
Selesai makan malam, Kevin tidak membahas perihal Chika yang katanya mendapat undangan makan malam di acara ulang tahun ibunya nanti. Dia lebih fokus kepada Nirmala yang sedang duduk bersama dengan ibunya di ruang santai.
"Kevin, kamu lihat apa?" Ibunya mengagetkan Kevin yang sejak tadi menyenderkan badannya di samping pintu memandangi Nirmala.
"Mami, tidak ada Mam." Kata Kevin dengan gusar kemudian mengelus rambutnya di bagian belakang dari arah bawah ke atas.
Nirmala ikut menoleh dan membuat Kevin kaget hampir terjatuh. Entah apa yang terjadi pada dirinya, dia seperti kehilangan jati diri. Biasanya dia sangat santai dan tidak pernah gerogi.
Nirmala mengerutkan alisnya dan menatap Kevin sambil tersenyum. Dia kemudian bangkit dari kursinya dan menuju ke arah Kevin.
"Mami, sebentar Mala kembali." Kata Nirmala, dia memang terbiasa memanggil ibunya Kevin dengan sebutan Mami.
Kevin yang melihat gelagat Nirmala mulai menghampirinya langsung pasang aksinya menghilangkan rasa gugup yang mendera.
Dia tersenyum saat Nirmala sudah mulai dekat dan berdiri di sampingnya.
"Kamu aneh." Kata Nirmala.
"Aneh bagaimana?" Tanya Kevin penasaran.
"Iya aneh." Ucap Nirmala kembali mengulang kalimatnya.
Nirmala kemudian memegang dahi Kevin berusaha untuk memeriksa kondisi kesehatannya.
"Normal," Kata Nirmala.
"Hah, kamu ini." Kevin kemudian berjalan keluar menuju ke taman rumahnya, taman yang terletak di bagian tengah rumah besar itu, bukan yang di depan.
Nirmala mengikutinya, Ibu Kevin sendiri terlihat fokus menonton film dan tidak memperhatikan lagi apa yang terjadi antara Kevin dan Nirmala.
Kini Nirmala dan Kevin sama-sama berdiri menatap langit. Penuh dengan bintang bertaburan dan mencipta sebuah keindahan. Kevin nampak senyum-senyum sendiri, dia mulai bisa melupakan kegalauan hatinya saat melihat Nirmala ada bersamanya.
"Langit yang gelap bisa memberi keindahan yang begitu sempurna." Katanya.
"Iya." Jawab Nirmala.
Kevin menatap gadis yang berdiri di sampingnya.
"Tapi ada yang lebih indah dari itu semua."
"Hm ..." Nirmala hanya berkata hmm.
Ternyata pancingan Kevin meleset, dia mengira Nirmala akan bertanya tentang apa yang lebih indah. Dia pun tidak melanjutkan kalimatnya. Tiba-tiba Ibu Kevin datang menghampiri mereka.
"Mala, kamu mau menginap disini? Lagipula orang tua kamu itu sok sibuk sekali. Sudah tahu anaknya baru sembuh dari sakit, tapi masih saja mikirin pekerjaan." Ucap Ibu Kevin.
"Mami ...." Kevin berusaha menghentikan ucapan ibunya.
"Apa Mami salah bicara, Kevin? Itu memang kenyataannya."
"Mami, sudah." Kevin masih berusaha menghentikan ucapan ibunya.
"Tidak apa-apa Kevin, Mami benar." Kata Nirmala.
Merasa mendapat pembelaan dari Nirmala, Mami nya tersenyum dan bersedekap, membusungkan dadanya dan memajukan dagunya menatap Kevin, putra kesayangannya.
"Mami benar kan, Kevin?"
Kevin tidak menjawab pertanyaan ibunya dan menyuruh ibunya agar istirahat saja di kamar.
"Mami sebaiknya istirahat saja dan jangan tegang, tuh keriput nya kelihatan." Kevin mulai menggoda ibunya yang sangat memperdulikan kecantikan wajahnya.
Mendapati kalimat keriput di wajah, membuatnya panik dan segera menuju ke kamar untuk bercermin.
Kevin kembali menikmati malam berdua dengan Nirmala.
"Mami kamu benar." Ucap Nirmala lagi.
"Sudah, jangan di pikirkan." Kevin berusaha untuk membuat Nirmala lebih tenang.
