Go To His World

Go To His World
20. Kekacauan Jidante


__ADS_3

"Jadi anda mau menguji obat saya dan menyebarluaskan obat yang saya buat dikalangan masyarakat?" Tanya Glorva memastikan.


Preton mengangguk, "Ya, jika obatmu berhasil diuji, kau akan diangkat menjadi peracik senior diakademi ini, mungkin kau akan sibuk nantinya" Jelas Preton.


"Aish tujuanku masuk ke akademi kan bukan untuk meracik obat" Batin Glorva frustasi, bagaimana pun ia tidak ahli dalam meracik.


Glorva membungkukkan badannya, "Maaf, tapi saya tidak bisa melakukan itu, walaupun obat saya berhasil nantinya, tolong jangan libatkan saya karna saya tidak ingin menjadi peracik" Ujar Glorva memohon.


Preton mengernyitkan dahinya, "Tapi semua orang sudah tau itu obat buatanmu, kau bisa mendapatkan ketenaran karna menemukan penemuan baru" Sahut Preton membuat Glorva semakin resah.


Glorva kemudian reflek menggenggam tangan Preton, "Tolong, anda bisa mengambil alih obat saya, resep racikannya akan saya berikan pada anda, apapun itu asal saya tidak menjadi peracik, saya juga tidak butuh ketenaran karna saya memiliki tujuan lain" Jelas Glorva memohon, wajahnya menunjukkan keseriusannya.


Preton heran dengan anak dihadapannya, bagaimana pun ini adalah kesempatan yang bagus untuk meningkatkan ketenaran di kalangan masyarakat, dia juga akan mendapatkan penghasilan yang banyak, "Baiklah kalau itu maumu, saya tidak bisa memaksa, jadi izinkan saya mengambil alih obat anda dan menerima resep anda" Jawab Preton menyetujui.


Kedua mata Glorva langsung berbinar, "Terimakasih, anda memang dapat diandalkan, saya akan memberikan resepnya saat saya kembali ke akademi, jadi mohon menunggu" Ujar Glorva yang tanpa sadar menyalimi tangan Preton, membuat Preton bingung dengan tindakannya.


"Kalau begitu saya harus pamit, sampai jumpa guru!" Lanjutnya lagi, lalu beranjak meninggalkan Preton.


"Haha anak yang aneh" Kekeh Preton menatap kepergian Glorva sebelum dirinya juga ikut melangkahkan kaki menuju lab penelitian.


Glorva yang hendak belok dari lorong akademi kaget karna melihat Wivon, "Hei kau mengagetkanku" Ujarnya.


Wivon yang juga ikut kaget reflek menjauhkan tubuhnya, "Ah sejak kapan kau sudah disini?" Tanyanya.


Glorva memasang wajah curiganya, "Maksudmu? Apa kau tadi mengintip ku?" Tanya Glorva mengintimidasi.


Wivon gelagapan, bagaimanapun dia sudah ketahuan, "Ah maaf, aku hanya penasaran kenapa orang penting seperti Preton memanggilmu" Jelasnya.


"Ohh jadi karna orang penting seperti Preton memanggil rakyat jelata sepertiku membuatmu merasa aneh?" Kesal Glorva, ia mendekatkan wajahnya pada Wivon untuk memberinya tatapan tajam.


Entah kenapa tindakan Glorva membuat Wivon menjadi gugup, jantungnya ikut berdetak kencang, Wivon menjauhkan dirinya dari Glorva, "Bukan begitu maksudku, hanya sa-"

__ADS_1


"Sudahlah, tidak penting" Potong Glorva, lalu meninggalkan Wivon.


Wivon mengejar Glorva, kemudian ia berjalan pelan disampingnya untuk menyamakan langkah kakinya, "Tapi kenapa kau menggenggam tangan Preton" Tanya Wivon yang terus berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Glorva.


"Aku tidak punya kewajiban untuk memberitahumu" Ketusnya.


"Tapi kau mencium tangannya, apakah seleramu pria seperti Preton?" Tanya Wivon yang membuat Glorva reflek menghentikan langkahnya.


"Kau gila? Astaga aku tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan gila itu" Sahut Glorva yang tidak habis pikir dengan pertanyaan Wivon, "jangan mengikutiku lagi dan diamlah disini" Lanjutnya lagi memperingati, lalu dengan cepat ia beranjak meninggalkan Wivon yang masih terdiam.


"Kenapa aku harus diam disini? Aku juga harus pulang!" Teriak Wivon pada Glorva yang sudah mulai menjauh dari hadapannya.


Sedangkan Glorva hanya mengabaikannya dan terus melangkah, "Bagaimana bisa murid yang menyalimi tangan gurunya bisa memberi kesan gila seperti itu" Gerutu Glorva yang masih heran dengan pertanyaan Wivon padanya.


