
Setelah seharian jalan-jalan memanjakan Nirmala, Kevin merasa badannya sedikit lelah. Dia kemudian memutuskan untuk mandi ditengah malam. Dia juga masih terus memikirkan hubungannya dengan Nirmala yang mulai sedikit bermasalah, masalah dengan ayahnya yang di yakini Kevin tidak menyukainya. Membuat rasa hatinya tidak karuan.
Menurutnya dengan mandi air hangat akan bisa membuatnya lebih tenang, selain itu dia juga merasa badannya lengket-lengket setelah menjalani aktivitas di luar rumah. Berdiri di bawah air hangat yang turun dari shower membuatnya lebih tenang. Sambil mengusap wajah dan rambutnya, Kevin masih sesekali membayangkan wajah gadis pujaan nya itu.
Usai mandi air hangat, dia meraih handuk untuk mengeringkan badannya dan menutupi bagian bawah tubuhnya. Dia kemudian memakai baju tidur dilanjutkan dengan memijit tubuhnya sendiri. Dia memberikan pijatan kecil di area leher, punggung dan lengannya. Lagi-lagi dia teringat dengan Nirmala.
Kalau saja sudah menikah, mungkin istriku bisa bantu memijat. Katanya dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
Dia kemudian mulai merebahkan badannya setelah seharian bepergian. Rasa lelah yang melanda mulai berkurang setelah dia merenggangkan badannya.
"Huh." Kevin menghela napas, sesekali dia masih terus menyunggingkan senyumnya. Mengingat sosok gadis impiannya.
"Nirmala sedang apa ya sekarang? Apa tadi dia benar-benar tidur saat aku gendong? Ah, sudahlah."
Kevin mulai menatap langit-langit kamarnya dan melirik jam dinding yang terpajang. Jam menunjukkan pukul 11 malam, tapi dia masih belum bisa tidur. Orang bilang, jika jatuh cinta maka akan sulit tidur walaupun mata sudah mengantuk. Itulah yang di rasakan oleh Kevin malam itu. Dia benar-benar sulit untuk memejamkan matanya bahkan sampai waktu menunjukkan jam dua dini hari, dia masih terjaga.
***
Hari senin, matahari sudah bersinar sangat terang. Kevin yang biasanya bangun pagi dan pergi ke kantor, masih belum keluar dari kamarnya. Karena merasa khawatir, sang ibu kemudian mengetuk pintu kamarnya dengan halus.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Kevin ...." Panggil sang ibu saat ketukan pintu nya tidak mendapatkan jawaban.
Kevin yang mendengar suara ibunya mulai membuka matanya. Dan mengangakat badannya setengah berbaring.
"Iya Mam." Dengan suara yang tidak bersemangat.
"Kamu tidak ke kantor?" tanya Ibunya dari balik pintu.
"Hari ini Kevin dirumah saja Mam."
"Oh, ya sudah. Mami mau keluar dulu ya."
"Ya, Mam."
Jam dinding seolah sedang menatapnya, terlihat sudah jam 10 pagi. Seharusnya Kevin yang melihat angka pada jam tersebut, tapi rasanya pagi itu sangat berbeda. Dia merasa justru jam dinding itu yang menatapnya. Kevin mulai masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Setelah berpakaian rapi dia menuju ke ruang makan. Tidak ada siapapun diruangan itu, dia sarapan sendirian.
Dia makan dengan santai karena hari ini berniat untuk dirumah saja tanpa memikirkan urusan kantor. Sesekali dia memainkan handphonenya dan mengecek pesan-pesan yang masuk.
"Begitu banyak pesan yang masuk, tak ada satupun dari Nirmala. Gadis itu, huh." Kevin menghela napas.
Dia pasti sekarang sedang belajar disekolah. Batinnya.
"Apa nanti siang aku jemput saja di sekolahnya ya?" Kevin mulai berpikir untuk menjemput Nirmala sepulang sekolah.
***
Sementara itu di sekolah, Nirmala sedang fokus mendengarkan pelajaran yang di sampaikan oleh gurunya. Sedangkan Jeff malah mengobrol dengan Bharata.
"Bharata, hus hus .... Kamu bawa korek api tidak?" tanya Jeff.
"Tidak." Jawab Bharata.
Tirta yang mendengar pertanyaan Jeff kemudian memberikan korek apinya yang berbentuk senapan kepada Jeff tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Jeff langsung meraih korek api tersebut, tapi sayang kejadian itu di saksikan oleh ibu guru yang sedang mengajar. Guru itu pun mendekati Jeff.