***
Ke esokan harinya Nirmala mulai kembali kesekolah. Anah terlihat kembali menjadi Anah yang dulu, dia bersikap ramah dan manis. Alasannya tentu karena sekarang dia sudah tahu siapa sosok Nirmala sesungguhnya., bukan ketulusan seperti dulu lagi.
"Selamat pagi Nirmala." Anah tiba-tiba memeluk Nirmala dan mempersilakan ia duduk di kursinya.
Tirta yang menyaksikan kejadian itu geleng-geleng kepala dan bergumam.
"Anah yang merepotkan itu mudah sekali berubah perilakunya."
Nirmala sangat senang dengan sikap Anah hari ini, dia bahkan mentraktir Nirmala makan di kantin sekolah pada jam istirahat.
"Mala, kamu mau makan apa? Biar aku yang pesankan."
"Terserah kamu saja, Anah. Tapi kamu tidak perlu berlebihan seperti ini."
Anah hanya tersenyum menimpali kata-kata Nirmala. Jeff yang menyaksikan keakraban mereka juga sedikit heran. Dia tidak berusaha mendekati mereka karena takut Anah akan berbuat yang merepotkannya. Dia kemudian duduk di samping Tirta dan Bharata.
__ADS_1
Tirta yang mendapati Jeff duduk di sebelahnya hanya tersenyum sinis.
"Jangan terlalu dekat denganku, aku tidak mau orang salah paham." Kata Tirta.
Jeff kaget mendengar ucapan Tirta dan seketika dia pindah posisi duduknya, agak menjauh.
"Aku heran dengan Anah, terkadang dia baik dan terkadang dia seperti orang tidak waras." Kata Jeff.
"Jangan menghinanya." Ucap Bharata yang berusaha membela Anah.
Tirta hanya menghela napas dan melanjutkan makanannya. Jeff masih saja memperhatikan Nirmala dari kejauhan. Terlihat pesanan Anah dan Nirmala sudah siap dan mereka langsung menyantapnya.
Tirta dan Bharata fokus dengan makanannya, sedangkan Jeff membiarkan bakso di mangkoknya dingin.
"Jeff, makanlah dulu." Ucap Bharata.
"Sudah, kamu makan saja makananmu." Kata Jeff.
Tak berapa lama, Tirta menghabiskan makanannya dan segera pergi dari kantin bersama dengan Bharata. Jeff kini duduk sendiri sambil terus memandangi Nirmala.
Tiba-tiba dua siswa laki-laki mendekati tempat duduk Nirmala. Tidak luput dari pandangan Jeff.
"Hei, boleh kita gabung?" tanya salah satu dari mereka.
"Boleh," Jawab Anah.
Salah satu dari mereka kemudian duduk di samping kanan Nirmala, membuat gadis itu merasa tidak nyaman dan mencoba bergeser, tapi saat Nirmala bergeser ke sisi kiri, siswa yang satu lagi kemudian menguncinya dengan duduk di sisi kirinya. Kini Nirmala berada di tengah-tengah. Sedangkan Anah yang duduk di depannya hanya bisa menatap.
"Maaf, aku mau pindah." Nirmala beranjak berdiri dan berharap bisa pindah dari posisinya sekarang.
Tapi kedua siswa itu menghalanginya, Nirmala merasa terpojok sementara Anah hanya diam saja.
"Kamu Nirmala kan? Cantik." Ucap salah satu di antara mereka.
"Yo i." Teman satunya lagi berucap dan kemudian mereka tertawa bersama.
Salah satu dari mereka kemudian mencoba menyentuh dagu Nirmala, tapi Nirmala mengelak. Melihat kejadian itu, Jeff naik darah dan segera menghampiri. Dua siswa yang melihat kehadiran Jeff kemudian pergi diiringi dengan tatapan kebencian.
"Cabut." Kata salah seorang di antara mereka.
Jeff kemudian duduk di samping Nirmala. Nirmala duduk kembali dan menyelesaikan makanannya. Dia terbiasa menghabiskan makanan walaupun moodnya sedang buruk.
"Kamu tidak apa-apa kan, Mala?" tanya Jeff.
"Tidak apa-apa, terimakasih." Wajahnya masih menunduk dan tidak berani menghadap ke arah Jeff. Bukan apa-apa, dia hanya khawatir Anah akan cemburu.
"Syukurlah kamu datang tepat waktu Jeff." Kata Anah masih dengan senyuman manisnya.
Jeff tidak menanggapi kalimat Anah. Jeff masih terus memperhatikan Nirmala.
"Sepulang sekolah nanti, aku antar kamu pulang ya?" Jeff menawarkan diri.
