
Tempat wisata berikutnya yang akan dikunjungi adalah Lawang Sewu. Lawang Sewu merupakan gedung bersejarah peninggalan Belanda yang terletak di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia.
Dalam bahasa Jawa, Lawang Sewu artinya seribu pintu. Namun itu tidak berarti bahwa gedung ini benar-benar memiliki seribu pintu. Karena faktanya Lawang Sewu hanya memiliki 429 pintu. Gedung ini memiliki banyak jendela besar yang apabila dilihat dari jauh akan terlihat seperti pintu. Itulah alasan kenapa banyak orang menyebut nya Lawang Sewu.
Bangunan ini duhulunya pernah berfungsi sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Lawang Sewu dibangun tahun 1904 dan selesai pada tahun 1907. Gedung ini terletak di bundaran Tugu Muda yang dulu disebut Wilhelminaplein.
Di bundaran Tugu Muda terlihat seorang gadis duduk di sekitar air mancur. Berbeda dengan para pengunjung yang terlihat senang dan berfoto bergembira disana sini, gadis itu justru terlihat murung. Gadis yang sedang murung itu adalah Nirmala.
Nirmala masih memikirkan kejadian yang membuatnya berada di tengah-tengah masalah. Di satu sisi, dia memikirkan perasaan Anah dan di sisi lain dia juga memikirkan perasaan Chika.
Nirmala berfikir Chika adalah kekasih Kevin, jika Chika sampai mendengar berita yang sedang populer itu pasti Chika akan sangat marah kepadanya. Di samping itu juga ada Jeff adik Chika yang akan menganggap Nirmala sebagai perebut kekasih kakak nya itu. Lebih parah lagi jika Jeff menganggap Kevin sebagai buaya darat. Padahal Kevin adalah orang yang sangat baik dan tidak pernah mempermainkan perasaan wanita.
"Bagaimana ini," Nirmala duduk termenung sambil terus berfikir.
"Apa yang harus aku lakukan?" Nirmala terlihat sangat bingung dan pusing memikirkan masalahnya itu.
Di tengah-tengah kepusingan yang menimpa Nirmala, Anah justru terlihat seperti tidak peduli. Dia tetap menikmati wisatanya dan terus mendekati Jeff. Sementara Jeff yang selalu merasa risih jika Anah mendekat terus memperhatikan Nirmala dari jauh.
Dalam hati Jeff kadang terbesit rasa ingin menemui Nirmala dan menanyakan langsung tentang ucapannya kemarin. Tapi disisi lain, sifat nya yang selalu merasa terhormat itu tidak ingin menjatuhkan harga dirinya hanya demi pertanyaan yang konyol.
Rasa penasarannya masih belum mampu merobohkan sifat arogannya. Pikirannya berkecamuk campur-campur antara rasa penasaran dan menjaga harga diri. Menurutnya, jika dia sampai bertanya langsung pada Nirmala, hal itu akan menjatuhkan harga dirinya.
Pandangannya terus tertuju pada Nirmala tanpa merubah arah sedikit pun. Namun Pandangannya pecah saat ada seseorang yang mendekati Nirmala. Tirta, orang yang selalu merasa dirinya paling bisa mengerti apa yang Nirmala rasakan.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Tirta.
"Tirta," Nirmala menengadah sedikit ke atas melihat Tirta berdiri dihadapannya.
"Bagai makan buah simalakama, iya kan?"
Nirmala diam.
"Aku tahu Kevin bukan kekasihmu, aku benar kan?" Tirta merasa seperti orang paling pengertian.
Mendengar perkataan Tirta, Nirmala seperti melihat sinar yang begitu cerah. Walaupun tidak serta merta masalahnya akan selesai, setidaknya ada orang yang mengerti masalahnya saat ini.
"Kamu hanya tidak mau menyakiti sahabatmu itu, sahabat yang merepotkan." Tirta melanjutkan perkataannya, tatapannya menuju ke arah Anah yang berada tidak terlalu jauh darinya.
