Getaran Hati Nirmala

Getaran Hati Nirmala
Mimpi Buruk


__ADS_3

Malam yang sunyi membuat Nirmala lebih mudah terpejam. Dia tidur dengan posisi miring ke kanan dan rambut terurai. Malam ini dia bermimpi berada di kantor Kevin.


Tapi tidak seperti biasanya, hari itu di dalam mimpinya, kantor Kevin terlihat sangat sepi. Dia tidak menemukan seorang pun. Dia berjalan menyusuri lorong-lorong di setiap ruangan di kantor itu, sunyi tidak ada siapapun.


Tap ... Tap ... Tap ...


Suara kaki Nirmala berjalan terdengar sangat nyaring di kesunyian kantor Kevin. Dia berusaha untuk keluar dari kantor itu, anehnya dia tidak bisa menemukan jalan keluar. Dia sudah yakin bahwa itu adalah jalannya, tapi ternyata bukan. Tidak ada jalan keluar di sana.


Dia kembali berjalan dan mencari jalan keluar lainnya, lagi-lagi jalan itu berbeda dengan biasanya. Nirmala mulai kebingungan karena dia sudah hafal betul pintu keluar di kantor Kevin, tapi kenapa sekarang semuanya berubah.


Kemana semua orang? Kenapa sepi sekali disini. Dan kenapa pintu keluarnya tidak ada. Pikirnya.


Sama sekali tidak ada orang. Pikirnya lagi.


Mimpi membawa dia ke kantor Kevin yang sangat sunyi dan tanpa jalan keluar. Dia kemudian berjalan menuju ke ruangan Kevin. Berharap Kevin ada di sana dan bisa membantunya.


Untung saja, ruangan Kevin tidak berubah. Aku bisa dengan mudah menemukannya. Batin Nirmala.


Nirmala masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya. Kemudian dia berbalik. Saat dia berbalik, betapa terkejutnya karena tiba-tiba Kevin ada di hadapannya persis. Menatapnya dengan seksama. Tapi di dalam mimpi itu, Kevin terlihat sangat berbeda tidak sama seperti di dunia nyata yang ramah dan lembut, di dalam mimpi Nirmala, Kevin terlihat sangat kasar dan berbeda.


"Kevin, untunglah kamu ada disini. Dari tadi aku mencari jalan keluar tapi tidak menemukannya, kantor kamu juga sangat sepi. Apakah hari ini libur?" tanya Nirmala.


Kevin tidak menjawab pertanyaan Nirmala. Dia justru memperlakukan Nirmala dengan kasar, sangat berbeda dengan Kevin yang biasa dia kenal. Kevin mendorong Nirmala hingga dia terjatuh di sofa.


Nirmala merasa semakin ketakutan, bagaimana bisa Kevin memperlakukannya dengan kasar seperti itu. Tiba-tiba tubuh Kevin sudah berada di atasnya. Nirmala menjadi semakin ketakutan, itu bukan seperti Kevin yang dia kenal, sangat asing dan berbeda.


Kevin yang kini berada di atas tubuhnya lalu memegang kedua tangan Nirmala dengan satu tangannya, sedangkan tangan satunya lagi ia liarkan menyentuh bagian-bagian tubuh Nirmala lainnya dan berakhir di wajah Nirmala, tangannya memegang wajah Nirmala sangat erat, sehingga Nirmala tidak bisa menggerakkannya. Nirmala ingin berteriak tapi Kevin sudah lebih dulu menutup mulutnya. Kevin mencium bibir Nirmala dengan brutal.


Nirmala berusaha memberontak tapi usahanya sia-sia, perlawanannya sama sekali tidak memberikan efek apapun pada Kevin. Nirmala tidak menyangka Kevin bisa berbuat seperti itu padanya, benar-benar bukan seperti Kevin yang dia kenal.


"Kevin, lepasin ...." Nirmala meminta agar Kevin melepaskannya.


Dia memukul-mukul dada Kevin dan berusaha untuk menendangnya. Tapi kakinya terkunci, semua yang dia lakukan begitu percuma. Kevin menjadi semakin liar mencium bibirnya. Setelah puas mempermainkan bibir Nirmala, Kevin melepaskannya sesaat. Dia mulai membuka bajunya.


