
Setelah mengantar Nirmala pulang. Tirta berjalan sendirian di kesunyian malam hingga tiba di jalanan yang begitu sunyi. Tak ada seorang pun yang lewat kecuali dirinya. Dia masih terus berjalan sendiri tanpa ada yang menemani. Pandangannya menerawang kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. Hanya sebuah gitar teman yang setia dan selalu ada.
Sesekali dia menoleh ke belakang, dia merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya. Tapi itu hanya perasaannya saja, saat dia menoleh, dia tidak menemukan siapapun. Namun apa yang di rasakan itu benar. Ternyata ada seseorang yang mengawasi dari kejauhan. Orang tersebut sudah melihat gerak geriknya sejak masih berada di Taman bersama dengan Nirmala.
"Keluarlah." Ucap Tirta.
Orang tersebut kemudian keluar dan menampakan dirinya.
"Jeff?" Gumam Tirta dengan lirih di iringi senyum miring.
"Kamu masih ingat dengan perjanjian kita kan?" Ucap Jeff tanpa basa-basi.
"Aku gak peduli." Ucap Tirta kemudian pergi meninggalkan Jeff.
Saat baru beberapa langkah Tirta berjalan, Jeff kembali menghentikan langkahnya.
"Aku belum selesai bicara." Ujar Jeff sambil menghalangi langkah Tirta.
Merasa terganggu dengan apa yang di lakukan oleh Jeff, Tirta kemudian menarik kerah temannya itu dan menonjoknya.
Buught...
Satu pukulan dari kepalan tangan Tirta mendarat di pipi Jeff dan seketika pipinya terlihat memar. Tubuhnya jatuh tersungkur lalu perlahan darah menetes dari ujung bibirnya. Dia mengusap darah itu dengan jari telunjuk dengan tangan mengepal. Jeff masih bisa tersenyum. Pemandangan dimana Jeff di pukul oleh Tirta yang sedari tadi siang memang sudah memendam amarah.
Entah apa yang di alami oleh Tirta hari ini, dia seperti sedang memendam sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan. Malam ini Tirta benar-benar puas karena bisa melampiaskan kemarahan yang memuncak. Dia sama sekali tidak takut jika Jeff pun akan membalas pukulannya. Dia tidak peduli dengan apapun. Pikirannya benar-benar sedang kacau.
Tidak tahu apa sebabnya yang membuat Tirta begitu emosional. Karena yang seharusnya marah adalah Jeff, Jeff sudah memenangkan balapan dan sesuai perjanjian Tirta harus menjauhi Nirmala. Tapi Tirta melanggar janjinya sendiri. Padahal waktu itu Tirta sendiri yang mengajukan perjanjiannya dan memaksa walaupun Jeff sempat menolaknya.
Tidak terima atas apa yang Tirta lakukan. Jeff mulai tak bisa mengontrol emosinya dan balas memukul Tirta. Akhirnya perkelahian tak bisa terhindarkan. Duel pun terjadi di jalanan yang sunyi. Tidak ada satupun orang yang melintas di jalan itu. Hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan pengendaranya turun.
Melihat anak-anak muda yang berkelahi di jalanan membuatnya kesal dan dengan gagahnya dia memukul kedua pemuda itu. Mendapat pukulan dari orang lain, keduanya menatap orang yang berani melerai aksi mereka. Setelah melihat orang tersebut, mereka seketika berhenti bertarung. Untuk sesaat perkelahian pun akhirnya bisa di hentikan.
Jeff dan Tirta saling menatap penuh emosi, terlihat pemuda di tengah-tengah mereka adalah Kevin. Tiba-tiba Jeff mendekat dan ingin memukul Tirta lagi, Kevin mencegahnya. Akan tetapi Jeff kemudian menampis tangan Kevin yang sedari tadi memegang lengannya.
"Lepasin, Tirta yang mulai duluan." Kata Jeff sambil menunjuk ke arah Tirta.
"Kalau kamu gak cerewet, aku juga gak bakalan nonjok kamu." Ucap Tirta dengan santai nya dan mengusap darah yang mengalir di ujung bibirnya.
