
Mula-mula Nirmala dan Kevin duduk bersama diruang tamu. Sesekali mereka saling menatap satu sama lain, bercerita tentang masa kecil mereka. Setelah puas bercerita membicarakan topik masa kecil, mereka mendadak diam kehabisan kata-kata, untuk mencairkan suasana kembali, Kevin mengajak Nirmala keluar menikmati indahnya malam dan mencari makan malam di sekitar rumahnya. Nirmala tidak menolaknya, akhirnya mereka berdua pergi malam itu dengan berjalan kaki, tidak naik mobil atau motor.
Jalan kaki membuat mereka lebih terlihat dekat dan akrab. Juga terlihat lebih santai dan rileks. Udara di luar sangat dingin, Nirmala terlihat sesekali mendekap badannya sendiri. Kevin memperhatikan setiap tingkah Nirmala, sekecil apapun itu. Kevin begitu bahagai bisa berjalan bersama orang yang di sayanginya. Tapi dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara terbuka. Hanya perhatian-perhatian kecil yang selalu dia berikan. Menurutnya, itu lebih dari sekedar kata-kata cinta.
Mereka terus berjalan dari perumahan mewah itu keluar mencari udara segar. Tidak terasa mereka sampai di pintu keluar masuk perumahannya. Satpam sudah tidak asing dengan wajah warga-warganya, saat Kevin dan Nirmala keluar, mereka membuka pintu gerbang utama perumahan dan melambaikan tangan serta tersenyum kepada Kevin.
Kini Kevin dan Nirmala sudah berada di luar perumahan. Terlihat keramaian kota Jakarta lengkap dengan kepadatan penduduknya. Lokasi rumah mereka memang strategis, tidak jauh dari pusat keramaian seperti perkantoran, sekolah, taman dan juga pasar. Bahkab setiap sore hingga malam hari di sisi kanan dan kiri jalan banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Mulai dari pedagang nasi goreng, ayam pecel, bakso, martabak, semuanya ada dan lengkap.
Ruko-ruko juga banyak yang beroperasi, sangat ramai, ada yang menjual sepatu, tas, baju dan lain-lain. Malam itu Nirmala berjalan malu-malu dan menunduk. Sementara Kevin berjalan dengan gagahnya, sesekali dia menoleh ke arah Nirmala. Tiba-tiba Kevin menghentikan langkahnya saat tiba di depan pedagang nasi goreng. Nirmala ikut berhenti dan menatap Kevin. Seolah ingin bertanya kenapa berhenti. Tapi sebelum Nirmala bertanya, Kevin sudah lebih dahulu mengatakan perihal mengapa dia berhenti di situ.
Ternyata Kevin ingin mengajaknya makan nasi goreng. Nasi goreng di pinggir jalan, bukan di restoran mewah.
"Nasi goreng disini sangat enak," Kata Kevin.
"Kalau Kevin bilang enak, pasti rasanya beneran enak." Puji Nirmala.
Mereka pun masuk dan mencari tempat duduk. Warung itu ramai banyak sekali pengunjungnya, tapi untungnya masih ada tempat duduk yang paa untuk mereka. Mereka kemudian memesan 2 nasi goreng dan 2 teh manis hangat. Makan malam yang sangat sederhana untuk orang-orang sekelas Kevin dan Nirmala yang sudah terbiasa makan di restoran mewah. Mereka memilih bangku yang di pojok.
Bangku di warung nasi goreng itu cukup panjang, jadi siapapun bisa duduk berdampingan. Tidak mau mengambil resiko, Kevin duduk di samping Nirmala supaya tidak ada orang lain yang mendekat.
Tidak lama kemudian, pesanan mereka sudah siap. Nasi goreng sea food, itu nasi goreng yang paling Nirmala suka. Berisi cumi dan udang, telur, ayam, sosis dan sedikit sayuran melengkapi nasi goreng itu, sangat spesial. Rasanya juga sangat pas, dengan bumbu rempah asli menambah selera makan malam mereka.
Ketika Nirmala dan Kevin sedang menyendok nasi itu ke mulutnya, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di depannya. Berteriak kepada pedagang nasi goreng.
"Bang, nasi goreng pedas spesial satu dan jeruk hangatnya satu ya? Gak pake lama." Kata pria itu.