Nirmala mengambil kesempatan itu untuk lari, tapi tidak bisa, dia tidak bisa lari dari ruangan Kevin. Ruangan itu terkunci dan tidak bisa dibuka. Kevin kemudian menggendongnya, dia berusaha berteriak tapi suaranya tidak bisa keluar. Kemudian Kevin menghempaskannya ke sofa kembali.


Kevin menarik paksa baju seragam Nirmala hingga kancingnya berserakan, Nirmala berusaha menutupi bagian dadanya dengan ke dua tangannya. Tapi Kevin yang sudah sangat liar, dia tidak membiarkan Nirmala memakai sehelai baju pun, dia melucuti semua yang Nirmala kenakan. Dan lagi-lagi dia menghempaskan tubuh Nirmala di atas sofa dan menindihnya. Kevin mulai menekan tubuhnya dan tiba-tiba alarm berbunyi membangunkan Nirmala dari mimpi buruknya.


Nirmala ngos-ngosan, dia bersyukur karena apa yang baru saja terjadi hanyalah sebuah mimpi. Tapi walaupun itu hanya mimpi, dia merasa gemetaran dan masih tidak percaya juga ketakutan. Bagaimana bisa dia mimpi buruk seperti itu, sedangkan dia tidak pernah berfikiran kotor. Apalagi dengan Kevin.


Nirmala masih gemetaran, dia kemudian menuang air mineral pada gelas yang biasa dia letakan di meja kecil samping tempat tidurnya. Masih ngos-ngosan, dia minum sedikit demi sedikit, seteguk demi seteguk.


"*Mimpi apa itu?" Dia masih tidak percaya.


Apakah itu mungkin bisa terjadi?


Tidak ... Tidak ... Tidak ...

__ADS_1


Itu tidak boleh terjadi, tidak boleh.


Astaga* ...


Nirmala mulai mengatur nafasnya, pelan-pelan dia menarik nafas dan menghembuskannya, berkali-kali sampai dia merasa tenang. Setelah merasa tenang, dia menyingkap selimut dan beranjak menuju ke kamar mandi. Dia terbiasa mandi sebelum mengerjakan sholat subuh.


Nirmala menyalakan shower dan turunlah air hangat menyirami tubuhnya. Sambil mandi, dia masih terbayang akan mimpinya saat Kevin memperlakukannya dengan tidak terhormat. Dia merasa di campakkan, tapi itu hanyalah sebuah mimpi. Selesai mandi, dia menarik handuk dan memakai pakaian.


Dia memakai kaos lengan pendek dan celana pendek. Dia biasa menggunakan pakaian itu untuk bersantai dirumah. Dia pun menyiapkan baju seragam sekolahnya. Seketika dia teringat lagi dengan mimpinya saat Kevin dengan paksa menarik baju seragamnya dan membuat kancingnya berserakan kemana-mana.


Nirmala mencoba mengecek baju seragamnya, di lihatnya tidak ada satupun kancing yang terlepas. Dia lalu meletakan baju itu di kasur nya dan meraih sajadah serta mukenah untuk dia mulai mengerjakan sholat subuh.


Selesai sholat, dia tidak henti-hentinya beristighfar memohon ampunan, dia juga meminta perlindungan agar di jauhkan dari godaan syetan yang terkutuk. Hidup di zaman modern yang penuh kebebasan memang harus bisa menjaga diri. Sambil melipat mukenahnya, dia teringat akan salah satu teman sekolahnya yang di keluarkan dari sekolah karena hamil di luar nikah.


Dia harus bisa menjaga diri agar hal itu tidak menimpanya. Selesai melipat mukenahnya, dia mulai menyiapkan buku-buku yang akan dia bawa ke sekolah sesuai mata pelajarannya. Dia mengambil buku-buku yang di perlukan dan memasukkannya kedalam tas. Selesai menyiapkan semua perlengkapan sekolah, dia keluar dari kamarnya untuk olahraga sebentar di luar rumah.


Dia jalan-jalan di sekitar perumahannya, tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Nirmala." Orang itu berteriak sambil berlari menghampirinya.


"Kevin." Batin Nirmala.


Nirmala dengan jurus lari cepat langsung berlari kembali menuju ke rumah nya, seketika dia sudah berada di dalam rumah dan langsung meneguk segelas air.


Bi Sona tanpa sengaja melihat Nirmala yang ngos-ngosan.


"Kalau olahraga gak usah di paksakan Non, biasa saja santai jadi gak ngos-ngosan begitu. Non kan udah mandi, jadi keringetan lagi kan?" Kata Bi Sona.