"Tidak usah, aku nanti di jemput."
"Oh, begitu."
Lagi-lagi Anah hanya tersenyum melihat adegan yang membakar jiwa dan raganya.
***
Waktu pulang sekolah sudah tiba, sesuai dengan pesan kedua orang tuanya. Mulai saat ini Nirmala tidak di ijinkan naik bus apalagi angkot, sehingga dia hanya duduk manis di bangku sekolah sampai bi Sona dan Pakde Slamet datang menjemput. Ya, sekarang dia menjadi seperti anak TK yang tidak di ijinkan keluar pintu gerbang sekolah sebelum orang tuanya datang menjemput. Seperti itulah kondisi yang di alami sekarang.
Jeff melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Nirmala, dia duduk sendiri seperti sedang menunggu seseorang. Merasa penasaran, akhirnya Jeff menghampirinya. Namun, langkahnya terhenti saat bi Sona sudah lebih dulu bersama Nirmala.
"Non, sudah lama menunggu?" Ucap bi Sona.
Jeff mendengar kalimat itu dan semakin penasaran. Dia bersembunyi di balik pepohonan tidak jauh dari tempat Nirmala duduk. Bagaimana mungkin seorang Ibu memanggil anaknya dengan sebutan Non.
"Tidak Bi, baru saja keluar kelas." Ucap Nirmala.
Bi? Jeff semakin penasaran. Jika di perhatikan, wajah Nirmala dan bi Sona memang sama sekali tidak mirip, apalagi dengan pakde Slamet. Sama sekali tidak ada mirip-miripnya. Merasa sangat penasaran, Jeff kemudian masuk ke ruang Tata Usaha. Dia ingin mencari sesuatu tentang profil Nirmala.
"Jeff, masih belum pulang?" tanya seorang petugas TU mengagetkannya.
"Belum bu."
"Apa kamu mau membayar bulanan?"
"Tidak, tidak. Tapi ...." Jeff masih ragu-ragu.
"Tapi apa?"
Kini Jeff mulai duduk mendekati petugas TU itu. Petugas itu terlihat sedang sibuk dengan beberapa berkas-berkas kesiswaan.
"Maaf Bu, apa Ibu kenal dengan siswi bernama Nirmala?" tanya Jeff.
"Siapa yang tidak mengenalnya? Semua orang mengenalnya. Nirmala Wicaksana, iya kan? Putri tunggal dari bos besar yang terkenal itu. Ayahnya donatur tetap di sekolah kita." Jawabnya dengan santai.
__ADS_1
Jeff melongo dan menampar-nampar pipinya dengan kedua tangannya. Seolah tidak yakin dengan apa yang di ucapkan oleh petugas tersebut.
"Kamu kenapa?" tanya petugas itu kemudian meninggalkan ruangan karena masih banyak yang harus dikerjakan agar bisa secepatnya pulang kerumah.
Jeff nyaris pingsan, dia masih belum bisa mengontrol denyut jantungnya yang membara. Badannya menjadi kaku dan dingin seolah berada di dalam lemari es.
Tidak lama kemudian petugas TU itu datang lagi dan mengagetkannya.
"Jeff."
"Ah, ibu. Membuat kaget saja."
Petugas TU tersebut menggelengkan kepalanya lalu duduk kembali di kursi dan melanjutkan aktivitasnya. Jeff lalu berjalan keluar dari ruangan itu masih dengan setengah kekuatan, dia berjalan sangat pelan sambil sesekali memegang dinding tembok sekolahnya. Merasakan langkah kakinya yang berat dan nyaris tak bertenaga, dia kemudian duduk sejenak untuk beristirahat.
Dia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan. Masih berusaha menghirup udara dalam-dalam dan mencoba menenangkan diri.
"Jadi selama ini, aku dan yang lainnya salah. Kami mengira dia anak seorang pembantu. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa kami semua salah? Dan kenapa Nirmala hanya diam saja? Ya ampun, aku semakin menyukainya. Bukan karena dia anak seorang Wicaksana, bukan. Melainkan sifat rendah hatinya. Dia tidak pernah memamerkan harta kekayaan orang tuanya, dia naik angkot dan juga bus. Dia juga makan bakso dan nasi goreng di pinggir jalan." Batinnya.
Ya ampun, Nirmala, Nirmala, Nirmala. Ah, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain ...
Aku cinta kamu !