Dari suaranya dia seperti mengenalinya, tapi Nirmala tidak berani menoleh. Dia menunduk sambil melanjutkan makannya. Tiba-tiba pria itu menyapa Nirmala.
"Tidak usah buru-buru makannya, santai saja." Kata Jeff.
Nirmala mental ke arah pria yang menyapanya itu. Rupanya itu Jeff teman sekolah Nirmala. Jeff sendiri baru menyadarinya kalau orang yang di depannya itu Nirmala dan Kevin setelah dia duduk persis di depan mereka.
"Ternyata aku sedang berada di tempat yang tepat, apa kencan kalian terganggu?" Kata Jeff.
"Tentu saja tidak, kami justru senang kamu bisa menyaksikan pertunjukan romantis romeo dan Juliet," balas Kevin.
Nirmala menundukkan kepala, dia pura-pura tidak mendengar percakapan mereka berdua. Hanya fokus pada makanan, tanpa mengangkat wajahnya sedikit pun.
Jeff melirik ke arah Nirmala.
"Tapi sepertinya Juliet merasa terganggu." Jeff mulai menatap Nirmala lebih dekat.
"Jangan menatap Julietku seperti itu, nanti kau tergoda." Kata Kevin sambil menunjukan senyum kemenangannya.
Jeff terlihat sangat kesal tapi mencoba untuk tenang agar tidak terpancing emosi atas kata-kata Kevin.
Kevin sendiri merasa sangat senang karena pada saat sedang bersama Nirmala, Jeff datang. Pucuk dicinta ulam tiba, begitu menurut Kevin. Sesuatu yang bahkan tidak pernah dia pikirkan sebelumnya atau bahkan tidak pernah terbayangkan kalau Jeff akan datang menyaksikan makan malam mereka. Sekalian dia ingin pamer kemesraan walaupun sebenarnya Kevin tidak ingin meladeni anak kecil seperti Jeff.
Pelayan datang mengantar makanan dan minuman yang sudah di pesan Jeff. Dia meletakkan di meja tepat di depan Jeff. Jeff kemudian meraih sendok dan garpu, mengelapnya dengan tissu yang ada di depan Nirmala, Nirmala masih menunduk. Dia juga membuka toples acar dan mencampurkannya kedalam nasi goreng, mengaduknya sambil terus memandang Nirmala. Tidak lupa juga dia menambahkan kerupuk sebagai pelengkap.
"Makanlah dulu, baru kita lanjutkan lagi pembicaraan ini." Kata Kevin kepada Jeff.
"Siapa yang mau melanjutkan pembicaraan denganmu? tidak penting." Jeff mulai kesal.
Jeff mulai menikmati makan malamnya, pandangannya sesekali masih dia arahkan kepada Nirmala yang tertunduk malu.
"Fokuslah pada makananmu Jeff, memandang Nirmala tidak akan membuatmu kenyang." Kata Kevin lagi.
__ADS_1
"Terserah." Balas Jeff sambil meneruskan makannya.
Kevin hanya tersenyum dan melanjutkan makannya juga, sedangkan makanan Nirmala sudah hampir habis. Kevin tahu, Nirmala merasa tidak nyaman sehingga dia buru-buru ingin menghabiskan makanannya. Kevin pun makan dengan lahap agar bisa cepat selesai dan membawa Nirmala pergi ke tempat lainnya.
"Aku rasa untuk malam ini sudah cukup membuat Jeff kepanasan." Kata Kevin dari dalam hati.
Kevin kemudian memandang Nirmala yang terlihat piring nya juga sudah kosong. Dia sedang mencoba menghabiskan minumannya juga. Setelah melihat Nirmala meletakkan gelasnya. Kevin mulai memberi perhatiannya. Kevin sengaja ingin membuat Jeff cemburu.
"Apa kamu sudah selesai makannya Sayang?" Kevin mulai menggoda Nirmala, sengaja untuk membuat Jeff gerah.
"Iya sudah." Jawab Nirmala kemudian berdiri dan mulai melangkah kan kakinya keluar dari warung nasi goreng di susul oleh Kevin di belakangnya. Dia sama sekali tidak menoleh Jeff, apalagi menyapanya. Nirmala seperti tidak melihat keberadaan Jeff di sana.