"Bi, sarapannya udah siap belum?" Tanya Nirmala.


"Udah Non, nih Bibi masakin nasi goreng sea food kesukaan Non." Kata Bi Sona sambil menyajikan nasi goreng di meja makan.


Nirmala dengan lahap menyantap sarapannya agar bisa lebih cepat habis karena dia juga harus mandi ulang. Selesai makan, dia pun mandi untuk kedua kalinya di waktu pagi. Selesai mandi, dia memakai seragam sekolah dan bergegas untuk berangkat.


Nirmala ke dapur dan menyalami bi Sona.


"Kevin sudah menunggu di luar." Kata bi Sona.


Kevin. Batin Nirmala.


Dia berjalan keluar dan benar saja, Kevin sedang menunggunya. Dia merasa sangat gugup, Kevin yang memperhatikan Nirmala jadi kebingungan dan bertanya-tanya.


Pagi ini Nirmala aneh sekali. Batin Kevin.


Kevin dan Nirmala kini sudah berada di dalam mobil. Mobil mulai melaju, menuju ke sekolah Nirmala. Nirmala duduk di belakang, sementara Kevin menyetir, seperti pemandangan sopir dan majikan. Kevin tidak protes, dia memang melihat Nirmala sedikit aneh pagi itu.


"Kamu kenapa Nirmala?" Tanya Kevin.

__ADS_1


"Ti ... Ti ... Tidak apa-apa, jalan saja jalan biar cepat sampai." Kata Nirmala.


Aneh sekali. Batin Kevin lagi.


Kevin kembali menyetir mengantar Nirmala ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Nirmala langsung membuka pintu mobilnya dan bergegas lari masuk tanpa mengucapkan terimakasih. Kevin hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menyetir mobilnya menuju ke kantor.


Kevin masih terus memikirkan sikap Nirmala yang sangat aneh pagi ini, tidak seperti biasanya yang ceria dan menggemaskan. Nirmala terlihat seperti canggung dan ketakutan.


Ah ... Sudahlah tidak usah di pikirkan, mungkin dia sedang ada masalah yang tidak bisa di bicarakan dengan orang lain.


Sesampainya di kantor, Kevin di kejutkan oleh kehadiran Chika.


"Chika, kamu disini?" Tanya Kevin.


"Iya, aku nungguin kamu dari tadi. Hari ini kamu gak sibuk kan?"


"Tidak, ada apa ya Chik?" Tanya Kevin lagi.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin menemani kamu di kantor." Kata Chika.


"Oh, begitu. Ya sudah, ayo keruanganku." Kata Kevin mengajak Chika masuk ke kantornya.


Mereka berjalan berdua menuju ke ruang kerja Kevin. Semua mata tertuju ke mereka, Chika merasa sangat bangga bisa berjalan bersama orang yang sangat tampan dan nomor satu di kantor itu.


Tatapan wanita-wanita itu, mereka pasti cemburu melihat aku bersama Kevin.


Sesampainya di ruang kerja Kevin.


"Silahkan duduk Chik, aku kerjakan dulu pekerjaanku." Kata Kevin.


"Oke." Kata Chika.


Chika duduk sambil membaca majalah. Karyawan keluar masuk ke ruangan Kevin untuk meminta tanda tangan. Sesekali mereka memandang ke arah Chika dan Chika pun membalas pandangan mereka dengan senyum palsu nya.


"Hari ini aku hanya bekerja setengah hari." Kata Kevin sambil berjalan menghampiri Chika.


Kini Kevin duduk di sofa yang sama seperti tempat duduk Chika.


"Oh ya, kebetulan sekali. Jadi kita bisa jalan-jalan habis ini." Kata Chika yang terlihat sangat senang.


"Maaf Chika, jalan-jalan nya lain kali saja ya?"


"Kenapa?" tanya Chika penasaran.


Hari ini aku mau mengantar Nirmala ke rumah temannya. Setelah itu, aku harus menjemputnya kembali.


Gadis murahan itu lagi. Dia memang harus di singkirkan.

__ADS_1


"Oh iya, tidak masalah Kevin." Kata Chika sambil pura-pura tersenyum.


Kevin kembali berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya lagi, dia mengerjakan semua tugas-tugasnya agar bisa cepat selesai, sementara Chika yang terlihat seperti sedang membaca majalah itu sebenarnya sedang merencana rencana jahat untuk mencelakai Nirmala.


__ADS_2