
"Ini yang anda minta" Ujar Glorva menyerahkan gulungan kertas yang berisikan resep obat pada Preton.
"Ah terimakasih, aku akan mengeceknya" Jawab Preton, lalu tak sengaja ia melihat pin bulat berwarna merah yang tertempel di dada kiri Glorva.
"Redpin?" Kagetnya, ia kemudian menatap Glorva meminta jawaban.
Glorva menghela nafasnya, lalu ia menceritakan semua yang ia dan kelompoknya alami hari ini hingga pin berwarna merah itu bisa tertempel di bajunya.
"Haha aku tidak menyangka murid sejenius dirimu akan mendapatkan Redpin di hari pertama'' Kekeh Preton, ia kemudian membaca gulungan kertas yang diberikan oleh Glorva.
Setelah selesai membaca, ia nampak tersenyum ke arah Glorva, ''Kau yakin akan memberikan hak milik obat ini padaku?'' Tanya Preton pada Glorva.
Glorva mengangguk, "Tentu, dan tolong jangan menyangkutkan aku lagi'' Jawabnya.
Preton terkekeh kembali, "Kau cukup unik, tapi tidak apa karna mungkin kau memang memiliki tujuan lain'' Ujarnya.
"Yah aku senang di akademi ini ada orang dewasa yang bisa mengerti seperti dirimu" Balasnya dengan nada lelah, "Kalau begitu aku akan pergi ke asrama" Lanjutnya berpamitan.
"Baiklah, hari juga sudah malam, terimakasih untuk resepnya" Sahut Preton, "Satu lagi, kalau kau perlu bantuan jangan sungkan untuk menemuiku" Lanjutnya lagi.
Glorva hanya mengangguk, lalu ia keluar dari ruang penelitian Preton menuju asramanya.
"Huf padahal harusnya aku bisa berkeliling akademi dengan Nean, tapi gara gara guru badebah itu semuanya jadi buyar'' Gumam Glorva yang kini berjalan keluar dari gedung utama akademi.
Saat Glorva melewati taman yang membatasi asrama putri dengan asrama putra, ia melihat sosok yang ia kenali berjalan keluar dari asrama.
"Nean? Kemana dia malam malam begini?" Batin Glorva, kemudian dia mengendap endap mengikuti Nean.
Nean terus berjalan dengan cepat menuju Danau yang berada di belakang gedung akademi, danau itu menjadi tempat favoritnya sebab jarang ada siswa yang datang kesana, itu karna harus memanjat tembok akademi dan melewati hutan untuk bisa sampai kesana, meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, tapi tetap saja lumayan merepotkan.
Setelah sampai, Nean langsung duduk di salah satu batu besar dekat danau, ia kemudian mengambil sesuatu di saku celananya. Ia terus menatap benda tersebut, kulit permen yupi yang sudah ia simpan dari 7 tahun yang lalu.
Srekk Sreekk!
Bugggg!
"Uwaaaaaaaa bokongkuuu" Teriak seseorang yang meringis kesakitan.
Nean yang mendengar suara itu dengan cepat memasukan kembali kulit yupi tersebut ke dalam sakunya, lalu ia menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
Nean melongo saat mendapati Glorva yang berguling guling ditanah sambil memegangi bokongnya, Nean kemudian mendekati Glorva.
"Hei, apa yang kau lakukan?" Tegur Nean, ia hanya memandangi Glorva yang masih kesakitan dan berguling ditanah.
Glorva kemudian mendongak ke arah Nean, lalu ia mengulurkan tangannya.
"Apa?" Tanya Nean yang tak mengerti dengan maksud Glorva.
"Tolong bantu aku bangun" Suruh Glorva yang masih tetap mengulurkan tangannya.
Nean nampak diam sejenak, lalu ia beranjak pergi begitu saja dan kembali duduk di tempatnya semula.
Glorva menghela nafasnya, lalu melentangkan tubuhnya di tanah, "Huft, ini salah ku karna meminta tolong padanya" Dumelnya sambil menatap langit malam. Saat merasa sakitnya sudah membaik, Glorva akhirnya berdiri dengan tubuh kotor yang dipenuhi oleh tanah.
"Ey, kenapa kau tidak mau menolongku?" Tegur Glorva yang kini menghampiri Nean, Glorva nampak berkacak pinggang.
Nean meliriknya sebentar, lalu kembali membuang muka.
"Huh? Kau mengabaikan ku?" Kesal Glorva.
"Ntah, Danau ini lebih layak dipandang daripada dirimu" Jawabnya santai, Nean tetap asik menikmati angin malam sambil menatap keindahan danau didepannya.
Karna mengikuti Nean, Glorva rela memanjat ke pohon yang tinggi agar bisa memantaunya tanpa ketahuan, namun siapa sangka ia akan digigit lebah yang bersarang disana dan membuatnya jatuh dari ketinggian.