Sombong sekali dia, menatap saja tidak, apalagi menyapaku. Batin Jeff.
Nirmala tidak bermaksud sombong, dia hanya merasa tidak nyaman, apalagi dari tadi Jeff dan Kevin ribut seperti anak kecil.
"Kami pergi dulu ya Jeff, semoga kamu tidak kehilangan selera makanmu karena Nirmala sudah pergi, ingat nasi goreng ini sangat enak, sayang jika tidak di habiskan." Kata Kevin tak lupa dengan senyuman khasnya.
Jeff terlihat sangat kesal. Dia memang tidak pernah menyukai Kevin, selalu saja kesal setiap melihatnya apalagi jika dia bersama dengan Nirmala. Semakin membakar rasa kesalnya.
"Pergi sana." Kata Jeff.
Kevin lalu melanjutkan jalan kaki bersama Nirmala. Mereka kembali menikmati malam sambil berjalan kaki menuju kembali kerumah.
"Kevin, lain kali jangan memanggilku begitu, apalagi ditempat umum." Kata Nirmala.
Nirmala tidak suka jika Kevin memanggilnya sayang, apalagi di tempat yang ramai. Lagipula mereka bukan pasangan kekasih, itu membuat Nirmala merasa risih dan tidak nyaman.
Kevin hanya tersenyum.
"Maaf, kamu gak suka ya?" Tanya Kevin sambil meminta maaf.
"Oke lain kali aku tidak akan mengatakannya lagi, tapi gak janji."
"Hm ... " Nirmala memanyunkan bibirnya ke depan.
"Lagi-lagi dia bersikap seperti itu, membuat pikiranku melayang membayangkan yang bukan-bukan." Kata Kevin dalam hatinya.
Setiap melihat bibirnya yang mengerucut itu membuat aku tidak bisa menahan diri. Tapi aku harus tetap bertahan, tetap tenang.
Nirmala memang selalu mengerucutkan bibirnya setiap kali Kevin menggodanya. Hal itu selalu membuat Kevin hampir-hampir lepas kendali, tapi Nirmala tidak pernah menyadari atas apa yang dia lakukan itu. Itu bisa saja membuatnya dalam bahaya, bahaya karena bisa membuat orang lain lepas kendali dan menciumnya. Untungnya Kevin masih bisa menahan nafsunya.
"Nirmala, bagaimana kalau kita kembali kerumah, banyak nyamuk disini." Kata Kevin.
"Kita memang akan kembali kerumah kan?"
Kevin tersenyum kembali.
Memangnya malam-malam begini mau kemana? Batin Nirmala.
Mereka berjalan kaki beriringan di pinggir jalan raya, banyak motor dan mobil yang lalu lalang. Banyak kerikil juga yang membuat langkah kaki mereka tidak bisa cepat dan harus berhati-hati agar tetap bisa menjaga keseimbangan supaya tidak tersandung dan jatuh.
Tiba-tiba Nirmala kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh karena kerikil itu.
"Aw ..." Kaki Nirmala terpeleset.
Untung saja Kevin dengan cepat menangkap Nirmala sehingga dia tidak sampai jatuh. Nirmala jatuh dalam dekapan Kevin, mata mereka saling menatap satu sama lain selama beberapa detik. Saat Nirmala masih berada dalam dekapan Kevin, secara tidak sengaja Jeff melihat kejadian itu.
__ADS_1
Jeff yang selama ini diam-diam juga menyukai Nirmala tentu saja sangat kegerahan dan cemburu melihatnya. Dia ingin mendekati mereka, tapi niatnya itu kemudian di urungkan. Dia tidak mau Kevin mentertawakannya. Dan tahu kalau dia cemburu.
" Maaf dan terimakasih," kata Nirmala sambil segera menyeimbangkan badannya kembali.
Dia berdiri dan segera melangkah lagi.
"Tidak masalah, hati-hati jalannya." Kata Kevin memberi nasehat.
"Apa ada yang terluka? jalanan ini memang banyak batu kerikilnya, kamu harus lebih berhati-hati." Kevin mengingatkan Nirmala kembali dan berjalan di sampingnya.
"Tidak ada yang, aku baik-baik saja." Kata Nirmala.