"Berikan pada Ibu." Pinta ibu guru yang melihat Jeff saat menarik benda itu dari tangan Tirta.
__ADS_1
"Gawat ...." Ucap Jeff pelan.
Jeff memberikan benda itu tanpa melakukan pembelaan apa-apa. Tirta yang melihat kejadian itu pun tidak bisa menahan umpatannya, "dasar ceroboh."
"Kalian berdua, ikut ibu ke ruang BK." Perintah Ibu guru.
"Huft." Jeff menghela napas.
Dia kemudian beranjak berdiri dan mulai mengikuti ibu guru tersebut di susul oleh Tirta.
"Dasar ceroboh." Umpat Tirta membuat Jeff geram.
"Kau juga sama." Tukas Jeff yang tidak terima mendengar ucapan Tirta.
"Kalian tidak usah ribut." Kata ibu guru sambil terus melangkah menuju ke ruang BK.
Mereka akhirnya sampai di ruang BK. Dengan penuh keberanian Tirta melangkah masuk walau dia tahu apa yang sedang dia hadapi. Jeff juga terlihat santai tanpa ketegangan yang berarti.
"Bapak nggak nyangka kalian berdua membawa alat ini ke sekolah. Siapa yang membawa alat ini?"
Tirta hanya mengangkat tangan kanannya. Guru BK itu menatap Tirta dengan tatapan tajam.
"Kalian ini tahu kan? Kalau sekolah kita adalah sekolah terfavorit, Bapak tidak mau kalau gara-gara kalian, prestasi dan nama baik sekolah jadi menurun. Dan kamu Tirta, kamu sebagai anak dari pemilik sekolah ini harusnya bisa memberi contoh yang baik." Jelas guru BK tersebut panjang lebar sambil menatap Jeff dan Tirta.
"Sekarang kalian tanda tangani surat perjanjian ini, bahwa kalian tidak akan membawa benda-benda semacam ini lagi ke sekolah." Pinta guru BK seraya menyodorkan kertas untuk di tanda tangani.
Tirta meraih kertas itu dan dengan tenang menandatanganinya tanpa banyak protes. Sedangkan Jeff hanya memegang bolpoint dan masih enggan untuk menyentuh kertas perjanjian itu.
"Apalagi yang kamu pikirkan Jeff, cepat tanda tangani." Perintah guru BK itu lagi.
Dia kemudian meraih kertas itu dan bersamaan dengan itu pula, dia menginjak kaki Tirta. Seketika Tirta langsung menengok ke arahnya. Jeff terlihat senyum-senyum, Tirta kemudian membalas dengan menginjak kaki Jeff begitu keras dan tidak segera melepaskannya. Membuat Jeff meringis kesakitan. Sontak kejadian itu membuat guru BK yang sedang menikmati kopinya menatap ke arah Jeff.
"Apa yang kamu tertawakan, Jeff?"
"Tidak Pak, tidak ada." Jawab Jeff sambil menahan sakit.
Siapa pula yang tertawa. Batin Jeff.
Tirta terlihat begitu tenang dan senyum-senyum penuh kemenangan.
"Selesai tanda tangan, segera kembali ke kelas. Benda ini Bapak sita, setelah jam istirahat kedua bapak akan ke kelas kalian."
"Mau ngapain Pak?" tanya Jeff dengan begitu cepatnya.
Guru BK tidak menjawab dan justru menatap tajam ke arah Jeff. Tirta pun ikut meliriknya.
"Sudah selesai kan? Cepat kembali ke kelas." Pinta Guru BK sambil mengambil kertas yang sudah di tanda tangani oleh Jeff dan Tirta.
Mereka kemudian beranjak pergi meninggalkan ruang BK, tapi tidak kembali ke kelas melainkan pergi ke kantin.
"Tirta, mau kemana kau?" tanya Jeff saat melihat langkah Tirta tidak menuju ke kelas tapi malah berjalan ke arah lainnya.
Tirta tidak menjawab, dia terus berjalan dan Jeff mengikutinya dari belakang. Tirta sedang menuju ke kantin. Sesampainya di kantin, Tirta langsung memesan lemon tea dan semangkok bakso, Jeff juga pesan makanan yang sama. Mereka dengan santai nya malah makan di kantin tanpa merasa bersalah sedikitpun. Tirta memilih pergi ke kantin karena dia merasa percuma jika kembali ke kelas, tidak lama lagi bel istirahat kedua pasti juga akan berbunyi.
