
"Pada akhirnya kau gagal mentraktirku ramen" Mayun Glorva, saat ini ia dan kelompoknya tengah berjalan menuju kantin akademi.
Jihan terkekeh mendengarkan celotehan Glorva, "Yah itu karna anak panahku bisa melesat dengan baik" Sahutnya, "Tapi aku akan tetap mentraktirmu sebagai perayaan" Lanjutnya.
"Aku? Apakah aku juga akan mendapatkan traktiran?" Tanya Draken yang tiba tiba masuk kedalam percakapan.
"Tidak, kau tidak termasuk" Jawab Jihan ketus dan membuat Draken cemberut.
"Haha kalian jangan terlalu senang dulu, karna habais makan siang kita akan berlatih lagi" Kekeh Wivon.
Saat ini mereka tengah makan siang, semua anggota kelompok C13 berhasil melakukan praktek dengan baik.
Setelah makan siang, semua siswa kelas C akan melanjutkan latihan memanah mereka dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
"Yah tetap saja Jihan harus mentraktirku ramen" Balas Glorva dengan cengirannya.
Mereka berlima akhirnya memesan ramen untuk menu makan siang mereka, ada banyak menu gratis yang disediakan akademi untuk para siswa, namun ada juga beberapa menu yang tidak ditanggung oleh akademi, salah satunya adalah ramen, jadi siswa yang ingin memakannya harus mengeluarkan uang mereka sendiri.
Glorva memakan ramennya dengan lahap, "Ramen traktiran memang terasa sangat enak" Ocehnya.
Jihan menggelengkan kepalanya,
"Ckck dasar, kau akan tersedak jika makan seperti itu" Ujarnya, belum ada beberapa detik setelah Jihan berkata seperti itu, Glorva langsung batuk batuk karna tersedak.
Wivon yang duduk di depan Glorva dengan cepat menyodorkan air, "Minumlah cepat" Suruhnya.
Glorva langsung meneguk air tersebut, matanya menjadi berair dan wajahnya memerah, "Huwah akhirnya aku merasa seperti ini lagi" Celotehnya dengan air mata yang kini mulai menetes.
Keempat temannya memandangnya bingung, "Jadi maksudmu kau merasa lega karna tersedak?" Tanya Lexi yang duduk di samping Wivon.
"Bukan begitu, dulu setiap aku memakan ramen buatan kakek, aku selalu tersedak karna mienya yang keras, dan sekarang aku tetap tersedak meski ini bukan ramen buatan kakek" Jelasnya sambil mengelap air matanya, "Itu karna aku selalu merasakan mie ramen buatan kakek meski aku memakan buatan orang lain" Lanjutnya lagi.
"Aku tidak mengerti, tapi baiklah otakku dapat menerimanya" Sahut Jihan yang masih mencoba memahami maksud Glorva.
"Haha jadi artinya masakan kakekmu masih tetap terasa meski kau memakan masakan orang lain" Jelas Wivon.
__ADS_1
"Itu karna kau merindukan kakekmu" Sambung Draken.
Glorva mengangguk cepat, "Benar, meski dia kakek yang mengesalkan, tapi dia yang paling aku andalkan" Jawab Glorva yang membanggakan kakeknya, Jidante.
"Sepertinya semua orang terlihat mengesalkan dimatamu" Sindir Jihan disebelahnya, sedangkan Glorva hanya bisa menyengir tanpa bisa membantah.
Saat Glorva dan teman sekelompoknya sedang asik makan siang bersama, tiba tiba saja Eirla datang sambil membawa nampannya.
"Permisi, apa aku boleh makan dengan kalian?" Tanya Eirla yang berdiri dengan membawa nampan makanannya.
Semuanya langsung menoleh, "Dimana kelompokmu? Kau tak bersama mereka?" Tanya Jihan dengan nada yang sedikit ketus.
"Ketua kelompok kami memilih untuk tidak ikut makan siang, sedangkan aku tidak akrab dengan 3 teman kelompokku, jadi aku ingin disini" Jelas Eirla dengan wajah memohon.
"Tak apa, biarkan saja dia disini, toh masih ada satu kursi yang kosong" Sahut Wivon sambil menunjuk kursi kosong disamping Jihan.
Tempat makan tersebut menyediakan 6 kursi dengan meja yang memanjang. Wivon, Lexi, dan Draken duduk bersampingan, sedangkan di depan mereka ada Glorva dan Jihan sehingga menyisakan satu kursi kosong.
Semuanya hanya mengangguk pelan karna ketua mereka yang berkata seperti itu, kecuali Glorva yang acuh tak acuh dan memilih untuk tetap menyeruput mienya.