Disisi lain Wivon masih terdiam melongo ditempatnya, padahal Glorva sudah lama hilang dari pandangannya.


"Tunggu, kenapa aku menuruti perintahnya untuk tetap dia ditempat? Ada apa dengan diriku" Batin Wivon heran, lalu ia beranjak pergi.


Tak lama kemudian Glorva sampai di rumahnya dengan rasa kesal yang masih tersisa, "Huh orang itu terus saja membuat mood ku hancur" Gerutunya sambil membuka sepatu kulitnya, lalu masuk kedalam rumah.


Glorva melihat Jidante yang tengah mengemasi barang barang milik Glorva, "Apa yang kakek lakukan?" Tanya nya.


"Tentu saja mengemasi barang barangmu, kau sudah pasti lulus dan akan pindah ke asrama kan?" Sahutnya, ia masih terus mengemasi barang barang Glorva.


"Kakek aku akan pergi tiga hari lagi, tapi kau malah mengemasinya sekarang, kau ingin aku pergi secepat itu?" Kesal Glorva.


Jidante menatap kearah Glorva, "Bukan itu maksudku, aku ingin kau menggunakan waktu tiga hari itu untuk berlatih bersamaku, jadi aku mengemasi barang barangmu hari ini agar tidak memakan waktu nantinya" Jelas Jidante, entah kenapa Glorva merasa sedih mendengarnya.


"Hooh apakah kakek akan merasa kesepian kalau aku tidak ada?" Godanya, ia kemudian ikut duduk disamping Jidante untuk membantunya berkemas.


Jidante terkekeh, "Aku sudah biasa sendiri sebelum kau datang" Remehnya.

__ADS_1


"Ya tapi setelah itu aku datang dan menemani hari hari kakek yang suram, benar kan" Ujarnya yang masih berusaha menggoda Jidante.


Jidante kemudian menyentil pelan kening Glorva, "Tidak, kau merepotkanku" Sahutnya yang kemudian tertawa kecil.


Jidante beranjak dari duduknya, "Kemaslah barang barangmu, aku harus menyiapkan makan malam" Lanjutnya lagi.


Glorva memanyunkan bibirnya merajuk, "Masaklah yang enak, selama ini kakek tidak pernah berhasil memasak dan ujung-ujungnya aku yang harus memasak" Ujar Glorva dengan nada mengejek.


"Haha kau benar, karna kedepannya aku harus memasak sendiri karna kau sudah pergi ke akademi" Kekeh Jidante, lalu pergi ke dapur untuk memasak.


Glorva menahan rasa sedihnya, sejujurnya ia ingin menangis mendengar Jidante yang berkata seperti tadi, "Apa apaansih kakek, padahal aku cuma pergi ke akademi" Lirihnya.


Selang beberapa menit Glorva sudah selesai mengemasi barang-barangnya, ia kemudian menghampiri Jidante didapur untuk mencari tahu apakah masakannya sudah siap.


Setibanya didapur, Glorva melongo melihat sekelilingnya, alih alih masakan yang sudah siap, dapur malah menjadi berantakan dengan, terlebih lagi banyak air yang membasahi area dapur.


''Ah kau datang, entah kenapa api di panci menjadi besar sampai karinya meluap luap, jadi aku menggunakan sihir air untuk mematikan apinya" Jelas Jidante yang sibuk membersihkan kekacauan yang ia buat.


"Sepertinya aku terlalu percaya pada Kakek untuk pekerjaan ini" Heran Glorva, ia kemudian ikut membantu Jidante.


"Air kari meluap karna dia sudah mendidih, kakek cukup mematikan apinya, tidak perlu sampai menggunakan sihir air, apalagi dengan skala besar seperti ini" Omel Glorva pada Jidante.


"Aku akan melakukan seperti itu kalau aku berani, kau tahu saat karinya meleleh itu membuat apinya semakin besar, bahaya jika aku dekati" Jelas Jidante mengelak.


Glorva mendecih, "Aku tidak menyangka ahli sihir sepertimu bisa takut dengan api tungku'' Heran Glorva.


Saat selesai membersihkan kekacauan yang Jidante buat, Glorva hendak kembali memasak, tapi ia menemukan satu masalah lagi, "Kakek kau sudah menghanguskan panci, aku tidak bisa membuat kari" Ujar Glorva pada Jidante yang tengah bersistirahat.


"Ah aku lupa kita hanya memiliki satu panci, kau bisa menggunakan teflon itu untuk membuat telur, ya kita makan telur goreng saja malam ini" Sahutnya pasrah.


Glorva menghembuskan nafasnya kasar, "Huftt padahal aku berharap bisa makan enak untuk merayakan kelulusanku" Kesalnya. Akhirnya mereka berdua hanya memakan telur goreng pada malam itu.

__ADS_1


__ADS_2