"Sudah, sudah, kalian ini masih sekolah udah berantem mau jadi apa?" Kata Kevin mengingatkan.
Jeff masih tidak terima dan ingin melanjutkan perkelahian, tapi Kevin memegang kedua tangannya lalu mempersilakan Tirta agar segera pergi. Tirta kemudian mengambil gitarnya dan pergi tanpa menoleh.
__ADS_1
Tiba-tiba Jeff berteriak.
"Awas kalau masih berani ndeketin Nirmala lagi!"
Tirta hanya menoleh dan tersenyum sinis, lalu melanjutkan langkahnya. Kevin yang mendengar kata-kata Jeff mengira mereka berantem karena rebutan Nirmala. Padahal pokok masalahnya bukan itu.
"Jadi hanya karena seorang cewek kalian berantem? Astaga ...." Kata Kevin sambil menengadahkan kepalanya ke langit dan mengusap rambutnya.
Dia yang baru saja pulang dari kantor selepas maghrib tidak menyangka akan bertemu dengan pemuda yang berkelahi hanya karena seorang cewek. Sangat tidak punya harga diri menurut Kevin. Lagipula dengan berkelahi justru akan membuat cewek semakin tidak menyukai mereka. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Hal yang sangat sia-sia dan tidak ada gunanya.
Tirta sudah berlalu, hanya ada Jeff dan Kevin di jalan yang sunyi itu.
"Bukan urusanmu." Kata Jeff sambil berlalu.
"Jeff." Kevin berusaha memanggil Jeff tapi tak di hiraukan nya.
Kevin kemudian masuk kembali ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Mereka semua sudah pulang kembali ke rumah masing-masing. Tirta yang sudah lebih dulu pergi dengan jarak rumah yang tidak jauh dari jalan itu sekarang sudah sampai di depan pintu rumahnya. Dia tidak langsung masuk karena mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Padahal tadi pagi dia sudah menyaksikan pertengkaran mereka. Kedua orang tuanya memang acap kali kerap bertengkar. Tapi tidak pernah selama ini, hingga seharian.
Sejak ayahnya di ketahui menikah lagi dengan perempuan lain, dirumahnya tidak pernah ada kedamaian. Ibunya selalu marah-marah, begitu pun dengan ayahnya. Dan itu terjadi sejak Tirta masih kecil. Sejak ia kecil keluarganya sudah bermasalah. Ayahnya punya wanita simpanan dan ibunya sudah mengetahui hal itu. Setelah kejadian itu setiap hari orang tua nya selalu bertengkar di depannya.
Tirta tahu kalau ibunya punya simpanan tapi tidak dengan ayahnya, ayahnya masih belum mengetahuinya. Mereka selalu bertengkar di hadapan Tirta dan dia selalu kena imbas atas kemarahan mereka. Bahkan Tirta pernah mendapat tamparan saat hendak melerai mereka. Mungkin itu yang menyebabkan Tirta seharian ini terlihat murung. Karena dia menyaksikan kedua orang tuanya yang sedang ribut.
Tirta yang sedari tadi berdiri di depan pintu dan mendengar pertengkaran kedua orang tuanya merasa muak, ia lalu memutuskan untuk pergi lagi. Dia hanya menaruh gitarnya di dekat jendela lalu pergi lagi dari rumah. Berjalan kembali di kegelapan malam tanpa arah dan tujuan. Setelah lama berjalan dia memutuskan untuk berhenti dan duduk di sebuah batu besar tidak jauh dari perumahan tempat tinggal Nirmala.
Jarak tempat tinggal mereka memang berdekatan. Tapi mereka jarang terlihat mengobrol bersama.
Malam ini tiba-tiba Nirmala merindukan nasi goreng sea food di pinggir jalan, dia pernah makan sekali di sana bersama dengan Kevin. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dan membelinya, dia tidak menyuruh pakde Slamet maupun bi Sona, lagipula hari belum terlalu malam, baru pukul 19.30 waktu indonesia barat. Saat dia sedang berjalan, tanpa sengaja dia melihat Tirta, walaupun dia hanya melihat dari kejauhan tapi Nirmala yakin itu Tirta. Dia pun mendekatinya dan membuat Tirta kaget.