"Tapi bisakah aku duduk disamping Wivon?" Ujar Eirla lagi, ia memasang wajah memelasnya kepada Lexi yang duduk disamping Wivon.
"A-ah baiklah, aku akan pindah" Ujarnya, lalu mengangkat nampan makanannya dan pindah di sebelah Jihan.
"Kau tau, aku tidak suka dengan dia" Bisik Jihan pada Glorva.
"Aku biasa saja" Jawab Glorva, lalu kembali menyeruput mienya dan membuat Jihan mendecih kesal.
"Kenapa kau tidak mencoba mengakrabkan diri dengan 3 teman kelompokmu itu?" Tanya Draken yang sebenarnya sedikit terganggu dengan kehadiran anggota kelompok lain.
"Aku belum siap, lagi pula aku sudah lama tidak makan bersama Wivon" Balas Eirla santai.
"Jadi kau hanya akrab dengan Wivon dan pacarmu?" Tanya Jihan lagi yang membuat Glorva kembali tersedak.
Wivon lagi lagi menyerahkan air minum kepada Glorva, "Hei makanlah dengan benar" Tegur Wivon pada Glorva.
__ADS_1
"Maaf maaf, aku terlalu menikmati ramenku" Sahut Glorva asal, ia kini mengelapi bibirnya dengan sapu tangan.
Eirla yang melihat interaksi antara Glorva dan Wivon hanya menatap mereka tanpa ekspresi, ia kini kembali mengalihkan pandanganya pada Jihan, "Pacarku? Aku tidak punya tuh" Ujarnya.
"Bukankah ketua kelompokmu itu pacarmu? Kalian berpelukan tadi saat dilapangan memanah" Tanya Jihan lagi yang bingung, Glorva yang sedang meminum air lagi lagi dibuat tersedak, hampir saja ia menyemburkan airnya diwajah Wivon.
"Hei ada apa denganmu" Tegur Jihan yang menepuk pundak Glorva.
"Haha ini sudah ketiga kalinya dia tersedak" Sambung Draken sambil terkekeh.
Wivon menatap Glorva cemas,
"Apakah kau sedang sakit? Kau bisa beristirahat" Tanyanya khawatir.
"Ah, ahaha bukan bukan, aku hanya meneguk air terlalu cepat" Jawab Glorva yang mengasal, padahal sejujurnya ia hanya kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Jihan.
"Wah kau beruntung karna semua teman kelompokmu sangat peduli padamu" Ujar Eirla pada Glorva dengan tersenyum tipis, "Andai aku bisa bergabung dengan kalian" Lanjutnya lagi.
"Tak masalah, kau sudah bersama dengan Nean" Sahut Wivon yang mencoba menghibur Eirla.
"Kalau kau mau kita bertukar saja" Ceplos Glorva asal, ia langsung mendapat cubitan dari Jihan di lengannya.
"Jangan sembarangan, kau pikir aku mau sekelompok denganya" Bisik Jihan kesal, Glorva hanya meringis karna lengannya yang perih karna Jihan.
"Yah aku tau, tapi sejujurnya aku ingin satu kelompok denganmu dan Nean, lalu kita bisa bersama seperti seharusnya, ah tak apa jika Glorva juga bergabung dengan kami" Ujar Eirla yang membuat suasananya menjadi canggung.
"Bukankah itu berati dia hanya memilih milih temannya tanpa menghiraukan kita" Sindir Jihan pelan sambil menatap Draken dan Lexi.
Glorva yang tak tahu harus berkata apa hanya tersenyum paksa, ia juga merasa tidak enak setelah mendengar sindiran dari Jihan.
"Tolong perhatikan bicaramu Eirla, teman kelompok bukan sesuatu yang bisa kita tentukan" Tegur Wivon yang juga merasa tak enak.
"Ah maaf, sungguh aku tak bermasuk begitu" Sesal Eirla, "Tapi Wivon, Nean selalu pergi tanpa mengajakku dan meninggalkanku dengan anggota kelompok yang lain seperti saat ini, dia tau kalau aku belum akrab dengan mereka, tapi dia tetap egois dan pergi meninggalkanku, itu sebabnya aku menghampirimu" Lanjut Eirla mengeluh.
Brakk!
__ADS_1
Glorva berdiri sambil memukul meja dengan keras, ia memasang raut wajah kesalnya, "Tak hanya mengganggu kelompok orang yang sedang makan, kau bahkan menjelekkan temanmu sendiri, apakah kau tidak ingat dia yang ada disampingmu saat dilapangan tadi?" Kesalnya, ia menatap tak suka kearah Eirla, lalu pergi begitu saja tanpa menghabiskan makanannya.
Semua yang ada dimeja makan hanya menatap kepergiannya dengan diliputi oleh keheningan dan rasa canggung.