Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Bubuk Cabe


__ADS_3

"Maaf ya gadis kecil, mungkin lain kali saja. Tidak masalah kan?" Kata Kevin sambil menebarkan senyumnya.


Jawaban Kevin membuat Salsa kesal dan dengan segera meninggalkan taman.


Kevin lalu berjalan kembali bersama dengan Nirmala menuju ke rumah masing-masing. Kevin kembali sibuk mempersiapkan dokumen untuk urusan pekerjaannya sedangkan Nirmala sibuk dengan buku-buku sekolahnya.


***


Ke esokan harinya saat jam pulang sekolah.


Salsa yang masih merasa kesal dengan Nirmala karena kejadian di taman kemarin, diam-diam memandangi nya. Pandangannya terlihat jelas bukan pandangan suka, tetapi lebih menyerupai pandangan iri yang perlahan berubah menjadi benci. Ia yang selalu merasa cantik dan populer di sekolah tidak terima jika harus bersaing hanya dengan seorang anak pembantu seperti Nirmala.


Kebenciannya memuncak saat dia tahu kalau Kevin, pria yang selama ini dia incar tidak pernah membuka hati untuknya tapi justru selalu memberi perhatian lebih kepada Nirmala. Salsa tak pernah berhenti berharap walau hingga kini Kevin selalu menganggapnya sebagai anak kecil.


"Mala." Salsa memanggil Nirmala sesaat sebelum Nirmala sampai ke pintu gerbang sekolah.


Nirmala menoleh dan tampak sedikit terkejut melihat Salsa yang memanggilnya dan gadis itu kini mulai mendekatinya. Sangat tidak biasa karena diantara teman-teman sekolahnya, Salsa adalah orang yang selalu mengganggunya dan selalu bersikap sinis. Tapi kali ini dia terlihat berbeda, dia bahkan memberikan senyuman manis kepada Nirmala.


"Mala, sebelum kamu pulang aku punya sesuatu yang ingin aku berikan untukmu sebagai permintaan maaf. Selama ini aku selalu jahat sama kamu." Kata Salsa.


Suaranya terdengar lembut dan ramah tidak seperti biasanya.


"Salsa, apa yang ingin kamu berikan?" tanya Nirmala masih dengan pandangan heran dan penasaran.


Salsa membuka tas sekolahnya dan memberikan sebuah bingkisan berwarna merah muda, lalu memberikannya kepada Nirmala.


"Ini untukmu," Ucap Salsa singkat.


Sedikit ragu Nirmala menerima kado itu. Salsa tersenyum manis karena Nirmala mau menerimanya. Tetapi senyuman gadis itu justru membuat Nirmala semakin cemas. Senyuman yang di lemparkan Salsa itu seperti mengandung senyuman yang berbahaya.


"Boleh aku membukanya?" tanya Nirmala.


"Tentu saja, kau memang harus membukanya."


Perlahan Nirmala membuka bungkus kado itu, mula-mula dia menyobek kertas kado yang membungkusnya. Ternyata masih ada kotak kado di dalamnya yang harus Nirmala buka jika ingin tahu isinya. Namun, belum sempat dia membukanya, tiba-tiba Anah datang dan menyerobot kado itu.


"Biar aku saja yang membukanya."


"Jangan." Kata Salsa berbarengan dengan Anah yang sudah terlanjur membuka kotak berisi bubuk cabe.


" Ah ... Panas ...!" Anah berteriak histeris menutup wajah dan matanya yang kepanasan.


Nirmala panik, begitu pun dengan Salsa. Jeff yang semula berada di parkiran mendadak berlari menuju ke arah sumber suara keributan itu.

__ADS_1


"Anah, apa yang terjadi pada Anah?" Jeff pun terlihat panik.


"Jeff, tolong aku. Wajah ku perih sekali." Anah walaupun matanya masih belum bisa terbuka dan merasakan perih di wajahnya masih bisa dengan jelas mendengar suara Jeff.


"Jeff." Kata Anah lagi sambil meraba mencari keberadaan Jeff, Jeff mengangkat membantu Anah berdiri karena dari tadi Anah menunduk sambil menutupi wajahnya.


Salsa mengatakan kepada Jeff kalau Nirmala yang menyakiti Anah, Nirmala memberikan sebuah kotak berisi bubuk cabe sengaja untuk mencelakai Anah. Jeff hampir tidak percaya tapi Nirmala memang memegang kertas kado itu dan di tambah lagi, Anah juga mengatakan hal yang sama.


"Anah." Nirmala terkejut dan hampir tidak percaya Anah bisa ikut menfitnahnya. Padahal sudah jelas itu akibat kesalahannya sendiri yang menyerobot kotak pemberian Salsa.