"Tirta?" Sapa Nirmala pada Tirta yang terlihat sedang murung.
"Mala."
"Kamu kenapa? Wajah kamu memar begitu."
"Tidak apa-apa." Jawab Tirta.
Baru sebentar Nirmala duduk di sebelahnya, tiba-tiba perut Tirta berbunyi, sepertinya dia lapar. Nirmala tersenyum lalu menyuruhnya untuk tetap diam di tempat.
"Tunggu di sini, aku akan segera kembali." Ucap Nirmala sambil berlalu.
__ADS_1
Nirmala kemudian membeli 2 bungkus nasi goreng dan dengan cepat dia kembali ke lokasi Tirta. Nirmala mengajak Tirta untuk kerumahnya karena luka dan memarnya harus segera di obati. Awalnya Tirta menolak, tapi karena Nirmala memaksa, akhirnya dia mau di obati.
Sesampainya di rumah, Nirmala meminta pakde Slamet untuk membantu mengobati lukanya. Sedangkan Nirmala menyiapkan nasi goreng yang baru saja di belinya. Mereka kemudian makan bersama di teras rumah sambil memandang langit malam yang cerah penuh bintang. Untuk sesaat Tirta bisa melupakan masalahnya, dia mulai bisa tersenyum.
Selesai makan, Nirmala mengambil buku dan membacanya di teras rumah menemani Tirta. Tirta juga terkenal sebagai orang yang jenius di sekolahnya sehingga Nirmala berfikir bisa jadi teman belajar yang menyenangkan.
"Mala, bolehkah aku bertanya sesuatu yang sedikit pribadi?" tanya Tirta tiba-tiba duduk di samping Nirmala yang sedang asyik menghapal pelajaran biologi.
Nirmala mengangkat wajahnya, hingga pandangannya lurus menghadap wajah Tirta yang mulai sedikit bisa tersenyum.
"Pertanyaan apa? Wajahmu serius sekali, aku jadi deg-degan nih." Jawab Nirmala sambil tersenyum sengaja untuk menghibur Tirta yang sepertinya sedang menyimpan masalah besar.
"Bagaimana perasaanmu sesungguhnya pada Jeff?" tanya Tirta lagi.
Lagi-lagi Nirmala terkejut. Mengapa Tirta ingin mengetahui perasaannya pada Jeff? Nirmala memandangi wajah Tirta seolah ingin meneliti maksud tersembunyi dari pertanyaan itu.
"Ah, mengapa pertanyaan mu aneh sekali. Apa urusanmu dengan bagaimana perasaan ku pada Jeff?" Sahut Nirmala.
"Baiklah, kamu tidak harus menjawab pertanyaan ku." Kata Tirta mulai bangkit dari duduknya dan berdiri.
Nirmala menangkap ada perasaan merasa bersalah pada Tirta.
"Jangan merasa bersalah Tirta, semua orang pasti punya rahasia. Iya kan?" Lanjut Nirmala.
Tirta tersenyum tipis dan kembali duduk.
"Jadi kamu merahasiakan perasaanmu untuk Jeff?"
Nirmala bengong tidak tahu harus berkata apa.
"Tapi kamu benar Nirmala, semua orang pasti punya rahasia. Aku juga punya." Kata Tirta.
"Aku memang sudah menduga, cowok dengan wajah murung sepertimu pasti punya rahasia kelam. Padahal kamu punya potensi untuk menjadi cowok idaman di sekolah andai saja kamu mau banyak tersenyum. Kamu juga jenius selalu berprestasi dan permainan basket kamu juga sangat bagus." Kata Nirmala sambil tersenyum lagi berusaha untuk menghibur Tirta.
"Maksudmu?" Tanya Tirta.
"Apakah kamu tidak sadar, sebenarnya kamu menyimpan pesona?" Ucap Nirmala lagi.
Nirmala memang pandai menghibur orang lain, tapi apa yang dia katakan malam ini pada Tirta terlalu berlebihan sehingga membuat Tirta yang memang menyimpan perasaan untuknya jadi salah tangkap.
"Dan kamu, apakah kamu terpesona padaku, Nirmala?"
__ADS_1