Go To His World

Go To His World
25. Teman Sekelompok


__ADS_3

"Waah kita berdua ada dalam satu kelompok, ini adalah takdir" Senang Eirla pada Nean.


"Andai Wivon juga berada satu kelompok dengan kita, pasti lebih menyenangkan" Ujarnya, ia terus mengoceh sendiri disaat Nean sibuk mencari 3 nama orang yang akan menjadi teman sekelompoknya.


"Ah anak perempuan itu, siapa ya, oiyaa Glory, aku juga ingin satu kelompok denganya, huaa pasti sangat seru" Oceh Eirla lagi.


"Bodoh, namanya Glorva bukan Glory" Sahut Nean yang akhirnya membuka suaranya.


Eirla menepuk bahu Nean, "Benar, nama sebagus itu sangat sulit untuk ku ingat, tapi tak kusangka kau bisa mengingatnya, apa kau juga memperhatikannya ya?" Goda Eirla sambil cekikikan.


Nean menghentikan langkahnya,


"Semangatmu itu mending kau gunakan untuk membantuku mencari sisa nama ini" Kesal Nean, ia kemudian menyerahkan gulungan kertas yang satunya kepada Eirla.


Eirla mendengus, lalu dengan malas ia membaca nama yang ada digulungan tersebut, "Aku tidak kenal mereka" Ujarnya santai, lalu kembali menutup gulungan tersebut.


Nean terlihat prustasi, ia kemudian melanjutkan langkahnya dengan gontai, Eirla pun kembali mengekori Nean.


...----------------...


Kelompok Wivon dan Glorva yang sudah lengkap akhirnya sampai di halaman akademi untuk menemui instruktur mereka.


"Wah rupanya kelompok kalian yang berhasil berkumpul pertama" Ujar Instruktur wanita yang menyambut kedatangan kelompok Wivon.


"Benarkah? Ternyata hal ini cukup sulit" Sahut Wivon.


Jihan mengangguk, "Ini memang sulit, siswa yang tidak saling mengenal diperintahkan untuk mencari kelompoknya sendiri sesuai dengan nama yang ada digulungan kertas mereka" Balas Jihan.


"Kami bisa berkumpul dengan cepat karna Wivon" Ujar Draken menanggapi.


Instruktur perempuan tersebut nampak tertawa kecil, "Rupanya kalian langsung kompak, apakah kalian sudah memilih ketua kelompok kalian?" Tanya Instruktur tersebut.


"Apakah itu perlu?" Tanya Wivon balik.


"Setiap kelompok pasti memiliki pemimpinya, ck" Ketus Glorva yang tiba tiba membuka suara.


"Haha, jadi kalian masih belum menentukan ketua kelompok kalian" Ujar Instruktur tersebut, "Kalau begitu kalian berdiskusilah dulu, sambil menunggu semua kelompok berkumpul disini" Perintah instruktur tersebut sambil terus tersenyum.


"Anda serius? Kami harus menunggu semua kelompok?Bagaimana mungkin sedangkan yang ada disini baru kelompok kami" Sanggah Glorva.

__ADS_1


"Haa gimana ya, tapi peraturannya memang harus seperti itu, dimusim sebelumnya semua kelompok baru berhasil berkumpul setelah setengah hari, jadi bersabarlah ya!" Sahut Instruktur tersebut yang tetap mempertahankan senyumannya.


Glorva hendak menyanggah lagi, tapi Wivon mendahuluinya,


"Baiklah, kami akan menunggu" Ujar Wivon, ia kemudian berpamitan dan mencari tempat yang pas untuk mereka berdiskusi, sedangkan Glorva hanya bisa mengikuti sambil menahan rasa kesalnya


Mereka berlima akhirnya beranjak dan memutuskan untuk pergi ke bangku taman dekat asrama sebagai tempat berdiskusi.


"Insturktur itu seperti psikopat, bagaiamana bisa dia menyuruh kita menunggu semua kelompok sambil memasang senyum lebar begitu" Dumel Glorva yang masih merasa kesal.


"Pesikopat? Apa itu?" Tanya Jihan pada Glorva, keempat temannya kini menatap Glorva bingung sambil memnunggu jawaban darinya.


Glorva berdeham, "Ah aku hanya asal bicara, itu biasa terjadi saat aku kesal" Jawab Glorva mengelak, ia sebenarnya hanya malas menjelaskan, namun untungnya mereka percaya begitu saja.


"Kalau begitu apa yang akan kita diskusikan?" Tanya Lexi membuka suara.


"Tentu saja kita harus memutuskan siapa yang akan menjadi ketua" Jawab Jihan cepat.


"Bagaimana kalau Wivon saja yang menjadi ketua?" Sahut Draken memberi saran, namun Glorva langsung mangangkat tangannya.


"Aku, biarkan aku yang menjadi ketua" Ujar Glorva mengajukan diri.


"Huh, kepala ku jadi sakit" Desah Jihan yang membuat Glorva tersinggung.