Benar saja, tidak sampai lima menit mereka duduk di kantin. Bel tanda istirahat jam kedua berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar kelas dan berebut menuju ke kantin. Tak terkecuali Salsa dan Ruby. Salsa sempat tidak percaya saat menyaksikan Jeff dan Tirta terlihat sedang menikmati makanannya di kantin. Mereka terlihat akrab, tidak seperti biasanya.
"Dua serigala hitam itu sedang berdamai rupanya." Gumam Salsa kemudian mendekati tempat duduk Jeff dan ia duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Tirta melirik dan menghela napas, sorot matanya menampakan ketidak sukaannya. Sedangkan Ruby, dia duduk di samping Tirta berhadap-hadapan dengan Salsa dan Jeff.
"Aku kira kalian sedang membersihkan toilet." Ejek Salsa mulai membuka percakapan.
Tidak ada satupun dari mereka yang menanggapi kata-kata Salsa. Tirta memandangi Ruby, dia tidak mengenakan hijabnya dan membuat Tirta bertanya-tanya.
"Kemana hijabmu? Basah semua ya?"
"Mmm ... Bukan begitu." Sahut Ruby.
"Hijab?" Jeff dan Salsa bersama-sama mengucapkan kalimat itu dengan nada kaget.
Ruby hanya tersenyum. Sesaat kemudian, Bharata ikut bergabung di susul oleh Anah. Nirmala tidak nampak bersama mereka.
"Hallo, Jeff." Sapa Anah.
Salsa seolah mengerti dan berdiri, kemudian mempersilakan Anah duduk di samping Jeff. Dia pindah ke kursi lainnya. Jeff menatap Tirta yang terlihat menahan senyum melihat kebucinan Anah. Jeff masih terdiam dan tidak membalas sapaan Anah. Agar bisa segera menghindari Anah, Jeff dengan cepat menghabiskan makanannya dan pergi dari kantin.
Anah yang sudah terlanjur memesan makanannya dan merasakan perutnya yang mulai lapar tidak kuasa untuk mengejar Jeff. Dia pun makan dengan muka yang berlipat-lipat kesal.
Jeff pergi untuk mencari Nirmala.
"Tidak susah untuk mencari keberadaan Nirmala, dia pasti ada di perpustakaan." Ucapnya pelan sambil menuju ke perpustakaan.
Setibanya di perpustakaan, Jeff menyaksikan Nirmala yang sedang kesulitan mengambil buku di rak bagian atas. Tanpa basa-basi, Jeff segera mendekat dan mengambilkan buku itu lalu menyerahkannya kepada Nirmala.
"Terimakasih." Kata Nirmala.
"Hanya itu saja?"
"Iya ini saja." Jawab Nirmala dengan polosnya.
"Bukan, maksud aku hanya ucapan terimakasih saja? Tidak ada yang lain?" Jeff mengikuti langkah Nirmala menuju ke kursi panjang di perpustakaan.
Nirmala mencari tempat duduk yang berdekatan dengan jendela, lalu dia mulai duduk dan membaca. Jeff ikut duduk di sampingnya, dia terus memandang Nirmala membuat gadis itu tersipu malu.
"Jeff, hentikan. Jangan memandang ku seperti itu."
"Kenapa? Aku suka melihatmu. Kamu adalah jendela dunia ku."
"Ya ampun, jendela dunia itu buku Jeff, bukan aku." Ujar Nirmala sambil mulai membuka halaman buku itu.
Nirmala kini fokus membaca dan menyuruh Jeff untuk diam agar tidak mengganggu konsentrasinya dalam membaca.
"Kenapa kamu begitu cantik?" Jeff mulai mengigau lagi mengganggu konsentrasi Nirmala.
"Jeff, kalau kamu tidak bisa diam sebaiknya kamu keluar saja."
"Tidak boleh berisik di perpustakaan." Suara itu terdengar jelas di kumandangkan oleh penjaga perpustakaan.
Nirmala langsung menutup bukunya dan menghela napas. Dia berniat meninggalkan perpustakaan karena Jeff pasti tidak akan bisa diam.
"Huft ...."
Dia kemudian keluar dari perpustakaan dan Jeff masih terus mengikutinya.
"Mala, pulang sekolah nanti, aku antar kamu pulang ya?" Kata Jeff menawarkan diri.
__ADS_1