Nirmala mencoba menjelaskan tapi Jeff tidak mau dengar. Jeff menyuruh Anah menunggunya sebentar untuk mengambil motornya di parkiran dan membawanya ke klinik.


"Anah, kamu sendiri yang membuka kado itu, aku sama sekali tidak bermaksud menyakitimu, aku tidak tahu kalau Salsa memberiku bubuk cabe, kenapa kamu berkata seperti itu?" Nirmala ingin penjelasan dari Anah.


Tapi Anah malah bertambah histeris. Tiba-tiba Jeff datang, Jeff melihat Nirmala yang sepertinya sedang marah padahal Anah sahabatnya sedang merasa kesakitan. Itu membuatnya semakin yakin kalau Nirmala memang sengaja melakukannya. Anah naik ke motor Jeff dan memeluknya dengan erat serta membenamkan wajahnya pada badan Jeff. Mereka berlalu dari pandangan Nirmala.


Walaupun wajahnya perih tapi Anah justru merasa senang karena dia mendapat perhatian dari Jeff.


Salsa yang menyaksikan kejadian itu merasa puas walaupun targetnya meleset, setidaknya itu membuat Jeff merasa kesal pada Nirmala. Ruby yang mengetahui kejadian sebenarnya hanya diam tanpa kata. Mereka kemudian pergi meninggalkan Nirmala dalam kecemasan.


Nirmala kemudian keluar dari pintu gerbang itu dan mencari taksi, dia tidak berniat pulang ke rumah. Hatinya gundah karena kejadian tadi, dia tidak bisa menyimpannya sendiri. Dia merasa tidak melakukan itu pada Anah, tapi tidak ada yang percaya. Dia butuh teman curhat. Akhirnya Nirmala naik taksi dan pergi ke kantor Kevin.


Sebenarnya tidak mudah untuk bisa bertemu dengan Kevin apalagi jika pertemuannya mendadak tanpa membuat janji terlebih dahulu. Tapi Nirmala yakin, Kevin tidak akan keberatan jika dia datang. Tidak lama kemudian Nirmala sudah sampai di kantor Kevin. Dia meminta kepada resepsionis agar bisa bertemu dengan Kevin, tapi resepsionis itu menolaknya dan mengatakan kalau Kevin sedang sibuk, tidak bisa di ganggu kecuali sudah ada janji sebelumnya.


Nirmala memohon tapi tetap tidak di hiraukan nya. Akhirnya Nirmala menelpon Kevin. Seorang sekretaris yang memegang handphonenya menyampaikan ada panggilan masuk dari Nirmala. Tidak menunggu lama, Kevin yang sedang sibuk rapat menerima panggilannya dan meminta jeda sebentar pada rapat tersebut.


"Mala, sudah lama menunggu ya?" Kata Kevin mengejutkan resepsionis yang tadi bersikeras tidak mau menyampaikan kedatangannya.


Resepsionis itu menatap Nirmala dengan sedikit takut karena dia baru menyadari kalau Nirmala bukanlah gadis biasa, dia sangat spesial bahkan Kevin sampai rela mengakhiri rapatnya hanya untuk menemuinya.


Nirmala menebarkan senyum pada resepsionis yang terlihat ketakutan itu. Kemudian berjalan menuju ke ruangan Kevin. Kevin merangkul Nirmala, dengan sedikit enggan Nirmala melepaskan lengan Kevin dari rangkulannya. Membiarkannya melangkah lebih dulu menuju ke ruang kerjanya.


Sesampainya diruang kerja Kevin. Nirmala duduk di sofa dan Kevin duduk di sampingnya. Nirmala menceritakan kejadian tadi saat pulang sekolah. Kevin hanya tersenyum mendengarkan ceritanya,menurut Kevin itu sesuatu yang tidak perlu di pikirkan apalagi sampai membuat hati resah dan gundah.


"Tidak usah terlalu di pikirkan, itu bukan masalah besar." Kata Kevin sambil tersenyum.


"Tapi Jeff percaya kalau aku yang menyakiti Anah." Kata Nirmala yang masih merasa panik.


"Ah ... Lagi-lagi kamu memperdulikan Jeff. Apa istimewanya dia? Apa kamu menyukainya? Jangan-jangan kamu punya perasaan ya sama dia?" tanya Kevin melihat raut wajah Nirmala yang sedikit murung.


"Jeff itu teman sekelas ku, tidak ada hubungannya dengan perasaanku." Jawab Nirmala.


"Kamu serius, Jeff hanya teman sekelasmu?" desak Kevin.

__ADS_1


"Iya serius, memangnya kenapa? Kamu cemburu ya?" Kali ini gantian Nirmala yang mencoba mengorek hati Kevin.