"Kenapa? Kau kebaratan aku menjadi ketua ya?" Sindir Glorva pada Jihan.


"Wah, aku suka kau yang cepat sadar" Jawab Jihan sambil tersenyum sinis.


"Kalau begitu mari bertarung, yang menang yang menjadi ketua" Tantang Glorva dengan senyum remehnya.


"Siapa takut?" Balas Jihan yang tak mau kalah, keduanya kini saling bertarung melalui tatapan tajam mereka.


"Tapi, bukankah kau orang yang bisa menggunakan tiga elemen sihir itu?" Potong Draken ditengah tengah perdebatan Glorva dan Jihan.


"Benar, kalau tidak salah dia juga yang membuat obat baru, orang itu kau kan Glorva?" Sambung Lexi, semuanya kini menatap kearah Glorva.


Glorva kini tertawa bangga, kemudian menatap Jihan remeh, "Bagaimana? Jadi bertarung?" Tanyanya.


Jihan nampak gugup, ia baru mengingat fakta tersebut, "Te-tentu saja" Jawabnya gugup, ia tetap tak mau kalah meskipun ia ragu akan menang melawan Glorva.

__ADS_1


"Cukup kalian berdua, jangan berdebat lagi" Tegur Wivon menengahi, "Kita semua teman satu kelompok, kenapa harus bertarung? Lagi pula seorang pemimpin tidak akan memilih jalan kekerasan untuk menyelesaikan masalah" Lanjutnya lagi, wajahnya nampak memerah.


Glorva dan Jihan seketika tertampar dengan perkataan yang diucapkan Wivon.


"Lagi pula aku tidak serius, aku hanya mengancamnya" Lirih Glorva merasa bersalah, ia menundukan kepalanya.


"Aku juga salah karna ikut terpancing" Sambung Jihan yang juga menundukan kepalanya merasa bersalah.


Wivon menghembuskan nafasnya, kemudian tersenyum tipis, "Bagaimana kalau kita mengumpulkan suara terbanyak untuk menentukan siapa ketua kelompoknya?" Ujar Wivon memberi ide.


"Kau saja yang menjadi ketua" Sahut Glorva, lagi lagi keempatnya menatapnya heran, "Seperti yang kalian lihat, aku belum cukup dewasa untuk menjadi seorang pemimpin" Lanjutnya lagi, ia rela menurunkan harga dirinya untuk berbicara seperti itu.


"Aku setuju, aku tidak masalah siapapun yang akan menjadi ketua" Sahut Draken.


"Benar, aku percaya kalian semua" Balas Lexi sambil tersenyum.


"A-Aku juga terserah kalian, sebenarnya aku tidak keberatan kalau Glorva yang menjadi ketua, hanya saja dia terlalu mengesalkan, jadi aku terpancing untuk berdebat denganya" Jelas Jihan pelan.


"Hahaha pertengkaran itu perlu untuk meningkatkan kedekatan kalian" Tawa Draken yang ingin mencairkan suasana.


"Huf seorang ketua harus bisa membimbing anggotanya, selain itu dari cara Wivon menengahi perdebatanku dengan Jihan tadi, dia yang paling pantas menjadi ketua, jadi aku mengalah saja" Jelas Glorva, ia masih memasang wajah acuh tak acuhnya.


Wivon terkekeh, "Wajahmu seperti tidak ikhlas tuh" Sindir Wivon pada Glorva, semuanya selain Glorva kini tertawa.


Wajah Glorva memerah karna malu, "A-aku serius, aku benar benar tidak masalah kalau kau jadi ketua" Sanggah Glorva dengan wajah merah padamnya, namum keempat temannya tetap menertawainya.


"Hei jangan buat aku berubah pikiran, tentukanlah dengan cepat" Kesal Glorva yang sudah mencapai batasnya, ia benar benar malu.


"Baiklah, kalau begitu biar Wivon yang menjadi ketuanya" Ujar Jihan yang dibalas anggukan oleh Draken dan Lexi.


Wivon menghembuskan nafasnya pelan, "Baiklah kalau begitu, aku akan menjadi pemimpin kelompok, jadi tolong kerja sama kalian" Balas Wivon yang akhirnya setuju, walaupun ia menerimanya dengan berat hati.


Akhirnya kelompok mereka berhasil menentukan ketuanya meski harus mengalami perdebatan kecil, tapi pertengkaran tersebut adalah batu pijakan yang membuat mereka semakin dekat nantinya.


"Wivooonnnn! Kau disitu rupanyaaa!'' Teriak seseorang dari kejauhan.


Wivon dan Glorva sontak mencari asal suara tersebut, begitu pula dengan Jihan, Draken, dan Lexi.


"Eirla?" Gumam Wivon.

__ADS_1


"Kelompok mereka ternyata sudah berkumpul" Batin Glorva yang memandang kelompok Nean tengah berjalan mendekat kearahnya.


__ADS_2