Mereka melanjutkan perjalanannya kerumah yang hanya kurang beberapa langkah lagi. Pemandangan perumahan mewah dari luar terlihat sangat istimewa, lampu taman yang banyak menyala menambah keindahannya di lengkapi dengan pancuran air di tengah-tengah jalan yang memisahkan jalan masuk dan jalan keluar mobil ke perumahan itu.
Mereka mulai memasuki pintu masuk perumahan. Berjalan menuju ke rumah Nirmala, tidak jauh dari pos keamanan. Sesampainya di depan rumah Nirmala, Kevin menawarkan diri agar besok Nirmala mau di antar ke sekolah. Tapi Nirmala menolaknya.
"Besok, aku antar ke sekolah ya?"
"Tidak usah, besok aku mau berangkat sama pakde aja." Kata Nirmala.
"Oh, begitu," Kata Kevin sambil tersenyum manis.
"Ya sudah, sampai jumpa lagi ya." Kevin melambaikan tangan sambil terus memperhatikan langkah Nirmala masuk kerumahnya.
"Sampai jumpa." Balas Nirmala sambil membalikkan badannya ke arah Kevin dab melambaikan tangan serta melempar senyuman.
Sesampainya didalam rumah, Nirmala bergegas ke kamar mandi, membersihkan diri sebelum merebahkan badannya di kasur. Dari kamar mandi, dia mendengar ponselnya terus berdering.
Siapa malam-malam begini masih menelepon? Batinnya.
Selesai mencuci muka dan gosok gigi, dia rebahan di kasur nya sambil melihat-lihat telepon selulernya.
Siapa tadi yang menelepon.
Saat Nirmala membukanya, ternyata telepon dari Jeff, 20 panggilan tak terjawab. Kemudian dia meletakan kembali handphone nya di kasur dan mulai mencari remot ac.
Ac sudah di nyalakan, aku ingin menonton tv juga. Malam ini ada film seru.
Tiba-tiba teleponnya berdering lagi. Awalnya Nirmala mengabaikannya karena dia sedang ingin fokus menonton. Tapi deringnya tidak mau berhenti dan memaksanya untuk mengangkat telepon itu. Akhirnya Nirmala pun mengangkatnya.
Hah ... Jeff lagi. Batinnya sebelum akhirnya dia menekan oke.
"Hallo, ada apa Jeff?"
"Hallo Juliet, apa aku mengganggu?" Jawab Jeff di panggilan telepon.
"Jika tidak ada yang penting, tidak perlu menelepon." Nirmala menjawab dengan ketus dan langsung mematikan panggilannya.
Selalu saja begini, mematikan telepon tanpa basa-basi, dasar tidak tahu sopan santun. Awas saja besok di sekolah.
Jeff mulai menggerutu lagi karena merasa di abaikan. Dia masih memegang ponsel dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya dia letakkan di atas meja. Kini dia mulai menarik sebuah kursi dan duduk. Ponsel dia letakkan di atas meja. Tiba-tiba berdering dan dia lihat Anah meneleponnya.
Gadis pengganggu ini, biarkan saja dia menelpon sampai pagi juga gak akan aku angkat.
Ponselnya terus berdering, Anah tak henti-hentinya menekan tombol oke pada nama sang pujaan hati.
Ayo angkat dong Jeff, angkat. Mengapa kamu jarang sekali mengangkat telepon dari ku. Apa kamu tidak tahu kalau aku selalu tersiksa karena merindukanmu. Orang bilang jatuh cinta itu indah, tapi kenapa aku bisa tersiksa seperti ini.
__ADS_1
Anah masih terus berusaha untuk menghubungi Jeff, masih terus berharap Jeff akan memiliki perasaan yang sama seperti yang dia rasakan. Rasa yang tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata. Rasa yang tiba-tiba hadir pada pandangan pertama. Rasa yang terkadang menusuk relung hatinya tapi tetap di genggam dengan eratnya.
Banyak orang bilang kalau cinta itu terkadang seperti bara, jika di pegang akan membakar tangan sendiri. Tapi cinta juga seperti air yang segar dan menyegarkan bagi siapapun yang kehausan. Namun ada pula rasa cinta yang lainnya, yang seperti racun dan bisa membunuhmu.