Kevin tersenyum lebar.


"Iya, aku cemburu kalau melihat kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain." Jawab Kevin.


"Kalau kamu cemburu, berarti kamu menyukaiku?" Sahut Nirmala dengan polosnya sambil tersenyum geli.


Kevin tertawa.


"Aku memang menyukaimu, kalau tidak buat apa aku mengakhiri rapatku dan memilih untuk menemuimu?" Bisik Kevin di telinga Nirmala dan membuat jantungnya berdebar dengan kencang.


Nirmala hanya terdiam, dia tidak bisa menyahut kalimat terakhir Kevin. Dia yang awalnya hanya ingin curhat tetapi justru entah apa yang di bicarakan nya sekarang membuat ia gugup dan berharap ada sesuatu yang bisa menghilangkan rasa gugupnya itu.


Kevin kemudian mengajak Nirmala turun karena ia sudah mulai lapar, Nirmala juga demikian. Sepulang sekolah, dia langsung ke kantor Kevin tanpa pulang kerumah sekedar untuk ganti baju atau makan siang. Kevin mengajaknya makan siang dengan lauk udang tempura dan minum dinginnya teh hijau di kantin kantornya. Teh hijau bisa membuat Nirmala jadi lebih tenang, pikir Kevin. Kevin memang paling bisa membuat Nirmala merasa lebih tenang.


"Kita akan makan di kantin." Kata Kevin.


Nirmala hanya mengangguk dan mengikuti langkah Kevin yang berjalan agak cepat di depannya.


"Kevin ... tunggu aku!" ujar Nirmala saat langkahnya mulai tertinggal jauh.


Kevin menghentikan langkahnya dan menoleh. Dia menunggu Nirmala mendekatinya. Setelah jarak Nirmala dekat dengannya, dia meraih tangan Nirmala dan menggenggamnya erat. Nirmala tersenyum, dia merasa lebih aman di gandeng seperti itu. Apalagi jika mengingat kejadian buruk yang pernah menimpanya beberapa waktu lalu di kantor Kevin, dia tidak ingin jauh-jauh dari direktur utama itu.


"Disini terlihat kamu yang sebenarnya, Mala." Bisik Kevin mendekat ke telinga Nirmala.


Nirmala tersentak kaget, jantungnya berdebar lebih kencang saat tadi Kevin mendekatkan bibirnya ke telinganya.


"Maksudnya? Memangnya seperti apa aku yang sebenarnya?" tanya Nirmala sambil memandangi wajah Kevin yang sangat tampan.


"Aslinya kamu ini manja dan penakut." Jawab Kevin sambil tersenyum geli.


"Aku tidak manja." Nirmala menyanggah perkataan Kevin dan mengerucutkan bibirnya.


Kevin justru tertawa semakin geli.


"Tidak apa-apa kalau kamu mau bermanja-manja sama aku, Mala. Aku suka ...." Kata Kevin sambil mengedipkan mata kirinya pada Nirmala.


Membuat Nirmala tersipu, sesungguhnya ia memang senang bermanja-manja dengan Kevin. Nirmala tak bisa mengelak, Kevin memang selalu memanjakannya dan membuat Nirmala merasa nyaman.


Kevin memandangi wajah Nirmala. Kemudian dia merangkul tubuh Nirmala dan melanjutkan perjalanannya ke kantin. Nirmala tersenyum nyengir dan membiarkan Kevin terus merangkulnya hingga sampai ke kantin. Kantinnya sangat luas di lengkapi dengan ruang ladies room yang bisa di pakai untuk membersihkan diri. Nirmala masuk ke sana dan membersihkan wajahnya menyegarkan diri. Sementara Kevin memesan menu makan siangnya.


Setelah selesai menyegarkan diri, Nirmala duduk di samping Kevin dengan menu makan siang yang sudah tersaji. Nirmala makan dengan lahap karena dia memang sudah lapar sekali. Setelah makan, mereka duduk-duduk santai sambil sesekali bercanda.

__ADS_1


"Hari masih siang, apa kamu mau langsung kembali ke rumah?" tanya Kevin.


Suasana hati Nirmala saat ini memang sudah agak baikan dan terlihat bahagia. Yang membuatnya lebih bahagia lagi adalah ia bisa merasakan kebersamaan bersama dengan Kevin. Tapi Nirmala masih belum bisa memahami perasaannya. Terkadang dia merasa berdebar jika Kevin mendekat padanya apalagi jika Kevin memandangi nya tetapi sering kali Nirmala menyayangi Kevin bagai kakaknya sendiri. Nirmala membiarkan waktu yang akan menuntunnya.


__ADS_2