Anah yang sekarang terlihat sedang mencoba mendekati Jeff tapi Jeff selalu menghindarinya. Sahabat Nirmala yang menurut Jeff sangat merepotkan. Tapi bagi Nirmala, Anah adalah sahabat terbaik nya.
"Lihat itu, sahabat yang selalu kamu banggakan, betapa merepotkannya, dia masih saja mengejar laki-laki yang sama sekali untuk melihatnya saja tidak sudi." Jeff terus melihat dan menunjuk ke arah Anah.
"Kalau kamu kesini hanya untuk menghina Anah, pergilah, atau aku saja yang pergi," Kata Nirmala.
"Hmm ... gitu aja ngambek," Kata Tirta
Tirta mencoba mengikuti langkah Nirmala yang mulai beranjak pergi. Berjalan dari Tugu muda menuju ke arah Lawang Sewu. Sampai dijalan raya, Nirmala menengok ke kanan dan ke kiri untuk menyeberang jalan raya. Tirta masih terus mengikutinya.
"Masih ngambek ya?" Tirta meledek Nirmala.
"Aku bukan anak kecil, sudahlah tidak usah di bahas," Kata Nirmala.
Topeng ... Topeng ... Topeng ....
"Kak, topeng kak," Seorang anak kecil menawarkan topeng kepada Nirmala.
"Berapa harganya?" Tanya Nirmala.
__ADS_1
"Topengnya masih ada berapa?" Tanya Tirta.
"Ada 15 kak, harganya sepuluh ribu" Kata penjual topeng itu.
"Buat kakak semua ya topengnya, kakak bayar lunas." Tirta menyodorkan uang seratus ribuan dua lembar.
"Pake uang pas aja kak, kembaliannya gak ada," kata penjual topeng itu yang usianya terlihat seperti masih 10 tahunan.
"Ambil saja kembaliannya dek, " Kata Tirta.
Terimakasih kak. Penjual topeng itu pun pergi dan berlalu.
"Kamu beli banyak sekali," Kata Nirmala.
"Ya ... hitung-hitung sedekah," Tirta bergaya dermawan yang baik hati dan murah senyum.
Tirta hanya tersenyum. Dia menyuruh Nirmala untuk berbalik, bermaksud memakaikan topeng yang baru saja di belinya. Nirmala yang tidak lepas dari sorot mata Jeef terlihat sedang di pakaikan topeng oleh Tirta. Jeff semakin cemburu ketika Tirta mencoba mengikat tali topeng itu, tapi seketika Nirmala mengambil alih ikat topeng itu dan mengikatnya sendiri.
"Biar aku pake sendiri saja," Nirmala meraih topengnya dan mengikatnya sendiri.
Dari kejauhan Jeff masih terus memperhatikan mereka. Tirta pun memakai topeng itu, kini mereka berdua sama-sama memakai topeng. Nirmala memakai topeng berwarna ungu sedangkan topeng yang Tirta pake berwarna hitam.
"Aku merasa seperti tuxedo bertopeng," Tirta memuji diri sendiri.
"Coba aku liat," Nirmala meminta Tirta menoleh ke arahnya.
"Sama sekali tidak mirip," lanjut Nirmala.
Tirta tertawa.
"Nirmala ...." Tirta memberi kejutan.
"Wah ... beli dimana?" tanya Nirmala.
"Penjualanya sudah pergi," Kata Tirta
"Tapi kamu tidak usah khawatir, aku beli itu buat kamu kok, ini ambil." Tirta memberikan gulali arum manis berwarna merah muda untuk Nirmala.
Nirmala menerimanya dengan senang hati dan berterimakasih. Mereka terlihat senang menikmati wisata kali ini. Anah mendadak datang di iringi oleh Jeff dan Bharata.
"Jeff, tolong ikatkan topeng ini dong," Pinta Anah kepada Jeff.