"Kau jatuh juga bukan karnaku" Balas Nean tanpa menatap Glorva sedikit pun.
Glorva menganga, ia tak habis pikir dengan sosok di hadapannya itu, "Huff setidaknya kau menunjukan rasa peduli pada sesama, bagaimana kalau aku sampai mati tadi" Gerutunya yang melebih lebihkan, ia kemudian ikut duduk di batu besar samping Nean.
Nean meliriknya sinis, "Buktinya sekarang kau masih hidup, dan siapa yang mengizinkan mu duduk disana?"
''Kenapa aku harus meminta izinmu untuk duduk disini?" Sahut Glorva santai.
Nean berhasil terpancing, kini ia menjadi kesal, "Terserah mu" Ketusnya, lalu ia bangun dan pindah ke batu besar yang terletak lumayan jauh dari tempat Glorva duduk.
Glorva terkekeh, "Hei, Apakah kau anti sosial?" Teriak Glorva mengejek, ia sengaja berteriak agar Nean dapat mendengarnya karena jarak mereka kini lumayan jauh.
Nean mengabaikan Glorva, ia kemudian duduk dengan menumpu kedua tangannya untuk bersantai dan menikmati keindahan Danau.
"Ckck, kau pikir aku akan menyerah?" Kekeh Glorva dengan senyum remehnya, ia kemudian berdiri untuk kembali mendekati Nean.
__ADS_1
Namun saat ia melangkah, ia melihat sosok bertudung hitam yang mendekati Nean dari belakang.
"Nean awasss!" Teriak Glorva dengan keras, Nean yang langsung sadar akan bahaya berhasil menghindar dari serangan sosok tersebut.
Sedangkan Glorva dengan cepat mengejar sosok yang menyerang Nean, namun sayangnya sosok itu berhasil kabur dengan cepat seperti kilat.
''Apa apaan itu, kenapa kecepatan menghilangnya bisa sehebat itu" Batin Glorva dengan nafas yang terengah engah, kemudian ia menoleh untuk memeriksa Nean.
Nean bersandar di bebatuan sambil memegangi lengannya yang kesakitan, rupanya sosok bertudung itu berhasil melukai lengan Nean saat Nean berusaha menghindar.
Glorva berlari menghampiri Nean,
"Sini, biarkan aku melihat tanganmu" Pinta Glorva dengan wajah cemasnya.
Nean menepis tangan Glorva yang berusaha memegang tubuhnya.
"Pergi, ini pasti karnamu" Usir Nean, ia menatap tak suka ke arah Glorva.
"Karnaku? Hei Meskipun kau tidak suka padaku setidaknya jangan asal menuduh" Kesal Glorva, ia kemudian menarik paksa lengan Nean yang terluka dan membuat Nean meringis.
Glorva memandang Nean yang menatapnya tajam, "Huff baiklah, setidaknya biarkan aku mengobati lukamu, setelah itu kau bebas menganggapku seperti apa, membenciku pun juga boleh" Ujarnya pasrah.
Melihat Nean tak membrontak, Glorva kemudian menggulung lengan baju Nean yang panjang dan memeriksa luka di lengan Nean, "Huh dulu dan sekarang tak ada bedanya, kau selalu terluka dilengan" Ceplos Glorva tanpa sadar.
Nean mengernyitkan dahinya, "Maksudmu?" Tanya Nean curiga, Glorva seketika gelagapan.
"A_aa ini, ada banyak bekas luka di bahu dan lenganmu j-jadi aku hanya asal menduga" Jelas Glorva gelagapan.
Nean hanya diam, meskipun begitu ia tetap memasang wajah curiganya, Glorva hanya bisa menatapnya gugup.
"Goresan luka ini sepertinya bukan disebabkan oleh pisau tempur" Batin Glorva saat mengecek luka Nean.
"Bagaimana ini, luka ini cukup serius hingga aku harus menggunakan sihir cahaya untuk menyembuhkannya, tapi bagaimana jika identitasku ketahuan" Batin Glorva, ia memikirkan segala cara agar bisa menggunakan sihir peyembuhannya tanpa membongkar identitasnya.
"Sudahlah, aku bisa mengurusnya sendiri" Ujar Nean karna melihat Glorva yang melamun, ia hendak beranjak namun segera ditahan oleh Glorva.
"Bersabarlah, aku sedang berusaha menyembuhkan mu" Pinta Glorva menahan, ia nampak berfikir kembali, "Huh terserahlah, yang penting lukamu sembuh" Lanjutnya frustasi, ia kemudian terpaksa menggunakan sihir cahayanya di depan Nean untuk menyembuhkan lukanya.
"K-Kau?" Lirih Nean, ia memandang Glorva dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
__ADS_1