereka terlihat sangat akrab, ibu Kevin bahkan menyuapi Nirmala makan. Dia memang menginginkan punya anak perempuan, tapi bayi yang di lahirkan nya adalah Kevin, seorang anak laki-laki. Itulah sebabnya dia senang apabila bisa dekat dengan Nirmala, walaupun dia kurang menyukai Wulandari, ibu Nirmala.
Sementara itu, Kevin yang sedang ada urusan dengan temannya malas pulang ke rumah karena mengira dirumahnya masih ada Chika. Entah sejak kapan, Kevin mulai tidak suka berdekatan dengan Chika lagi, padahal sebelumnya mereka sangat dekat walau hubungannya hanya sebatas teman.
Kevin nongkrong di kafe tidak sendirian, dia bersama dengan seseorang yang memiliki kedudukan sama sepertinya sebagai direktur utama. Hanya saja perusahaan mereka berbeda, Riko. Riko adalah direktur utama dari perusahaan Richard, perusahaan yang di ambil dari nama ayahnya.
Kevin menghabiskan waktu bersama dengan sahabatnya sekaligus rekan bisnisnya di kafe itu. Kevin menceritakan tentang gadis idamannya yang tidak lain adalah Nirmala. Tapi dia tidak pernah menyebutkan nama gadis itu di hadapan Riko.
Sedangkan Riko, dia ternyata sudah mengetahui perihal perjodohannya. Tapi orang tuanya tidak pernah memberi tahu dengan siapa dia di jodoh kan. Ayahnya hanya mengatakan kalau Riko sudah di jodohkan sejak kecil. Dan ia menerimanya, tapi pertemuannya dengan Nirmala di pesta ulang tahun Helen waktu itu sempat merubah pendiriannya. Walaupun begitu, dia tetap menjaga komitmen orang tuanya.
Walaupun Kevin panjang lebar menceritakan tentang gadis idaman nya, tapi dia tidak pernah menyebutkan namanya. Dia hanya merasa jatuh cinta dan Riko bisa melihatnya dari caranya ia bercerita dan tersenyum. Kevin memang benar-benar jatuh cinta. Riko sendiri tidak bisa bercerita tentang gadis yang ia temui di pesta dengan panjang lebar karena dia harus tetap menjaga kepercayaan ayahnya. Dengan menurut untuk di jodohkan dan sabar menunggu hingga waktunya tiba.
Saat mereka sedang bersantai menikmati kopi, tiba-tiba Kevin di kaget kan oleh sesosok gadis yang masuk ke dalam kafe. Gadis itu tidak melihatnya, tapi Kevin bisa melihat dengan jelas kalau itu adalah Chika, tidak salah lagi. Itu benar-benar Chika, Kevin sedang tidak mabuk. Mendadak dia berpamitan kepada Riko untuk segera pergi, dia tidak ingin Chika melihatnya.
Riko merasa heran kenapa Kevin mendadak ingin pulang. Padahal perbincangan mereka belum selesai.
"Riko, sorry. Aku pulang dulu." Kevin terlihat sangat buru-buru. Dia kemudian mengambil jasnya yang ia letakkan di samping kursinya dan segera beranjak pergi dari tempat duduknya.
Riko tidak bisa menahannya dan mengatakan, "Okey, sampai jumpa."
Kevin berjalan dengan hati-hati secara sembunyi-sembunyi berharap Chika tidak melihatnya. Sesampainya di parkiran, Kevin langsung masuk ke mobilnya dan bernapas lega. Tapi dia masih bertanya-tanya bagaimana Chika bisa ada di kafe, bukankah seharusnya dia menemani ibunya? Pikirnya.
"Ah, sudahlah." Gumamnya sambil mulai menyetir mobilnya kembali ke rumah.
Sesampainya di rumah, Kevin terkejut karena ibunya sedang menyuapi Nirmala. Tapi dia juga senang kemudian duduk diantara mereka.
"Loh, sudah selesai urusannya?" Tanya ibu Kevin.
"Sudah, Mam." Jawab Kevin sambil tersenyum.
Ibunya bercerita kalau tadi sebenarnya Chika datang kerumah, tapi mendadak dia ingin pulang. Padahal makanannya juga belum di habiskan, sepertinya dia tidak menyukai masakannya.
Kevin mulai berpikir, tidak mungkin Chika pulang hanya karena makanan, mungkin karena ada Nirmala. Tapi sangkaan Kevin segera terjawab saat ibunya bercerita. Bahwa dia menanyakan tentang Kevin, apakah ada gadis yang sedang Kevin dekati? pertanyaan semacam itu yang kemudian membuat Chika kehilangan selera makan.
"Mami tadi hanya bertanya, apa Chika tahu kamu sedang dekat dengan seorang gadis?" Kata Mami nya.
"Tapi Chika tidak menjawab dan sepertinya dia kehilangan nafsu makannya, apa Mami salah bertanya seperti itu? Menurut kamu Mala? Apa Mami salah bertanya seperti itu?"
Nirmala menggeleng.
"Mami benar kan? Mala memang selalu mendukung Mami." Kata Ibu Kevin dengan semangat.
__ADS_1
Kevin terdiam sejenak, dia kini mulai mengerti kalau ibunya Kevin mengundang Chika bukan untuk menjodohkannya.