Anah tanpa basa-basi merebut satu topeng yang ada di genggaman Tirta dan menyerahkannya kepada Jeff. Jeff sama sekali tidak bergeming.
"Anah ini benar-benar tidak tahu sopan santun, dan selalu merepotkan orang lain, berbeda sekali dengan Nirmala," Gerutu Tirta.
Meski menggerutu, Tirta tetap menebar senyum untuk Anah.
"Pakai saja sendiri," Kata Jeff sambil menatap Nirmala yang sedang asyik menikmati gulali arum manis.
"Sini aku saja yang pakaikan," Bharata meraih topeng Anah.
"Jangan sentuh topengku." Anah melotot ke arah Bharata.
"Aku bisa pake sendiri." Anah memakai topeng itu sendiri dalam keadaan kesal.
"Kalian suka bakso tidak?" Tanya Nirmala.
__ADS_1
"Aku suka banget," jawab Anah dengan cepat.
"Dasar anak pembantu, selera nya rendah," Jeff bergumam.
Tirta yang mendengar kata-kata Jeff, langsung menimpali.
"Jika kau tidak suka, tidak usah ikut." Tirta berucap tepat ditelinga Jeff sambil melangkah pergi.
Bharata, Anah dan Nirmala sudah lebih dulu masuk ke warung bakso di pinggir jalan. Bharata memesan tiga mangkok, Anah dan Nirmala masih diam belum pesan apa-apa. Mereka mengira Bharata pesan tiga mangkok termasuk untuk mereka juga. Ternyata Bharata pesan untuk dirinya sendiri.
"Astaga, Bharata." Anah kaget.
"Kau ini benar-benar." Anah melanjutkan perkataannya lagi.
"Sudah Anah biarkan saja, kita pesan saja sendiri," Kata Nirmala.
Tidak lama kemudian, Jeff dan Tirta masuk ke warung bakso juga. Anah yang melihat kehadiran Jeff langsung pindah tempat duduk dan duduk persis di sebelah Jeff. Tirta memanfaatkan moment itu untuk duduk di samping Nirmala.
"Biar aku saja yang pesan," Kata Tirta.
"Anah, kamu baksonya pake mie gak?" tanya Tirta.
"Tidak usah, kosongan aja," Jawab Anah.
"Nirmala?"
"Aku mau pake mie, sayur nya yang banyak," Kata Nirmala.
"Jeff, hari ini aku sedang baik. Kau mau pake mie tidak," tanya Tirta kepada Jeff.
"Ya, aku mau pake mie," jawab Jeff.
"Oke,"
"Bang ...," Tirta memanggil tukang bakso nya.
"Bakso empat, yang satu sayur nya yg banyak dan satu lagi gak pake ... " belum selesai Tirta bicara tiba-tiba Anah memotong pembicaraan.
"Tirta, Tirta, aku pake mie juga, sama kayak Jeff." Sambil tersenyum manja.
"Ya udah, bang ... 4 Mangkok pake mie semua, satu mangkok khusus beri sayur yang banyak." sambil memandang ke arah Nirmala disertai senyuman yang selalu menghias wajahnya.
Tirta tak lupa mengambil minuman mineral, dia membuka botol minuman itu untuk Nirmala dan Anah.
"Anah, ini minuman mu sudah aku buka," Kata Tirta kepada Anah sambil memberikan minuman itu.
"Jeff, kamu buka lah sendiri." Lanjut Tirta.
"Tidak usah sok perhatian," Kata Jeff
Jeff bukannya berterimakasih malah marah-marah. Penjual bakso datang membawa pesanan, mereka menikmati makan bersama di warung pinggir jalan.
"Aku tambah lagi ya," Kata Bharata kepada penjual bakso.
"Astaga Bharata, kamu gak ngaca perut kamu itu udah seperti ibu hamil," Anah mengejek.
Bharata hanya diam tidak mempedulikan kalimat Anah. Tirta dan Jeff geleng-geleng kepala. Sementara Nirmala fokus pada bakso yang di makannya.
__ADS_1