Tiba-tiba Jeff berteriak di sekolah seperti orang gila dan secara bersamaan ada siswi yang lewat di depannya. Mendengar Jeff berteriak seperti itu, dia mengira kalau Jeff sedang menyatakan cinta padanya. Dia pun mendekati Jeff yang sedang memejamkan matanya.
"Aku juga cinta kamu." Ucap siswi itu yang kemudian membuat Jeff seketika membuka matanya.
Dia kaget karena ada gadis yang duduk di sampingnya, menatapnya tanpa ragu dan tanpa malu. Jeff yang sadar akan kesalahan ucapannya itu dengan hati-hati mencoba melarikan diri. Dia berlari menuju ke parkiran motor, memakai helm dan segera pergi meninggalkan sekolah.
Hatinya yang berbunga-bunga dia bawa sampai ke toko bunga.
***
Sesampainya di toko bunga, dia memilih bunga-bunga mawar. Dia bingung untuk memilih warnanya, pilih warna putih atau merah? Akhirnya dia memilih mawar putih. Menurutnya warna putih akan lebih menarik dan cocok dengan kepribadian Nirmala yang kalem. Selain itu putih juga melambangkan ketulusan, seperti cinta yang ingin dia berikan. Dia keluar dari toko bunga itu dan pergi ke rumah Nirmala.
Sesampainya dirumah Nirmala, dia menelponnya. Nirmala yang sedang fokus mengerjakan PR di kamarnya kemudian mengangkat telepon dari Jeff.
"Hallo, Jeff." Sapa Nirmala.
"Hallo, Mala. Bisakah kita bertemu hari ini?"
"Maaf, Jeff tidak bisa. Aku sedang mengerjakan PR."
"Tapi aku sudah sampai di depan rumahmu dan aku belum makan siang." Kata Jeff.
Menurutnya, Nirmala pasti tidak akan tega membiarkan dia kelaparan. Nirmala memiliki hati yang baik dan selalu peduli kepada orang lain.
"Hmm ... iya baiklah, aku keluar sekarang."
Nirmala kemudian menutup bukunya dan mematikan lampu di kamarnya, dia berjalan menuruni tangga dan bergegas menghampiri Jeff.
Saat dia membuka gerbang rumahnya, Jeff terlihat menyembunyikan sesuatu, dia hanya tersenyum melihat Nirmala ada di hadapannya sekarang. Nirmala membalas senyumnya.
"Untukmu." Jeff tanpa basa-basi langsung memberikan bunga mawar kepada Nirmala.
Cara memberikannya benar-benar tidak romantis. Nirmala tersenyum paksa tapi tidak segera mengambil pemberiannya itu.
"Kamu suka tidak?" tanya Jeff.
"Iya, suka. Terimakasih."
"Mala, aku lapar. Temani aku makan yuk."
"Tapi Jeff, aku ...."
Belum selesai bicara Jeff sudah menarik Nirmala menuju ke motornya.
"Ayo, naiklah. Aku sudah sangat lapar." Paksa Jeff.
"Tapi Jeff, aku sudah makan. Kamu pergi makan saja sendiri." Ucap Nirmala menolak ajakan Jeff.
"Aku sudah memberimu mawar dan membuat kamu senang, iya kan? Jadi sekarang kamu juga harus bisa membuatku senang."
"Kalau begitu, mawar ini aku kembalikan saja. Ambil lah, ayo ambil." Kata Nirmala sambil memegang tangan Jeff agar mengambil bunga mawar nya kembali.
Jeff merasa senang dan tersenyum.
"Kenapa malah tersenyum? Ayo ambil ini." Ucap Nirmala.
Jeff tersenyum karena Nirmala memegang tangannya.
"Tidak apa-apa, aku senang kamu memegang tanganku."
Seketika Nirmala segera melepas tangan Jeff dan berbalik badan berjalan menuju kembali ke gerbang rumahnya. Tapi Jeff menarik tangannya dan membuat Nirmala kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh tapi Jeff segera menahannya. Membuat mata mereka saling menatap.
Nirmala segera berdiri dan kembali melanjutkan langkahnya, bunga mawar masih di genggamannya. Jeff yang merasa gagal mengajaknya makan siang membiarkan Nirmala berjalan kembali kerumah dan meninggalkannya. Jeff kemudian pergi dan tidak memaksanya untuk menemani makan siang.
"Apa maksudnya dengan memberiku bunga mawar ini?" Gumam Nirmala sambil terus melangkah masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Dia mencium aroma wangi dari bunga mawar itu dan meletakkannya di kamar tidur.